Pria Kaya Menginginkan Gadis Pemalu

Pria Kaya Menginginkan Gadis Pemalu
80. Pria Kaya


__ADS_3

Santa Monica State Beach, 08.00.p.m.


Menepati janjinya datang tepat waktu seperti yang di inginkan Darwin, kini Mike tengah berada di Pantai Santa Monica State Beach. Untuk beberapa saat Mike duduk santai di dalam mobilnya bersama sekretarisnya Fred untuk mempersiapkan sesuatu tentang wanita yang akan Mike temui itu.


“Tuan, Ini data tentang kehidupan wanita yang akan Anda temui nanti.” Kata Fred sembari memberikan sebuah map.


Perlahan Mike membuka map tersebut dan membacanya. “Bianca Dwyne, nama yang bagus.” Ucap Mike, kemudian dia kembali membaca kelanjutan isi dari data tersebut.


Hampir sepuluh menit Mike membaca dan mempelajari hal-hal yang menyangkut tentang wanita tersebut dan kemudian dia selesai.


“Tuan, sudah waktunya bagi Anda untuk menemui Nona Bianca sekarang.” kata Fred memperingatkan.


“Baiklah Mr. Fred, saya akan pergi menemui Bianca sekarang dan Mr. Fred lakukanlah sesuatu yang menyenangkan di sini.” Kata Mike dan kemudian keluar dari Mobil menuju tepian pantai.


Mike berjalan menginjakkan kakinya di tumpukan pasir, dia bisa melihat wanita yang bernama Bianca Dwyne tersebut dari kejauhan. Wanita itu terlihat seperti model dengan tubuh seksi dan tingginya yang semampai, bisa di bilang wanita itu termasuk ke dalam kategori wanita yang sangat di sukai Mike.


Dengan tersenyum singkat Mike melangkahkan kakinya mendekati wanita tersebut. “Hi...maaf membuat Anda menunggu lama,” sapa Mike yang sudah berdiri di hadapan Bianca.


Dengan anggunnya Bianca tersenyum tipis di wajahnya yang cantik saat melihat pria dengan postur tubuh yang sempurna dengan janggut tipis di wajahnya yang tampan membuat Bianca menjadi salah tingkah saat melihatnya.


“Tidak apa-apa, By the Way saya Bianca Dwyne.” Ucapnya sembari mengulurkan tangannya kepada Mike.


“Saya Mike Sea,” kata Mike sembari menyambut uluran tangan Bianca.


Setelah beberapa detik kemudian Mike melepaskan tangannya dari tangan Bianca, lalu duduk di kursi pantai yang telah tersedia di sana. Keduanya duduk dengan santai sembari menatap pemandangan laut di malam hari.


Sudah hampir dua puluh menit mereka berbicara sudah membuat Mike merasa sangat bosan sekali, kenapa tidak wanita yang bernama Bianca ini sangat di luar dugaan Mike, sikapnya yang angkuh sama seperti sikap yang di miliki oleh Agatha, tapi bedanya Bianca terlihat memiliki hati yang baik di bandingkan dengan Agatha.


“Bianca, saya permisi ke Toilet sebentar.” Kata Mike yang beranjak berdiri dari kursinya.


“Tentu, silakan.” Bianca tersenyum pada Mike.


Tanpa peduli lagi Mike langsung melangkahkan kakinya meninggalkan wanita itu sendirian. Setelah berada sangat jauh dari Bianca dan ternyata Mike berbohong mengatakan ingin pergi ke toilet, Mike menjauhkan dirinya dari wanita itu untuk menikmati sebatang rokok yang sudah berada di antara kedua bibinya itu.


Mike meniupkan udara ke laur dari mulutnya, lalu memasang rokok tersebut di bibirnya, kemudian dia menghirup udara ke dalam mulutnya, menahannya sebentar dan bernafas secara normal lewat mulutnya sambil menghirup asap rokok. Mike melakukan hal tersebut berulang kali hingga batang rokok tersebut semakin menyusut dan habis hanya menyisakan bagian busanya saja.


