
Mungkin benar bahwa kita tidak tahu apa yang kita miliki sampai kita kehilangannya, tetapi juga benar bahwa kita tidak tahu apa yang kita lewatkan sampai kita menemukannya
-anonim-
...****************...
Candra memilih menepi dari keramaian orang-orang yang hadir di acara pernikahan yang tertulis namanya dan Sinta terpampang besar, namun kenyataannya bukan dia yang menikah saat ini.
Menarik pelan rambutnya, khawatir pernikahan yang di dasari bukan karena cinta. Akan berakhir di meja hijau dan membuat persahabatan mereka juga ikut kandas.
Bumi mendekati Candra yang sedang duduk di bawah tangga rumah ayahnya. Gadis kecil ini seakan tahu, bagaimana kesedihan yang dilanda teman ibunya.
"Om kenapa nggak masuk?" ucapnya polos.
Candra yang sedang termenung, mencoba tersenyum pada gadis kecilnya. "Om ngantuk, makanya milih di depan aja. Bumi masuk aja, nanti di cariin ibu kamu."
Bumi yang juga bosan, memilih duduk di samping omnya. "Om mau permen?" sambil menengadahkan tangannya yang berisi 5 biji permen coklat kunyah kesukaannya.
Melihat ketulusan gadis kecil di sampingnya, dia mengambil 1 coklat tersebut dan memakannya.
"Rasanya menikah itu enak nggak, Om?"
Candra yang notabenenya seseorang yang gagal nikah, menjadi bingung menjawab pertanyaan tersebut. "Em.. Enak mungkin."
"Ups, maaf. Bumi lupa, kalau om gagal nikah sama tante," sindirnya, sambil menutup mulut dengan tangan kanannya.
Rasanya dia ingin mencubit bibir tak berfilter gadis kecil ini. Di saat dia sedang di landa sedih, dengan entengnya menyindir nasibnya.
Nggak anak, Nggak ibunya. Sama-sama benar kalau nyindir!
"Kalau gitu, Bumi aja yang jadi pengantin om. Bagaimana?" terbit niat usilnya.
"Wah, pasti seru main jadi pengantin. Kalau gitu, Bumi panggil om apa?"
"Suamiku? Bagaimana? " sambil mengerjapkan matanya.
Candra tertawa terbahak sambil memeluk gadis kecilnya. "Oh, istri kecilku. Apakah kamu tidak lapar?"
__ADS_1
"Tidak, suami tuaku. Ah, masa aku manggilnya tua?" dengan tampang imutnya.
Candra kembali masam mendengar ucapan gadis ini, selalu merusak suasana mood yang dia ciptakan.
Resti dari kejauhan tersenyum, menemukan sosok pria yang beberapa bulan ini menjadi teman curhatnya. Rasa gembira tak bisa ia tutupi, mendengar kabar dia tak jadi menikah dengan karyawan sahabatnya..
"Ha-hai, Candra," berusaha mengatur nafasnya yang masih terburu.
Candra yang kaget dengan kedatangannya segera berdiri. "Ha-hai."
Bumi dengan polosnya, memperhatikan tingkah dua insan yang nampak sedang malu-malu kucing saat bertatap muka.
"Tante sama suamiku mau ngapain kok berdiri?"
"Hah? Suamiku?" Resti kaget dan menatap Candra meminta jawaban. Di tatap intens seperti itu, sang tersangka hanya bisa menggaruk tengkuk belakang lehernya.
🍓
🍓
"Mama tak menyangka, impian Mama dan almarhumah dikabulkan." Neneng tak kuasa menahan tangis melihat kebahagiaan yang ada di depan matanya.
Semakin langkah kaki mendekat, dua insan yang sudah sah menjadi suami dan istri saling bertukar senyum tanpa bicara. Seakan melepaskan rasa lega yang menguar, setelah melewati semua keraguan.
Sinta segera mencium tangan dan di balas kecupan dahi oleh suaminya. Sorak para tamu yang mayoritas teman mereka membuat pengantin tersipu malu.
"Aku tak menyangka, musuhku akan menjadi istriku. Terima kasih sudah memberikanku kesempatan untuk menyayangimu dan--" Sinta menutup bibir suaminya.
