
Beberapa bab ini, author bener-bener ngerasain emosi yang tertantang untuk menjadi seorang Juminten. Mohon maaf, bila readers juga merasakan emosi yang sama 😅 Semoga readers semua mendapatkan pasangan yang baik. Aamiin
...****************...
Bambang yang baru pulang menjemput Mila, mencoba membaringkan tubuhnya di ranjang tidurnya. Rumah terasa sepi, rindu kepada istrinya yang berisik juga bar-bar tiba-tiba menerpanya. Membuatnya di terjang rasa dilema kembali pada dirinya.
Baru juga dia ingin memejamkan matanya, tiba-tiba suara ketukan pintu yang keras dan seperti orang menagih hutang membuatnya terjaga. Dia segera berlari menuju pintu, bersiap emosi dengan orang yang mengetuk pintu rumahnya dengan brutal.
Tok!
Tok!
"Siapa? Apa kau tak diajarkan sopan santun dengan orang tuamu? "
Cklek!
Bambang terkaget, melihat Eka dan bapak mertuanya sudah ada di depan pintu rumah. Tatapan tajam dari keduanya, membuatnya takut sendiri. Bambang mencoba menutupi kecemasan yang ada pada dirinya, dengan mempersilahkan mereka masuk ke dalam rumah.
" Silahkan masuk!"
Namun, baru juga Bambang melangkah masuk ke dalam pintu rumah. Tarikan kaosnya dari belakang, membuatnya kaget dan berbalik menatap siapa pelakunya.
Duk!
Duk!
Duk!
Udin sendiri yang menghajar habis kelakuan mantu nya yang kurang ajar. Seluruh badan mantunya menjadi sasaran amukannya. Bambang hanya bisa diam juga pasrah dengan konsekuensi yang akan di jalani baik sekarang maupun yang akan datang.
Eka yang melihat adiknya dihajar hanya diam tanpa berniat membantunya. Melihat adiknya yang di hajar dengan brutal juga tak melawan atau bahkan membalas semua pukulan dari mertuanya. Sudah cukup menjawab pertanyaannya selama ini. Eka membiarkan mertua adiknya menyalurkan semua emosi pada dirinya.
"Bangun!" teriak Udin.
"Apa kau tuli? CEPAT BANGUN. !"
Bambang yang masih dalam posisi telungkup berusaha untuk menggerakkan tubuhnya yang sakit setelah dihajar. Berusaha untuk bisa bangun dengan sisa tenaga yang dimiliki. Udin yang masih emosi, melihat mantunya kembali rasanya dia masih ingin mencabik-cabik seluruh tubuhnya tanpa ampun.
Eka pun segera mendinginkan ketegangan di antara mereka. "Sudah, pak. Kita istirahat, dulu! Silahkan duduk, pak. " Eka menyajikan botol air mineral dingin di meja. Udin masih dengan diamnya, sambil melirik tajam mantunya.
Eka menyodorkan minum pada adiknya, "Mbang, minum dulu!" Bambang hanya menjawab dengan menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Eka menarik nafas panjangnya, sepertinya jalan penengah emosi kali ini adalah terasa sulit. Tapi, melampiaskan kemarahan dengan adu kekuatan belum ada puasnya. Eka mencoba menceritakan kejadian semalam, agar Bambang tau dimana letak salahnya.
"Dek, Juminten--"
"Aku akan mentalaknya!" jawab tegas Bambang.
Seketika raut wajah Udin memerah. Bersiap menyerang kembali mantu kurang ajarnya. Eka yang melihat nya berusaha menghalangi dengan tubuhnya dengan sekuat tenaga.
"Pak, jangan gegabah dulu! Sabar, pak!"
Udin pun mendudukkan tubuhnya kembali. Meminum air mineral dingin yang ada di depan matanya. Nyatanya rasanya tak semanis yang ada di iklan, masih tetap tawar seperti biasanya. Menyalakan batang rokok yang ada di sakunya, setidaknya memberi kesempatan menantu ba*ingannya untuk berbicara.
"Kenapa kamu ingin mentalak istrimu? Apakah dia punya dosa sama kamu?"
Bambang menjawab dengan menggelengkan kepalanya. Rasa sakit bercampur ngilu, juga tubuhnya yang belum istirahat membuatnya mulai merasakan menggigil.
Eka yang melihat wajah adiknya pucat, segera memapah adiknya ke dalam kamar. Membantu membaringkan tubuhnya diatas kasur, lalu mengambil kotak p3k untuk membersihkan luka-luka adiknya.
