
Bambang dan Juminten pulang dari acara pensi setelah maghrib. Badan lelah, letih juga lapar menjadi satu. Setelah mandi, mereka memilih membaringkan tubuh mereka di kasur.
"Mas, makan martabak asin yuk. Makannya pakai nasi yang hangat terus cabe rawit nya di potong-potong taruh atasnya pasti enak!" hanya membayangkannya saja, air liurnya rasanya meledak.
Bambang sambil mengelus rambut istrinya. "Makan martabak kok sama nasi. Ya nggak enak, yank,"
"Hmm..Jumi pengen itu, Mas!" Sambil memeluk dada suaminya.
"Pesen online aja, yank. Mas capek banget, nih." Bambang segera membelakangi istrinya, karena tubuhnya yang sangat lelah.
Juminten cemberut, mendengar suara mendengkur suaminya. Karena, dia yang tidak bisa tidur, akhirnya memutuskan menghubungi Abang iparnya.
Juminten : [Abang, dedek utun minta martabak asin 👉👈 bisa kirim kesini 😚 Bapaknya lagi sibuk memintal iler]
Eka : [Abang lagi yang kena 🙄]
Juminten hanya cekikikan membaca ponselnya, karena sudah merepotkan kakak iparnya kembali. Membuat Bambang yang tidur menjadi penasaran isi ponsel istrinya."Kenapa sayang, kok ketawa sendiri?"
"Udah sana, tidur lagi! Bukannya, lebih enak tidur daripada nurutin istri! Inget mas, rezeki suami akan berlipat ganda bila membahagiakan istrinya!" tatapan tajam Juminten pada suaminya sambil menutup pesan ponselnya.
Bambang hanya membalas senyuman manis istrinya. Istri nya terlihat semakin cantik hanya dengan memakai babydollnya walau tanpa make up.
" Mas, kira-kira kalau Jumi hamil, terus si utun minta kayak gitu gimana? " Juminten mencoba memancing tanggapan suaminya.
"Jangan hamil dulu, lah! Mas masih belum siap, punya anak!"
Deg!
Belum siap? Lalu, bagaimana nasib anak yang masih berbentuk kacang polong yang ada di dalam perutnya? Juminten semakin was-was dengan nasib kehamilannya. Umur kehamilan semakin bertambah, bersamaan dengan perutnya yang akan semakin membuncit.
Juminten pun meninggalkan suaminya di dalam kamar. Mengambil gelas di dalam rak, lalu memasukkan 1 sachet minuman coklat bubuk dan menyeduhnya dengan air dingin. Berharap minuman es coklat ini membantu mengurangi stresnya.
"Mas kirain rebusin mie instan! Mas, laper nih yank!"
Juminten hanya diam di tempat. Melihat bibir istrinya yang maju 5 cm membuat tangan Bambang gemas untuk menyentilnya.
"Hayo, dosa! Cuekin suaminya sendiri!"
"Lebih dosa suami yang lebih memilih tidurnya dari pada nuruti kemauan istrinya! Sebenernya mau Juminten cuman simple loh, Mas! Cuman mau martabak. Bukan minta emas batangan 10kilo,"
Juminten semakin emosi melihat tampang tak berdosa suaminya. Setelah menghabiskan minumnya dengan susah payah, Juminten meninggalkan kembali suami nya di dapur.
" Yah, ditinggal lagi! Alamat pakai jurus ranjang, nih! " Bambang segera berlari mengejar istrinya di dalam kamar.
__ADS_1
Jam 8 malam, Eka yang baru pulang dari bengkel segera berangkat membeli martabak asin pesanan Juminten semalam.
Rumah terlihat sepi, tapi lampu semuanya menyala terang. Eka mencoba mengetuk pintu agar segera di buka.
Tok!
Tok!
"Assalamualaikum!"
Eka mencoba membuka pintu rumah. Namun, sayangnya pintu terkunci dari dalam dan dia tak membawa kunci cadangannya karena terburu-buru demi menuruti ngidam ibu hamil.
"Duh, dikunci!"
Eka mencoba membuka pintu sekali lagi dengan dorangan keras tetap tidak bisa. Akhirnya, karena tubuhnya yang sangat lelah sepulang kerja. Eka pun duduk di luar, sambil mengirim pesan pada Juminten.
Eka:[Jum, kuncinya dimana? Abang udah di rumah nih, cepetan balik ya! 🙃]
Eka tidak tahu, bahwa di dalam kamar 2 sejoli sedang merengkuh kenikmatan. Juminten dibuat memejamkan mata, merasakan setiap perlakuan juga belaian suaminya. Dengan embel-embel permintaan maaf.
Juminten meremat bahu Bambang, setiap hentakan yang diberikan Bambang. Juminten di buat menjerit kenikmatan dalam pelukan Bambang. Bahkan, Juminten sudah klim*ks dua kali. Tapi, suaminya masih tetap menj**ahnya kembali.
