Pesona Juminten

Pesona Juminten
BAB 41


__ADS_3

Bambang masih bengong melihat istrinya di gendong keluar oleh abangnya.


"Hamil?"


"Siapa yang hamil?"


Bambang masih termangu, lalu mengingat hasil tes kehamilan yang ada di atas meja belajar. Dia segera berlari masuk ke dalam kamarnya, mengambil alat tes garis panjang tipis yang di hiasi pita oleh istrinya.


Tergambar dua garis warna merah terang disana, Bambang mencoba membuka informasi hasil itu di internet dengan menggunakan pencarian gambar. Dan hasilnya membuatnya tercengang.


'Selamat anda positif hamil, disarankan untuk memeriksakan ke bidan atau dokter kandungan untuk mendapatkan vitamin juga asam folat untuk ibu hamil'.


Tubuh Bambang seketika melemas, baru beberapa jam yang lalu istrinya membahas tentang kehamilan dan dia masih mengingat jawabannya dengan menolak kehamilan istrinya.


"Aku belum siap jadi ayah. Aku belum siap!" Bambang menjambak keras rambutnya. "HU.. AH! " Teriaknya keras sambil memukul keras dinding kamarnya.


"Kenapa harus hamil sekarang? Aku masih belum siap jadi ayah, JUMINTEN!" Bambang semakin keras memukul tembok hingga tangannya memerah.


Kring!


Kring!


"Ha-lo!" suara serak Bambang mendapatkan telepon dari Mala.


"Bang kamu kenapa? Kok suaranya kayak gitu?"


"Nggak apa-apa, ada masalah, aja."


"Beneran? Jangan bohong, bang!"


"Iya."


"Abang udah nggak mau nganggep aku lagi kah? Apa karena abang jadi suami Juminten, terus abang mulai jaga jarak sama aku?" Mala mencoba memancing abangnya untuk cerita.


"Nggak, kok!"


"Abang kesini sekarang, aku tunggu! Bukannya abang pernah bilang kita masih harus saling terbuka walau kita nggak bisa bersama?"


Bambang segera mematikan teleponnya, mungkin ada benarnya ucapan Mala. Dia harus terbuka menceritakan masalahnya, pasti Mala bisa membantu menyelesaikannya.


Kring!


Kring!


Bambang membaca nama kontak telepon ponselnya. Tertera nama kakak kandung nya disana. Bambang menghela nafasnya, dia masih membutuhkan waktu sendiri untuk menerima kenyataan ini.


Bambang segera bersiap, lalu mengeluarkan motornya di garasi. Segera mengunci semua pintu rumah dan pagar dengan buru-buru. Dengan segera Bambang melajukan motornya ke rumah Mala.


Tok!

__ADS_1


Tok!


Tok!


Tok!


Bambang mengetuk pintu dengan tidak sabaran membuat Mala segera berlari untuk membukanya.


Cklek!


"Abang kenap-a.." Mala kaget tiba-tiba Bambang datang lalu memeluknya. Mala dengan segera menggandeng tangan Bambang untuk masuk ke rumah. "Masuk, yuk!"


Bambang menganggukkan kepalanya dan mengikutinya. Menyandarkan kepala juga punggungnya di atas sofa single. Menatap langit-langit, berharap menemukan solusi cepat masalahnya.


"Ini diminum dulu,bang." Mala menyajikan sebotol air mineral dingin. Bambang langsung menarik botol tersebut, meminumnya secara brutal hingga kaos yang dikenakannya basah.


"Pelan aja, bang! Aku nggak minta kok." ucapnya dengan tersenyum.


"Jangan ngajak ngobrol dulu, ya! Abang pusing!" Bambang menidurkan tubuhnya di sofa di ruang tamu. Mala menganggukkan kepalanya lalu masuk ke dalam kamar. Membiarkan abangnya seorang diri.


Mala masuk ke dalam kamarnya dan berganti baju. Setiap malam minggu dia selalu memilih pergi ke taman kompleksnya. Selain ramai, juga tempat untuknya bisa mengistirahatkan diri.


Cklek!


"Bang! Bang!" Mala menepuk pelan lengan Bambang.


"Maaf, bukan niat ganggu. Aku mau ke taman, bang. Nanti abang tolong tutup pintunya, ya!"


"Mau kemana?" Sambil mengucek matanya.


"Eh, jangan di kucek." Mala menarik tangan Bambang.


"Iya, ayo abang anter aja. Masih belum jam 12 malam kan?"


"Belum, yuk!"


Mereka segera berjalan kaki ke taman. Dari kejauhan, terlihat lampu kecil warna warni menghiasi jalan. Berjejer para pedagang yang menjual aneka macam barang. Baik itu kebutuhan sandang maupun kuliner juga ada.


