
Yang kemarin, minta visual abang Eka versi halunya Author 😚
Sepanjang perjalanan, tidak ada obrolan mereka. Mereka hanya menikmati saat-saat mereka berduaan. Juminten memeluk erat tubuh belakang suaminya yang sedang menyetir motornya. Bambang hanya membalasnya dengan mengelus tangan yang melingkar di perutnya dengan tangan kirinya.
Sampailah mereka di kontrakan Eka. Lampu terang dan pagar terbuka, menandakan Abang mereka ada di rumah.
"Assalamualaikum, Abang! Abang dimana? " teriak Juminten.
"Waalaikumsalam, Abang masih mandi. Kalian tunggu dulu!"
Juminten pun langsung ke dapur, berkutat membuatkan minuman untuk mereka bertiga. Sedang Bambang, mendudukkan tubuhnya di ruang tamu menyalakan televisi.
Juminten yang sudah selesai membuat minuman, bersamaan dengan Eka yang keluar dari dalam kamar.
"Sini biar Abang bawain!"
"Makasih, Bang!"
Mereka pun duduk bersama sambil menonton tv. "Abang udah, makan?" tanya Juminten.
"Belum, ini tadi niat Abang mau beli nasi bungkus di warung kopi depan. Eh, kalian datang."
"Ini Juminten buatin mi goreng sama ayam, Abang makan sekarang ya! " Juminten pun asik menyajikan bekal yang di bawa.
Kring!
Suara panggilan masuk di ponsel Bambang. "Telepon dari siapa, dek?"
"Dari Mala, bang!" terlihat wajah kesal dari Eka.
"Jangan bilang, kamu mau tinggalin istrimu disini dan memilih menemani dia!"
Juminten pura-pura acuh sambil menyiapkan makanan kakak iparnya. Berusaha tak terpancing rasa cemburu juga amarah.
Bambang segera mengambil jaket dan kontak motornya, lalu mengecup kening istrinya. "Mas berangkat, ya!"
"Iya hati-hati, Mas!"
"Bang, pamit!" Juminten mengantarkan suaminya ke depan rumah, sambil melambaikan tangan.
Juminten kembali masuk ke dalam rumah dengan lesu, ingin rasanya dia berteriak 'Jangan pergi, Mas'. Tapi, Juminten tak bisa egois. Sahabatnya lebih membutuhkan Bambang. Toh, dia juga di rumah abang iparnya sekarang.
"Jum, please kamu jangan terlalu baik sama Mala! Abang takut, dia ada niat buruk sama pernikahan kalian!"
Juminten tersenyum, "Juminten kenal Mala, Bang. Dia anak yang pendiam juga baik. Juminten yakin, Mala nggak akan ada niatan jelek seperti itu!"
__ADS_1
Eka memegang tangan Juminten, menatap bola matanya. "Ingat, Jum! Air yang tenang, bisa mengahanyutkan dan menenggelamkan. Sama seperti orang diam, dia memiliki banyak rahasia juga tanda tanya. Tapi, suatu saat dia akan keluarin semua unek-uneknya dengan cara dia suatu saat nanti!"
"Abang tenang saja, Juminten yakin Mala bukan seburuk itu!" Juminten tersenyum sambil menghidangkan makanannya.
"Kamu nggak cemburu?"
"Ya, cemburu lah! Tapi, Jumi positif thingking aja. Mala lagi butuh sama Mas Bambang. Andai Jumi ada di posisi itu, pasti Jumi juga lakuin kayak gitu! Ingat, Bang, Jadilah bijak dengan tidak menilai dari satu sisi! "
Baik banget kamu, Jum. Makin terpesona Abang sama kamu. Semoga bahagia pernikahan kalian. Abang yang akan jadi orang pertama yang menghajar Bambang, bila dia sakiti kamu!
Mereka pun segera makan bersama. Eka yang sudah lama tak memakan masakan Juminten, terlihat bersemangat. Dia sangat rindu dengan masakannya. Ya, walau rasanya tak selezat masakan Rohaya.
Saat Eka menoleh ke sebelahnya, terlihat Juminten makan dengan lesu. Membuatnya mengernyitkan dahinya."Kamu kenapa, kok lemes banget?"
"Akhir-akhir ini Jumi memang malas makan, Bang. Padahal, Juminten udah masak segala macam. Kadang, Juminten sampe bawa masakan Jumi ke sekolahan."
"Kamu kira-kira pengen makan apa, gitu? Siapa tau, bikin nafsu makan kamu naik!" mata Juminten langsung berbinar.
"Jumi pingin makan bubur ayam pakai telur kuning mentah, Bang. Terus, makannya di aduk-aduk sama kuah panasnya. Kayak nya enak!" membayangkannya saja, air liur Juminten rasanya ingin meledak saja.
