Pesona Juminten

Pesona Juminten
BAB 92


__ADS_3

Ah, nggak terasa udah bab 92. Terima kasih banyak yang sudah setia membaca karya remahan saya 🙏 Mohon saran, komentar juga tambahan untuk memperbaiki penulisan saya 😍


...****************...


Juminten tersenyum menatap suaminya yang sedang memanjakannya dengan menyuapi makanan yang sudah mereka pesan secara online. Alasanya, dia tak ingin melihat istrinya semakin lelah setelah kegiatan mornings** mereka.


Sekarang dia mempercayai pernyataan indahnya rasa di cintai, dari pada mencintai. Terbukti dari suaminya yang selalu memanjakannya dan berusaha membahagiakannya selama 8 hari pernikahan mereka.


Ah, membahas bukti mungkin jika bisa di hitung sudah ratusan goresan luka yang tertoreh di badannya, baik itu luka raga maupun luka jiwanya. Apalagi luka bekas perkelahian di masa lalu dengan mantan suaminya, demi kebahagiaan Juminten.


"Mau tambah nasi lagi, sayang?" tanya Eka.


"Nggak usah sayang, kamu aja. Kamu butuh banyak tenaga untuk season acara kita nanti malam, " goda Juminten sambil mengedipkan mata.


"Eh, sayang kok nakal. Ini kalau aku nggak buru-buru, mau ku tuntasin lagi kegiatan tadi." Tangannya terulur mengambilkan air putih untuk istrinya.


"Terima kasih," Juminten mendekat ke telinga suaminya, "Ciye.. yang sudah ketagihan pesona mantan janda," bisiknya ero***, lalu menggigit daun telinga suaminya.


Eka segera mengusap telinganya, lalu beranjak dari meja makan, "Meeting udah Abah tunda 3 jam, jangan sampai di cancel lagi sayang. Bahaya dekat-dekat sama kamu!"


Juminten tertawa puas menggoda suaminya, dia segera mengantarkan suaminya ke depan rumah bersamaan 3 karyawannya yang baru datang.


"Morning Miss." ucap Eko.


"Selamat Pagi Nyonya Eka! Wah,sudah basah aja itu rambut," goda Candra dan di balas tertawa Eko.


"Selamat Pagi juga perjaka tua," jawabnya dengan tersenyum.


Panggilan yang bikin mood dia seketika down. Dunia rasanya tidak adil, semua temannya sudah mendapatkan jodoh masing-masing. Sedangkan dia, masih asyik dengan dunianya sendiri. Apakah Tuhan sedang memberi jalan yang berkelok-kelok untuk bisa bertemu jodohnya?


"Orang aku nungguin Bumi dewasa, kok," pikirnya untuk menjawab godaan bosnya sambil berlari mendahuluinya.

__ADS_1


"Gue sembelih lu, kalau ada niatan jadi mantu gue!" Candra tertawa terbahak-bahak sambil berlari menghindari kejaran Juminten yang sedang marah.


Sinta segera masuk ke dalam ruang kerja dengan lesu, mengacuhkan teman-temannya yang masih bersenda gurau di luar. Dia menyalakan ponselnya, membuka kembali chat dari Dodit semalam.


Dodit : [Kalau kamu memang tak ikhlas memberikannya secara cuma-cuma perawanmu untukku, aku siap bayar berapapun itu harganya 👍 ingat! Kita lakukan adegan itu suka sama suka 👌]


"Kamu bilang bayar? Kau pikir aku wanita murahan! Memangnya dengan uangmu kau bisa mengembalikan perawanku, hah!" teriaknya pelan.


"Bu Ana pasti kecewa jika tahu aku melakukan hal bejat seperti ini. Maafkan aku, Bu!" Sinta menelungkupkan wajah, di atas kedua lututnya.


Eko yang sudah mengetahui semua cerita dari Bambang perihal apa yang di alami Sinta, mencoba mendekati sahabatnya.


