Pesona Juminten

Pesona Juminten
BAB 94


__ADS_3

"Sin, ayo kita berangkat!" teriak Rohaya.


"Kita ikut!" teriak si kembar.


"Jangan ikut, di rumah aja! Hujan deras loh. Ayo tidur aja sama Ibu!" rayu Juminten dengan memeluk erat anaknya.


Hujan yang menguyur deras sejak Siang, membuat orang tua Juminten tergerak hati untuk mengantarkan Sinta berangkat kerja. Di tambah lagi, badannya yang masih belum fit.


"Kan naik mobil. Ya nggak bakal kehujanan, lah!" Juminten menggigit gemas pipi Bumi, mengabaikan anaknya yang teriak kesakitan dan menangis.


"Ibu kebiasaan! Gigit Planet, aja. Jangan Bumi terus! " omel Bumi dan hanya di balas senyuman Ibunya.


"Daging Planet alot, kalau di gigit bikin gigi Ibu ompong ," alibinya, padahal Planet selalu lari dahulu setiap Ibunya akan mendekat.


Untuk menghadapi Planet yang memiliki sifat Introvert, membuat Juminten memilih mendekatinya setiap tidur. Menjadikan Planet sebagai teman, membiarkan anaknya menceritakan semua apa yang dia alami sehari-hari. Perilaku bullying yang sedang marak, kerap membuat Juminten was-was dengan anaknya.


"Assalamualaikum!" ucap Eka dengan keadaan basah kuyup.


"Waalaikumsalam! Eh, sayang kok nggak kirim pesan dulu, kan jadinya aku jemput bawa payung tadi." Juminten berjalan mendekati, tak lupa dia mencium tangan suaminya.


"Gimana pekerjaannya hari ini lancar? Meeeting lancar? " tanya Juminten sambil melepas jas milik suaminya.


Eka tersenyum mendengar perhatian istrinya. Ah, lagi-lagi dia bersyukur memiliki istri sepertia dia. Selalu perhatian di saat kapanpun. Padahal pertanyaan tersebut sudah di ungkapkan Juminten lewat pesan saat dia di kantor.


Eka mengecup kening istrinya, mengacuhkan muka mupeng semua karyawan yang ada disana.


"Andai, Mila mau gitu." batin Eko.


"Buset, kemanten baru gini amat! Udah sono masuk kamar, bikin sepet mata!" gerutu Candra.


Mereka segera kabur dari ruang kerja sambil tertawa, "Anak-anak dimana? Kok tumben nggak duduk di depan?"


"Mereka ikut Bapak sama Emak anterin Sinta ke rumah Dodit. Tadi dia sempet pingsan juga."


"Dia stres kayak kamu dulu ya, sayang." Eka memeluk posesif pinggul istrinya yang sedang membantu melepaskan pakaian kerjanya.


"Sekarang waktunya aku yang bahagiakan kamu!"


Juminten menggoda dengan memainkan jarinya di dada suaminya."Mau langsung mandi, apa mau mainan di kamar mandi sambil mandi?" Eka di buat memejamkan mata, merasakan setiap sentuhan istrinya.


"As you want, baby!" Eka menggendong tubuh istrinya seperti koala.


Brak!

__ADS_1


Eka melu*** dalam-dalam bibir istrinya yang membuatnya tak bisa berkonsentrasi bekerja hari ini. Aroma keringat dan hangat tubuh istrinya, menari-nari indah di indra penciumannya.


Dengan tidak sabaran, dia membuka semua pengaman yang ada di tubuh istrinya dan mendudukkannya di pinggir bak kamar mandi.


"Kenapa kamu memakai kemeja kerja seperti ini masih membuatku bergai*** sayang!"


Juminten meremat rambut suaminya, saat lidahnya mengeksplor seluruh tubuhnya. Memberi sesapan berupa bekas merah di setiap inci tubuhnya.


"Ini semua milikku!" racaunya.


Juminten mengangkat kepala suaminya, "Lakukan semua yang ingin kamu lakukan sayang. Aku pasrah!"


