Pesona Juminten

Pesona Juminten
BAB 90


__ADS_3

"Cici, coba kamu telepon Ibu kamu! Kasih tahu, Emak Rohaya nyari dia dari tadi. Gimana sih, tangan kanan yang punya hajat kok malah hilang," seru Bambang.


Rena masih dalam diam, ia takut untuk membuka suara. Khawatir jawabannya makin membuat memperkeruh suasana.


"Gimana Bang? Adik kamu sudah jawab?" tanya Udin dan di jawab gelengan kepala, "Cepat cari adikmu!"


Tamu hadir yang membludak, membuat mereka semua kelimpungan melayaninya.


"Mas, cindera mata tamu habis. Di taruh dimana sama Sinta?" tanya Candra pada Bambang yang sedang sibuk membantu tim catering.


"Sebentar aku cari Sinta dulu," jawabnya.


Bambang berlari ke sana ke mari mencari sosok Sinta, "Gila! Kemana dia?"


Hingga matanya tertuju pada pengantin yang lewat di depannya. Juminten yang baru berganti dress warna merah, tampak makin mempesona. Tak bisa di tampik, desiran halus di tubuhnya masih dia rasakan setiap kali melihatnya.


Tiba-tiba tangan kecil, berkulit lembut dan berbau harum buah menutupi matanya.


"Aku mohon, Om Aiko harus melupakan Ibu. Tolong tunggu aku, Om! Saat dewasa nanti, aku yang akan menjadi istri Om!" ucapnya menggebu.


Bambang mencoba melepas tangan yang menutup matanya, mengacak lembut rambut gadis kecil yang sedang beranjak disana.


"Saat kamu dewasa, kamu akan lihat Om sudah bahagia dengan wanita yang Om cintai." Bambang mengelus pipinya, tak ingin gadis di depannya terlalu berharap.


"Woi, malah ngrumpi! Ayo cari cindera matanya dimana! Udah tinggal 10 biji doang sekarang. " Candra menarik baju Bambang.


Melihat Bambang semakin menjauh, Rena tersenyum, "Om lihat saja, anak kecil ini yang akan membahagiakan hidup Om. Tunggu saja bucinnya, Om!"


Mereka pun berlari masuk ke dalam rumah, "Gimana udah ketemu belum?" tanya Eko.


"Lah, kita baru juga mau cari," jawab Candra.


"Em.. Coba kita cari di dekat persediaan catering. Siapa tau dia taruh disana." Bambang segera berlari ke ruangan yang ada di samping kamar Juminten.

__ADS_1


Ah, hanya menatap dari luar pintu kamar itu membuatnya bersedir kembali. Ingatannya saat masa lalu selama mereka menikah, belum pernah sekalipun dia menginap di rumah ini.


Bismillah, aku kuat! Aku harus ikhlas! Aku yakin bakal bisa dapetin yang lebih baik dari Juminten. Walau itu sulit!


"Mas ketemu!" pekik Candra.


Eko dan Bambang segera masuk ke dalam, "Alhamdulillah!" ucap mereka bersamaan.


Mereka pun bahu-membahu, membawa cindera mata ke luar rumah. Tiba-tiba pikiran Bambang terlintas dengan Dodit yang belum menghadiri undangan.


Bambang mencari sosok gadis yang sedang sibuk gelisah menelpon seseorang. Merasakan ada tepukan lembut di bahunya, Rena menoleh menghadap belakang.


"Iya Om Aiko, ada apa?" terlihat wajah Rena sedang takut dan membuat Bambang semakin curiga.


"Apa ada yang kamu sembunyikan dari Om?"


Deg!


Rena di buat kelimpungan untuk menjawab pertanyaan pria di depannya.


"Ti-tidak ada, Om." jawabnya dengan takut.


