Pria Kaya Menginginkan Gadis Pemalu

Pria Kaya Menginginkan Gadis Pemalu
59. Gadis Pemalu


__ADS_3

Setelah mendengar penjelasan sahabatnya itu Emily mulai sedikit lebih tenang dan berpikiran jernih. Emosi yang awalnya menggebu-gebu pada akhirnya mulai mereda.


“Kenapa kau tidak mengatakan semua itu padaku lima belas tahun yang lalu?” tanya Emily dengan air mata yang mengalir pelan di wajahnya.


“Aku tidak ingin membuatmu khawatir padaku, aku tidak ingin kau membuatmu kesusahan lagi seperti saat kita masih kuliah. Aku takut untuk memberitahukannya padamu karena aku tidak ingin membawah Robert ke dalam masalah yang pada akhirnya akan melukainya. Saat itu aku tidak ingin menyakitnya. Sungguh maafkan aku Emily, semua ini adalah salahku.” Kata Lona dengan mata yang berkaca-kaca.


“Aku adalah sahabatmu Lona, kenapa kau harus merahasiakan semuanya dariku?”


“Sungguh maafkan aku Emily, aku bersalah padamu dan juga Steven. Tolong ampuni aku dan jangan lukai Miki ku, dia tidak bersalah sama sekali.” Lona memohon dengan sangat pada Emily untuk melepaskan Miki.


“Jika semua yang kau katakan itu adalah kebenaran, apa buktinya?” tanya Emily.


“Kau bisa melakukan tes DNA pada Miki dan Steven. Dengan begitu kau bisa mengetahui kebenarannya jika Miki bukanlah anak dari Steven.”


Emily mulai luluh dan percaya dengan apa yang di katakan Lona padanya. Dia juga mulai tersadarkan dari amarah yang menguasai dirinya sehingga dia melupakan sifat kemanusiaannya terhadap Miki.


Perlahan Emily mulai hendak menarik tubuh Miki ke sisi yang lebih aman, tetapi tiba-tiba putranya Junior datang menghampirinya dengan berlari. Tanpa di duga junior tersandung kakinya sendiri saat berada di tepian tangga, jika bukan berkat Emily tubuh kecilnya Junior sudah menggelinding di atas tangga.


“Emily awassss!!” teriak Lona saat melihat Emily melepaskan tangannya dari Miki.


Emily melupakan keberadaan Miki yang sedang mengantung di atas tangga karena cengkeramannya pada gadis kecil itu. karena menolong Junior yang hampir terjatuh, Emily melupakan Miki dan melepaskan penegangannya pada gadis kecil itu.


Saat menyadarinya Emily langsung mendorong Junior sejauh mungkin dari tepian tangga dan mencoba meraih tangan kecil Miki. Namun, apalah daya Emily tidak bisa dan dia malah menjatuhkan dirinya di atas tangga sembari menarik tubuh kecil Miki ke dalam pelukannya untuk melindungnya dari benturan anak tangga dari atas hingga ke bahwa.


Dengan sangat jelas Lona , Steven maupun Junior yang berada di atas melihat Emily terjatuh dari tangan sembari memeluk Miki dalam pelukannya.


“Emily!!!!” teriak Steven.


Dengan cepat Steven menghampiri Emily yang sudah terbaring di atas lantai dengan kepala dan tubuh yang terluka parah.


“Mami…Hiks…Hiks…” tangis Junior saat melihat ibunya yang terjatuh dari atas tangga.


Sekilas Steven melirik Junior yang berada di lantai atas, dia tidak bisa menghampiri anaknya itu karena dia harus membawah Emily secepat Mungkin ke rumah sakit. dengan cepat Steven mengangkat dan mengendong tubuh istrinya itu, dia bisa merasakan detak jantung Emily yang semakin lemah. Tanpa memperdulikan junior, Steven pergi begitu saja membawa Emily dan Miki ke rumah sakit terdekat.


“Mom, tolong kau jaga Junior untukku,” ucap Steven pada ibunya Rosmala.


“Baiklah sayang, kau tidak perlu khawatir. Biar aku yang menjaga junior.” Jawab Rosmala.


Saat di dalam perjalanan Steven panik, perhatiannya tertuju pada Emily. Dia takut jika Emily kenapa-napa.


“Emily sayang, aku mohon bertahanlah.” Ucap Steven sembari mengemudi mobil.