"Abang bingung sama kamu, sebenarnya kamu kenapa? Bukannya kamu sudah mulai mencintai istri kamu?" Ucap Eka sambil membersihkan luka yang adi wajah.
"Juminten tau kamu babak belur kayak gini, aku yakin dia pasti nangis. Nggak bakal tega kamu kayak gini, apalagi yang hajar bapak dia sendiri."
"Mbang, abang mohon jangan talak Juminten. Kamu pikir dulu baik-baik, kamu masih butuh waktu untuk berpikir. Ingat, kamu akan menjadi sosok seorang ayah. Apa kamu tega biarin anak kamu merasakan yatim?"
Eka yang melihat adiknya seperti itu, hanya bisa menarik nafas panjang. Sepertinya, sifat egois juga keras kepalanya masih juga belum bisa berubah. Eka meninggalkan adiknya yang tidur, lalu pergi ke ruang tamu menemui Udin.
"Abang mau disini apa ikut ke rumah sakit?" Udin memakai jaketnya kembali, bersiap kembali menemui anak dan istrinya.
"Ikut ke rumah sakit aja, pak. Apa bapak ndak mandi dulu? Biar segeran, pak."
"Sudah, ayo kita ke rumah sakit aja. Bapak nggak betah rasanya satu rumah sama baj*ngan itu."
🍓🍓🍓🍓
Juminten dinyatakan sehat setelah 2 hari di rumah sakit. Lebih cepat 1 hari dari perkiraan dokter.
Senyum ceria tampak dari diri Juminten. Ia akan pulang ke rumah orangtuanya. Rumah penuh cinta yang selalu dia rindukan.
Tut!
Tut!
__ADS_1
"Telpon siapa, Jum?" tanya emak sambil menata baju.
" Mau telepon suami Jumi. Biar dia susul Jumi di rumah emak, aja." terlihat muka sedih dari kedua orang tua Jumi. Namun, mengingat ucapan dokter untuk tak membuat anaknya stres mereka memilih diam serempak.
"Emak tumben nggak berisik, biasanya juga berisik kalau Jumi heboh!"
"Emak capek, Jum! Udah kangen kasur. Nanti, nyampek rumah jangan teriak-teriak. Emak pengen bales dendam molor."
"Iya, mak. Nanti Juminten mau telpon Farid ma Resti, ah. Biar mereka main ke rumah. Boleh, mak?"
"Boleh. Udah lu jangan banyak tingkah. Duduk manis disitu aja. Yang hamil lu, yang sumpek emak. Takut jiwa bar-bar lu kambuh!"
Omongan mereka terhenti melihat Bambang masuk ke dalam kamar sambil membawa buket bunga mawar merah besar.
"Pak, ke depan yuk! Cari ganjelan perut!" Rohaya menarik suaminya untuk keluar kamar, tanpa menyapa mantu mereka.
Juminten tersenyum melihat suaminya yang datang. "Mas, udah sembuh? Katanya abang, kamu sakit."
Bambang tak menjawab pertanyaan istrinya. Meletakkan buket mawarnya diatas sofa yang ada di dalam kamar. Berjalan mendekati istrinya, yang selama 2 hari ini tak ia lihat.
Tangannya terulur mengelus rambut panjang hitam istrinya. Mengelus pipi yang terlihat tirus, padahal sebelum perpisahannya kemarin pipi ini masih terlihat chubby.
"Maafin mas, ya. Mas baru bisa kesini." Bambang mulai membuka obrolan.
"Iya, mas. Nggak apa-apa. Kan mas lagi nggak enak badan. Mas sakit apa?"
"Dihajar bapak!" jawaban Bambang membuatnya kaget. Bapaknya seorang yang sabar, secara akal sehat bapaknya tak akan mungkin tega melakukan itu. Apalagi kepada menantunya.
"Mas bercanda,kan?" Bambang menyunggingkan senyumnya. Mengambil tempat duduk, agar dia bisa berbicara dengan nyaman dengan istrinya.
"Sayangnya itu tidak bercanda, Jum!"
Deg!
Jum?
Suaminya memanggilnya dengan panggilan Jum?
Apakah ini artinya ada perpisahan setelah ini?
Juminten berusaha kuat menahan tanda tanya juga rasa sesak segala pernyataan yang siap menguras emosi jiwanya.
__ADS_1
" Mas mau mentalak Juminten? "
Dan pernyataan itu sukses membuat Bambang terdiam. Rasanya lidahnya kelu untuk menjawabnya.