Pesona Juminten

Pesona Juminten
BAB 59


__ADS_3

"Lu kenapa sih, dari tadi Emak liat lu kesel amat, " ucap Rohaya melihat mantan perawannya mengerucutkan bibir di Pagi Hari.


"Kesel sama Jessica!" Jawabnya sambil meletakan kepalanya di atas meja makan.


Niat hati pergi ke dapur untuk mencoba resep masakan viral, yang ia dapat dari aplikasi sosial medianya.


"Kenapa bininya Sueb? Bukannya bagus, dia lahirin keturunan buat ladang rezeki anak lu nanti." Rohaya menjawab sambil tangannya mengaduk masakan.


Juminten mencebikkan bibirnya. Untuk masalah ini, Emaknya sedang tidak satu frekuensi dengannya alias tidak peka.


"Dasar Emak nggak peka!" jawabnya dengan emosi. "Jumi kan yang hamil duluan dari pada dia! Kenapa malah dia yang lahiran duluan?" jawabnya berapi-api.


Prang!


Sontak Rohaya melempar spatula yang ia pegang ke wajan, "Amit-amit jabang bayi lanang wedok! Ya Allah gusti...! Tahan... Tahan...Ambil nafas...!" Rohaya menarik nafasnya sambil memegang meja bumbu yang ada di dekat kompor.


"Emak nggak mau jawab deh Jum, takut ngimbas ke anak lu! " Tak hentinya Rohaya mengelus-elus dadanya, agar tak mengeluarkan umpatan kasarnya untuk anaknya.


"Udah ah, Jumi mau berangkat kerja aja. Di rumah bikin panas, liat Justin sama bininya lagi momong anaknya kok ngiler aing." jawabnya.


"Iya, hus sono berangkat!" usir nya, "Emak ngopenin lu selama bunting rasanya stres! Semoga besok duo gemoy yang bantuin gue ngilangin stres hadepin elu. "


Juminten menggelengkan kepalanya mendengar gerutuan Emaknya, "Heran deh Jumi, kayak Emak tuh nggak pernah ngopeni Jumi selama ini. Tujuh belas tahun loh, Jumi jadi anaknya Emak. Masa amnesia?"


"Dari tadi Bapak dengerin kalian rame aja, Bukan nya hari ini Juminten masuk pagi? Kok masih di rumah?" tanya Udin yang baru masuk dapur.


"Ini mau berangkat, Pak. Tuh Emak gerutu mulu, nggak pernah bersyukur punya anak secantik Jumi," jawab Juminten.


"Pak, emang kalau orang bunting bisa bikin bego ya?" tanya Rohaya.


"Ya nggak tahu, Mak. Emak kan hamil cuman sekali, jadi Bapak nggak bisa bedainnya," jawabnya santai.


Terlintas ide konyol Udin untuk menggoda istrinya, "Kecuali... Kalau Emak nyuruh nikah lagi. Nah, baru deh bisa bandingin!"


Perkiraan Udin salah, istrinya menjawab dengan santai, "Boleh, sayang. Kebetulan kemarin siang, Emak dapat telepon dari mantan pacar pas sekolah dulu yang jadi TKI di Arab Saudi, Mas Haris. Kemarin sempat ngajak ketemuan diem-diem di restoran. Malah semalem video call juga, katanya kangen banget sama cerewetku. Kanโ€”" Udin segera beranjak dari kursi.


Prak!


" Masalah selesai! " Udin segera keluar mencari udara segar, setelah membanting ponsel milik istrinya.

__ADS_1


" Mak...BAPAK KU-MAT! " teriak Juminten.


Rohaya yang baru sadar dengan ucapannya, segera berlari ke ruang tengah. Menatap ponsel Samsung A10 miliknya tergeletak tak menyala dengan layar yang sudah retak.


"Emak sih, mancing Bapak cemburu!" Jumimten mengambil ponsel yang jatuh.


Rohaya ikut mengambil ponselnya, melihat anaknya kesusahan. "Emak khilaf elah, lupa!"


"Ckck..Bapak kalau cemburu berani keluarin duit banyak, ya. Dulu banting blender, pecahin kaca jendelaโ€”"


"Masih mending kalau pecahin barang harga segitu. Bapak pernah jeburin motor ke empang gara-gara Emak pulang nebengin Jumain, padahal itu motor beli pas jadi manten baru."


Juminten mengelus bahu Emaknya, yang sedang meratapi nasib ponsel kesayangannya, " Makanya jangan pada suka mancing, udah mau punya cucu masih aja cari gara-gara. "


" Udah sono berangkat, makin pusing Emak liat lu di rumah!" Rohaya mengibaskan tangannya.


