
Juminten bergelayut manja di tangan Bambang sambil berjalan ke meja makan. Dan pemandangan tersebut sukses membuat Eka sebal melihatnya.
" Mau minum teh apa kopi? Tanya Juminten pada keduanya.
"Teh! Kopi!" Jawab mereka bersamaan.
"Untung aja bikin dua-duanya! "
Juminten mengambil kopi dan teh di sebelah kompor, "Ini kopi buat Bambang. Ini teh buat Abang."
Juminten mengambilkan nasi untuk suaminya terlebih dahulu.
"Bambang, porsinya segini nggak?"
Bambang menganggukan kepalanya. Juminten pun menyuguhkan nasinya.
Juminten kembali mengambilkan nasi untuk Eka tanpa bertanya, karena semalam mengetahui porsi makan Eka.
"Ini nasi nya Abang." Lalu Juminten beralih mengambil lauk, "Dan ini lauknya. Selamat makan!"
"Kamu gak makan jum?" tanya Eka.
" Juminten mau siapin bekal buat kita bertiga dulu. "
Eka menyunggingkan senyum kembali. Kadar rasa terpesona eka kepada Juminten naik level lagi, melihat kedewasaan juga perhatiannya.
Setelah beres urusan rumah juga menyiapkan bekal untuk dua jantan di rumah. Juminten bersiap berangkat sekolah.
Tapi, sebelum berangkat, Bambang sudah memberikan ultimatum dulu pada istrinya, "Jangan sebarin kalo kita udah nikah! jangan sebarin kalo kita serumah! jaga jarak selama di sekolah! jadilah kayak kamu yang biasanya! jangan nebeng motor bareng aku ke sekolah! Mengerti!"
"Iya, ngerti"
"Nih sangu buat sekolah, jangan di abisin."
Lemes rasanya Juminten mendengar segala syarat dari suaminya. Mau gimana lagi? Nasi sudah terlanjur menjadi bubur karena kebanyakan air. Juminten siap ataupun nggak siap harus menjalaninya.
Juminten pun berangkat ke sekolah dengan jalan kaki berbekal uang sangu dari sang suami 1 lembar merah dan 1lembar hijau.
Eka yang melihat adik iparnya dan suaminya tidak berangkat bersama menjadi curiga.
Kenapa mereka nggak naik motor bareng aja? Bukannya mereka 1 sekolahan?
Eka pun yang sudah selesai memanasi motornya, menyalakan mesin dan mengejar Juminten.
Greng!
Greng!
Bunyi motor mahal ges, visualisasi sendiri yak π
"Bareng Abang, yuk! "
"Nggak ah, Bang. Juminten naik bis aja!"
"Ayo! Sekalian Abang mau arah sana."
"Beneran Abang? Alhamdulillah, lumayan uang sangu dari Bambang nanti buat belanja sayur!" Juminten pun naik ke atas motor Eka.
"Dikasih sangu berapa?"
"Dikasih 120rb, Bang."
"Nanggung amat 30rb nya. Nanti Abang tambahin! "
"Nanggung nya 80rb, Bang. Biar Juminten cepet bisa naik haji!"
"Dih, malak. Aku laporin Bambang nih"
"Ih, abang cowok apa cewek sih?" Juminten memukul bahu belakang Eka pelan.
"Masih cowok, Jum."
"Kok comber! Salah kayaknya nih, cewek jangan-jangan! "
"Haha..yuk turun udah sampai!"
"Makasih abang ipar. Hati-ati di jalan. Semoga selamat sampai tujuan!" Ucap Juminten.
"Sama-sama adek ipar, pulang sendiri yaa!"
"Dijemput juga nggak apa-apa, Juminten rela dengan ikhlas dan legowo!" Juminten mode malu-malu.
__ADS_1
"Dih, najong. Haha. . Bentar! Jangan masuk dulu!" Eka memberikan uang 1lembar merah pada Juminten.
"Alhamdulillah, makasih banyak. Semoga nanti pas bengkel buka langsung rame. Pelanggan puas dan balik lagi karena yang punya baik. Buktinya udah senengin ati, Jumi." Ucap Juminten dengan senyum merekah.
"Aamiin makasih doanya. Duluan ya!" Eka meninggalkan halaman sekolah.
"Bye, hati-hati Abang!" Teriak Juminten sambil melambaikan tangan.
Juminten melangkahkan kaki masuk ke dalam sekolah. Mencium dalam-dalam bau sekolah yang sudah ditinggal selama 7 hari.
" Selamat pagi, fansbase Juminten!" Teriak Juminten memasuki kelas.
" Pagi. Woahh artis kelas kita datang!" Teriak teman Juminten yang duduk di depan.
"Apa kabar, Jum?" Tanya teman yang lain.
"Kabar baik, fans!" Jawab Juminten dengan gaya alay nya.
"Berasa jd artis lu dateng-dateng! Kelas langsung rame." Resti menyambut Juminten dengan pelukan.
"Haha.. Aku rindu kalian juga wah!"
Juminten memeluk Mala, "Kita juga rindu. Kamu nggak bales whatsapp kita."
"Haha.. sorry sengaja biar nikmati liburan!" Ucap Juminten sambil duduk di tempat duduknya.
"Lah, ma gue nggak pelukan?" bengong Farid.
"Belum muhrim, wan. Takut ada yang tegak tapi bukan keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia." Jawab Juminten.
Farid tertawa mendengar celotehan Juminten. Seminggu tak bertemu dengannya rasanya rindu berat.
"Kita kapan hari ke rumah lu, jum." Ucap Resti.
