
New York
Lima jam lewat dua puluh menit lama jarak yang di tempuh Miki dari Santa Monica terbang ke New York. Saat di bandara Miki duduk di kursi tunggu sembari mengeluarkan selembar kertas di dalam saku celananya. Di dalam kertas tersebut tercatat alamat perusahaan SEA.
Setelah beberapa menit kemudian Miki mengangkat ranselnya dan memakainya di punggung, lalu dia beranjak berdiri dari duduknya. Kiri kanan Miki melihat di sekitarnya, dia mencari arah pintu keluar dari bandara tersebut. Saat menemukan pintu keluar Miki melangkahkan kakinya untuk keluar dari bandara.
Setelah berada di pintu keluar, Miki mencari transportasi untuk menuju perusahaan SEA. Stelah beberapa menit menunggu pada akhirnya ada taksi yang berhenti di depannya.
“Nona, Anda mau pergi ke mana?” Tanya sopir Tua itu pada Miki.
“Apakah Anda tahu alamat ini?” Tanya Miki sembari menunjukkan alamat yang tertulis di selembar kertas di tangannya itu.
“Tentu saja Nona, mari saya antar Anda ke sana.” Kata sopir itu.
“Baiklah,” jawab Miki dan kemudian masuk ke dalam taksi tersebut.
Setelah masuk ke dalam mobil tersebut, sopir taksi tua itu menjalankan mobilnya meninggalkan bandara.
“Nona, Anda dari mana?” Tanya sopir itu.
“Saya dari Santai Monica.” Jawab Miki singkat.
“Kalau begitu selamat datang di New York Nona,”
“Terima kasih.” Ucap Miki dengan tersenyum singkat.
“Nona boleh saya betanya pada Anda?” Tanya Sopir itu kembali.
“Silakan,”
“Nona datang kemari untuk bekerja?”
“Tidak, saya datang kemari untuk menemui Suami saya.”
“Saya tahu sekarang, suami Anda bekerja di perusahaan Sea, oleh karena itu Anda ingin pergi ke sana.” Katar Sopir itu.
“Hehehe ia,” tawa Miki malu-malu.
Sopir tua itu menoleh ke belakang untuk melihat Miki yang berada di belakangnya. Beberapa detik kemudian tiba-tiba.
Bukk…
Sopir taksi yang di naiki Miki menabrak seseorang pejalan kaki. “Oh, Astaga…” ucap Miki kaget sembari menutup mulut dengan kedua tangannya.
“Maaf Nona, apakah Anda tidak apa-apa?” Tanya sopir taksi itu.
“Saya tidak apa-apa,” jawab Miki yang masih kaget.
Setelah memastikan keadaan Miki, kemudian sopir taksi tersebut keluar untuk melihat keadaan orang yang dia tabrak. Miki yang berada di dalam mobil pun ikut keluar dan menghampiri korban tersebut.
“Tuan apakah Anda tidak apa-apa?” Tanya sopir taksi itu pada orang yang dia tabrak.
“Saya tidak apa-apa,”
Saat Miki mendekat dia sudah melihat korban tersebut adalah seseorang pria paruh baya dan sedikit lebih muda dari sopir taksi yang dia naiki.
__ADS_1
“Paman, apakah Anda yakin tidak apa-apa?” Tanya Miki yang khawatir.
Melihat Miki yang tiba-tiba datang entah dari mana, pria paruh baya itu tersentuh saat melihat Miki yang datang langsung membatu untuk berdiri.
“Saya tidak apa-apa Nona muda,” katanya.
“Tapi paman tangan Anda terluka, mari biar saya antar Anda ke rumah sakit sekarang.” kata Miki.
“Baiklah,” pria paruh baya tersebut menerima bantuan dari Miki, dan kemudian merekan masuk ke dalam mobil taksi.
