Pria Kaya Menginginkan Gadis Pemalu

Pria Kaya Menginginkan Gadis Pemalu
18. Pria Kaya


__ADS_3

“Tuan saya ingin menujukan hasil lab, obat yang di komsumsi Nona Chloe,” Fred berdiri dan menunduk di depan pintu mobil.


Mike yang baru keluar dari Villa hendak masuk ke dalam mobil menghentikan langkah kakinya. “Lanjutkan.” Mike membenarkan dasinya dan berdiri tegak di depan pintu mobil yang sudah terbuka sejak dari tadi.


“Kedua obat tersebut adalah obat depresi dan halusinasi Tuan. Saya juga secara pribadi meminta catatan medis Nona Chloe pada dokter yang menanganinya selama ini.” Fred mengeluarkan amplop coklat dari dalam mobil dan di berikannya pada Tuannya itu. “Semuanya di jelaskan secara terperinci di dalam amplop tersebut, Tuan.” Fred kembali menundukkan kepalanya.


“Baiklah, kau sudah bekerja keras.” Mike mengambil amplop coklat tersebut kemudian dia masuk ke dalam mobil. Lalu Sekretaris Fred menutup pintu mobil setelah Tuannya masuk, kemudian dia juga masuk ke dalam mobil dan menjalankan mobilnya.


Setelah mobil berjalan Mike membuka amplop coklat tersebut dan mengeluarkan kumpulan kertas yang berisi informasi tentang kesehatan mental Miki. Beberapa detik Mike membacanya, lalu dia membalik ke lembaran selanjutnya. Dia tidak berkomentar sedikit pun dan terus membaca semuanya sampai selesai, kemudian dia menutup berkas tersebut.


Setelah membaca Mike dapat mencerna apa yang tertulis di dalam sana. Dia membuat kesimpulan jika selama ini wanita yang tak pernah dia sangkah menderita gangguan metal yang cukup sangat parah. Depresi dan berhalusinasi adalah paket lengkap gangguan metal yang tidak dapat tertolong menurutnya.


***


Sudah beberapa jam kejadian Mike memaksa memakaikan baju secara langsung pada Miki. Rasa malu yang membalut diri Miki membuatnya tidak bisa memperlihatkan wajahnya lagi di hadapan pria itu.


Dasar pria mesum, dia pikir aku ini apa? Seenaknya saja melakukan itu padaku. Bagaimana bisa aku menunjukkan wajahku lagi. Batin Miki.


Di atas kasur Miki berbaring seraya menggulung tubuhnya di dalam selimut tebat, kemudian dia kembali menggulirkan tubuhnya sehingga keluar dari gulungan selimut tersebut. Berulang kali dia melakukan hal sama dan memikirkan hal yang sama semenjak dia mengitip Mike pergi dari teras kamarnya.


“Nona, ini saya Bret.” Bret mengetuk pintu kamar Miki dengan perlahan dan sopan.


“Ia, Nyonya Bret ada apa?” tanya Miki tanpa membukakan pintu kamarnya.


“Nona, pesan Tuan Anda harus makan.” Suara Bret terdengar rendah dan lemah lembut di balik pintu yang tertutup.


“Maaf Nyonya Bret, katakan pada Tuanmu itu jika Miki tidak ingin makan.” Miki mengerutkan keningnya tak senang.


“Maaf Nona tapi ini perintah dari Tuan Mike,” Bret sedikit takut karena Miki menolak untuk makan. “Nona tolong buka pintunya dan keluar sebentar untuk makan.” Dengan sopan Bret meminta.


“Sungguh maafkan saya Nyonya Bret, saya benar-benar tak ingin makan.” Miki kembali membaringkan tubuhnya dan menggulung-gulungkan tubuhnya di dalam selimut.

__ADS_1


Dia kira siapa dirinya seenaknya memperintahkan aku untuk menuruti apa yang dia katakan. Jika kau berpikir aku akan menuruti perkataanmu setelah menelanjangiku, lebih baik kau telan saja sendiri perintahmu itu. Miki tertawa licik dengan tatapan yang sama liciknya dengan tawanya.


***


Kantor cabang perusahaan SEA di Santa Monica.


“Tuan sudah waktunya bagi Anda menemui Ketua,” Fred berdiri tegak seraya membaca buku kecil hitam di tangannya.


“Mr. Fred, tolong batalkan saja pertemuan dengan Daddy, bilang saja padanya jika aku sedang sibuk bertemu dengan kolega bisnisku di Santa Monica.” Mike menutup map hitam setelah selesai menanda tangani berkas yang ada di dalamnya.


