
Mike melepaskan tangannya dari mulutnya Miki. Memutar tubuh wanita itu hingga menghadapnya. “Ini aku sayang,” ucapnya.
Miki benar-benar di buat terkejut sekaligus kagum saat melihat suaminya berada dalam kamarnya. ”Bukannya kau sedang berada di New York, bagaimana bisa kau ada di sini?" seru Miki yang tidak percaya.
“Aku datang kemari menggunakan helikopter pribadiku.”
“Helikopter pribadi?”
“Ya” angguk Mike.
Secepat kilat Miki merebak tubuh Mike, dia memeluk erat suaminya itu saat ini. Rasa rindunya terlalu besar dari pada rasa ingin tahu kenapa suaminya itu tiba-tiba datang menemuinya.
“Segitunya kau merindukan suamimu ini?”
Miki hanya menganggukkan kepalanya sembari memeluk erat untuk memberi jawaban atas pertanyaan suaminya itu. Seketika bibir ranum Mike melengkung ke atas saat menyaksikan tingkah konyol istrinya itu.
Perlahan Miki melepaskan pelukannya, “Katakan padaku, jauh-jauh dari New York datang ke kemari ada apa?” tanya Miki serius.
“Aku ingin bertemu denganmu dan sekalian ingin mengatakan sesuatu pada istri tersayangku ini.” jawab Mike mesra.
“Memang sangat peting banget, sehingga membuatmu jauh-jauh dari New York datang kemari?”
“Em…sangat penting,” angguk Mike pelan.
“Baiklah hal penting apa yang ingin suamiku ini katakan?”
Bibir Mike sedikit kaku saat ingin mengatakan sesuatu pada Miki. Dia ragu untuk mengatakannya, hingga akhirnya dia tetap mengatakannya.
“Sayang aku mau bilang jika aku akan menetap di New York selama satu bulan,” Mike menghentikan perkataannya.
“Menetap di New York, kenapa?” tanya Miki sedikit terkejut.
“Aku harus menyelesaikan perkerjaan yang sangat penting di sana,” jawab Mike.
“Memang harus selama itu ya?”
“Ia, oleh sebab itu aku datang jauh-jauh dari New York untuk bertemu denganmu. Jika aku tidak datang menemuimu malam ini kemungkinan besar selama satu bulan ini aku tidak bisa bertemu denganmu.”
“Memang pekerjaan tersebut sangat penting sehingga kau harus menetap di sana selama satu bulan?” tanya Miki yang masih tak rela.
“Ia” sahut Mike.
Pipi Miki menggelembung kesal karena dia harus berpisah selama satu bulan dengan suaminya itu. tidak bertemu selama tiga hari saja dia sudah sangat merindukan sosok suaminya itu, bagaimana jika terpisah selama satu bulan.
“Boleh aku ikut bersama mu ke New York?”
“Maaf sayang, bukannya aku tidak ingin kau ikut denganku, tapi aku tidak bisa mengajakmu karena selama di New York aku tidak memiliki waktu untuk bersamamu. Jadi aku mohon jangan marah ya.” Mike merangkum wajah Miki dengan kedua telapak tangannya. Sungguh saat ini apa yang di rasakan Mike juga sama seperti yang di rasakan Miki. Tidak ingin berpisah selama satu bulan, tapi dia tidak ada pilihan lain, Mike harus melakukannya jika tidak Miki akan mengetahui tentang perjodohannya dengan Agatha.
“Tidak bisakah aku ikut?” rayu Miki pada suaminya itu.
“Sayang sungguh maafkan aku, kau benar-benar tidak bisa ikut denganku. Sebagai gantinya, setelah satu bulan aku berada di New York saat aku kembali nanti kita pergi berlibur di sebuah pulau.”
“Berlibur di sebuah pulau?” tanya Miki yang kembali bersemangat saat mendengar kata pulau.
“Ia pulau, bagaimana apakah kau mau?”
“Em…aku sangat mau.” Angguk Miki dengan cepat.
“Baiklah kalau begitu, sini kemarilah biarkan aku memelukmu.” Pinta Mike sembari melebarkan kedua tangannya.