__ADS_1


“Steven Fokus saja mengemudinya,” pinta Lona yang panik.


Saat ini Lona sedang menopang dua kepala orang yang sangat berarti dalam kehidupannya di dalam pangkuannya. Dia bisa melihat Jika sahabatnya itu terus menatapnya dengan mata yang terus mengeluarkan air mata.


“Kalian harus bertahan, aku tidak bisa kehilangan kalian,” ucap Lona dengan air mata yang terus mengalir di pipinya.


Lona terus menggenggam erat kedua tangan orang yang sangat dia sayangi itu, dia tidak akan mengira jika kedua orang yang terbaring lemah dengan berlumuran darah adalah anak dan sahabatnya sendiri.


Ya tuhan tolong selamatkan anak dan sahabatku ini, jangan biarkan aku kehilangan salah satu dari mereka berdua. Doa Lona dalam hatinya.


“Uhuk…Uhuk…Uhuk.” tiba-tiba Emily batuk darah.


Lona sangat panik melihat darah yang keluar dari mulut sahabatnya itu. dengan kedua tangan yang bergetar sembari menggenggam erat kedua tangan sahabatnya itu, “Steven tolong cepat sedikit!!” teriak Lona menangis. Seluruh tubuhnya bergetar hebat melihat keadaan sahabatnya semakin memburuk.


“Emily, aku mohon bertahanlah.”


Lona terus menggenggam kedua tangan Emily dengan sangat erat, serta mengecup lama kedua tangan sahabatnya itu seakan berdoa meminta pada yang maha kuasa agar di berikan kekuatan kepada sahabatnya itu untuk bertahan hidup.


“Lo-Lona,” Emily berusaha memanggil sahabatnya itu.


“Emily aku mohon padamu jangan berbicara sekarang, kau harus menyimpan tenagamu.” Pinta Lona yang semakin panik dan khawatir. Air mata terus menerus mengalir tanpa henti.


“Tidak, tidak, jangan katakan itu untuk sekarang.” Lona menggelengkan kepalanya pelan sembari menangis.


“Ma-Maafkan aku Lona, jika aku percaya Pa-padamu, Ti-tidak mungkin semua ini Ter-jadi. A-ku mohon ma-maafkan aku.”


“Tidak, tidak, aku mohon bertahanlah Emily.” Tangis Lona semakin kencang, saat melihat keadaan sahabatnya itu semakin memburuk.


Semakin Lona menggenggam erat kedua tangan sahabatnya itu semakin dia bisa merasakan kedua tangan sahabatnya itu melemah dan tak bertenaga. Hingga akhirnya Lona benar-benar tidak bisa merasakan kedua tangan Emily yang pada awalnya juga menggenggam erat tangannya, kini luluh dan terjatuh dari genggaman Lona sepenuhnya.


“Tidak, tidak, tidak!!!” teriak Lona dengan sekuat-kuatnya, dia menggeleng-gelengkan kepalanya menolak kenyataan jika Emily sahabatnya sudah benar-benar meninggalkannya. Seketika tangis Lona pecah memenuhi ruang Mobil.


Steven yang mendengar teriakan Lona membanting setirnya dan hampir menabarak trotoar di depannya. Saat menoleh ke belakang Steven mendapati Emily yang sudah tak lagi bernyawa. Penyesalan dalam diri Steven mulai menyalahkan dirinya sendiri, kematian Emily adalah sebuah pukulan besar yang Steven terima. Wanita yang sangat dia cintai harus meninggal dengan sia-sia tanpa pertolongan sedikit pun.


Menyesal dan hati yang sangat hancur membuat Steven menahan air matanya agar tidak keluar dari matanya. Dia sangat ingin menangis, tetapi hatinya terasa amat sangat sakit sekali sehingga air matanya tertahan dan tidak keluar sedikit pun dari matanya. Kematian Emily merubah semua kehidupan serta sikap dan kepribadian Steven. Seketika Steven menjadi berhati dingin, pemarah, dan gila kerja. Steven dan keluarganya juga mendadak pindah ke prancis setelah kematian Emily.


