
"Aku menitipkan harap bukan karena sebuah rasa percaya semata, tapi juga ada rasa yakin dan ingin. Kau yang telah kuberikan harap untuk memegang kepercayaan hati, mengapa diam dan mengabaikan perasaan tanpa bertindak untuk mengabulkannya."
-anonim-
...****************...
Flashback
Hari ini, Mala masuk sekolah dengan senyum mengembang. Melihat Farid dan Resti sedang duduk santai di depan kelas, sambil menunggu jam sekolah masuk. Dia pun menyapa mereka dahulu.
" Selamat pagi, semua! "
" Pagi. Wah, cerah bener lu Mal hari ini!" Goda Resti.
"Abis dikasi duit Mila banyak kali." Imbuh Farid.
"No..No.." Sambil menggerakkan jari telunjuknya dengan tersenyum. "Aku lagi seneng aja, masuk yuk! Abis ini pelajaran Pak Dodit. "
"Yaudah, gue ke kelas duluan ya. Bye!" Farid melambaikan tangannya pada Resti juga Mala dan pergi ke kelasnya.
Mereka pun masuk ke kelas bersama. Resti mengernyitkan dahi melihat Mala mendudukkan dirinya di tempat duduk Juminten dengan santainya. Membuatnya seketika kalang kabut mencari ide, agar tak menempati tempat duduk Juminten.
"Mal, sorry. Ini tempat duduknya Juminten." ucap Resti sambil duduk di tempatnya..
Mala pun menoleh, mencoba menahan emosinya yang membuncah di dada. Mendengar nama kramat orang yang dia benci.
"Iya, aku duduk sini sekarang boleh, ya?" Mala mencoba berbicara seperti biasa.
"Sorry, Mal. Lu kan biasanya duduk di belakang. Entar kalo tiba-tiba Juminten dateng gimana? Kan biasanya tuh anak telat." Resti masih membela posisi Juminten di sampingnya.
"Juminten nggak bakal sekolah lagi, aku ja-min! Semalem, aku habis ketemu tuh orang di danau." Mala memasang muka masam mengingat kejadian memalukan semalam.
"Tuh orang! Tuh orang! Namanya Juminten! Haha.. Lu kayak orang lain aja, deh!" Resti masih mencoba bersikap biasa, walau banyak tanda tanya dalam pikirannya.
"Emang dia orang lain bagiku. Aku juga nyesel pernah kenal ma dia!" jawab santai Mala.
__ADS_1
Brak!
Resti menggebrak meja mereka, membuatnya kaget. Tatapan mata teduhnya hilang, berganti dengan tatapan nyalang seperti siap menelan mangsanya. Mala di buat takut, melihat sahabatnya yang seperti itu.
"Gue tuh nggak nyangka ya! Kita itu sahabatan bukan musuh! Kenapa lu tega bilang gitu!"
"Kalau emang dia sahabat, kenapa DIA NGEREBUT SEMUA PERHATIAN ORANG DI SEKELILINGKU TERMASUK BANG BAMBANG!"
Plak!
Suara keras tamparan Resti menggema di dalam kelas. Bahkan teman mereka satu kelas, di buat takut melihat wajah Resti yang berubah galak seperti itu. Suara nya nyalang, urat-urat di lehernya bahkan nampak setiap dia berbicara.
Mala semakin di buat emosi, melihat sahabatnya masih membela Juminten "Kenapa? Bukannya Juminten juga udah di talak Bambang dan depresi karena lagi hamil. Kamu juga tau itu kan? So, kenapa kamu harus belain dia?"
Teman-teman mereka yang mendengar pertengkaran mereka, mulai membuat kubu ghibah mereka sendiri. Mengeluarkan statement-statement yang tidak bersumber alias hoax.
" Harusnya, emang tuh cewek nggak sekolah! Bukannya semua peraturan sekolah, melarang muridnya yang hamil buat dapat pendidikan Dan dikeluarkan dari sekolah!" ucap berani Mala.
Rasanya ubun-ubun Resti siap ngepul. Mala seakan lupa, bahwa kakak nya sendiri yang sudah punya anak sedang menempuh pendidikan disana.
Mala seakan di buat mati kutu dengan ucapannya. Matanya yang tadi bisa menatap tajam temannya, hanya bisa menunduk takut apa yang di sampaikan Resti. Membayangkan kakak kandungnya dikeluarkan dari sekolah, tubuhnya terasa lemas.
" Hu..! "
Semakin riuh suara teman-teman mereka sekelas. Mereka tak ada yang sadar, wali kelas mereka sudah mengintip mereka dari sejak awal dan merekam semua ucapan mereka.