Satelah berada di dalam perjalanan tidak terhitung lagi sopir taksi itu meminta maaf kepada pria paruh baya tersebut. “Tuan sungguh maafkan saya,” ucapnya yang ke sekian kalinya.
“Tidak apa-apa, saya yang salah menyeberang jalan sembarangan.” Jawab pria paruh baya tersebut.
“Maaf paman, Anda mau pergi ke mana terlihat sangat rapi seperti ini?” timpal Miki.
Pria paru baya tersebut menoleh ke samping melihat ke arah Miki. “Sebenarnya saya terburu-buru untuk melihat acara pertunangan putri saya,” ucapnya.
“Benarkah? Memang jam berapa acara pertunangan putri paman akan di mulai?” Tanya Miki.
“Tiga puluh menit lagi akan di mulai,” ucap pria paruh baya tersebut sembari melihat jam tangannya.
“Berarti kita harus cepat, Kakek sopir bisakah kita tiba di rumah sakit dalam waktu lima menit?”
“Tentu saja Nona,” sahut sopir taksi tersebut.
“Baiklah, kita harus cepat karena paman ini harus menghadiri pertunangan putrinya,” kata Miki pada sopir tersebut.
“Baik Nona.”
Setiba di lokasi, Miki membantu pria paruh baya tersebut ke lobi hotel di mana acara pertunangan akan di langsungkan. Setelah membatu pria paruh baya itu duduk di lobi, kemudian Miki hendak melangkah kakinya untuk pergi meninggal hotel tersebut, tetapi pria paruh baya itu menghentikannya.
“Maaf Nona Muda, apakah saya mengenalmu?” tanyanya.
“Sepertinya tidak paman, ini pertemuan pertama Kita.” Jawab Miki.
“Oh, benarkah?”
“Ia paman, saya baru pertama kalinya datang ke New York dan tidak mungkin Anda mengenal saya.”
“Tetapi kenapa sepertinya saya mengenalimu dan wajahmu mirip sekali dengan seseorang yang saya kenal.” Katanya.
“Mungkin wajah saya hanya mirip saja dengan orang yang paman katakan itu, baiklah paman saya pergi dulu, semoga pertunangan putri Anda berjalan lancar.” Ucap Miki sembari membalikkan badannya.
“Nona Muda tunggu sebentar,” ujar pria paruh baya tersebut.
“Ada apa paman?” Tanya Miki seraya menghadap kembali ke arah pria paruh baya tersebut.
“Sebagai tanda terima kasih saya pada nona, saya ingin Nona menghadiri acara pertunangan putri saya.” Ucapnya.
“Tapi paman, saya__”
“Nona saya mohon,” pinta pria itu pada Miki.
Dengan tidak enak hati kemudian Miki menerima tawaran pria paruh baya tersebut. “Baiklah paman, saya akan ikut paman menghadiri acara pertunangan putri paman, tapi saya permisi dulu untuk mengambil barang saya di dalam taksi.”
__ADS_1
“Silakan, saya tunggu Nona di sini.”
Miki pergi keluar dan mengambil ranselnya di dalam taksi dan kemudian kembali lagi masuk ke dalam hotel tersebut untuk menghampiri pria paruh baya itu. Saat kembali dan menghampiri pria paruh baya itu kembali Miki berkata, “ Paman, apakah tidak apa-apa saya memakai pakaian seperti ini untuk menghadiri acara pertunangan putri Anda?”
“Hahaha…tentu saja, kau sudah terlihat sangat cantik dengan baju itu.” kata pria paruh baya itu.
“Paman pasti bercanda?”
“Tentu saja tidak, mari kita ke ballroom sekarang karena sudah dua puluh menit kita terlambat.”
“Ah…ia, hampir saja saya lupa.”
Dengan cepat mereka masuk ke dalam lift menuju lantai sepuluh. Setelah pintu lift terbuka, mata Miki terbelalak saat melihat ballroom yang terhias dengan mewah dan megah. Saat mereka masuk acara pertunangan telah berlangsung.
