
Matahari sudah tinggi di langit. Hari mulai terang. Miki masih saja terlentang di atas ranjangnya seraya menatap langit-langit kamarnya. Dia sedang menunggu kabar dari suaminya, sembari bermalas-malas di atas kasur lembut yang sangat membuatnya merasa nyaman.
"Sudah dua hari Mike tidak menghubungiku, saat aku meneleponnya, nomor ponselnya malah tidak aktif." Kata Miki pada dirinya sendiri.
“Miki,” panggil Lona sembari membuka pintu kamarnya.
“Ya”
“Apakah kau masih menunggu telepon dari Mike?”
“Ia, sudah dua hari dia tidak menghubungiku, aku takut terjadi sesuatu padanya.” Kata yang Miki yang berandai-andai.
“Ush… jangan berkata seperti itu, mungkin saja dia lagi sibuk sekarang dan tidak sempat untuk mengabarimu sayang.”
“Ia juga sih…apa kata Mami,” Miki beranjak duduk seraya memperhatikan penampilan Lona yang sangat cantik yang mengenakan kemeja berwarna nafi, senada dengan celana panjangnya, serta Heels setinggi 7 cm menyempurnakan penampilannya. “Mami mau pergi ke mana?” tanya Miki dengan mulutnya yang sedikit terbuka karena kagum melihat penampilan ibunya itu.
“Mami mau pergi kerja sayang, kamu hati-hati ya di rumah.”
“Baiklah, Mami hati-hati di jalan,” ucap Miki dengan manja.
“Sini biar Mami cium dulu sebelum pergi,” Lona berjalan menghampiri Miki di atas ranjang seranya mencium pipi anaknya itu. “Umah…Bye sayang, Mami pergi dulu ya.”
“Bye Mami,” Miki melambaikan tangannya pada Lona.
“Sayang jangan lupa mandi, kau bau sekali.” Goda Lona yang hendak menutup pintu kamar Miki.
“Mami…” rajuk Miki manja.
Lona hanya tertawa dan kemudian menghilang begitu saja di balik pintu yang sudah tertutup rapat.
“Aaahh…” Miki kembali merebahkan tubuhnya di atas kasurnya. Dia merasa sangat malas untuk ke kamar mandi. Dia malah memejamkan matanya sembari memeluk guling di sampingnya dengan sangat nyaman.
***
Pukul 08.30 a.m.
“Miki…” panggil Lona di sertai suara pintu yang terbuka.
Miki yang terlelap di atas kasurnya refleks terbangun walaupun sepenuhnya matanya belum terbuka.
“Sayang ini sudah jam berapa, kenapa kau masih belum mandi juga.” Kata Lona yang kaget melihat Miki yang masih di posisi yang sama semenjak tadi pagi.
“Memang sekarang sudah jam berapa?” tanya Miki yang masih bawaan mengantuk.
“Sayang ini sudah jam delapan malam, ayo cepat bangun dan mandi sekarang. sebentar lagi kita akan makam malam.” Kata Lona yang memaksa Miki untuk berdiri dan menyeretnya ke dalam kamar mandi.
“Baiklah, aku akan mandi sekarang. Mami keluar dari kamarku sekarang.”
“Baiklah Mami keluar sekarang, setelah kau selesai mandinya langsung saja ke meja makan untuk makan malam.”
“Oke,” angguk Miki.
Kemudian Lona keluar dari kamar anaknya itu. sedangkan Miki mulai melepaskan pakainya, lalu dia menyalahkan shower dan mengguyur seluruh tubuhnya hingga basah. Setelah selesai Miki mengambil handuk putih tebal untuk menutupi bagian dada hingga pahanya. Kemudian Miki memegang hendel pintu lalu membuka pintu kamar mandinya, saat keluar dari kamar mandi Miki mendengar getar ponselnya.
Drrrt…Drrrt…Drrtt.
Dengan sangat cepat Miki berlari menuju nakas di samping ranjangnya. Video call dari Mike.
“Halo,” ujar Miki yang begitu saja menerima Video call dari suaminya itu. dia tidak sadar jika saat ini tubuhnya hanya berbalut handuk yang menutupi bagian dada dan pahanya saja.
__ADS_1
“Sayang apakah kau baru selesai mandi?” seru Mike yang melihat langsung pemandangan yang menyegarkan matanya.
“Tahu dari mana jika aku baru selesai mandi?” tanya Miki yang masih belum sadar.
“Aku juga tahu jika saat ini kau hanya mengenakan handuk di tubuh indahmu itu,” ucap Mike yang menggoda istri polosnya itu.
“Astaga….aku lupa, sebentar sayang aku pakai baju dulu ya.” Kata Miki yang melempar ponselnya begitu saja di atas ranjang, kemudian dengan terburu-buru dia menuju lemari pakainya.
Miki melempar handuk ke lantai. Video call yang masih terhubung, Mike yang berada di kota yang berbeda hanya bisa mendengar suara ribut istrinya itu sedang mengganti bajunya.
“Sayang pakailah baju yang sangat seksi untukku,” pinta Mike yang wajah terekam jelas di layar ponsel Miki.
“Dasar otak mesum,” teriak Miki.
“Hahaha, sudah sangat lama aku tidak mendengar kata-kata itu.” terdengar suara Mike yang sedikit terputus-putus.
Miki menutup pintu lemarinya, setelah selesai memakai T-shirt putih yang Big size dengan celana pendek sepaha berdasar katun. “Sayang apakah kau masih di sana?” seru Miki yang berlari kecil menuju ponselnya yang terletak di atas ranjang.
“Apakah kau sudah selesai?”
