
Mata Mila menyipit, mendengar suara
orang sedang berkemas. Sontak dia kaget melihat suaminya sedang memasukkan baju ke dalam koper.
"Papi, mau kemana?" ucapnya sendu.
"Bukan aku yang mau pergi, tapi kamu yang akan pergi!" jawabnya dengan emosi.
Mila terlonjak kaget mendengar ucapan suaminya, matanya melotot melihat semua pakaian ada di dalam koper.
"Ma-maksudnya apa, Pap?" ucapnya bergetar.
Brak!
"Kamu tanya maksudnya apa? Bukannya kamu sendiri yang meminta ini? Kamu tak bersyukur memiliki suami seperti aku! Kamu tak bahagia ada di sisiku, dengan semua kemampuanku kamu tak menunjukkan rasa terima kasih sedikitpun kepadaku! Apa aku masih kurang baik, hah? "
" Katakan dimana letak kesalahanku? " teriaknya lantang.
Mila menutup kedua telinganya, hanya bisa menangis tersedu-sedu. Ucapan spontan yang ia katakan, ternyata menyakiti hati suaminya.
Dunianya seperti terhenti mendadak, hanya membayangkan tak ada suami di sampingnya dia tak sanggup. Apalagi harus berpisah dengannya.
"Maafkan aku, Papi."
Prang!
Eko memecah cermin besar yang ada di dalam kamar, mati-matian ia menahan semuanya demi menjaga perasaan Mila. Hanya bisa mendampingi istrinya hingga sembuh walau belum ada secuil bukti rasa sayang yang tak terbalas, dia masih ikhlas. Lalu mengapa harus dengan cara ini dia membalasnya.
"Papi..Mami.."
Suara teriakan Radit dari luar menghentikan perdebatan mereka, dengan cepat Eko menyembunyikan tas yang sudah di siapkan.
"Assalamualaikum, sudah bangun Nak?" Eko menggendong anaknya, meninggalkan Mila di dalam kamar.
Melihat suaminya keluar, Mila berusaha menurunkan kedua kakinya. Mengacuhkan rasa perih yang menyayat semua saraf tubuhnya.
"Sudah cukup manjaku. Aku harus bangkit. Aku harus sembuh." Mila melangkah perlahan demi perlahan, sambil memegang apapun barang keras yang ia temui.
Keringatnya mulai bercucuran, "Semangat kurang sedikit lagi!" dengan menggebu ia berusaha menjangkau pintu kamar yang tertutup.
Cklek!
__ADS_1
Berbarengan Suaminya masuk ke dalam kamar, Mila memasang senyum termanisnya, "Papi mau sarapan?"
Eko hanya melirik dan mengacuhkan istrinya untuk mengganti baju seragamnya. Mila tak berani mengeluarkan suara, hanya bisa mengamati setiap apa yang di lakukan suaminya.
Melihat suaminya sudah bersiap berangkat, tangannya terulur untuk mencium tangan seperti kegiatan mereka setiap pagi, namun lagi-lagi dia di acuhkan kembali.
🍓
🍓
Juminten di buat pusing memikirkan Bumi yang selalu minta sosok Adik setiap hari, "Di kira bikin adik dalam satu malam langsung jadi kali, ya."
Candra tak hentinya tertawa melihat bosnya dalam keadaan kalut, "Makanya kawin Miss. Biar bisa ngasih Adik buat si kembar."
Juminten menatap tajam orang yang menertawakannya, "Mau gue potong gaji lu atau potong leher lu."
"Buset, sadis!" bukannya takut, Candra hanya menertawakan Juminten.
"Assalamualaikum."
Obrolan mereka terhenti melihat Eko masuk ke dalam Ruangan.
"Oi, kenapa pagi-pagi cemberut." tanya Candra.
Sontak Juminten dan Candra melototkan matanya, mencoba menebak masalah apa yang di hadapi teman mereka.
"Ada apa sih? Bukannya kalian adem ayem selama ini, malah lu sering share foto romantis kalian ke grup." ucap Juminten dan di beri tanda jempol oleh Candra.
"Udah ah, gue makin pusing kalau di pojokin gini. Rasanya gue mau muntab aja tadi, kalau nggak inget ada Radit di rumah." Sambil meremat rambutnya dengan keras.
Merekapun memilih diam dan tak memperpanjang obrolan tersebut. Dengan cepat melanjutkan pekerjaan mereka yang menumpuk, karena ketidak hadiran Sinta hari ini.