“Tuan, Anda dari mana saja? Acara tukar cincinnya akan segerah berlangsung.” Ucap seseorang dengan berpakaian rapi hitam putih.
“Baiklah tunggu sebentar,” katanya pada pria tersebut dan kemudian dia berkata pada Miki. “ Nona, siapa namamu?”
“Panggil saja saya Miki paman,”
“Baiklah Nona Miki nikmati acaranya, saya permisi dulu karena acara pertukaran cincinnya akan segera di mulai.” Kata pria paruh baya itu.
“Baiklah paman, selama atas pertunangan putri Anda.” Ucap Miki dengan tersenyum.
Setelah pria tersebut pergi, Miki tinggal sendirian di antara orang-orang yang tidak dia kenal. Perlahan-lahan Miki menyelusuri ballroom mewah tersebut, dia berjalan mendekati sebuah spanduk dan foto-foto yang tak sempat dia lihat. Saat berada di depan spanduk dan foto-foto yang terpajang tiba-tiba Miki terdiam, pupil matanya tidak sedikit pun bergerak saat melihat orang yang berada di dalam foto tersebut.
Beberapa kali Miki mengucak-ngucak matanya dengan kasar, dia berusaha memastikan apa yang dia lihat hanya ilusinya saja, tetapi apa yang dia lihat bukan ilusi. Pria yang akan bertunangan dengan putrinya pria paruh baya tersebut adalah Suaminya, Mike Sea.
Miki tidak percaya dengan apa yang dia lihat, dengan cepat Miki berjalan di antara orang yang tidak dia kenal untuk memastikan pria yang akan pertunangan tersebut bukanlah suaminya. Saat posisinya sudah berada sangat dekat, Miki bisa melihat pria yang berdiri bersama seseorang wanita yang ada di depan sana adalah benar-benar suaminya Mike.
Setelah Miki melihat pria yang berdiri dengan cincin di tangannya itu adalah suaminya. Kenyataan yang dia lihat saat ini benar-benar menampar Miki dengan sangat keras, seketika semua orang yang berada di sekitarnya terasa berhenti bergerak saat itu juga, dan gelap begitu saja. Miki tidak dapat melihat masa depannya lagi saat pria yang sangat dia cintai memasangkan cincin sakral di jari manis wanita lain.
Kenyataan pahit yang melukai hatinya membuat Miki hancur sehancurnya saat melihat Mike memasangkan cincin di jari wanita lain. Merasa tidak sanggup untuk menyaksikannya Miki lebih memilih untuk meninggalkan ballroom tersebut. Dengan kedua tangan terkepal kaut, Miki melangkahkan kakinya perlahan meninggalkan ballroom.
Brukk…
Miki terjatuh karena menabrak seseorang pria yang bertubuh besar di depannya. “Nona apakah Anda tidak apa-apa?” Tanya pria tersebut.
Miki berusaha menguatkan dirinya, berusaha tegar dan berusaha untuk berdiri kembali dengan kedua kaki yang lemas. “Saya tidak apa-apa.” Jawab Miki dengan suara bergetar.
Setelah mendengar jawaban dari Miki, pria itu pergi begitu saja dan menghilang dari hadapan Miki. Dengan sekuat tenaga Miki terus melangkah dengan perlahan-lahan, hingga akhirnya dia berhasil keluar dari ballroom tersebut. Setelah keluar dari Lift Miki berjalan di lobi dan dia melihat beberapa Koran di atas meja dengan berita terhangat, pertunangan yang menyatukan kedua keluarga terkaya di Amerika serikat.
Sekilas Miki mengambil Koran tersebut dan membacanya, tertulis jelas pengusaha sukses bernama Mike Sea bertunangan dengan wanita kaya yang bernama Agatha Gibson.
.
.
.
.
.
Bersambung.
__ADS_1