Pria Kaya Menginginkan Gadis Pemalu

Pria Kaya Menginginkan Gadis Pemalu
69. Gadis Pemalu


__ADS_3

“Baiklah aku mengerti, tetapi aku tidak akan pergi dari sini dan aku akan tetap menunggumu di depan pintu ini.” kata Mike yang lalu duduk di lantai depan pintu kamar mandi.


“Tinggalkan aku sendiri Mike.” Pinta Miki di balik pintu.


“Tidak, aku akan tetap berada di sini sampai kau mau mencerita apa yang sebenarnya telah terjadi padamu hari ini.” Mike menolak untuk pergi dan menuntut penjelasan dari istrinya itu.


Miki hening, dia tidak yakin menceritakan kehancurannya pada pria yang berada di balik pintu ini. Sakit hatinya tidak mengizinkan pria itu tahu betapa hancurnya hatinya saat ini, rasa sakit itu terlalu menyayat hatinya dan yang menyebabkan hatinya terluka saat ini adalah pria yang sedang berada di balik pintu ini.


Sebutir air mata menetes di wajahnya, Miki tak sanggup menahan kuasa betapa sakit dan perihnya hatinya saat ini. sampai-sampai seluruh tubuhnya tak berdaya dan merosot begitu saja di pintu hingga terduduk di lantai. “Please…tinggalkan aku sendiri.” Ucapnya yang di ikuti air mata yang menetes.


“Baiklah, aku akan pergi dari sini, dan pakai gantimu aku letakan di depan pintu ini.”


Mike mengalah, dia berusaha untuk bersabar dan memadam emosinya yang sudah memanas di kepalnya. Dengan kepala panas Mike beranjak pergi keluar dari ruangan tersebut untuk memberikan waktu bagi Miki untuk sendiri.


Mendengar langkah kaki Mike yang menjauh membuat hatinya semakin terasa sakit karena semakin jauh Mike melangkah, dia tak akan pernah bisa kembali lagi.


Miki menatap ke depan. Di mana sebuah ventilasi bersegi empat dengan cahaya rembulan yang menerangi ruangan kamar mandi yang gelap. Kini apa yang di rasakan Miki saat ini adalah keheningan dengan rasa sakit yang baru saja membekas di hatinya, butuh waktu lama baginya untuk mengobatinya.


Kehampaan membuatnya tidak sanggup untuk melakukan apa pun selain duduk di balik pintu dengan menatap cahaya rembulan dari ventilasi kecil di depannya itu.


Satu menit, dua menit, tiga menit, Miki masih bisa menahan rasa sakit hatinya. Namun, dalam menit ke empat dan kelima, dia mulai merasakan sesak di dadanya saat mengingat Mike memasangkan sebuah cincin di jari wanita lain.


Buk…


Satu kali Miki mendaratkan pukulan di dada. Karena terlalu sesak dia kembali memukul dadanya berulang kali dengan tangis tersendat-sendat. Walaupun dia terus memukuli dadanya, rasa sesak tersebut tidak juga hilang malah sebaliknya, semakin dia memukul dadanya semakin sesak dadanya.


“Aaarrrgghh…” erang Miki sembari menangis.


Miki kesal karena dadanya yang terasa sangat sesak. Dia terus menekan-neka dadanya dengan sangat kuat dan suara isak tangis yang tertahan membuatnya seperti akan mati saat itu juga. Yang lebih membuatnya dadanya terasa sesak adalah mati pun dia tidak bisa karena kini hidupnya bukan lagi milikinya seseorang melainkan ada satu hidup lagi yang tinggal di dalam dirinya, janin yang ada di dalam perutnya itu merupakan alasan mengapa saat ini Miki berusaha dengan sekuat tenaga untuk bertahan.


Demi janin yang ada di perutnya itu, Miki berusaha untuk tegar dan membuat dirinya tidak terlalu bersedih. Dalam waktu singkat Miki menghapus air matanya menggunakan punggung tangannya dengan kasar, kemudian dia beranjak berdiri untuk membersihkan dirinya yang sudah basah kuyup terkena air hujan.