“Baik Tuan,” Fred menunduk sopan dan mengundurkan diri dari hadapan Tuannya tersebut.


Mike menyandarkan dirinya di sandaran kursi kerjanya. Dia merasa sangat lelah, bukan hanya banyak pekerjaan yang harus dia kerjakan melainkan semenjak dia membaca berkas yang di berikan sekretarisnya itu beberapa jam yang lalu.


Apakah dia sudah makan? Aku harus menghubungi Nyonya Bret sekarang. Mike bangkit dan mengambil Ponselnya di atas nakas. Dia menghubungi Bret melalui telepon Villa.


“Ya Tuan?” seru Bret sopan.


“Maaf Tuan, kata Nona Chloe dia tidak ingin makan.” Bret menyampaikan apa yang di katakan Miki sebelumnya.


Wanita ini sangat keras kepala sekali. Batin Mike.


“Baiklah Nyonya Bret, kau lanjutkan saja pekerjaanmu sekarang.” Mike memutuskan sambungan teleponnya begitu saja dan dia melempar sembarangan ponselnya di atas meja kerja.


Mike beranjak berdiri, dia mengambil jas yang tergantung dengan rapi di atas kursinya untuk di pakai. Saat melewati pintu Mike bertemu dengan sekretarisnya Fred. “Tuan, Anda mau pergi ke mana?” tanya Fred tak berani menatap langsung mata Tuannya itu.


“Mr. Fred siapkan mobil sekarang, kita kembali ke Villa sekarang juga.” Mike mengaitkan kancing jasnya agar terlihat rapi di hadapan semua karyawannya.


“Baik Tuan,” sekretaris Fred berjalan mendahului Tuannya itu karena dia harus menyiapkan Mobil sebelum Tuannya berada di pintu keluar.


Setelah keluar dari Lift khusus. Mike keluar dengan memasang wajah dingin dan sorotan mata tajam, bagi siapa saja yang melihatnya merasa seperti terintimidasi saat melihat sorotan mata yang mematikan. Hampir setiap karyawan yang berlewatan dengannya selalu menunduk 90 derajat untuk menghormatinya.

__ADS_1


“Silakan masuk Tuan,” Fred membukakan pintu mobil untuk Tuannya itu.


“Terima kasih Mr. Fred.” Mike melepaskan kaitan kancing jasnya dengan mengibaskan kedua sisi jasnya ke belakang. “Cepat jalan,” perintah Mike pada Sekretaris Fred.


“Baik Tuan” Sekretaris Fred langsung menginjak gas dengan kecepatan penuh.


***


Sesampai di Villa, sekretaris Fred dengan cepat keluar dari mobil untuk membukakan pintu mobil untuk Tuannya. “Silakan Tuan,” sekretaris Fred menunduk dengan tangan menahani Pintu mobil agar tidak bergerak saat Tuannya keluar dari Mobil.


“Terima kasih Mr. Fred.” Setelah keluar Mike kembali mengaitkan kancing jasnya. Dia berjalan menaiki beberapa anak tangan untuk menuju pintu masuk Villa, di sana sudah ada Bret yang menunggu kedatangannya. Dengan menundukkan kepala dengan kedua tangan membuat satu kepalan, Bret memberi Hormat pada Tuannya yang datang.


“Nyonya Bret, di mana Nona Chloe sekarang?” tanya Mike saat melihat Bret menyambut kedatangannya.


“Nona ada di dalam kamarnya Tuan,” Bret terus menunduk hormat.


“Sudah berapa lama dia berada di dalam sana?” Mike melepaskan jasnya dan di berikannya pada Sekretaris Fred.


“Semenjak Tuan pergi meninggalkan Villa, Nona Chloe tidak pernah keluar dari kamarnya.” Suara Bret bergetar karena rasa takut jika Tuannya itu akan marah.


Kita lihat bagaimana kau bisa mempertahankan keras kepalamu itu. Mike berjalan melewati pintu dan menuju ke pintu kamar Miki. “Nyonya Bret, tolong ambilkan kunci cadangan pintu kamar Nona Chloe sekarang.” perintah Mike pada Bret.


“Baik Tuan, segera saya ambilkan.” Bret berlari kecil untuk mengambil kunci cadangan.


Dalam hitungan detik Mike sudah berada di depan pintu kamarnya Miki, hanya tinggal menunggu beberapa detik dengan mudahnya dia membuka pintu kamar yang sejak tadi tertutup rapat.


Bret yang baru saja datang dari mengambil kunci cadangan langsung memasukkan anak kunci tersebut ke lubang kunci, dan hanya dua kali putaran anak kunci pintu tersebut terbuka.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2