
Ketika kamu telah menemukan cinta sejati, jangan berniat untuk menemukan yang lain lagi. Segera peluk dan genggamlah ia selama kamu masih memilikinya.
...****************...
Juminten tersenyum melihat suaminya yang masih asyik bergulung dengan selimut dan membelit tubunya seperti guling.
Cup!
"Selamat pagi, Suamiku. Bangun yuk!" Mengelus pemilik dada hangat yang semalaman tak memberikan kesempatan untuknya menjauh, walau hanya hitungan detik.
"Ayo sayang, bangun. Hari ini anak-anak minta sarapan opor ayam. Ibu ng-gak kuat nih angkat kakinya, Abah, "
ucapnya sambil mengangkat belitan kaki yang terasa sangat berat.
"Emh.." lenguh Eka, pertanda dia akan bangun.
Dengan memasang senyum termanis, Juminten telah bersiap diri untuk menjadi pemandangan pertama suaminya.
Tiba-tiba tubuhnya di himpit dengan pria yang masih betah memejamkan matanya. Menelusuri tubuhnya dari ujung rambut hingga ujung kakinya, membuat Juminten menahan dengan mengigit bawahnya agar tak mengeluarkan suara indahnya.
"Pagi, Istriku!" suara parau khas orang bangun tidur.
"Pagi, Suamiku! Bangun yuk, Sayang."
Eka segera turun dari kasur dan menuju ke kamar mandi. Sedangkan Juminten memilih menuju dapur, melakukan aktivitas untuk membuat suami dan anaknya tak kelaparan hari ini.
"Cantik, bangun yuk, Sayang!"
Eka mengelus pipi gadis kecilnya yang masih berjalan-jalan di dunia mimpi.
"Sayang, bangun."
"5 menit lagi, Abah!" ucapnya manja, merasakan matanya yang terasa berat untuk di buka.
"Planet, tolong bangunkan Bumi!" teriak Eka.
Dengan tergesa-gesa Bumi turun dari ranjang, dia tak ingin merasakan omelan pedas kakaknya di pagi hari.
"Haha.. Jurus ampuh!" Eka tertawa melihat Bumi yang berjalan terhuyung menuju kamar mandi, "Eh, salah jalan. Kamar mandinya di sebelah kiri!" pekiknya melihat Bumi hampir membuka pintu kamar.
"Oke lanjut bangunin Planet."
Eka melangkah membuka kamar jagoannya. Terlihat anaknya masih asik menghabiskan susu botolnya.
"Ayo nak, bangun," ucapnya dengan memeluk erat tubuh anaknya.
Planet yang merasakan ada pelukan di tubuhnya, berusaha melepaskan belitan tangan Abahnya, "Abah, Planet sudah besar!"
__ADS_1
"Abah lepas terus mandi, ya!"
Merasakan pelukan Abahnya terlepas, Planet segera berlari ke kamar mandi. Beres dengan kegiatan anaknya, dia beralih ke kamar untuk memakai seragam kerja.
Cklek!
"Oh, ****!"
Melihat pemandangan naked istrinya, yang sedang membelakangi pintu. Untuk urusan ini harus benar-benar di utamakan dan di tuntaskan sekarang.
Eka segera mengunci kamarnya dan membopong tubuh istrinya yang akan memakai daster rumahnya.
Juminten yang di gendong seperti membawa karung goni hanya bisa pasrah saat di turunkan di atas ranjang, "Fast ya Bah, anak-anak keburu panggil kita nanti,"
"Laksanakan!"
Eka segera menuju titik saraf lemah istrinya, Juminten menutup bibirnya rapat-rapat merasakan sentuhan suaminya.
"Masukin sekarang, ya!"
"Eh.. Nggak adil dong, Sayang." Juminten beralih bangun dan memindah posisi di atas. Menuju titik tujuan yang selalu membuatnya menjerit dan lemas. Sayangnya, Eka tak ingin menyia-nyiakan waktu singkat mereka.
Dengan cepat dia mengubah posisi kepalanya berbeda dengan arah istrinya. Juminten di buat hampir berteriak merasakan pengalaman pertama melakukan kegiatan tersebut.