Dengan tidak sabaran, Eka membuka sehelai pakaian yang masih menempel di badannya. Kembali ******* istrinya, dan mulai mengeksplor tubuh bagian bawah.


"Siap-siap menjerit sayang!" serunya.


"Ah..." pekik Juminten, merasakan belitan lidah suaminya di area bawah tubuhnya dan berhasil membuatnya di mabuk asmara.


"Lebih dalam, sayang!" teriak Juminten.


Namun Eka tiba-tiba mengangkat tubuh istrinya dan memojokkannya di tembok. "Aku ingin kau menjerit dengan ini!"


"Ah!"


"Sayang, aku mau keluar!" ucap Juminten terengah.


"Keluarkan sayang, jangan di tahan. Ku buat kau benar-benar merasakan surga dunia."


Eka benar-benar membuatnya gila, bahkan baru beberapa mereka bermain sudah membuatnya gelinjangan.


"Suamimu perkasa sayang?"


"Sangat!"


Eka dan Juminten melanjutkan kegiatan tersebut, Mereka melupakan 2 pria yang sedang kepanasan mendengar teriakan ****** mereka walau pelan.


"Udah tahu rumahnya nggak kedap suara. Ngapain main jam segini coba?" gerutu Eko.


"Buset! Pengantin baru gini amat ya! Kita pulang aja, yuk!" ajak Candra.


"Lu mah enak ada Mila. Ada yang nyambut lu di rumah, gue ya guling! " imbuhnya.


Eko tersenyum kecut, berusaha menutupi keadaan rumah tangga yang sedang tidak baik-baik saja.

__ADS_1


Dia melajukan motornya ke rumah yang lama. Dia sudah memilih pindah kesini sejak memutuskan pisah dari Mila, walau terkadang dia tetap mengontrol istrinya 2 atau 3 hari sekali.


Aroma masakan enak menyambut kedatangannya, "Masa Radit yang masak?"


Eko di buat heran mencium aroma masakan di daerahnya, rumahnya yang dekat dengan pusara Cina menjadi pusat penjualan bunga tabur.


Eko melihat jam di pergelangan tangannya, "Perasaan dia belum ku jemput, deh."


Eko menggaruk tengkuh lehernya, "Ah, masakan tetangga kali ya. Lagi hajatan besar di sini."


Cklek!


Eko membulatkan matanya, rumah dalam keadaan terkunci. Itu berarti ada penyusup yang memakai rumahnya.


"HEI SIAPA, KA-MU!" Teriaknya tiba-tiba terbata, melihat istri cantiknya bisa berdiri dan memasak makanan.


"Nga-ngapain kamu kesini?"


Mila tersenyum kecil, mematikan kompornya terlebih dahulu. Lalu berjalan mendekati suaminya.


"Assalamualaikum, Papi. Kok nggak salam?"


"Wa-wa-alaikumsalam, " jawabnya terbata melihat istrinya yang tampak sangat cantik dengan hijab yang dia belikan untuk hantaran pernikahan.


Mila mencium tangan suaminya, mengambil tas ransel yang masih ada di punggung suaminya.


"Papi mandi dulu, ya. Maaf belum Mami siapkan air hangat, biasanya papi pulang bareng sama Radit pulang."


Eko masih melongo mendengar, melihat dan merasakan kehadiran istrinya yang dalam keadaan sehat.


"Sudah sholat asar?" di jawab gelengan kepala.


"Yuk kita sholat jamaah, terus kita makan bareng. Mami laper banget nih, sayang.".


"Kau Mala atau Mila?"


"Mala masih di rumah sakit jiwa sayang, baru kemarin aku jenguk. Alhamdulillah berat badannya na-"


Eko menarik dan memeluk erat istrinya. tak bisa dia tampik, dia sangat rindu berat dengannya. "Maafkan aku, sayang!"


Mila bahagia mendengar suaminya yang bisa menerima kembali dia dengan baik.


Cup!

__ADS_1


"Aku sayang kamu! Jangan tinggalkan aku lagi!"


__ADS_2