
Buset nih cewek, tubuh pendek kayak nggak ada gizi gini. Eh ternyata berat banget! " ucap Eko sambil membantu Sinta turun dari motor yang dia bawa.
"Assalamualaikum." ucapnya lemah.
"Waalaikumsalam." Ani yang mendengar suara anak asuhnya datang dengan segera lari ke pintu depan, "Astagfirullah Sinta, kamu kenapa Nak?" pekiknya melihat anak asuhnya di bopong Eko.
"Tolong izinkan kami masuk dulu, Bu." ucap Eko, karena menahan berat badan.
Ana segera mengajak masuk Eko ke dalam kamar Sinta, Bambang yang baru mandi lari tergopoh-gopoh melihat adiknya sakit.
"Makasih banyak Mas Bro, udah nganterin Adik gue pulang," tepuknya pelan di bahu Eko, "Duduk depan, yuk."
Mereka duduk di ruang tamu, menikmati kudapan yang sudah di siapkan Ana sejak mendapatkan kabar dari Juminten.
"Sakit apa si tomboy? Tumben dia bisa sakit. Biasanya juga di terjang aja kalau masalah kerjaan." ucap Eko.
"Gue aja baru bangun tidur, nanti deh gue tanyain. Em.. Kabar anak-anak gimana? Tadi Juminten sempat nelpon katanya Bumi buat resek di sekolah."
"Oalah, tadi pulang juga masih ngambek. Padahal Abahnya dah beliin dia boneka gede yang bisa nangis, tapi masih ngotot minta adik bayi." jawab Eko.
Eko menatap serius Bambang, "Lu kira-kira ikhlas nggak kalau Miss jadi kakak ipar lu? Sorry jangan suudzon dulu, gue perhatiin mereka semakin intens."
"Haha.." tawanya sumbang. "Abang gue emang udah bilang, dari Juminten pas koma dulu kalau mau bahagiain dia. Kalau emang beneran gitu, ya alhamdulillah. Gue juga udah rela kok, dia sama Abang, karena selama sama gue belum pernah bisa gue bahagiain."
Bambang menatap langit-langit rumah," Sinta sering nasehatin gue, rasa cinta gue ke Juminten adalah mengikhlaskan dia dengan orang lain. Dan orang itu Abang gue. "
Eko menepuk bahu Bambang untuk menguatkannya pasti tak mudah menjadi dia yang sekarang," Gue pamit ya. Salam ke Sinta sama Bu Ani. "
" Makasih ya, Mas Bro. "
🍓
__ADS_1
🍓
Eko segera mengendarai motornya ke tempat mengaji anaknya, sambil pikirannya melayang memikirkan nasib pernikahan.
4 tahun sudah perjalanan pernikahan ini, namun Mila benar-benar selalu menguji perasaannya, bahkan belum ada sedikitpun kebahagiaan yang ia dapatkan dari buah kesabarannya.
Melihat Papinya di depan tempat mengaji, Radit segera berlari mendekatinya," Assalamualaikum Papi. "
Lamunan Eko pun buyar dengan suara anaknya, " Waalaikumsalam. Sudah pulang, Nak? Ayo naik. "
Eko mengarahkan motor ke arah rumah miliknya, terlihat lampu masih dalam keadaan mati padahal hari sudah hampir malam. Hal yang biasa ia jumpai setiap pulang kerja.
"Assalamualaikum." teriaknya, berharap istri tercinta menyambut kedatangan mereka.
Pemandangan ruangan gelap dengan semua gorden masih saja tertutup rapi, sama seperti saat ia meninggalkan rumah.
Eko segera masuk ke dalam rumah, terlihat gelas telah terpecah belah menyambut kedatangan mereka. Radit yang sudah terlatih dewasa di umurnya, tergerak mengambil sapu juga cikrak untuk membersihkan kerusuhan yang di sebabkan ulah Maminya.
Eko melihat Mila tergeletak duduk di depan kompor, "Mami kenapa sayang? Kok duduk di depan sini. Masuk kamar, yuk!" ucapnya pelan dengan mengelus pelan rambut istrinya yang acak-acakan.
Eko menggendong istrinya dengan bridal style, Mila mengalungkan tangannya di leher suaminya. Tujuan mereka saat ini masuk ke kamar tidur.