"Yaudah, Jumi berangkat. Baik-baik sama Bapak, ya! Jumi doain panjang umur."


"Aamiin ya Allah" jawabnya lesu.


๐Ÿ“๐Ÿ“๐Ÿ“๐Ÿ“


"Mau ada anak TK pesta perpisahan disini ya? Kok masuk ruangan sini pake balon-balon gini." Juminten kaget melihat hiasan serba biru tertempel di dinding ruangan.


Duar!!


Juminten kagum melihat hiasan percahan kertas berwarna-warni yang jatuh dari balon besar yang tertempel di langit ruangan. Tulisan welcome baby boy terjuntai sampai bawah.


" Selamat Miss!" Ucap mereka serentak.


Juminten tersenyum merekah, batinnya tak henti mengucapkan syukur alhamdulillah memiliki keluarga seperti mereka. Juminten memeluk semua karyawan perempuan, menyalurkan rasa terima kasih untuk acara pagi ini.


"Bentar, kalian tau dari mana salah satu dari duo gemoy itu cowok? Aku nggak pernah cerita siapa-siapa, loh." Juminten menatap mereka satu persatu.


"Noh, yang rempong acara ini dari semalem!" Eko melirik sosok yang ada di belakang Juminten.


Eko di buat gemas, melihat Juminten yang nampak malu-malu kucing, "Buset...kayak bocah aja sih, Miss! Noh, ayang beb di belakang Miss!"


Juminten kaget merasakan tubuhnya terhuyung karena tangan seseorang yang membalikkannya ke arah belakang. Bambang menatap dengan senyum, tingkah wanita yang masih bersemayam di dalam hatinya hingga saat ini.

__ADS_1


Juminten yang ditatapnya seperti itu, spontan menutup wajah, "Jangan terlalu lama natapnya, Jumi takut jadi dosa!" Bambang hanya menjawabnya dengan tertawa.


Bambang mengambil kedua tangan Juminten, "Semoga kamu dan calon anak kita sehat sampai lahiran."


"Aamiin!" ucap karyawan.


"Semoga kamu menjadi ibu yang baik untuk kedua anak kita dan selalu mengutamakan mereka dari pada urusan yang lain." Tangannya mengelus perut Juminten.


"Masih lama ya mesraannya? Laper nih! Gini amat perjuangan dapet sarapan nasi padang lauk paru." Sinta menyindir pasangan yang melupakan karyawan mereka yang mayoritas jomblo.


Untuk kali ini, Juminten bahagia mengenal Sinta. Dia menyelamatkannya dari rasa takutnya untuk mendengar pernyataan Bambang yang selanjutnya.


Berbeda dengan Bambang, menjadi kikuk mendengar pernyataan Sinta, "Eh.. Iya. Silahkan makan!"


Melihat semua karyawannya sedang sibuk mengambil makanan. Juminten berjalan meninggalkan ruangannya dan memilih masuk ke dalam kamar ekslusifnya.


Juminten mengeluarkan tangisannya disana, merutuki tubuhnya yang masih menyimpan sisa rasa untuk mantan suaminya.


"Kenapa baru sekarang kamu nerima mereka? Di saat Jumi benar-benar mengucap sumpah untuk melupakanmu dan tak kan meronta untuk mengharapkanmu kembali."


Juminten segera mengambil ponselnya yang ada di dalam saku, membuka kontak Eka yang selalu centang 1. Sudah 3 bulan dia tinggal di Kalimantan, namun tak ada satu pun pesan yang di balasnya.


" Abang, Jumi kangen! " suara jeritnya.


" Abang, Jumi nggak punya tempat curhat lagi selain Abang!"


"Abang, kapan pulang?"


Juminten menangis tersedu sambil memukul kasurnya. Merutuki tubuhnya yang tak selaras dengan semboyan move on yang selalu ia ucapkan.


"Aku bisa! Aku kuat! Juminten nggak boleh lemah, oke!"


Juminten segera beranjak dari kasurnya, menghapus semua air matanya dan memoles kembali make up yang selalu dia bawa. "Oke sempurna! Juminten FIGHTING!"


Cklek!


"Bam-bang kamu ngapain?" kaget Juminten.


"Nggak apa-apa, niatku tadi ketuk pintu biar kamu ikut makan sama mereka. Yaudah, sana gabung!" dijawab anggukan.

__ADS_1


Juminten segera melangkah dengan senyuman lebar kembali ke ruangannya. Sedangkan Bambang, memilih ke pantry menyandarkan tubuhnya di dinding. Tangannya mengambil ponselnya yang ada di sakunya.


Bambang : [Fix, gue kalah Bang! Gue udah nggak ada harapan lagi sama dia๐Ÿ˜ž]


__ADS_2