Pesona Juminten

Pesona Juminten
BAB 103


__ADS_3

"Wah, cuaca sangat cerah!" pekiknya.


Pagi yang indah juga bahagia baginya. Gerimis turun deras membahasahi tanah, hampir tak ada jarak dalam selang waktu. Sang bayu berhembus kencang bersama suara petir yang menggelegar. Eka tersenyum memperhatikan indahnya pemandangan di luar rumah, dengan memegang hasil tes kehamilan istrinya yang bergambar dua garis merah.


"Kayaknya mantu kita sakit beneran, Pak. Cuaca kayak gini di bilang cerah," sindir Rohaya sambil menyajikan nasi goreng di atas meja.


"Namanya juga orang bahagia, sama kayak Bapak dulu. Dapat kabar Emak hamil juga gitu. Apalagi kita nikah sudah 5 tahun, baru punya Juminten," jawab Udin.


"Nggak usah bahas anak, Pak. Emak kesel sama mereka, di bilang tunggu dulu. Eh, baru acara apa itu 3 hari yang lalu anniversary yang ke 2 bulan. Lha kok ternyata sudah isi," gerutunya.


"Ngomong aja, Emak iri sama Juminten nikah 2 kali langsung tokcer semua. Lha kita, harus program dulu baru hamil."


"Gemes deh sama suami, kalau ngomong selalu benar."


Setelah makan, mereka memilih menemani kedua cucunya yang sedang belajar bermain piano di ruang tengah.


"Assalamualaikum!" Candra dan Sinta memasuki rumah.


"Waalaikumsalam."


Mereka menyalimi kedua bosnya dengan baju yang sudah basah kuyup, karena Candra selalu lupa membawa mantel.


"Ini juga, Candra kok nggak bawa mantel. Udah tau mau jemput anak gagal perawan, malah tega di basahin. Asal lu tau, setetes air mengenai wajahnya itu berarti 1000 luka sesak masuk ke hatinya. Pasti nggak tahu kan, makanya jangan jomblo kelamaan." Rohaya yang sedang mode badmood ikut mengomentari kelakuan karyawannya.


Candra hanya bisa menggaruk tengkuknya, memang itulah kenyataan. Dia yang memang hampir tak pernah dekat terlalu intim dengan wanita. Hingga melupakan barang penting seperti mantel yang bisa melindungi wanitanya dari terpaan hujan.


" Udah, sana berangkat kerja. "


Rohaya menyipit melihat Sinta masih betah menempel duduk di dekatnya. Layaknya seorang artis yang sedang mengagumi fansnya.

__ADS_1


"Nyonya pakai parfum apa, kok wangi banget."


Udin ikut mencium bau istrinya, "Dia nggak pernah pakai parfum, Sin. Seumur-umur nikah sama dia, pakai parfum kalau mau berangkat ke kondangan. Hidungmu sakit?"


Sinta mencoba menggaruk hidungnya, akhir-akhir ini indra penciumannya sangat tajam. Bahkan buah durian yang bau menyengat terasa wangi di hidungnya. Sering merasakan pusing, namun tak ia rasakan, karena menjelang sore sakit itu berangsur hilang.


" Assalamualaikum. " Eko masuk dengan lemas sambil menyalimi kedua bosnya.


" Kenapa kok lemas? Kamu sakit?"tanya Udin.


Eko menggeleng lemah. "Istri yang hamil, saya yang muntah-muntah, Pak. Kalau kata dokter, ini namanya kehamilan simpatik."


Kehamilan Mila yang kedua sungguh menyiksa buat Eko. Dia di buat lemas dengan morning sickness parah dan kemungkinan hilang di umur kehamilan istrinya 16 minggu.


"Aku bungkusnya di sebelah nyonya aja, ya. Enak bau nyonya, bikin perut rasanya nyaman," ucap Sinta.


"Jangan-jangan lu hamil juga, Sin," tebak Rohaya.


"Ah, nggak nyonya. Kan saya dulu cuman 1 kali ngelakuinnya, jadi nggak mungkin hamil. "


"Heh! Hati-hati kalau ngomong, emang kamu ingat di ajak naik berapa kali dalam semalam? "


Sinta mengingat kembali kejadian pahit tapi nikmat dahulu. Yang dia ingat, dia hanya benar-benar pasrah dengan menjerit, sambil menikmati semua perlakuan Dodit kepadanya.


" Jum! Tolong ambilin tespack punya lu! Emak kok gatal, pengen tes anak ini," teriaknya.


Juminten datang dengan muka yang pucat. "Ini, Mak! "


Eka yang melihat istrinya berjalan ke ruang tamu, buru-buru memapahnya. Morning sickness istrinya membuat tubuhnya lemas, bahkan susu hamil yang dia buatkan pagi ini ikut kembali keluar.

__ADS_1


"Alhamdulillah, kita panen cucu. Kalau Sinta benar hamil juga," ucap Udin.


"Saya doyan makan, Pak. Jadi sepertinya tidak mungkin hamil, " elaknya.


Rohaya menarik Sinta masuk ke dalam kamar mandi. Memberikan instruksi sebelumnya, untuk menggunakan alat tersebut. Sinta sudah berkali-kali menolak untuk memeriksanya, namun kekuasaan Rohaya tetap yang menang.


" Gimana hasilnya? Garis berapa? "


Sinta bingung mengungkapkan hasil yang dia dapatkan. "Kayaknya alat ini rusak, Mak. Hasilku masa garis nya seperti ini." Menunjukkan hasil 2 garis, namun garis yang kedua terlihat samar.


Rohaya mencoba memfoto hasilnya, lalu mengirimkan ke Dodit. Diam-diam mereka sering bertukar pesan untuk memberikan kabar tentang Sinta.


" Kalau kata Emak sih, lu lagi hamil. Ya Allah, terus lu kapan kerjanya kalau nempel gini terus."


Sinta hanya tersenyum mendengar gerutuan bosnya. Saat ini dia hanya merasakan kenyamanan dengan aroma tubuhnya.


Juminten memilih tiduran di pelukan suaminya. Tenaganya terkuras habis, bersamaan dengan volume muntah yang dia keluarkan.


" Sayang, kira-kira ada yang di pengen nggak? Mumpung hari ini Abah libur." Eka menyisir rambut panjang istrinya


"Boleh bilang, pengen bakso langgananku dulu sama Bambang nggak?"jawannya sambil memainkan bulu halus di dada suaminya.


" Boleh sayang, nanti abah anter, ya. "


" Kalau minta Bambang yang anter juga temanin makan disana boleh, bah? "


Eka terkejut lalu mendudukkan tubuhnya, hatinya terasa mendidih mendengar ungkapan istrinya.


Juminten ikut bangun lalu memeluk manja suaminya, "Inget sayangku, ini ngidam. Kalau nggak di turutin siap-siap, Eka junior akan ngiler sepanjang hari."

__ADS_1


Mendengar kata 'ngiler', dengan terpaksa Eka menekan tombol panggilan terhubung dengan adiknya. Juminten tak henti mencium suaminya, karena sudah mau menuruti ngidamnya.


__ADS_2