Wajah tampan Mike terlihat jelas saat Miki menghadapkan layar ponselnya tepat di wajahnya. “Ia, aku sudah selesai.” Jawab Miki memperlihatkan wajahnya yang masih Fres setelah mandi.
“Sayang apakah itu T-shirt milikku?”
“Ia, ini T-shirt milikmu.” Angguk Miki mengakuinya. Dia memperlihatkan T-shirt putih yang dia kenakan kepada Mike.
“Kenapa kau membawa T-shirt milikku?” tanya Mike yang hanya terlihat bagian wajahnya saja.
“Karena jika aku merindukanmu maka aku bisa mencium aroma tubuhmu di T-shirt ini.”
Mike tersenyum saat melihat istrinya itu bertingkah polos seperti anak kecil. Sungguh saat ini ingin rasanya Mike memeluk erat istrinya itu, jika saja jarak New York dan California dekat dia sudah meluncur menemui istrinya itu.
“Ia...” sahut Miki dengan berteriak.
“Ada apa?” tanya Mike yang wajah terlihat di layar ponsel Miki.
“Mami memanggil untuk mengajak makam malam,” jawab Miki.
“Kalau begitu aku tutup dulu teleponnya, nanti jika aku memiliki waktu, aku akan menghubungimu lagi.”
“Em...baiklah,” angguk Miki yang terpaksa.
“Sampai jumpa sayang, I Love you.” Ucap Mike kemudian memutuskan sambungannya Video call-Nya.
“I Love You too,” balas Miki yang tak sempat di dengarkan oleh Mike.
Miki merasa hatinya gundah setelah Video call mereka terputus. Dia kecewa lantaran rasa rindunya masih belum terobati.
“Miki…ayo cepat keluar, nanti keburu dingin makanannya.” Teriak Lona.
“Ia, aku keluar sekarang.” Miki balas terak.
Miki pergi keluar menuju meja makan. Di sana Lona sudah menunggunya untuk makan malam bersama.
“Kenapa lama sekali keluarnya?”
“Ya maaf, tadi Mike Video call aku, jadi agak lama.” Sahut Miki yang masih terbawa suasana kecewa.
“Lo kenapa wajahmu berkerut seperti itu? kan tadi katanya habis video call sama Mike, kenapa malah makin cemberut begitu?”
__ADS_1
“Aku kangen Mike,” ucap Mike sembari cemberut.
“Baru juga pisahnya tiga hari, sudah uring-uringan begini. Bagaimana kalau pisahnya tiga tahun.” Kata Lona mencibir Miki.
“Mami jangan bercanda, aku lagi ngak mood buat bercanda.” Sewot Miki.
“Sudah cemberutnya, mending makan sekarang nanti makanannya keburu dingin.” Kata Lona yang mengubah topik pembicaraan.
Setelah selesai makan Miki kembali mengabdi di dalam kamarnya. Dia kembali bermalas-malasan di atas ranjangnya sembari menatap layar ponselnya. Berharap jika Mike kembali menghubunginya.
Lebih baik aku saja yang menghubunginya. Batin Miki.
Tuttt tuttt tuttt.
Saat Miki mencoba menghubungi ternyata tidak bisa tersambung. Rasa kesal dan kecewa menyelimuti hati Miki, baru kali ini dia merasa sangat merindukan seseorang seperti ini.
“Miki tenang, nikmati saja setiap menitnya saat kau merindukannya. Kau harus ingat jika ini pengalaman pertama kalinya bagi kau merasakan hal seperti ini.” gerutu Miki pada dirinya sendiri.
Pada akhirnya Miki menyerah menikmati setiap momen yang dia rasakan saat ini. lelah yang dia rasakan hingga tanpa sadar di terlelap begitu saja dengan ponsel berada di atas dadanya.
Beberapa saat kemudian. Saat Miki sudah benar-benar terlelap, ada yang membuka pintu kamanya. Namun, Miki yang tengah terlelap di atas ranjangnya tidak menyadari jika ada seseorang yang menyusup masuk ke dalam kamarnya.
Krekk…
Suara pintu terbuka dan menutup.
“Mami, pelan-pelan menutup pintunya,” kata Miki yang tidak sadar, dan dia kembali masuk ke alam bawah sadarnya.
Tuk! Tuk! Tuk!
Terdengar suara langkah kaki seseorang yang mendekati ranjang di mana Miki terlelap. Berapa detik kemudian suara langkah kaki itu berhenti tepat di samping ranjang sisi Miki tertidur.
Tiba-tiba...
Mulut Miki di bekap dengan tangan besar, “Um...” suara Miki tertahan tidak bisa keluar karena tangan besar yang menutup mulutnya.
Penglihatan yang masih buram, Miki berusaha memberontak sembari memukuli tangan besar tersebut dengan tangannya. “Um...um...” teriak Miki sekuat mungkin walaupun suaranya tidak bisa keluar dari mulutnya.
Semakin Miki melawan semakin dia tidak bisa melepaskan diri. Dia terjerat dalam tahanan orang yang membekapnya itu. Entah siapa orang tersebut, tapi yang pasti Miki tidak bisa melihat wajahnya karena lampu di kamarnya mati.
“Tolong...” teriak Miki dengan suara tertahan di mulutnya.
“Ush....bisa kau tenang sedikit,”
Suara ini, sepertinya aku mengenalnya, dan aroma parfum ini aku juga mengenalnya. Batin Miki.
Saat Miki mulai memfokuskan pandangannya pada wajah orang tersebut, dia masih tidak bisa melihatnya dengan jelas, tetapi dia sangat mengenali suara dan aroma tubuh orang tersebut.
“Kau siapa?”
.
.
.
.
.
__ADS_1