Setelah selesai Miki meraih handuk di atas meja wastafel, lalu handuk tersebut dia lilitkan di tubuhnya. Perlahan Miki melangkah kakinya menuju pintu, tepat berada di depan pintu Miki mulai mengerakkan tangannya untuk membuka kunci pintu dan kemudian dia memegang hendel pintu lalau menekannya hingga pintu tersebut terbuka.


Saat pintu terbuka. Miki melihat di bawah kakinya ada beberapa pakaian yang di letakan Mike sebelumnya di sana. Perlahan Miki mulai menunduk untuk mengambil pakai tersebut kemudian menuju di sisi ranjang dan dia duduk di sana.


Sesaat Miki termenung dengan pikiran yang kosong. Beberapa menit kemudian dia kembali tersadarkan lalu dia memakai pakaian yang barusan dia ambil di depan pintu kamar mandi. Tepat setelah selesai memakai pakaian, Miki mendengar bel pintu apartemen ini berbunyi sepertinya ada yang datang ke apartemen ini.


Seperti magnet, Miki berjalan keluar dari kamar. Entah mengapa dia tergerak pergi keluar dari kamarnya saat mendengar bel pintu apartemen ini berbunyi. Sudah hampir dua menit suara bel pintu apartemen menghilang, tetapi Miki tetap saja melangkahkan kakinya menuju ke sana.


Letak pintu keluar apartemen ini sangat unik, saat memasuki apartemen ini harus melewati lorong yang selebar pintu masuk dan panjangnya hampir lima meter untuk benar-benar masuk ke dalamnya. Pertama kali Miki masuk ke apartemen ini, dia sudah hafal letak di mana pintu keluarnya berada. Perlahan tapi pasti Miki melangkah kakinya mendekati lorong yang sepanjang lima meter tersebut.

__ADS_1


“Agatha apa yang kau lakukan di apartemenku?”


Terdengar suara Mike menyebut nama wanita itu. Miki yang berada di dekat sana langsung menghentikan langkah kakinya dan bersembunyi untuk mendengarkan pembicaraan mereka berdua.


“Mike, aku datang kemari untuk menemui mu.” Jawab Agatha.


“Menemuiku, untuk apa?” Tanya Mike yang tidak senang.


“Mike sudah makan? Aku membawahkan mu makanan, mau makan bersamaku?” Tanya Agatha.


“Tidak, kau keluar sekarang dari sini.”


“Tidak, aku akan menginap di sini malam ini.” Jawab Agatha berkeras hati memaksa untuk masuk.


Dengan sangat cepat Mike menahan tangan Agatha dengan berkata. “Oke, baiklah kita makan di luar saja jangan di apartemen karena sebentar lagi aku akan pergi ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaanku.”


“Oke baiklah,” jawab Agatha sembari tersenyum.


“Kau tunggu sebentar di sini dan jangan pergi ke mana, aku akan mengambil ponselku dulu.” Kata Mike.


“Em…baiklah.” Angguk Agatha menuruti apa yang di kata Mike.


Miki yang mendengar langkah kaki Mike yang semakin mendekat dengan cepat dia berlari masuk kembali ke dalam kamar tanpa bersuara.


Mike mengambil ponselnya di atas nakas di dekat sofa dan terdengar dia menghubungi seseorang sebelum pergi keluar.


“Halo Mr. Fred,” ucap Mike di dalam telepon.


“Mr. Fred aku akan pergi sebentar, tolong kau jangan Miki di apartemen saya sekarang.” ucap Mike dan kemudian dia memutuskan sambungan teleponnya begitu saja setelah memberikan perintah pada Fred.


Miki terus menguping sampai dia mendengar pintu apartemen tertutup. Seluruh tubuhnya bergetar, Miki menurunkan tangannya dari daun pintu kamar saat mendengar kepergian Mike bersama dengan Agatha pergi meninggal apartemen ini.


Tiba-tiba saja kamar itu hening tanpa suara. Hanya nafas berat Miki menahan air mata yang sudah hampir membasahi pipinya itu. Tidak sebatas itu saja, hatinya yang tak terima jika Mike pergi wanita lain dengan cepat dia menyusul mengikuti mereka keluar.


