Pesona Juminten

Pesona Juminten
BAB 88


__ADS_3

Suasana sejuk senja yang mulai meredup, pertanda hari sudah menjelang malam. Di temani dengan suara merdu burung yang saling bersahutan, untuk mengajak teman-teman mereka kembali pulang ke sarang.


Dua sejoli masih saja bersama tanpa suara mereka ribut seperti biasanya.Mereka memilih duduk di tepi balkon rumahnya. Sinta dengan setia menemani pria malang yang sedang meratapi nasibnya.


Dodit menatap kembali Sinta,


"Kenapa wajahmu seperti gadis itu? Bahkan suaramu juga mirip dengannya?"


Sinta hanya diam dan berusaha kuat menahan tawanya. Andai pria di depannya tidak dalam keadaan mabuk, dia pasti berteriak keras bahwa memang sejak tadi gadis yang dia sebut ada di depannya..


Dodit menatap wajah Sinta,


"Apakah aku boleh memelukmu? Aku takut, tak ada yang bisa mengerti lagi kehadiranku selain dia." ucapnya berhati-hati.


Sinta menggelengkan kepalanya tanpa sepatah kata, bahkan saat dia mabuk masih saja memiliki pikiran mesum.


Dodit meberanikan diri menyenderkan kepalanya di bahu Sinta,


"Ah, gadis itu benar-benar memenuhi pikiranku. Kamu tahu, kenapa aku frustasi sekarang? Karena aku bingung apa yang harus aku jelaskan pada gadis itu, bahwa aku gagal tak mendapatkan hati bosnya. Aku yakin, dia pasti akan menertawakanku."


Sinta menutup rapat bibirnya, hampir saja dia mengeluarkan suara tertawanya. Ia masih tak menyangka, ternyata sindiran yang selama ini ia ucapkan membuat pria ini tertekan.


"Jujur, aku memang mengagumi sosok Juminten. Tapi kalau di suruh untuk memilih, aku lebih mengagumi gadis tomboy berambut merah itu. Dia benar-benar berhasil meluluh lantahkan hatiku."


"Kau suka padanya?" tanya Sinta, mencoba menguak isi hati Dodit.


Dodit menatap ke atas langit, "Sepertinya aku memang mencintainya, aku jatuh cinta dengan sifatnya yang natural. Semua gadis menatapku kagum, kecuali dia. Dia benar-benar seperti sosok yang Tuhan memang sengaja ciptakan lain dari yang lain dan aku mengakui lemah dengan pesonanya."


Sinta mengangkat kepala Dodit yang masih bersandar, hatinya terasa bahagia mendengar semua pernyataannya. Ternyata mereka sama-sama memiliki rasa yang sama, duda ini berhasil menguasai pikiran, hati juga jiwanya.


Dodit segera menegerjapkan matanya, tangannya terulur memegang kedua tangan Sinta,


" Kalau nanti kamu ketemu dia, tolong sampaikan salamku kepadanya. Aku gagal mendapatkan Juminten, bagaimana kalau sekarang aku yang mendapatkannya?" ucapnya dengan senyuman kecut, seperti pria yang sedang patah hati.


"Kenapa nggak langsung bilang sekarang aja? Orangnya di depan kamu, loh." Sinta menatap lekat duda tampan di depannya, mengecup pelan bibirnya,

__ADS_1


"Aku juga sangat mencintaimu."


🍓


🍓


Suara riuh acara pesta resepsi pernikahan di mulai, seluruh tamu undangan mulai datang ke tempat resepsi anak pemilik toserba.


"Kamu kenapa cantik banget, sayang?"


Eka memeluk posesif pinggul istrinya, yang terlihat cantik memakai riasan tebal. Di padukan dress berwarna tosca juga mahkota putih di atasnya.


Mereka masih berduaan di dalam kamar, menunggu kedua anaknya yang akan menjemput mereka untuk ke tempat acara.


"Makasih, sayang," Juminten mengusap wajah suaminya yang nampak terlihat tampan dengan warna jas yang sama dengan dressnya.


Melihat suaminya yang masih tersenyum, Juminten mencoba menggodanya, "Kenapa mau cium lagi?"


Sontak Eka melepas pelan pelukan mereka, lalu berbisik, "Bahaya sayang, kamu lagi lampu merah. Nanti aja kalau udah, aku ajak kamu ke hotel 3 hari 3 malam."


"Lagi mikirin apa hayo? Aku memang perkasa sayang, aku ingin cepat-memberikan bayi untuk Bumi. Apa kamu bersedia untuk hamil anakku?" tanya Eka dengan serius.


Juminten menjawab dengan malu-malu, "Aku mau, Bah. Berapapun anak yang kamu minta, aku setuju."


Eka terkejut, "Serius? Minta 5 boleh?" di jawab anggukan kepala Juminten. Spontan Eka menggendong istrinya ke atas, mengabaikan berat dress yang ikut menyertai.


"Ayo Abah,Ibu. Kita di suruh keluar!" pekik Bumi.


Mereka segera melakukan perintah Abah dan Emak. Planet meraih tangan Ibunya, tugasnya adalah menggandeng tangan Ibunya dengan erat.


Sedangkan Bumi, menggandeng tangan Abahnya. Mereka tampak seperti keluarga harmonis, apalagi wajah ketampanan dan kecantikan kedua anaknya menambah nilai plus keluarga mereka.


Tepuk tangan riuh dari para tamu undangan saat melihat mempelai masuk ke dalam ruangan resepsi. Dentingan lagu romantis accoustic mulai terdengar, menambah makin syahdu suasana.


When you close your eyes, tell me, what are you dreamin'?

__ADS_1


Everything, I wanna know it all


I'd spend ten thousand hours and ten thousand more


Oh, if that's what it takes to learn that sweet heart of yours


And I might never get there, but I'm gonna try


If it's ten thousand hours or the rest of my life


*I'm gonna love you


( ooh, ooh ooh, ooh, ooh* )


"Kamu suka sayang?"


"Suka banget, makasih sayang." Juminten segera memeluk suaminya.


Eka membalas pelukannya dengan erat, tak sia-sia dia begadang memikirkan konsep pernikahan mereka. Dan hasilnya benar-benar indah, sesuai ekspektasinya.


"Selamat Kakak dan Kakak Ipar." Bambang menjadi orang pertama yang menyalami kedua mempelai. Juminten tak kuasa menahan harunya saat mereka berjabat tangan. Dia segera memeluk mantan suaminya,


"Takdir kita memang tak bersama, tapi aku mohon jangan benci aku atau mulai menjaga jarak denganku. Jadikan aku sebagai temanmu untuk cerita, karena kamu juga butuh untuk pendengarnya. Ingat Planet dan Bumi adalah bukti kesaksian kita, bahwa kita pernah bersama. "


Bambang segera melepas pelukan Juminten, ia tak ingin larut kembali dengan rasa cintanya." Semoga kalian bahagia," dengan segera dia bergegas turun dari pelaminan.


"Selamat ya, Ibu Juminten." Rena memeluk erat Juminten setelah Bambang.


"Terima kasih sayang, Ibu Sinta kemana? Kok nggak kelihatan?"


🍓


🍓


Sinta meremat rambut pria yang mulai mengeksplorasi tubuhnya, "Emh.. Ah.." racaunya

__ADS_1


__ADS_2