Pada saat kejadian hari itu, Lona harus kehilangan sahabat terbaiknya dan anaknya Miki harus mengalami koma selama satu tahun. Saat sadar dari Koma, Miki kehilangan sebagian dari ingatannya tentang tragedi yang harus merengut nyawa Emily. Sadar dari koma bukan berati Miki sudah sembuh total, melainkan Miki harus mengalami gangguan metal yang sangat parah. Mau tidak mau Lona harus menyembunyikan Status Miki sebagai anaknya dan menjauhkan Miki dari orang-orang yang mungkin akan berniat jahat seperti yang di alami Miki sebelumnya.


Flashback off


Lona menangis setelah mencerita semuanya yang telah terjadi pada sepuluh tahun yang lalu. mengungkit kembali luka yang telah lama Lona simpan kini harus membuat Lona kembali bersedih dan terluka.

__ADS_1


“Mami, maafkan aku. Sungguh aku tidak bermaksud membuat Mami sedih begini.” Ucap Miki sembari duduk di samping ibunya itu dengan menggenggam erat kedua tangannya.


Dengan lembut Lona menghapus air matanya dengan menggunakan ujung jarinya. Setelah itu dia kembali menggenggam erat kedua tangan anaknya itu.


“Sayang, Mami tidak apa-apa, hanya saja air mata Mami mengalir begitu saja saat mengingat Emily.”


“Mami yakin tidak apa-apa?” tanya Miki yang memastikan.


“Miki sayang, kau tidak perlu khawatirkan Mami. Yang sangat Mami khawatirkan saat ini adalah Miki. Mami takut terjadi sesuatu padamu saat mengetahui hal ini. Mami takut jika Miki akan mengalami masa-masa sulit seperti dulu lagi. Itulah kenapa Mami merahasiakan semua kejadian itu dari Miki dan menutupnya rapat-rapat.” Kata Lona yang emosional.


Kedua manik mata Lona mulai berkaca-kaca kembali saat menatap wajah Miki. Dia teringat kembali apa yang di alami oleh anaknya itu, dari awal sampai sekarang Lona menyaksikan penderitaan yang di alami Miki.


“Sayang kemarilah biarkan Mami memelukmu.” pinta Lona yang langsung menarik Miki ke dalam pelukannya.


Miki merasa sangat nyaman saat Lona memeluknya. Pelukan hangat inilah yang sangat Miki rindukan beberapa bulan terakhir ini. Rasa akrab saat di peluk oleh ibunya membuat Miki merindukan sang suami yang berada di kota lain.


“Mami, aku sangat sayang padamu.” Bisik Miki di telinga Lona.


Dengan bibir tertarik ke atas Lona mengelus rambut setengah basah Miki dengan lembut dan berkata, “Mami juga sangat sayang Miki.” Kemudian Lona mengecup kepala Miki dengan sangat lama, lalu melepaskan kecupannya dari atas kepala anaknya itu.


Setelah puas mengeluarkan unek-unek mereka pada akhirnya keduanya memutuskan untuk kembali ke kamar mereka masing-masing. “ Selamat malam sayang,” ucap Lona seraya meninggalkan Miki di depan pintu kamarnya, dan menghilang begitu dari pandangan Miki.


Kemudian Miki memegang hendel pintu dan membukanya, lalu menutupnya kembali. Miki mengayunkan kakinya menuju ranjangnya dan merebahkan tubuhnya dengan pelan di atas ranjang.


aku sangat merindukan Mike, saat ini aku sangat membutuh Mike berada di sini bersama ku. Batin Miki.


Rasa sedihnya membuat Miki sangat membutuhkan sosok sang suaminya berada di sisinya saat ini juga. Namun, apalah daya jarak dan waktu memisahkan mereka. Kini yang bisa Miki lakukan adalah bersabar dan berharap sosok suami yang sangat dia rindukan itu hadir di dalam mimpinya jika dia bisa tertidur malam ini setelah mengetahui apa yang terjadi sepuluh tahun yang lalu terhadap dirinya.


“Miki, kau hanya perlu menutup matamu dan lupakan semua ingatan buruk di masa lalumu.” Gerutu Miki sendiri di dalam kamarnya.


Bersusah paya dia mencoba membuat dirinya tertidur, tetapi pada akhirnya Miki tidak bisa tertidur sedikit pun sampai pukul dua pagi matanya tetap masih terbuka seperti burung hantu yang terjaga saat malam hari dan pada saat siang hari tertidur. Bedanya Miki dari burung hantu adalah pada saat siang hari Miki juga tetap tidak bisa tertidur.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2