Saat membuka pintu keluar Miki melihat Mike dan Agatha memasuki Lift dan turun. karena tidak ingin ketinggalan jauh, Miki memutuskan turun menggunakan tangga darurat dari lantai lima sampai ke lantai dasar. Tanpa peduli dengan janin yang ada di dalam perutnya itu, Miki berusaha keras menuruni tangga lima lantai dengan cepat. Di saat dia sampai di lantai dasar Mike dan Agatha sudah berada di pintu keluar, sedangkan dirinya baru saja tiba di lobi. Miki hanya terlambat satu menit, mereka sudah memasuki mobil dan pergi begitu saja.


Miki terus melangkah dan matanya terus mengikuti mobil yang membawa Mike dan Agatha pergi hingga benar-benar keluar ke jalan raya.


“Mike…”


“Mike…” teriak Miki sekeras mungkin.

__ADS_1


Walaupun berteriak dengan keras tetap saja Mike tidak bisa mendengarkan suaranya. Pada akhirnya Miki berhenti berteriak dan melangkahkan kakinya, dia hanya memandangi mobil yang membawa Mike dari jauh hingga tak terlihat lagi.


Miki menyesal mengapa dia tidak langsung menghentikan Mike saat mengetahui mereka akan pergi. Kenapa dia harus berpikir keras untuk memperjuangkan pria yang dia cintai itu, hingga pada akhirnya dia terlambat untuk menyesalinya.


Mike kembalilah, jangan tinggalkan aku sendirian. Aku takut akan melakukan hal buruk, aku butuh kau saat ini. Aku mohon kembalilah. Batin Miki.


Miki tidak bisa menahan kuasanya, menangis dan menangis lagi yang bisa Miki lakukan saat ini. dia sangat terluka hingga ke dalam lubuk hatinya yang paling dalam.


Setelah semuanya, Miki kembali ke apartemen. Di sana dia bertemu dengan Sekretaris Fred di lobi.


“Nona, Anda sedang apa di sini?” Tanya Fred yang terkejut saat melihat penampilan Miki yang lesu tanpa beralas kaki.


Miki membisu dan kalut dalam pikirannya sendiri. Dia tidak menyadari jika sekretaris Fred ada di hadapannya.


“Nona, apa yang terjadi pada Anda?” Tanya Fred kembali.


Tetap sama, tidak ada jawaban dari Miki. Wanita itu terus berjalan melewati Fred begitu saja dan memasuki Lift. Fred yang berada di belakangnya hanya bisa mengikut Nonanya itu dari belakang tanpa bersuara, Fred terus memperhatikan gerak gerik Miki yang seperti orang linglung selama berada di dalam lift hingga mereka sampai di depan pintu apartemen Mike.


Di sana Miki termenung sembari menata kosong ke arah pintu apartemen di depanya. Fred yang merasa tingkah laku Nonanya sedikit aneh, kemudian dia memutuskan untuk mengirimi pesan kepada Tuanya Mike.


Fred: Tuan, sepertinya Anda harus kembali ke apartemen sekarang. Nona Chloe bersikap sangat aneh sekali.


Mike: Mr. Fred tolong kau jaga dia sebentar, saya akan kembali ke apartemen sekarang juga.


Kemudian Fred memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jasnya setelah mengirim pesan kepada Tuannya itu. sesuai perintah, dia terus mengawasi Nonanya itu berjarak beberapa meter dari posisinya.


Hampir lima menit Fred memperhatikan Miki yang tetap berdiri di depan pintu apartemen tanpa bergerak sedikit pun.


Apa yang sebenarnya terjadi pada Nona hari ini? seru batin Fred.


Dari kepala hingga kaki Fred memperhatikan penampilan Nonanya itu, tidak ada yang bisa di katakan Fred saat ini, hanya ada satu kalimat yang dapat menggambarkan penampilan Nonanya saat ini adalah dia terlihat sangat hancur.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2