"Permisi paket!" sontak mereka melongo mendengar suara kurir paket, dengan segera Juminten berlari ke arah depan pintu.
"Mas Dodit! Aku kirain kurir paket beneran." ucap Juminten dengan mengerucutkan bibirnya.
Dodit tersenyum melihat suara manja calon kekasihnya. Ah, hanya memikirkan kalimat tersebut, sudah membuatnya berbunga.
"Lagi sibuk hmm?" Dodit menyentuh lengan wanita yang dulu menjadi muridnya, sampai saat ini ia masih tak percaya bisa terpesona dengan kecantikan dan sifat dewasa yang dia miliki.
Juminten yang risih berusaha melepas pelan tangan Dodit yang masih memegangnya," Wah, bawa apa ini Mas? Aku berasa jadi seorang Putri pakai di bawain buket bunga mawar." Tangannya meraih buket yang ada di tangan Dodit.
__ADS_1
"Oh, iya. Tadi mampir ke buket bunga langganan Mama, terus ingat sama kamu. Boleh saya masuk ke dalam?" Melirik arah pintu.
Juminten segera menutup pintu, "Ah, di luar saja ya, Mas. Nggak enak sama anak-anak nanti di kira kita ada apa-apa."
"Di anggap ada apa-apa juga saya siap nikahin kamu," jawabnya berbisik pelan, membuat bulu kuduk meremang.
"Penyelamat gue dateng!" pekik Juminten menatap binar Sinta yang baru turun dari motor gedenya.
Melihat mobil seseorang yang dia kenal terparkir di halaman rumah, Sinta segera melototkan matanya melihat pria yang sedang duduk di gazebo dengan gaya angkuhnya. Ia ingin segera mencabik-cabik muka sok ganteng itu, yang bertakhta kecerdasan untuk selalu dia banggakan setiap kali mereka bertemu.
Ide jahil terlintas di pikirannya, dengan santai kakinya mengayun ke arah bumper mobil.
"Ups!" pekik Sinta.
Dodit segera berlari melihat bumper mobil yang menjadi korban keganasan perempuan tomboy di depannya.
"Kamu ada masalah apa lagi sama saya? Hah!" pekiknya.
Sinta tersenyum tipis, "Masalah kamu, karena kamu udah ganggu bos saya. Apa kamu memang duda yang tak laku?" Sambil mengamati tubuh pria di depannya dari ujung rambut ke ujung kaki.
"Atau kamu memang--"
Juminten yang melihat semua kejadian tadi, tak kuasa menahan tawanya. Dengan segera ia berlari masuk ke dalam Ruang kerja.
"Ahaha.. Dasar Sinta gila! Berani banget dia!" gumamnya membuat Candra dan Eko saling menyenggol bahu, khawatir bosnya sedang kerasukan.
Melihat Juminten masuk ke dalam, Dodit segera menarik Sinta ke belakang mobil. Memojokkan gadis itu dan membuatnya tak bisa berkutik.
Tubuh Sinta di buat lemah tak karuan, keberanian yang dia tunjukkan hilang seketika menjadi rasa cemas.
Lagi-lagi jantung Dodit di buat berdebar setiap melihat gadis ini, melihat lawannya menggigit bibir bawahnya membuat dia panas dingin di buatnya
Sial! Gadis ini memang suka memenuhi dunia fantasi liarku!
Dodit segera mendekatkan bibirnya dengan bibir merah ranum yang terlihat menggoda, hanya mendekatkan tak lebih. Merasa tak ada penolakan hingga beberapa detik, ia mencoba melu*atnya pelan.
Entah sihir apa yang di pakai oleh Dodit, Sinta di buat pasrah dengan apa yang dia lakukan, bahkan turut memejamkan matanya.
"Ku rasa, sepertinya kamu menikmati ciuman pria narsis ini." Sinta membelalakkan matanya, bahkan wajah amarahnya terlihat membara.
"Kurang ajar! Kau mengambil ciuman pertamaku, pria brengsek!" Sinta yang hendak memukul dengan cepat di tangkis dengan tangan Dodit.
__ADS_1
"Apa kau tak malu? Kau baru saja menikmatinya dan fitnah baru apa lagi yang kau ucapkan kali ini?" ucapnya nampak seperti sedang menyepelekan, "Asal kau tahu, kau adalah satu-satunya bad kisser yang pernah aku rasakan!"
Dodit meninggalkan Sinta yang termenung memegangi bibirnya yang sudah tak suci lagi, "Biadab!" ucapnya meremat tangannya.