
Lampu merah di depan Ruang operasi menyala, semua keluarga berkumpul duduk di ruang tunggu. Terlihat wajah mereka sedang gelisah menunggu tindakan emergency untuk menyalamatkan nyawa duo gemoy.
Dokter kandungan memutuskan mengoperasi caesar, karena melihat darah bercampur air ketuban yang sudah keluar banyak dan pasien dalam keadaan tak sadarkan diri.
Bambang mondar-mandir di depan Ruang operasi sambil menggigit jari kukunya, Eka menghampiri adiknya yang terlihat sedang ketakutan, "Sabar, Dek. Udah jangan mikir aneh-aneh, doain Juminten selamat." Eka berusaha menguatkan adiknya, walau dia sendiri sedang di fase hancur hidupnya.
Eka segera memilih duduk menyendiri di Ruang tunggu yang lain, "Arghhhh...!" Menepuk keras kepalanya, merasa bodoh memilih jalan yang salah dengan meninggalkan Juminten. Tangannya terulur membuka aplikasi ponselnya, yang bisa berkamuflase seolah-olah tak di buka.
Juminten : [Abang, Jumi mohon. Abang pulangš]
Pesan terakhir Juminten saat Sore kemarin, membuatnya memilih pulang ke kotanya. Berniat memberikan kejutan, namun dia mendapatkan kejutan yang menyakitkan terlebih dahulu.
Bahkan, Eka sendiri yang membubuhkan tanda tangan surat pernyataan setuju tindakan operasi, tak mau menanggung semua resiko yang terjadi, baik itu berupa nyawa juga fisik Ibu maupun kedua anak. Apalagi mereka harus lahir di saat umur belum genap 9 bulan.
"Maafkan Abang." teriaknya pelan.
Rohaya menangis sesegukan di pelukan Sinta, meratapi nasib anak semata wayangnya yang lagi-lagi harus berurusan dengan rumah sakit. Sinta mengelus punggung yang sedang bergetar, "Panjatkan doa Nyonya, jangan menangis seperti ini." Rohaya tak meresponnya, air mata ini sebagai wujud rasa khawatirnya kepada Juminten.
Sudah 1 jam berlalu, namun tak ada tanda-tanda operasi sudah selesai. Udin yang baru pulang dari kantor kepolisian segera menghampiri istrinya," Gimana kabar Juminten?" Di jawab gelengan kepala Rohaya.
Sinta memberanikan diri bertanya pada bosnya, "Bagaimana kabar gadis gila tadi, Pak? Apa sudah di masukkan ke dalam penjara?"
"Sudah, tinggal tunggu hasil tes kejiwaan. Soalnya selama di perjalanan tadi, gadis itu menyerang polisi yang duduk di sampingnya. Kalau Bapak liat kayaknya dia sudah gila."
"Setuju sih, Pak. Liat dia kayak gitu."
Eka menatap langit-langit rumah sakit, andai Eka di perbolehkan masuk ke dalam Ruang operasi. Dengan antusias ia akan memilih menemaninya, namun dokter melarang dan hanya meminta dia beserta keluarga mendoakan kelancaran persalinan.
Melamunkan kata doa, Eka bergegas menuju Mushola yang ada di lantai bawah, meratapi hanya diam duduk sambil menunggu kabar dirinya merasa kurang. Lebih baik, ia memanjatkan doa kepada Allah agar di beri kelancaran jalan operasi mereka dan memberikan keselamatan mereka.
Tak ingin mengganggu kedua bosnya yang saling menguatkan duduk di kursi, Sinta memilih berjalan menghampiri Bambang. Ikut berjongkok di samping lelaki rapuh dan kusut di depan Ruang operasi.
__ADS_1
Bambang menoleh menatap teman nya, air mata yang sejak ia tahan tumpah sudah. "Udah, doain anak lu lahirannya lancar."
Lampu merah di Ruang operasi berganti hijau, Eka yang baru saja kembali dari Mushola segera berlari menunggu pintu di buka, berbarengan dengan semua orang.
Semua orang terlihat gusar menguatkan kabar yang akan mereka terima, Eka menepuk bahu Bambang berkali-kali agar kuat dengan resiko yang akan di dengar, sedangkan Rohaya memilih memejamkan matanya sambil memeluk suaminya.
Pintu terbuka, 2 bayi mungil di dorong di dalam tabung kaca dengan bermacam-macam kabel juga selang menempel di tubuhnya.
"Ini bayinya, Sus?" tanya Sinta.