Setelah lima menit menikmati sebatang rokok Mike menjatuhkan sisa rokoknya di atas tanah dan kemudian dia injak hingga api rokok tersebut mati. Saat Mike merapikah jasnya dan menghilangkan bau rokok di tubuhnya tiba-tiba saja ada seseorang yang berbicara padanya.


“Apakah kau sangat menikmati rokoknya?”


Mike menoleh ke sampingnya dan dia mendapati seorang anak kecil laki-laki sedang duduk menyilangkan kakinya yang terus memperhatikannya. Mike mengayunkan kakinya mendekati anak laki-laki tersebut dan berdiri dengan tangan di dalam sakunya. “Anak kecil sedang apa kau di sini sendirian?” serunya.


“Oh…Come on, jawab dulu pertanyaanku.” Timpal anak kecil itu.


“Fine,” ucap Mike mengabaikan perkataan anak kecil itu dan hendak melangkahkan kakinya untuk kembali kepada Bianca.


“Aku sarankan kau tidak usah kembali pada wanita itu,” kata anak itu dengan nada dan gaya yang angkuh.


Mike mendongkak melihat ke arah anak kecil laki-laki tersebut dengan tatapan penasaran. “Kenapa kau mengatakan itu padaku?”


“Aku melihat kau dan wanita cantik itu sejak dari tadi, dan aku lihat wanita cantik itu tidak cocok denganmu.”


“Bagaimana kau tahu jika wanita itu tidak cocok denganku?” Tanya Mike kembali.


Dengan sangat berani anak kecil tersebut berdiri di samping Mike dengan tingginya hanya setinggi lututnya Mike. “Coba kau lihat, wanita itu memang cantik dan tubuhnya memang sangat seksi, tetapi dia memiliki sikap yang tidak sopan dan berperilaku buruk terhadap pelayan restoran ini. bahkan dia menghubungi pria lain saat kau pergi.”

__ADS_1


Mike menatap anak kecil itu dengan decak kagum, tubuhnya boleh kecil, tetapi dia bisa menilai seseorang dengan hanya melihatnya. “Berapa usiamu little boy?” Tanya Mike.


“Lima tahun,” jawab anak kecil itu dengan gaya angkuhnya.


“Hahaha...kau begitu luar biasa, bagaimana bisa anak kecil seusiamu bisa mengatakan hal-hal yang orang dewasa katakan. Baiklah little boy katakan siapa namamu?” Tanya Mike.


“Liam,” katanya dengan suara imut dan terkesan dewasa dan meyakinkan.


“Oke Liam, di mana kedua orang tuamu? Dan sedang apa kau di sini sendirian?” Tanya Mike.


“Liam sedang menunggu Mami selesai bekerja,”


“Terus di mana Daddy mu?”


“Liam tidak punya Daddy, hanya Mami yang Liam miliki. Namun, Liam punya seseorang yang bisa kapan pun menjadi Daddy untuk Liam.” Kata Liam yang terkesan dewasa.


“Oh maafkan aku,” ucap Mike yang merasa tidak enak hati pada anak kecil itu.


“Tidak apa-apa,” kata Liam santai.


Karena sangat menyukai anak laki-laki ini Mike berpikir ingin mengajaknya bersenang-senang selagi menunggu ibunya bekerja. “Baiklah Liam, apakah kau mau ikut denganku bersenang-senang?” Tanya Mike.


“No,Thanks.”


“Oh…ayolah, pasti akan seru jika kau mau ikut denganku.” Kata Mike.


“Bagaimana dengan pacarmu?”


“Abaikan saja dia, kita pergi sekarang?”


“Apakah kau suka Ice Cream?”


“Tentu saja.”


“Baiklah Liam, apakah kau tahu Ice Cream di mana yang enak?” seru Mike dengan menaikkan salah satu alisnya.


“Ice Cream di parkiran sangat enak, Liam sudah coba Ice Cream di sana bersama Mami dan rasanya sangat enak.”


“Oke baiklah, kita pergi ke sana sekarang.” Ajak Mike sembari melangkahkan kakinya.


“Tunggu sebentar,” kata Liam menghentikan langkah kaki Mike.