"Dari tadi pegangin ponsel terus, emang ada kabar apa?"


Mendengar ada suara, Sinta segera mengangkat kepalanya, "Nggak ada apa-apa, kok, " jawabnya dengan tersenyum.


Merasakan atmosfer sekitarnya yang peka dengan dirinya, Sinta memilih duduk menjauh dari teman-temannya. Mencoba fokus kepada pekerjaan yang dia kemas, sampai dia tak tahu ada seseorang yang mendekatinya.


Tiba-tiba dia terhuyung saat merasakan tubuhnya di peluk oleh seseorang dari samping. Dan ternyata dia Juminten.


"Kenapa? Kalau nggak kuat cerita sekarang, besok juga nggak apa-apa." Juminten mengelus bahu yang bergetar, mencoba mencari tau masalah apa lagi yang dia hadapi.


Sinta akan menyerahkan ponselnya yang ada di tangannya. Bayangan bossnya tiba-tiba terlihat semakin memudar, dan lama-lama semakin hilang menjadi gelap.


"Eh, Sinta!" pekik Juminten.


Candra segera berlari menyanggah badan Sinta yang lemas. "Sinta! Sinta!" Menepuk pelan pipinya, namun masih tak bisa membangunkannya.


"Badannya panas banget! Miss tolong bukain pintu! " pekik Candra.


Dia segera membopong tubuh Sinta ke kamar depan, raut khawatir tak bisa dia sembunyikan. Wajah Sinta yang nampak pucat pasi seperti tak ada darah yang mengalir di dalam darahnya.

__ADS_1


"Balurin minyak, gih!" ucap Eko sambil menyerahkan minyak kayu putih yang dia bawa.


Juminten pun yang kebingungan, karena tak ada Bapak dan Emaknya dirumah. Memilih menelpon perawat yang ada di dekat rumahnya, agar segera menangani karyawannya.


"Gue yang nunggu mereka di depan aja, ya kalau gitu," serunya.


Tiba-tiba Sinta terbangun, lalu berlari ke arah kamar mandi.


"Hoek.. Hoek.."


Memuntahkan semua cairan putih yang keluar dari mulutnya, yang berarti perutnya dalam keadaan kosong.


"Udah kelar? " di jawab anggukan lemah.


Candra yang di belakangnya dari tadi, segera menggendong Sinta saat temannya akan melangkah kembali ke kamar.


"Udah, jangan banyak gerak! Sakit apa sih? Biasanya juga nggak pernah selemas ini," hanya di jawab gelengan kepala.


Tak lama, mobil puskesmas keliling memasuki halaman rumahnya. Eko yang sengaja menunggu mereka, segera mengantarkan petugas ke tempat Sinta yang sedang berbaring.


" Maaf, Mbak Sinta terakhir haid kapan? " tanya Dokter dan membuat semua kaget mendengar pernyataan dokter.


"Sekarang saya haid, Dok," jawabnya lemas.


"Saya sarankan, nanti minum banyak air putih ya, Mbak. Nyeri perut, mual, dan muntah saat menstruasi seringnya wajar terjadi karena pengaruh hormonal yang membuat asam lambung meningkat dan otot rahim pun berkontraksi berlebihan."


"Lalu bagaimana cara menyembuhkannya, Dok? "


" Seperti yang saya bilang tadi, minum air putih yang banyak. Jika masih nyeri, Kompres hangat perut yang terasa tak nyaman saat nyeri dan mual, Perbanyak istirahat dan jangan terlambat makan, di paksa makan walau sedikit tapi sering. Menurut saya itu sudah cukup."


"Makanan yang di larang apa ya dok? Soalnya anak ini doyan kopi." ucap Candra.

__ADS_1


"Tidak boleh, Mas. Mbaknya harus kurangi dulu makan makanan yang meningkatkan asam lambung, seperti rasa pedas, masam, dan berkafein."


"Terima kasih banyak, Dok."


__ADS_2