"Selamat bayinya laki-laki dan perempuan kami bawa ke Ruang inkubator dulu agar paru-parunya bisa bekerja maksimal, permisi." 3 perawat membawa mereka pergi.
Ucap syukur alhamdulillah semua mereka panjatkan berbarengan, tinggal menunggu kabar Juminten yang masih ada di dalam Ruang Operasi.
Tak lama Dokter keluar dengan memasih menggunakan baju operasinya,"Bagaimana keadaan anak saya, Dok?" Rohaya berjalan mendekati Dokter.
"Alhamdulillah operasi lancar, bayi semua lengkap tanpa keracunan ketuban, namun mereka masih membutuhkan observasi lengkap karena berat badan yang kecil juga paru-paru belum bisa bekerja maksimal harus kami bantu bernafas menggunakan alat."
"Ambil darah saya saja, Dok. Golongan darah saya sama dengan Juminten, " saut Udin.
Dokter tersenyum, "Alhamdulillah, persediaan darah untuk golongan Bu Juminten tersedia melimpah di rumah sakit kami. Jangan khawatir, mohon doanya saja. Mari saya permisi."
"Maaf, Dok apa saya boleh menemui Juminten?" Tanya Eka memberanikan diri.
"Tentu saja boleh, jangan lupa memakai baju steril yang ada di depan kamar operasi. Dan di mohon bergantian, karena Ibu Juminten masih belum bisa di pindahkan ke Ruang Prerawatan."
"Bambang adzani anakmu, Rohaya temani dia." seru Udin.
Melihat Rohaya dan Bambang menjauh, Udin menepuk bahu Eka. "Nak, kamu yang masuk pertama. Siapa tau dengar suara kamu, Juminten sadar."
Eka segera berlari masuk ke dalam, rasanya hancur melihat keadaan Juminten yang lemah dengan kabel yang terpasang dimana-mana. Tak ada yang bisa menggambarkan bagaimana perasaan hancur juga kalutnya saat ini.
__ADS_1
Eka menggenggam tangan yang terasa dingin karena Ruangan Operasi yang dingin, "Abang mohon kamu bangun," Ucapnya sambil melirik alat detektor jantung yang masih bergerak grafik di sampingnya.
"Abang sudah pulang sayang, ayo bangun. Juminten mau jalan-jalan kemana, ayo kita pergi sama si kembar. Mau ke gunung? Pantai? Danau?"
"Maafkan Abang, bukan maksud Abang tak membalas pesan darimu, tapi Abang ingin menghapus rasa sayang yang salah ini kepadamu. Abang masih cinta sama kamu, Juminten. Abang tak berhasil melupakan kamu."
Eka segera berlari keluar Ruang Operasi, tak kuasa menahan tangisannya. Dadanya seperti tertancap ribuan belati, melihat wanita yang ia sayangi layaknya mayat hidup dengan wajah dan bibir yang pucat.
Melihat kakaknya sudah keluar, Bambang segera berlari masuk ke dalam ruangan, mencium kening wanita yang sudah berhasil melahirkan anaknya.
"Selamat Juminten kamu jadi seorang Ibu. Dan aku jadi seorang Ayah," Ucapnya bersamaan dengan air mata yang mulai mengalir
Bambang menggegam tangan Juminten, "Aku baru adzani si kembar. Yang kamu kasi duo gemoy, mereka lucu sekali. Ah, bayi yang sempat ingin tak ku akui ternyata mereka kuat berjuang hidup denganmu."
"Betapa bodohnya aku dulu, menyia-nyiakan keberadaan kalian. Maafkan aku!"
Bambang mengangkat tangan Juminten, "Cepat bangun, apa kamu nggak ingin balas semua perlakuanku? Apa kamu nggak ingin pukul aku? Atau omelin aku? Ayo Juminten lakukan semua, karena memang aku seorang Bapak tak tau diri untuk mereka."
"Ayo buka matamu, JUMINTEN! Kamu harus hidup!" teriaknya kalut.
Melihat tak ada respon, Bambang memilih keluar dari ruangan.
"Emak ya, yang masuk!" ucap Rohaya.
Sinta memegang tangan basah Rohaya, "Tarik nafas dulu, Nyonya."
"Bismillahirrahmanirrahim, "
Baru 5 langkah Rohaya berjalan masuk, dirinya pingsan. Udin segera menggendong istrinya di ruang tunggu, membalurkan minyak kayu putih di seluruh tubuhnya.
"Ya Allah bangun, Mak. Ayo kita harus kuat temenin Juminten." Ucap Udin sambil menepuk pelan pipi istrinya.
__ADS_1