Bambang memegang lengan Rena, "Cici, tolong kamu jawab jujur. Apa ada sesuatu hal, yang sengaja kamu sembunyikan dari Om? Perihal Ibu dan Papamu tak hadir di acara malam ini,"


Rena menggigit jarinya, pertanda dia sedang takut untuk menjawabnya. Bambang mencoba mengelus bahunya, "Tolong jangan di tutupin semua masalah kamu, sayang. Om nggak tahu isi hati kamu, apalagi sekarang kamu menjawab seperti dengan teka-teki."


Rena masih saja bungkam tak menjawab. Bambang menarik nafas, sepertinya gadis ini benar-benar takut untuk menjawabnya.


" Ya sudah, mari kita pulang. Di sini rasanya kurang seru tanpa mereka," Bambang segera menarik pergelangan tangan Rena, namun gadis itu melepaskannya.


"Pulang nanti aja ya, Om. Rena masih ingin disini." alibinya.


Bambang tersenyum smirk, gadis lugu di depannya sepertinya benar-benar menyembunyikan sesuatu tentang kedua orangtuanya.

__ADS_1


"Tidak!" Bambang melanjutkan kembali langkah menuju parkiran mobil.


"Aku mohon, jangan om! Rena mohon!" Rena berusaha menarik kembali Bambang agar tak mengajaknya pulang.


Melihat semua orang yang ada disana memperhatikan mereka, Bambang segera melepas tangan gadisnya dan memilih masuk mobil sendiri. Pikirannya sudah kalut, tak bisa lagi berpikir jernih mengenai Adiknya.


Bambang melajukan mobilnya dengan cepat, telepon panggilan masuk dari Rena dan orang-orang lain dia acuhkan. Tujuannya kali ini hanya mencari keberadaan Adiknya yang hilang entah kemana.


Berlari dengan cepat masuk ke dalam rumah Dodit yang tidak terkunci. Terlihat semua ruangan yang gelap gulita, dia hampir memilih untuk keluar dari rumah namun di urungkan.


Mencoba membuka dengan pelan, satu persatu ruangan yang ada di sana. Tak ada kehidupan di lantai 1,ia mencoba naik ke lantai 2. Dia mencoba membuka pintu kamar pertama. Ternyata sedang terkunci, itu artinya sedang ada orang di dalam kamar itu.


Dengan Aba-aba 1,2,3, Bambang mendobrak kuat pintu itu dengan lengan kanannya.


Brak!


Bambang terbelalak, melihat pemandangan dua orang yang sedang saling berpelukan dan bisa menebak mereka tak memakai busana.


"F**K! KAU APAKAN ADIKKU!"


Amarahnya memuncak, dia menarik baju pria sialan yang sudah berani mengambil perawan Adiknya.


Dengan membabi buta Bambang menghajar habis-habisan pria bajin*an. yang sudah meniduri adiknya.


Dodit yang kaget, belum sempat mengerjapkan matanya. Dia tak memiliki kesempatan untuk mengelak dari tinjuan Bambang.


Sinta segera memegang erat selimutnya, "Kakak stop!".


Bambang segera menghentikan pukulannya. Melihat leher adiknya yang penuh bekas cupangan. Bambang melemas, ternyata Adiknya juga ikut menikmati suguhan dosa.


"Kamu kenapa lemah, Sinta?" teriaknya pelan sambil meremat rambutnya sendiri.


"Kenapa kau menjadi wanita bodoh? Yang dengan mudahnya, kau memberikan perawanmu kepada pria yang belum tentu MAU MENIKAHIMU!" teriaknya nyalang, matanya memerah.

__ADS_1


Bambang kembali menghajar tubuh Dodit habis-habisan. Sinta segera tersadar dengan apa yang di ungkapkan Kakaknya. Mengapa dia bisa terjatuh hanya dengan ungkapan cinta pria tersebut.


"Kakak, bawa aku pulang sekarang! " Sinta menangis tersedu-sedu sambil menutupi wajahnya dengan selimut. Dia malu dengan semua perbuatan dosa yang sudah dia lakukan dan tololnya dia menikmatinya.


__ADS_2