"Hah, ngapain?"
"Mau sungkem ma soang! Ya nggak lah, cariin elu!" Jawab Farid.
" Terus siapa yang nemuin? Kan bapak sama emak perginya ma aku."
"yang nemuin yang urus hewan kamu namanya sarifudin kalo nggak salah." Jawab Mala.
.
"Gue perhatiin lu kok gendutan sih!" Farid memperhatikan Juminten atas ke bawah.
"Iya, lah, timbanganku naik. 2 kilo, pula. Niatku tadi berangkat jalan kaki biar kurus eh--" Omongan Juminten terpotong.
"Ciye.. yang tadi di anterin pacar!" goda teman yang duduk di sebrangnya.
"Haha.. Bukan. Itu Abangku!"
"Abang apa abang ciye.."
"Lu, punya pacar kok nggak cerita sih?" sungut Resti.
"Emang bukan ih, itu bangβ" ucapan Juminten terputus kedatangan guru.
"Selamat pagi anak-anak, Silahkan ketua kelas memimpin doa."
πππ
Tet!
Tet!
Bel pulang sekolah berbunyi. 4 sekawan sudah bersiap untuk pulang. Seperti biasa, Mala yang akan lari pulang duluan. Farid mengantarkan buku tugas ke meja guru. Dan resti juga juminten akan pulang ke parkiran bersama.
"Nyewa komik, yuk?" ajak Resti.
"Yuk, aku juga biar gak suntuk di rumah. Tapi jangan lama-lama ya. Sama sekalian anter aku belanja di pasar senin."
"Tumben belanja, Emang bisa masak?"
"Ya, masak sebisanya aja. Ini aku aja sekarang doyan liat tiktok sama youtube acara masak-masak. Seru gitu bisa masak. Abis masak terus d pamerin, ah bangganya ma hasil sendiri. Gitu! " alibi Juminten.
"Yaudah, tunggu depan pos satpam aku ambil motor dulu."
"Oke, Res."
Juminten berjalan ke depan pos satpam. Alangkah kagetnya, melihat Bambang menggonceng perempuan.
__ADS_1
Bukan pacarnya, bukan pacarnya. Oke, positif positif.
Hati Juminten rasanya sakit banget, melihat pemandangan itu. Tapi, Juminten berusaha Positif thingking yakin Bambang akan setia dengannya seperti Juminten. Walau pernikahan mereka memang mendadak dan hanya sirri, tapi Bambang tak akan ada niat seperti itu untuk menghianatinya.
Greng!
Greng!
Juminten menoleh arah suara motor yang mendekatinya. Juminten kaget melihat Eka menjemputnya.
"Abang, ngapain?" Juminten kaget dengan kedatangan Eka.
"Jemput kamu, lah!
"Hah, ngapain jemput Jumi?" juminten masih dengan mode begonya.
"Lah, dijemput bukan nya makasih, malah nanya."
"Loh, kan Abang kerja!"
" Iya, ini abang sempetin jempjt kamu. Harusnya kamu senenglah!"
"Juminten masih kaget nih. Tolong cubit pipi Jumi. Berasa jadi pacarnya abang. Sekolah dianter, pulang dijemput. Apa kayak jelangkung ya.."
"Ayo buruan naik, malah ceramah!"
"Eh.. Eh.. bentar Bang aku temuin Resti dulu!"
Juminten berlari ke parkiran sekolah. Belum sampai ke parkiran, berpapasan dengan Resti di jalan.
" Res! Res! "
" Res! stop! "
Juminten ngos-ngosan mengejar resti ke depan.
"Kan tadi dah aku bilang tunggu di pos satpam. Haha..ya sorry aku cuekin!"
Juminten ngos-ngosan mengejar resti, "Te-ga lu!"
"Haha.. Iya sorry. Yuk, naik!"
"Res, aku di jemput ma Bang Eka. Sorry, gajadi ikut nyewa komik."
"Abang Eka?"
"Abangnya Bambang."
"Lah, ngapain dia jemput?"
"Nggak tau, tiba-tiba aja di jemput. Padahal kita nggak janjian."
"Yah, sedih deh. Nggak jadi nyewa komik bareng!"
"Sorry ya, Res. Aku aja kaget, tiba-tiba di jemput Bang Eka."
"Iya gapapa deh, kapan-kapan lagi. Tapi jangan nggak jadi lagi ya. Stok baca komik onlineku dah ku baca semua soalnya!"
"Iya, Res beres. Besok kita janjian lagi yaa. Nggak marah kan?" Juminten merayu Resti.
"Nggak lah, ngapain marah. Kecewa doang kok." Goda Resti.
"Elah sorry.. Sumpah Jumi aja kaget!"
"Haha.. Canda elah!"
"ish Resti!" Juminten memukul bahu Resti. "Yaudah, Jumi duluan ya kasian Bang Eka. Titidije Res."
"Oke, kamu juga. Awas malah meluk Bang Eka entar, Terus Lupain Bambang deh!"
"Ih, nggak bakal lah yaa.. Bambang tetep nomer 1. Bye res!" Juminten berlari mendekati Eka.
Resti menganggukkan kepalanya pada eka, ketika berpapasan di depan gerbang dengan eka.
"Yuk, balik!" Ajak Juminten.
"Yuk, pegangan sini. Pendek banget sih kamu! Tiap naik mesti pegangan tangan abang."
"Gapapa, Bang. Pegangan tangan itu baik buat jantung. Baca aja di google! "
"Udah entar aja, kultumnya. Sekarang yuk pulang dulu! Abang keburu balik ke bengkel."
__ADS_1