Eka pun segera membereskan piring dan gelas kotor yang ada di meja, "Beresin makanannya, masukin kulkas. Abang yang cuci piring. Terus, kita beli bubur ayam!"
Juminten dengan bahagia melakukan yang di perintah Abangnya. Dan tak lupa berpamitan dahulu pada suaminya, agar tidak menjadi fitnah.
Juminten : [Mas, Jumi izin keluar sama Abang beli bubur ayam. Mas, nanti hati2 ya😘 jaga mata jaga hati karena harus namaku yang tertulis di hati 😚]
Namun, Bambang belum juga membalasnya. Selagi menunggu Abangnya bersiap, Juminten kirim pesan ke Mala.
Mala : [Udah, ini kita lagi jalan-jalan. Soalnya Radit rewel minta naik odong-odong😄]
Istri mana yang tidak cemburu, mendengar kabar seperti itu. Tapi, karena Juminten di bikin polos sama Author ☺️.
Jadi, dia berusaha positive thingking kembali. Percaya bahwa suami dan sahabatnya tidak akan menyakitinya.
Juminten : [Hati2 ya, tolong sampein ke Mas, aku izin keluar bentar ma abang. Makasih😊]
"Jum, ayo! Keburu tutup buburnya!"
"Iya, Bang!" Juminten segera berlari ke depan, lalu mengunci pintu rumah dan pagar.
"Ditunggu dari tadi, malah main ponsel!"
"Hehe.. Maaf, Bang. Jumi, pamit Mas dulu, Yuk!"
Eka pun segera melajukan motornya ke gerai bubur ayam. Setelah sampai, Juminten langsung ke tempat penjual bubur.
"Abang!"
__ADS_1
"Iya, neng geulis!"
"Jumi pengen bubur, tapi ngeracik sendiri boleh?" ucapnya dengan suara manja.
"Boleh, silakan!"
Juminten segera meracik buburnya. Mengambil telur mentah, lalu memecahnya. Mengambil kuning telur yang sudah di pisahkan, memasukkan 2 centong bubur lalu mengaduknya. Dan terakhir memberi kuah kaldu kuning yang sangat gurih.
"Sini Neng, Abang kasih ayamnya!"
"Jangan, bang! Jumi minta krupuk aja 3 plastik." Penjual pun mengambilkan krupuk "Makasih, Abang.. Semoga sukses selalu!"
"Aamiin. Tapi, apa ya enak neng gitu doang!"
"Pasti enak, Bang! Jeruk hangat 2 ya, Bang!"
Juminten segera membawa makanan yang di buat ke meja yang sudah di tempati Eka.
"Jum, kok Abang enek sendiri ya lihatnya! Itu kamu nggak amis?"
"Nggak, Bang! Malah enak, banget! Abang mau coba? " Di jawab gelengan kepala.
Juminten terlihat lahap memakan bubur anehnya. Eka yang melihatnya merasa geli sendiri.
"Amis, Jum? Minum jeruk dulu, gih!" Sambil menyodorkan gelas.
"Justru ini gurih..banget, Bang! Alhamdulillah, keturutan juga ngidam Jumi dari kapan hari!" Juminten sambil mengelus perutnya.
Eka menelan salivanya,"Ka-kamu hamil?" Dijawab anggukan kepala.
"Jangan bilang-bilang yang lain dulu ya, Bang. Jumi belum siap home schooling!" Ucapnya berbisik.
"Haha.. Ngapain repot bisik-bisik, Jum. cuman berdua yang beli disini!" Juminten ikut tertawa.
"Alhamdulillah, Abang mau punya ponakan. Wah, Emak harus bersih-bersih kamar kamu beneran, nih!"
"Haha.. Iya, Bang. Jumi sendiri juga kaget. Soalnya Jumi lagi jarang makan tapi kok gemukan, telat haid juga baru 2minggu. Liat google, eh di suruh testpack. Alhamdulillah.. Positif, deh!"
"Di hati-hati, Jum. Jangan banyak tingkah! Inget, kamu bawa 2 nyawa sekarang!"
"Siap, Abang!" Eka mengusak rambut adik iparnya dengan gemas. "Pulang, yuk, Abang bayar dulu buburnya!"
"Yuk!" Juminten beranjak namun kakinya terhenti. "Eh, Mas! mau beli apa?" kaget melihat kedatangan suaminya.
Bambang segera menghampiri istrinya, lalu memeluk bahunya. "Mas lagi anter Radit minta beli roti di sebelah.
Eh, liat motor Abang parkir depan sini. Makanya Mas langsung masuk kesini. Udah mau pulang, yank?" dibalas anggukan istrinya.
__ADS_1
"Hati-hati ya, sayang!" Bambang ikut mengantarkan istrinya ke parkiran motor.
Lalu, memakaikan helm di kepala istrinya. "Nggak ada orang, Mas cium kamu disini!" Juminten auto memukul pelan tangan suaminya dan di balas tertawa.