"Mas, aku mau keluar lagi!"
"Emh... Ah..." Juminten meremat punggung suaminya.
Bambang menyusul istrinya yang sudah mencapai puncaknya. Bambang segera menggendong istrinya, untuk membersihkan peluh mereka di kamar mandi.
Juminten yang sudah selesai membersihkan diri, membuka ponselnya untuk menanyakan posisi abangnya.
Mata Juminten terbuka lebar, Abangnya mengirim pesan jam 8 malam. Dan dia baru membukanya jam 9 malam. Jumatan segera berlari membuka pintu.
Cklek!
"Bagus, nyuruh Abang beli martabak malah di cuekin! Kalian habis ngapain aja?"
"Maaf, Bang. Masuk, yuk! Jangan marah-marah nanti cepat ubanan! " melihat Juminten mengerlingkan matanya, sukses membuat amarah nya turun.
"Masak apa, Jum? Abang lapar, nih!" Eka mengelus perutnya yang memang belum terisi dari tadi siang. Langsung masuk dan berjalan ke dapur rumahnya.
Juminten memasang mode senyum, melihat Eka sibuk membuka tudung saji dan kulkas. "Abang keliling aja sampai capek! Jumi jamin, nggak bakal nemu!"
Eka seketika kecewa, harapannya bisa memakan lagi masakan Juminten sirna sudah. "Terus Abang makan apa? Ada mie instan?"
__ADS_1
"Ada. Itu di dalam buffet. Mas Bambang aja belom makan sampai sekarang." ucap Juminten sambil membuka martabak asinnya.
"Emang enak?" melihat Juminten memakan pesanannya dengan nikmat, membuat nya ingin mencicipi.
"Enak, Bang! Makan pake nasi, yok!" Juminten menyajikan dua piring nasi. Menggunting kecil-kecil cabe rawit di piringnya.
"Yank, aku ke Mala dulu ya! Barusan nelpon katanya pipa dapurnya jebol. Dia bingung!"
Entah kenapa, melihat Bambang akan pergi meninggalkannya setelah adegan panas tadi membuatnya ingin menangis. Air mata yang sudah berkumpul di pelupuk matanya, sudah siap meluncur hanya dengan satu kedipan.
Juminten menarik nafasnya, berusaha tidak egois lagi. "Yaudah, Mas hati-hati ya!"
"Jum!" bentak Eka dengan menggelengkan kepalanya. Namun, Juminten balas dengan senyuman.
"Abang jangan ikut campur rumah tanggaku, Abang cukup jagain istriku aja di rumah. Di sana kelar, aku langsung pulang, kok!"
Bambang segera berlari keluar karena Mala sudah berulang kali menelponnya. Juminten pun berusaha mengalihkan suasana.
"Yuk, Bang di makan! Jumi nggak mau, selera makan kita turun hanya gara-gara Mas nggak ikut makan!" Menyodorkan piring yang berisi nasi.
"Benar Jum, Abang nggak mau calon ponakan lemes gara-gara liat kelakuan bapaknya!"
"Haha..amit-amit jabang bayi." Juminten mengelus perutnya dan di sambut gelakan tawa.
"Abang lihat, kamu sekarang udah nggak sebawel dulu, ya! Lebih ke arah bijak."
"Iya, Bang." Juminten menganggukkan kepalanya. "Jumi takut, anak jumi nanti ketularan tingkah absurd ibunya. hehe.. " Sambil mengelus-elus perutnya. "Cukup aku yang punya tingkah istimewa yang bikin Emak pusing!"
Mereka pun segera menghabiskan makanannya. Eka yang sudah lama tak ke rumahnya, duduk di ruang tamu. Sambil menunggu adiknya yang belum pulang juga.
Juminten yang sudah selesai membersihkan dapur, ikut duduk di sebelahnya. Terlihat duduknya dengan tak tenang. Bahkan, sesekali dia membuka ponsel nya menunggu kabar dari suaminya.
"Kenapa? Khawatir sama Bambang? Kok dari tadi kayak nggak tenang gitu. "
"Bukan nggak nyaman, Jumi khawatir sama Mas Bambang udah satu jam kok belum pulang, ya?"
Eka menarik nafasnya, "Abang tau, suami kamu kerja sama Mila. Tapi, kamu berhak melarang dia dengan Mala." Eka berbicara dengan pelan.
Juminten memegang perutnya, entah mengapa tiba-tiba perutnya rasanya kaku hingga membuatnya susah gerak.
"Abang, sakit!"
Eka gelagapan di buat bingung dengan yang terjadi pada adik iparnya. Berusaha menghubungi Bambang namun tidak ada jawaban. Melihat Juminten yang akan pingsan, Eka segera berlari menangkapnya.
__ADS_1