Tiba-tiba kericuhan mereka terhenti karena suara speaker sekolah.
"Selamat pagi. Mohon maaf mengganggu waktu pelajaran kalian sebentar, di mohon perhatiannya semua Panggilan untuk Nirmala, Nirmila, Adinda Resti dari kelas sebelas. Bambang Dwi dari kelas dua belas untuk ke ruangan bimbingan konseling. Terima kasih untuk perhatiannya. "
Plash!
Semakin lemas saja tubuh Mala mendengar namanya dan Mila masuk ke ruangan bimbingan konseling untuk yang pertama kali. Resti yang melihat nya, menyungingkan bibirnya.
Makanya hati-hati kalo berucap. Kena getahnya sendiri baru nyahok, lu!
__ADS_1
🍓🍓🍓🍓
Rohaya menyajikan teh juga kudapan untuk tamunya yang ada di dalam. Sengaja melupakan mantan menantunya yang sedang duduk di luar.
"Mohon maaf Ibu Rohaya dan Bapak Udin bila kehadiran kami mengagetkan Bapak dan Ibu, " ucap Dodit memulai pembicaraan.
"Jauh sebelum bapak dan ibu guru kesini. Saya sudah membayangkan akan ada situasi ini, pak. Karena, kami sadar konsekuensi yang akan anak kami jalani, " jawab Udin.
"Mohon maaf, boleh bapak dan ibu cerita bagaimana kejadiannya. Karena, pihak sekolah kecolongan tiga muridnya yang satunya sudah punya anak, sedang hamil dan sudah menikah," tanya Dodit.
"Sebenarnya, kami menikahkan mereka hanya sirri karena mereka terpaksa menikah karena teman saya almarhumah Mbak Dina sedang sakaratul maut. Kami berdua sudah mengingatkan mereka untuk mengutaman sekolah di bandingkan pernikahan."
"Ya, kan bapak ibu-guru tahu bagaimana ijazah SMA sekarang lowongan kerjanya susah. Tapi, namanya mereka juga sedang kasmarannya membuat mereka melakukan hubungan suami istri tersebut. Dan hasilnya anak saya sekarang hamil."
Dodit yang melihat keluarga Juminten seperti menjaga jarak dengan mantunya, berjalan ke depan rumah untuk mengajak Bambang masuk dengan berbagai ancamannya.
" PAK DODIT, JUMI MOHON JANGAN AJAK BA*INGAN ITU MASUK KE DALAM RUMAH SE-LANG-KAH PUN! " seketika menghentikan langkah mereka yang akan masuk.
Semua orang disana di buat tercengang seketika, mendengar teriakan nyalang ibu hamil tersebut. Rohaya segera berlari memeluk anaknya, khawatir frustasi kembali dan segera mengajaknya masuk ke dalam kamar. Membiarkan Udin mengatasinya.
" Mohon maaf bapak dan ibu bila tersinggung mendengar teriakan anak saya. Juminten masih dalam proses penyembuhan dari psikolog, karena frustasi setelah di talak pria itu." ucap Udin sambil melirik arah depan.
Bambang menundukkan kepalanya, melihat tatapan intimidasi dari semua orang disana.
Dodit pun akhirnya kembali masuk ke ruang tamu tanpa Bambang. Melihat situasi keadaan yang semakin buruk, sebaiknya dia segera ke intinya saja.
Dodit mengeluarkan amplop putih panjang yang bertuliskan kop surat dari dalam tasnya.
"Mohon di terima bapak, ini surat keputusan dari kepala yayasan, kepala sekolah juga para guru untuk Juminten."
Udin menerima nya hanya bisa pasrah dan legowo, dengan nasib sekolah anaknya.
"Dan ini surat milik Bambang, mohon di terima juga. Karena Bambang tidak punya wali siapapun, jadi kami memberikannya pada Pak Udin. Mohon Diterima. " Udin terkaget dan tetap menerimanya.
Sedangkan Bambang, hanya bisa pasrah dan semakin mendudukkan kepalanya. Terngiang-ngiang ucapan Juminten semalam tentang karma. Dan benar, karma datang padanya di hari ini tanpa di duga.
__ADS_1
Bambang menelungkupkan lututnya, tubuhnya terasa lemas tak berdaya. Masa depan cerahnya, terasa buram seketika. Khayalan tingginya untuk sukses seperti sirna seketika. Meratapi nasib hidupnya yang sudah tak punya orang tua, jauh dari abangnya, di keluarkan sekolah dan berpisah dengan istrinya.