Radit sudah menyambut mereka terlebih dahulu dengan kamar yang bersih. Sepertinya anak kecil ini, juga sudah membersihkan kamar mereka sebelumnya.
Eko meletakkan istrinya dengan perlahan, lalu mendekati anaknya yang masih berdiri di samping mereka. tangannya terulur memeluk erat anaknya, "Makasih, Nak. Radit ganti baju terus makan ya." Eko mengusap rambut anaknya.
Eko melepas baju kerja yang ia kenakan, mengambil air dari kamar mandi untuk menyeka tubuh putih istrinya. Mila terisak menangis, meringkuk di atas kasur. Pasrah dengan semua perlakuan suaminya.
Eko segera membuka v**ina istrinya, mengolesnya dengan salep yang ia pakai biasanya, "Mas nggak pengen nyentuh dalamnya?" Mila memegang tangan suaminya, menatapnya dalam-dalam.
"Maksudnya?" Eko bukan pria yang bodoh atau pria sok suci. Dia sangat paham dengan kegiatan apa yang di maksud istrinya.
__ADS_1
Mila berusaha duduk, lalu mencium bibir suaminya. Bibir yang jarang ia jamah selama menjadi seorang istri. Eko kaget dengan perlakuan istrinya, bukankah dia selalu menolak sentuhannya karena takut membawa virus untuknya.
Eko segera menarik kepala Mila terlihat air mata turun deras, "Kamu kenapa Mami?" ucapnya pelan.
"Aku ingin cerai Mas, tapi aku lupa belum pernah memberikanmu tubuhku untukmu. Bahkan kau belum menyentuhnya sama sekali, sentuhlah aku mas!" Mila memegang wajah suaminya.
Sontak Eko meninggalkan istrinya, ide apa lagi kali ini. Bahkan selama 4 tahun ini, ia menjalani dengan ikhlas pernikahannya. Apa kurang sabar ia mengalah juga melayaninya?
Eko segera mengguyur tubuhnya yang lelah dengan air dingin, berharap bisa mendinginkan pikiran juga hatinya. Setelah mandi, ia memilih masuk ke kamar anaknya dan menikmati waktu berdua, karena baginya saat ini Radit adalah sumber semangatnya setelah Mila.
"Papi.. Papi.." teriak Mila karena ingin buang air besar.
Namun Eko bungkam pura-pura tak mendengar suaranya.
"Papi! Papi tolong!"
Merasa suaminya tak mendengar, Mila berusaha turun dari kasur. Mengesotkan tubuhnya ke kamar mandi. Kel**innya terasa perih, setiap ia berjalan. Dan hari-harinya Mila selalu mengesot.
Setelah Radit tidur, Eko segera keluar dari kamar untuk mengecek keadaan istrinya. Walau dalam hatinya terasa masih sangat dongkol.
Cklek!
"Papi tadi kenapa aku panggil nggak datang-datang?" Mila mulai menangis lagi dan menggigit bantalnya pertanda ia sedang mengendalikan emosinya.
"Buat simulasi kamu tanpa aku! Bukannya kamu yang meminta cerai? Entah kesalahan apa yang aku lakukan sama kamu, hingga kamu meminta bercerai dariku!"
Untuk pertama kalinya Eko menunjukkan kemarahannya di depan Mila, suaminya yang selalu sabar menghadapi dan selalu memberikan semangat untuk dia sembuh tak ada lagi.
" Kenapa diam? Bukannya memang ini mau kamu? Hah? Ayo jawab! " ucapnya dengan melototkan matanya.
Mila terhenyak mendengarkan setiap ucapa Eko. Sungguh kejamnya dia tak tau bagaimana caranya mengucapkan terima kasih untuk suaminya, bahkan hari-harinya hanya bisa merepotkan suaminya.
__ADS_1
Eko menutup pintu keras lalu mengunci nya ia melepas semua pakaian yang ia gunakan," Ayo lakukan itu! Bukannya ini yang kamu mau, dan setelah ini aku mengajak Radit pergi jauh dari hadapanmu!"
Mila menggeleng ribut, dengan segera menarik selimutnya ke atas untuk menutupi seluruh tubuhnya. Suara jantungnya yang sedang berdebar, terdengar menggema di telinganya.