
Juminten mengigit telinga Bumi, "Kapan sih kamu nggak bikin rusuh di rumah sehari? Kayak gini, bikin fitnah Ibu bikinin kamu Adik di kamar. Huaaa... BUMI! Ayo Nak, masuk perut lagi. Ibu gemes ngadepin kamu, sungguh benar-benar menguras otak!" teriaknya frustasi menghadapi tingkah Bumi.
"Ibu kok ikbal sama Bumi." jurus mata baby face dengan wajah mode imutnya dia keluarkan.
"Kanibal, Bumi." teriak Planet menimpali.
Flashback
Bumi dan Planet yang ingin mengajak kedua orang tuanya agar segera berangkat, di kagetkan melihat adegan Abah sedang memeluk erat Ibunya saat membuka pintu .
"Jangan ganggu Abah!" Ucap Planet pelan menutu pintu kembali.
Bumi yang penasaran, segera membuka kembali pintu, "Emang Ibu sama Ab-ah la-gi nga-pain?" Bumi spontan menutup mulut dengan kedua tangannya melihat adegan yang ia liat.
Mereka memilih menutup pintu pelan-pelan dan segera berlari menuju Bapak dan Emaknya yang ada di ruang tengah.
"Bapak, Emak ada kabar!" Bumi berteriak dengan heboh.
"Kabar apa?" santai Udin sambil melihat chanel sepak bola.
Sedangkan Rohaya duduk di sebelahnya sedang memakan bakwan sayur yang sudah di buat tadi Siang, "Kalian mau?" tawar Rohaya. Planet yang memiliki sifat pendiam, memilih ikut duduk sambil mengambil bakwan yang tersaji. Membiarkan Adiknya menceritakan semua kejadian.
"Kita mau punya ADIK!" ucap Bumi menggebu dengan loncat-loncat dan tepuk tangan, khas gaya anak kecil saat bahagia.
"Iya gampang, nanti Emak bikinin Adek!" jawab santai Rohaya. "Planet coba Emak tanya, kamu sekarang umur berapa?" Rohaya mengalihkan perhatian Bumi.
"Em.. 4 tahun kayaknya, Mak." jawabnya.
"Lah, kok kayaknya. Coba Bumi, umurnya sekarang berapa?" tanya Rohaya melihat bumi yang sudah ikut duduk di samping mereka.
"Emak kok make nanya umur berapa, percuma semua orang nggak ada yang tahu umur sampai kapan, Ya termasuk Bumi." jawab santai Bumi sambil memakan bakwan.
" Astagfirullahalazim, BUMI! Umur berapa? Kenapa Emak ngomong sama lu kudu mikir duluan! " emosi Rohaya dengan memeluk Bumi yang duduk di sebelahnya.
Bumi segera menatap serius Rohaya," Makanya itu, Bumi sama Planet minta Adik sama Ibu. Mumpung Emak sama Bapak masih punya umur. "
__ADS_1
Rohaya sontak mengertakkan giginya," Gini amat ngomong sama cucu lu. Berasa uji nyali!"
Sedangkan Udin hanya menatap emosi istrinya sekilas dan kembali fokus menonton chanel bolanya.
"Yuk Planet kita ganggu Ibu sama Abah bikin Adik di kamar, ngomong sama Emak nggak ada kelarnya!" Bumi menarik tangan Planet agar turun dari kursi.
Mereka pun segera berjalan ke kamar Juminten, namun gerakan mereka kalah cepat dengan Udin dan Rohaya yang sudah di depan kamar dengan wajah penuh emosi.
Rohaya segera menarik penebah kasur yang ada di atas lemari kecil di samping kamar.
Brak!
Rohaya mendobrak pintu hanya dengan satu dorongan, mereka semua kaget melihat adegan Eka yang sedang berjongkok sambil memegang tangan Juminten yang sedang menangis.
"Masya Allah, kalian ngapain main drama di dalam kamar? Keluar!" teriak Rohaya dengan membawa penebah kasur.
Sontak Eka dan Juminten berlari keluar dari dalam kamar, menghindari amukan Rohaya, namun langkah mereka terhenti melihat tatapan Udin seperti siap menerkam mereka di depan pintu.
" DUDUK! JANGAN KABUR KALIAN! " ternyata Udin tahu mereka akan bekerja sama kabur dari rumah.