“Ada apa?”


“Kata Mami, Liam harus berpegangan tangan dengan orang dewasa saat berjalan.” Jawab Liam.


“Kenapa harus seperti itu?”


“Karena Mami takut Liam hilang dan di culik oleh orang jahat, dengan Liam berpegangan seperti ini Liam akan aman.” Kata Liam sembari menggenggam beberapa jari Mike yang besar dengan lembut.


Tangan kecil Liam membuat Mike merasa nyaman saat memegang jari-jarinya. Dia tidak menyaka jika berpegangan dengan anak kecil akan membuat hatinya terasa sangat, dan rasanya seperti melindungi anaknya sendiri.


“Baiklah, kau boleh memegang tanganku.” Kata Mike dengan tersenyum.


Kemudian mereka pergi untuk membeli Ice Cream di dekat parkiran yang di bilang Liam. Saat tiba di sana ternyata kedai Ice Cream tersebut sudah tutup, dengan kecewa keduanya hanya bisa menghelakan nafas panjangnya.

__ADS_1


“Apa yang harus kita lakukan? Kedai Ice Cream-Nya sudah tutup, apakah ada tempat lain yang menjual Ice Cream di dekat sini yang Liam tahu?” Tanya Mike.


“Tidak, hanya tempat ini yang Liam tahu, karena Mami hanya mengajak Liam membeli Ice Cream di sini saat dia istirahat kerja.”


“Oke baiklah, apakah ada yang ingin Liam lakukan sekarang?” Tanya Mike.


Saat Liam ingin menjawab pertanyaan Pria itu tiba-tiba ponselnya berdering, dan yang menelepon adalah ibunya.


“Tunggu sebentar, Mami Liam menelepon.” Kata Liam Sembari menekan tombol hijau di layar ponselnya.


“Halo,” ujar Liam ketika telepon tersambung.


“Baiklah Liam akan segerah ke sana.” Kata Liam kembali dan kemudian memutuskan sambungan teleponnya begitu saja.


Saat Liam memutuskan sambungan teleponnya, Mike melihat ke arah layar ponselnya. Saat menatap layar ponsel anak kecil itu Mike sangat terkejut, wallpaper ponsel anak itu Mike sangat mengenalinya tidak mungkin dia salah.


“Maaf Liam harus kembali ke restoran sekarang karena Mami sudah mencariku.”


“Baiklah Liam, biarkan aku mengantarmu bertemu dengan Mami mu.” Kata Mike yang sangat gugup sekali.


“Apakah kau yakin?”


“Ya aku sangat yakin, mari aku antar kau sekarang.” kata Mike sembari menggenggam erat tangan anak kecil itu.


Selama menuju restoran Mike hanya diam saja sembari menggenggam erat tangan kecil Liam. Sedangkan Liam hanya diam saja sama seperti Mike tidak banyak berbicara satu sama lain.


“Boleh Liam memanggil mu Paman?” Tanya Liam mendongkak ke atas.


“Ya tentu saja, kau boleh memanggilku Paman.” Jawab Mike dengan tersenyum sembari menatap anak kecil itu.


Liam menghentikan langkah kakinya secara tiba-tiba, dan berkata. “Baiklah Paman senang bertemu denganmu.” Kata anak itu sembari melepas pegangan tangannya dari Mike.


“Paman juga senang bertemu dengan mu Liam,” kata Mike berjongkok di hadapan anak kecil itu.


“Paman Liam sangat menyukaimu, kita terlihat sangat mirip satu sama lain dan juga terlihat sangat cocok satu sama lain. Terima kasih sudah mau menemani Liam.”


“Liam, Paman juga merasa kalau Kita sangat Mirip dan cocok satu sama la__”


“Liam…” terdengar suara seorang wanita memanggil Liam.


“Mami…” teriak Liam berlari menuju wanita itu.


Mike yang berjongkok dengan cepat beranjak berdiri dan menghadap ke arah wanita tersebut. Saat Mike melihatnya, Mike sangat terkejut karena wanita yang di sebut Liam sebagai Mami itu adalah wanita yang sangat dia kenal.


.


.


.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2