Pesona Juminten

Pesona Juminten
BAB 87


__ADS_3

Mereka benar-benar tidur dan tak melanjutkan kegiatan tadi siang. Mood Eka benar-benar down, bahkan berimbas dengan mengacuhkan istrinya yang menawarkan makan.


Mata dan hidung Juminten mulai memerah. Genangan air mata sudah menggenang di pelupuk matanya.


"Maafkan Jumi ya, jika keputusan pernikahan ini terlalu cepat. Sepertinya, kita perlu waktu untuk sendiri dulu. Mohon maaf juga, inilah resiko dengan status Janda dan memiliki 2 orang anak." Juminten segera berlari meninggalkan suaminya sendirian di dalam kamar.


Ucapan istrinya membuat Eka tersentak. Kali ini dia mengaku salah, sudah terlalu mengedepankan emosinya, padahal dia tahu istrinya tak sepenuhnya salah.


Eka segera berlari mencari kesana-kemari, dia di buat takut kehilangan sosok istrinya di hari pertama pernikahan mereka.


Maafkan aku, Juminten.


Eka berulang kali mengucapkannya di dalam batin, tak lama terdengar suara tertawa istrinya sedang ada di luar. Perlahan dia melangkahkan kakinya mengikuti arah suara istrinya.


"Eh, suaminya kangen tuh Miss Juminten. Ciye.. takut istrinya ilang ya?" goda Sinta.


Ucapan Sinta yang hanya godaan semata, terdengar seperti bomerang untuknya. Dia sudah bertekad tak ingin sedikitpun mengecewakan istrinya, tapi nyatanya sekarang? Baru beberapa jam mereka melangsungkan akad nikah, dia sudah membuat istrinya kecewa dengan sikapnya.


"Boleh pinjem Juminten sebentar?" ucapnya.


"Bawa aja Bang, mau apain aja boleh. Bebas lepas,tidak ada larangan lagi," jawab Sinta.


Juminten bergegas berdiri mengacuhkan Eka yang ada di belakangnya. Ia memilih masuk kembali ke dalam kamarnya, efek lelah juga hari pertama siklus wanitanya membuat mood nya benar-benar down hari ini.


Eka segera mengejar istrinya, mengikuti istrinya yang masuk ke dalam kamar mandi, "Maafkan aku, sayang. I'm so sorry." Eka memeluk erat istrinya dari belakang.


Juminten berusaha melepas tangan yang membelit di perutnya. Semakin ia ingin melepasnya, Eka tak segan-segan memeluknya kembali menjadi lebih posesif.


"Aku mohon, maafkan aku istriku. Tak ada secuilpun niatku untuk menyakitimu." Meletakkan dagunya, di pundak istrinya yang sedang bergetar, pertanda ia sedang menangis.


Merasakan tak ada pergerakan dari istrinya, Eka pun mengubah arah Juminten untuk melihatnya. Di kecupnya secara perlahan, seluruh anggota wajah istrinya yang terlihat memerah.


Juminten masih menutup matanya, bukan karena malu, "Jumi mohon pikirkan kembali keputusan ini. Kamu menikahi seorang wanita, bukan seorang gadis. Kamu menikahi seorang Ibu, bukan seorang anak. Kamu menikahi aku, artinya kamu juga harus menerima anakku!" teriaknya nyalang.

__ADS_1


Eka menangis melihat bagaimana terpuruk istrinya, trauma pernikahan yang pertama masih jelas teringat ada di benaknya." Tolong izinkan aku untuk menebus kesalahanku. Sumpah tak ada niat untuk menyakitimu istriku. "


Juminten menggeleng ribut, "Tidak, Sepertinya memang keputusan ini yang sa--"


Ucapannya terhenti, saat daging tebal berwarna merah menciumnya dengan posesif. Rasa asin dari air mata, ikut jatuh menemani kegiatan yang mereka lakukan.