Tiba-tiba Bumi berlari memeluk Eka. "Kan udah Bumi bilang, Ibu sama Abah bikin adik di dalam kamar. Ngapain coba Emak sama Bapak marah-marah?" Bumi seperti menjadi tameng kedua orang tuanya.
Flashback End
"Sebelumnya maafkan saya Pak, sudah lancang masuk ke dalam kamar." Eka meremat kedua tangannya, "Saya mohon izin kepada Bapak juga Emak, saya meminta Juminten untuk menjadi istri juga Ibu untuk anak-anak saya, Pak." Eka menatap serius orang tua Juminten.
Sontak Juminten memandang kagum Eka, ucapan khitbah terindah yang pertama kali ia dengarkan.
Rohaya menjambak pelan rambut Juminten, "Itu mata biasa aja! Nggak usah turunin hujan lope-lope, mana pake ngiler lagi!"
"Sakit, Mak!" Juminten yang mengelus rambut bekas jambakan, namun di kagetkan tangan Planet yang juga ikut mengelus. Sontak dirinya tersenyum melihat perhatian anaknya.
Udin menarik nafasnya, sudah menebak akan terjadi kejadian ini. Melihat Eka yang selalu ada di samping Juminten saat kapanpun, bahkan saat anaknya terpuruk.
"Bapak mau setujuin kalian, kalau Bambang juga bilang setuju. Ingat kalian hargai dia, bagaimana perasaannya tahu mantan istri akan menjadi kakak iparnya," jawab Udin.
__ADS_1
Eka seketika senyum semringah, "Siap Pak, saya akan kabari Bambang secepatnya dan saya akan melamar Juminten dengan mengajak keluarga saya."
"Yaudah sana kalian berangkat, Emak khawatir nambah cucu lagi. Ngadepin 1 Bumi aja rasanya puyeng naudzubillah."
"Emak kurang healing, nih. Semua orang aja tau Bumi cantik, Bumi manis, Bumi pintar." Bumi melenggok-lenggokan pinggulnya dengan gaya centil.
"Terserah lu dah, Emak puyeng." Rohaya memijat keningnya.
🍓🍓🍓🍓
Dodit di buat kepanasan, melihat Sinta yang berdandan cantik dengan makeup flawless malam ini. Sinta yang bekerja sampingan sebagai SPG event produk sigaret ternama membuatnya wajib memakai riasan.
"Ciye.. Papa cemburu ya." goda Rena melihat muka merah Papanya yang sedang mengepalkan tangan.
Sepertinya Dodit tak menggubris ucapannya, karena suara musik di dalam ruangan yang terlalu keras. Rena pun memilih segera keluar dari ruang event yang di datangi mayoritas pria, karena saat ini mereka ada di dalam klub ternama.
"Sial! Kenapa kamu diam aja saat tanganmu di pegang pria lain? Mana harga dirimu?" Dodit mengepalkan tangannya melihat pemandangan yang ia lihat.
Melihat pinggul Sinta juga di peluk pria lain, Dodit tak bisa tinggal diam. Dengan segera berjalan mendekati mereka.
" Hai, Bung! " Dodit menepuk pelan pria yang masih memeluk posesif pinggul Sinta.
"Hmm.. Ada masalah apa?" ucapnya dengan bau alkohol yang sangat menyengat.
Dodit yang sudah emosi dengan segera mencengkram kemeja pria tersebut, "Lu jangan aneh-aneh, ya sama dia! Apa lu mau gue gebukin di sini?"
Eka yang baru datang segera melerai pertengkaran yang akan mulai, "Calm down! Jangan bikin masalah disini!" Dodit segera melepaskan cengkramannya, masih menatap tajam pria yang berbuat tak senonoh kepada Sinta.
"Urus cowok lu, Sin! Urusan disini biar di lanjutin anak-anak yang lain!" Eka mengode dengan kepalanya.
Mendapatkan perintah dari atasannya, dengan segera Sinta menarik keras tangan Dodit keluar dari ruangan event.
Melihat rok belakang Sinta yang terlalu pendek menurutnya, Dodit segera memakaikan jaket yang ia pakai. Lagi-lagi, Sinta menolak kebaikannya.
Dengan emosi Dodit menabrakan tubuh Sinta, "Apa kau ingin mengumbar tubuhmu? Atau kau memang ingin menjadi seorang j*lang di sini?" ucapnya menggebu dengan me
__ADS_1