"Beli bakso, yuk!" Ajak Mala dan seketika Bambang mengingat istrinya yang sedang sakit saat ini.


Bambang segera menggelengkan kepalanya, membuat Mala mengernyitkan dahi namun tak berani menanyakannya.


"Aku beli jagung bakar aja, deh. Abang beli apa?" tanya Mala.


"Aku beli minum aja, lagi nggak selera makan." Jawab Bambang.


Mereka segera mencari tempat duduk untuk menikmati makanan mereka.


"Jadi inget jaman dulu, ya! Kita sering kesini. Terus ngobrol sampe malem. Kelas berapa ya kita dulu itu?" Mala mencoba membuka obrolan

__ADS_1


"kelas 8 mungkin. " jawab cuek Bambang.


"Hmm.. Kamu sebenarnya kenapa sih, bang?"


Bambang hanya mengangkat kedua bahunya. Mala diam kembali lalu memakan jagungnya.


Bambang merasa ada panggilan masuk kembali di ponselnya. Akhirnya, dia terpaksa membalas pesan abangnya.


Bambang : [Lagi jemput Mila, terserah percaya apa nggak 😪 ]


Bambang menonaktifkan nada dering ponselnya, lalu memasukkan kembali ke dalam kantong celananya. Mala pura-pura acuh, walau tadi sempat mengintip pesan yang di ketik abangnya.


"Rasanya, masalah nggak ada habisnya." Bambang menarik napasnya sambil menatap bintang di langit.


"Nggak ada habisnya gimana, bang?" tanya Mala.


"Habis papa meninggal, nggak lama rumah kejual." Meneguk minuman yang ada di tangannya. "Udah laku, punya rumah baru eh mama sakit-sakitan."


Mala hanya diam, membiarkan Bambang menceritakan segala isi hatinya.


"Habis mama sering rujuk rumah sakit buat kontrol, mama drop. Habis mama sembuh, mama nyuruh aku sama abang nikah dengan alasan biar di rumah ada yang gantiin mama." Meminum kembali minuman di tangannya.


"Setelah drama panjang dengan mama, akhirnya kita setuju menemui Juminten yang akan di calonkan mama." Bambang menata duduknya. "Kamu tau Mala? Aku menolak keras perjodohanku dengannya. Kamu ingatkan cerita itu?" Mala menganggukkan kepalanya.


"Setelah akad nikah di atas mama yang sedang mengalami sakaratul maut, rasanya separuh tubuh ini juga ingin ikut mama meninggal." Bambang mulai meneteskan air matanya.


Bambang menyandarkan kepalanya di bahu Mala. "Belajar membuka hati untuk Juminten, mencintainya juga mulai membalas semua rasa cinta nya."


"Aku terhanyut perasaan itu, hingga akhirnya aku benar-benar jatuh dalam pesonanya di pernikahan kami yang ke dua bulan. Aku tak punya pikiran, bahwa hubungan intim yang sering kami lakukan ternyata berbuah hasil sekarang."


''Maksudnya? " Mala menengok ke arah Bambang.


"Juminten hamil!" tubuh Mala rasanya lemas mendengarkan kabar itu.


"A-a-bang gak ber-canda, kan?"


"Abang juga berharap ini juga candaan. Sayangnya tidak!" Bambang mengeluarkan hasil tespack Juminten. "Sudah beberapa hari alat ini di atas meja belajar, bodohnya abang tak tau kalau ISTRI ABANG HAMIL!" Jerit Bambang dengan menangis tersedu-sedu.


"Aku belum siap punya anak. Aku belum siap untuk dipanggil, ayah. Aku masih ingin sukses! Bahkan sampai detik ini aku masih belum bisa membalas Bang Eka ataupun bahagiain Juminten" Mala segera mengelus punggung Bambang.


Bambang menghapus air matanya, ditatapnya mata Mala. "Abang harus gimana sekarang?"


"Menurut Mala, abang harus gentle. Abang harus tanggung jawab,bukannya itu juga hasil percintaan abang. "


Mendengar jawaban Mala, membuatnya kecewa. Harapannya untuk mendapatkan nasehat yang pas untuk hatinya ternyata salah.


"Abang nggak ada niat lari dari tanggung jawab, kan?" Bambang mengangkat tinggi bahunya.


"Kenapa abang dari awal nggak mentalak Juminten? Bukannya pernikahan kalian juga hanya siri?" seketika Bambang mendongak menatap Mala, membenarkan ucapan gadis di depannya.

__ADS_1


__ADS_2