"Jangan banyak omong, buruan pakai cincin. Nggak enak, nih. Udah di liatin banyak orang." Dodit tersenyum kecut mendengar istri bar-barnya merusak suasana romantis mereka. Dengan wajah yang di tekuk, dia memasangkan dengan cepat cincin yang dia pegang di jari manis istrinya.
Tak di sangka, Sinta menarik suaminya lalu mencium sambil melumati bibirnya di depan para tamu undangan.
"Buset..aura ibu hamil sungguh menantang," pekik Juminten, sedangkan Eka spontan menutup mata planet yang ada di gendongannya.
Merasakan pasokan oksigen udara habis, Sinta melepas ciumannya dengan tersenyum. Rindunya sungguh menggebu dengan pria yang ada di hadapannya.
Dodit membalas senyumannya dan memeluk istrinya. "Terima kasih, karena sudah memilihku. Aku cinta kamu. "
__ADS_1
Cinta? Apakah ini benar yang di namakan cinta? Kebahagiaan bisa bersama dan saling bertautan. Menyatukan dua hati yang sama-sama retak dan menghapus semua keraguan yang ada.
Sinta membenarkan, dia juga mencintai suaminya. Bahkan segenap jiwa raganya, tak sanggup sedetikpun tanpa kabar darinya. Hatinya tak sanggup mengacuhkan ayah dari calon janin yang ia bawa.
Mengingat janin, Sinta segera melepas pelukan eratnya. "Sayang, kasian anak kita."
Dodit yang baru sadar, menekuk lututnya. Mencium juga memeluk perut yang mengeras di depannya. "Hai, Jagoan. Terima kasih juga, karena kalian papa dan mama bersatu."
Rena yang melihat adegan romantis kedua orang tuanya, segera berlari dan memeluk mereka. Dodit dan Sinta segera memeluk anaknya, mencium pipinya dengan kasih sayang.
"Masih lama ya, acara pelukannya. Kita semua lapar, nih. Mohon maaf, jangan tersinggung. Kebutuhan ibu hamil 2kali lebih pesat," sindir Juminten merasakan perutnya yang sudah keroncongan, karena tadi pagi hanya sarapan 2 piring nasi.
Bambang geleng-geleng mendengar kakak iparnya,"Maafkan kami semua, terima kasih untuk semua tamu yang hadir di acara hari ini. Silahkan menikmati hidangan ala kadarnya yang kami sediakan."
Juminten mengacungkan jempol kepada adik iparnya. Bergegas mengambil semua makanan yang di sediakan, tak lupa mengambilkan makanan anak dan suaminya terlebih dahulu.
" Buset, Miss. Itu lapar apa kelaparan,"sindir Eko melihat piring berjajaran di atas meja bossnya.
" Berisik! Diem! Aku kakak iparnya yang buang hajat disini. Jadi bebas mau ngapain,"jawabnya dengan nada sombong.
"Jangan-jangan, kamu hamil kembar lagi," imbuh Mila yang berdiri di samping suaminya.
Sontak Juminten dan Eka saling berpandangan. Mereka tak pernah memeriksakan kehamilan hingga saat ini, karena alibi sang permaisuri mual mencium bau obat-obatan.
Melihat gerak-gerik mereka, Eko bisa menafsirkan bahwa bosnya yang mengaku kaya raya, karena harta warisan kedua orang tuanya. Belum memeriksakan kandungannya.
"Baik-baik, semoga anak kalian baik-baik aja," ucap santai Eko, namun membuat pendengarnya terasa mencekam, layaknya suara makhluk halus.
Rasa laparnya yang menggunung, seketika meletus menjadi rasa kenyang. Juminten berusaha menelan salivanya, melihat ekspresi suaminya yang berusaha baik-baik saja.
"Bagaimana? Ibu tau kan, kalau penting untuk memeriksakan kehamilan. Walau ini kehamilan kedua," sindirnya sambil menyuapi Planet.
"Udah ah, yuk! Periksa kehamilan. Kok aku takut hamil kembar lagi," jawabnya risau.
"Kalau hamil kembar lagi, gimana, Abah?"
Melihat istrinya tak tenang, Eka menggenggam tangan istrinya, "Satu atau dua, yang penting Ibu dan anak-anakku lahir sehat. Pulang dari sini, kita periksa, ya"
__ADS_1