Pesona Juminten

Pesona Juminten
BAB 83


__ADS_3

Juminten bersyukur memiliki calon suami seperti Eka, bahkan semua impiannya untuk menikah kedua kalinya benar-benar terwujud sesuai ekspektasinya.


Sepertinya benar ucapan orang, bahwa rasa bahagia akan datang setelah melewati ribuan masalah. Seperti dirinya, 5 tahun bukan hal yang mudah untuk bisa ia lalui semuanya sendiri.


"Kamu kenapa kok senyum-senyum sendiri?" Eka memegang pipi kekasihnya yang merona merah.


Juminten di buat terharu menatap wajah calon suaminya, tak bisa membayangkan bagaimana hidupnya 5 tahun ini bila tak ada dia yang selalu setia menemaninya selama ini.


"Jangan lama-lama pegangnya, takut khilaf lagi aku." Melepasnya secara perlahan, berganti dia yang memeluk posesif lengan pria tersebut.


Rasa bahagia yang tidak bisa dia gambarkan, maupun di rangkai dengan kata-kata. Setelah Eka melamarnya di tempat terbuka, 3 hari kemudian pria tersebut membawa seluruh anggota keluarganya untuk melamarnya.


Menunjukkan rasa serius untuk menjadikan Juminten sebagai pelabuhan terakhirnya.



"Cincinnya kenapa kok di acungin ke atas gitu?"


"Mau pamer sama jomblo akut sayang," godanya melihat Sinta yang paling akhir keluar dari rumah, karena hari ini dia lembur.


"Nanti ya, lihat aja. Kalau nanti aku ketemu jodoh, mau beli cincin yang permatanya gede juga bisa bikin silau," gerutu Sinta.


Eka ikut menggoda Sinta, "Mau sama Bambang apa sama Dodit? Mereka sama-sama duda juga hot daddy loh. Bedanya yang satu muka asia, yang satu muka bule. "


Sinta mengacuhkan godaan Eka, tega-teganya mereka mengajukan jodoh pria pencuri ciuman pertamanya. Membayangkan untuk hidup bersama dengannya saja, sudah membuatnya geli sendiri.


" Kenapa lu joget-joget gitu? "gumam Juminten.


" Geli gue kalau bahas si sipit, enek banget lihat dia. Pilihan yang lain emang nggak ada ya? "


" Awas kemakan omongan sendiri, kayak Bambang dulu juga gitu. Kalau nggak percaya, tanya aja sama calon istri! " imbuhnya.


Tak berselang lama, Bambang datang menjemputnya dengan membawa mobil yang baru dia beli minggu lalu. Turun dari mobil dengan menggunakan kaca mata hitam, menambah kadar ketampanan hot daddy satu ini tak bisa di ragukan.

__ADS_1


" Panjang umur Ayah, baru juga kita ghibahin." teriak Juminten.


Sinta tersenyum melihat kakaknya datang," Pangeran kuda putih gue akhirnya dateng," ucapnya dengan berbinar.


Juminten menoyor pelan kepala karyawannya, "Woy, alay lu! Kedengaran Bumi bakal di cabik - cabik wajah lu!"


Sinta hanya cekikikan dan mengajak Bambang untuk duduk di samping mereka, terlihat dia sedang sibuk membuka dompet untuk mengambil sesuatu.


"Bahas apa sih, kok kayaknya seru amat?"


Bambang mengambil telapak tangan kanan Juminten lalu membukanya," Kartu ini buat budget kalian nikah, disana ada isinya uang 30 juta. Maaf Kak, aku cuman bisa nyumbang kalian segitu."


Dia menatap lekat kartu sakti yang ada di tangannya, berganti menghadap calon suaminya yang sedang tersenyum.


Eka melihat Juminten yang sedang di buat terharu, tangannya mengelus pelan punggung kekasihnya," Semoga sayang sudah membuka pintu maaf lebar-lebar untuk Bambang, agar kita hidup bahagia ke depannya."


Juminten segera memeluk erat Eka, mengacuhkan dua manusia single yang sedang di buat salah tingkah dengan tingkah mereka. "Gini amat ya Kak, jadi obat nyamuk." Bambang pun tertawa lalu mengusap rambut adiknya.


Buk!


Buk!


Planet dan bumi datang menghajar Abahnya yang terlihat sedang menghapus air mata Ibunya, "Abah jangan sakitin ibu!" ucap Bumi menggebu.


"Abah kenapa tega bikin Ibu nangis?" tanya Planet.


Dua obat nyamuk yang ikut duduk manis di sana, segera kabur meninggalkan duo sejoli yang sedang kalang kabut menghadapi kedua anak mereka.


"Ahaha..sokor! Tega amat ya kita." ucap Sinta yang sudah di dalam mobil.


Bambang memegang erat tangan Sinta, "Dik, tolong jangan nangis ya habis ini! Ingat, Kakak udah peringatkan kamu buat nggak nagis!"


"Ada apa, Kak?" namun Bambang tak menjawabnya.

__ADS_1


Merasa Kakaknya berusaha menyembunyikan masalah yang datang, Sinta memilih memandang jalanan yang mereka lalui. Berusaha menghapus pikiran buruk seperti yang dia takutkan beberapa hari belakangan ini..


Ah, Sial!


Kenapa dia harus hapal jalanan ini? Jalan menuju rumah sakit yang biasa dia datangi dengan Ibu Asuhnya setiap 1 bulan sekali.


🍓


🍓


"Ibu besok jangan nikah lagi ya? Bumi pusing dari tadi lihat Ibu ganti-ganti baju!" Bumi di buat bosan melihat Ibunya mencoba semua dress yang akan dia kenakan di hari bahagianya bulan depan.


Juminten mengabaikan komentar anak perempuannya, fokus utamanya segera mendapatkan dress agar terlihat cantik di hari bahagianya. Memang saat ini pernikahan kedua, namun ini adalah kali pertama dia mewujudkan pernikahan yang dia idam-idamkan.


Bumi semakin menekuk wajah imutnya, "Lihat Abah, Ibu egois! Dari tadi ganti udah ada 100 kali, kita malah belum ganti baju sama sekali. " Eka tersenyum mengelus kepala anak perempuannya, yang sedang iri dengan apa yang di lakukan Ibunya.


Juminten di buat risih mendengar gerutuan anaknya, "Bawel amat ini bocah! Mbak tolong anakku dulu ya, tolong kasi dia semua warna dress yang saya pakai besok ya."


Dengan antusias Bumi turun dari kursi dan mengikuti salah satu karyawan salon untuk ikut mencoba dress.


"Planet kamu iri juga?" tanya Juminten kapada anaknya yang sedang memainkan ponsel Abahnya.


"No Bunda. Planet lagi posisi nyaman," jawabnya


"Enak ya Mbak, umur masih muda punya anak kembar sepasang," ucap owner salon.


"Ada nggak enaknya Bu, soalnya sifat mereka bedanya 100 persen termasuk makanan kesukaan. Kadang sayang di bikin pusing kalau masak buat mereka," keluh Juminten.


Setelah berhasil mendapatkan 3 setel jas juga 3 dress, mereka memilih pergi mencari makan untuk makan malam, karena anak-anak mulai teriak lapar setelah lelah mencoba berbagai pakaian yang ada di salon.


" Mau makan apa sayang? " tanya Eka.


Juminten segera meralat, "Kayaknya kita makan di rumah aja deh, Bah. Ini ada pesan duka dari Ayahnya kembar."

__ADS_1


__ADS_2