Dok!
Dok!
Dok!
Dok!
Tak lama, terdengar suara kedua anaknya yang sedang beradu pendapat, "Dobrak aja!"
Dengan cepat mereka meraih baju yang di kenakan sebelumnya. Eka yang merasakan kepala cenut-cenut atas bawah, memilih menelungkupkan tubuhnya di atas ranjang.
Cklek!
"Eh, anak Ibu udah siap. Yuk sarapan dulu," ajak Juminten ke ruang makan, mengacuhkan suaminya yang sedang membutuhkan pertolongan pertama dengan tubuhnya.
"Ibu ngapain sih, kok lama bener," gerutu Bumi.
"Lagi setrika baju, Abah," jawabnya sekenanya.
"Bukannya Ibu nggak bisa setrika baju ya, Mak? Biasanya juga di bantu Tante Sinta, " ucap Planet
Juminten di buat tak bisa berkutik, mendengar ungkapan anaknya. Dia lupa anak-anaknya sudah bisa berpikir logis.
__ADS_1
"Ups, ketahuan sama anak! Nyut-nyutan atas bawah samping kanan atas. Pantesan nggak ikut sarapan," ucap Rohaya dengan suara pelan, karena tempat duduknya tepat di sebelah Juminten.
"Udah Mak, jangan pernah bosen lihat Jumi pakai shampo tiap hari. Kalau udah melendung bakal jarang kok nanti."
"Sekalian aja bikin pabrik shampo, kan lumayan sama nambah duit," cibirnya
"Wah, ide bagus tuh. Nanti modalnya Jumi hutang Emak dulu, ya,"
Rohaya mencubit pelan lengan anaknya,yang selalu pintar membalas ucapannya, "Ih, gemes Emak!"
Niat hati hanya ingin menggoda, malah anaknya setuju walau berakhir akan hutang uang. Satu sisi lain, dia juga bangga berhasil menumbuhkan sifat anaknya yang ingin menjadi pengusaha.
Menyadari suaminya yang tak kunjung keluar kamar hingga anak-anak sudah berangkat sekolah, Juminten memilih masuk ke dalam kamar.
"Abah!"
"Abah di mana?"
Rasa khawatir menyeruak mencari keberadaan suaminya yang hilang, Juminten mencoba masuk ke dalam kamar mandi.
"Abah!"
Grep!
Eka memeluk istrinya dari belakang, niat hati memberikan kejutan. Namun justru dia yang terbalik mendapatkan kejutan istrinya yang menangis.
"Sayang kenapa?"
Juminten menggelengkan kepalanya.
"Sayang kenapa? Kok nangis?"
"Ta-takut di tinggal kayak yang dulu!" jeritnya.
Juminten hampir tak bisa bernafas, merasakan tangisannya yang tergugu. Sungguh, rumah tangganya yang lalu masih menimbulkan trauma besar di benaknya.
"Aku sayang kamu, Bah. Aku akan menyanggupi semua permintaan Abah. Asal Abah tak ada niat menduakanku atau mengacuhkan aku! Tunjukkan kekuranganku, aku janji akan memperbaiki semuanya! " teriaknya terdengar seperti orang frustasi.
Tak bisa di tampik, alasan dia berharap segera memiliki momongan untuk mengikat suaminya. Seluruh rasa cintanya, sudah dia habiskan untuk suaminya.
Dor!
Dor!
" Jum.. Jum.. kenapa, Nak? Eka.. Tolong bantuin Jumi! " Rohaya di buat cemas, mendengar suara jeritan anaknya hingga di dapur.
"Juminten nggak apa-apa, Mak. Dia ingat sama kejadian Bambang lagi!" teriak Eka dari dalam.
__ADS_1
Mendengar jawaban menantunya, membuat Rohaya semakin khawatir. Ingin dia membuka pintu kamar anaknya, namun khawatir mereka sedang tidak memakai pakaian. Akhirnya, dia memutuskan berlari mencari suaminya yang sedang keluar mencari rumput untuk kambing-kambingnya.