"Aku menginginkanmu, untuk jadi yang pertama dan terakhir untuk hidupku. Aku mohon, ajarkan aku untuk mencintaimu seperti caramu. Jangan bosan hidup bersamaku, karena aku tak akan ingin melukaimu kembali.."


Juminten segera memeluk erat suaminya, kalimat demi kalimat yang dia ucapkan sudah cukup menunjukkan bahwa dia akan menjadi pelabuhan terakhirnya. Tak ada yang dia inginkan, selain rasa kasih sayang juga kesetiaan suaminya.


Eka melanjutkan kembali kegiatan mereka yang tertunda, dan memilih di kamar mandi. Hal yang absurd melakukan hubungan pertama mereka di tempat seperti itu.


Merasakan suaminya yang akan melakukan kegiatan menguras tenaga, Juminten segera menghentikannya, "Abah jangan!"


Eka mengelus rambut Juminten, "Oke, Abah tunggu sampai Ibu siap."


"Siapnya 7 hari lagi, nggak apa-apa?"


Matanya terbelalak, kaget mendengar ucapan istrinya, "A-apa? 7 hari?" ucapnya terbata.


🍓


🍓


"Udah, jangan mabuk terus Papa. Sudah terlalu banyak champagne yang Papa minum. Come on Papa, wake up! 3 jam lagi kita harus berangkat ke rumah Ibu Juminten." Rena menjauhkan gelas dan botol minuman yang sudah di konsumsi ayahnya.


Sampah kacang kulit juga sobekan undangan pernikahan berserakan di meja," Rena mengapa dia tidak memilih kita? Apa karena Papa gurunya? "


" Papa, stop! Jangan terus meracau seperti itu! Papa harus ingat, Ibu Juminten dengan Bang Eka sudah menjalani hubungan mereka jauh sebelum ada Papa datang." omelnya.


"I don't care Rena! I don't care! She must be my wife!" teriaknya di depan bantal yang dia perkirakan itu anaknya.


Rena menghampiri Papanya, "Apalagi kelakuan Papa seperti ini, kapan Papa berubah?"

__ADS_1


Ting tong!


Ting tong!


"Assalamualaikum, sayang."


"Alhamdulillah Ibu pas datang, tolong Papa. Dia sedang frustasi memikirkan Ibu Juminten."


Prang!


Sinta segera berlari ke arah ruangan tv yang ada di tengah. TV flat 50 inch menjadi sasaran amukan Dodit.


"Astagfirullah, setan apa yang merasukimu?" ucapnya sambil bernyanyi.


"Eh, Ibu malah nyanyi. Ayo bantu Papa ke atas."


Juminten mengambil kain lap yang ada di dekatnya, untuk menghentikan pendarahan yang ada di tangan Dodit.


"Ternyata orang jatuh cinta itu, bisa bikin gila beneran ya. Lihat Papa kamu, terlihat sekali sedang kalut."


Mereka membaringkan tubuh Dodit di atas kasur. Dengan sabar dan telaten, Sinta merawat luka yang ada di sekujur tangan Dodit.


"Ibu, bagaimana ini? Om Aiko sudah di depan? Ini misscalles aku barusan." Rena di buat bingung dengan apa yang di putuskan.


"Udah kalian berangkat dulu aja, Ibu mau beresin rumah kalian dulu. Hati-hati ya, Nak."


"Terima kasih Ibu, maaf merepotkan."


Tangan Sinta di tarik keras oleh Dodit, membuatnya kaget, "Hai Juminten. Kenapa tidak menikah saja denganku?"


Sinta berusaha memberontak melepaskan cengkraman Dodit, "Lepaskan aku lelaki bia***!"


Dodit menatap Sinta dengan air mata, "Aku berusaha selalu mencintaimu, aku tak ingin gadis tomboy itu selalu mengecapku menjadi pria playboy. Padahal kenyataannya mereka yang mengejarku. "

__ADS_1


Sinta kaget melihat pria di depannya bisa menampakkan keadaan kacaunya, penampilannya yang rapi tak nampak secuil pun.


__ADS_2