Dengan tersenyum Miki masuk ke dalam pelukan suaminya itu. Selama berpelukan, terasa waktu terhenti detik itu juga bisa di bilang dunia serasa miliki mereka berdua.
Miki maafkan aku telah berbohong kepadamu. Setelah ini aku tidak tahu apa yang akan terjadi di dalam pernikahan kita. Aku tahu jika aku telah mengingkari perjanjian kita, tapi satu hal yang haru kau tahu, aku tidak akan pernah melepaskanmu apa pun yang terjadi. Aku akan tetap mempertahankanmu dan pernikahan kita. Aku janji padamu akan selalu membuatmu terus berada di sisiku untuk selamanya. Batin Mike.
“Sayang apakah kau mau pergi jalan mengelilingi California menggunakan helikopterku?” Tanya Mike sembari melepas pelukannya.
Dengan sangat cepat Miki menganggukkan kepalanya dengan cepat dengan tersenyum bahagia pada suaminya itu.
“Baiklah, ayo kau ikut denganku sekarang.” ajak Mike.
__ADS_1
“Tunggu sebentar, aku harus mengganti pakaianku dulu.” Ucap Miki.
“Sayang, kau tidak perlu mengganti pakaimu itu, kau sudah terlihat sangat sempurna dengan T-shirt milikku itu.” kata Mike, kemudian dia mengangkat tubuh Miki dalam gendongannya keluar dari kamar.
“Sayang, kita perlu izin Mami dulu jika mau pergi.” Ucap Miki.
“Tidak perlu,”
“Kenapa tidak perlu? Nanti Mami khawatir saat mengetahui aku tidak ada.”
“Tidak perlu karena aku sudah meminta izinnya terlebih dahulu sebelum aku membangunkanmu tadi.” Jawab Mike sembari mengangkat tubuh Miki yang hampir merosot dari gendongannya.
Miki kembali tersenyum di buat oleh sikap yang tak terduga suaminya itu. memandangi wajah tampan suaminya itu, Miki mulai merangkulkan kedua tangannya melingkari leher kekar suaminya itu. “I Love you.” Bisik Miki pelan di telinga Mike.
Mendengar apa yang di bisikan Miki di telinganya, Mike hanya bisa membuat bibir ranumnya itu melengkung ke atas, kemudian mengecup sekilas bibir indah Miki. “I Love you too, Honey.” Ucap Mike setelah mengecup bibir istrinya itu.
Miki tenggelam dalam pesona suaminya. Selama berada di dalam gedongan suaminya itu, dia hampir menjerit saat menyadari tubuhnya sudah memiring seperti ingin terjatuh, tetapi tidak dia lakukan karena dia tahu jika suaminya itu ingin memasukkan tubuhnya ke dalam mobil. setelah berada di dalam mobil, Miki duduk di kursi depan tepat di samping kursi pengemudi yang sudah di duduki oleh suaminya itu.
“Baiklah kita berangkat sekarang.” ucap Mike sembari menginjak gas mobil.
Terlihat saat ini Miki merasa sangat bahagia sekali karena tepat pada malam ini, dia di perlakukan seperti putri oleh suaminya itu. siapa yang tidak bahagia memiliki suami yang sangat sempurna seperti Mike.
Selama berada di dalam mobil, Miki tidak sedikit pun melepas pandangannya dari suaminya itu. hingga dia tidak menyadari jika mereka sudah sampai di tempat tujuan mereka.
Mike keluar terlebih dahulu dari mobil, lalu dia berjalan cepat ke sisi pintu mobil satunya lagi untuk membukakan pintu untuk Miki.
“Silakan Tuan putri,” ucap Mike sembari membukakan pintu untuk istrinya itu.
“Terima kasih.” Ucap Miki yang keluar dari mobil dengan sangat anggun.
Saat Miki keluar, dia melihat bangunan yang menjulang tinggi ke atas dengan ratusan lampu yang masih menyalah di dalam gedung tersebut sehingga menciptakan keindahan tersendiri saat melihatnya. Mike langsung menutup pintu mobilnya dan kemudian dia kembali mengangkat tubuh ramping Miki ke dalam gendongannya.
“Ah, aku bisa jalan sendiri.” Kaget Miki.
“Ush…jangan bergerak,” timpal Mike.
Mike berjalan dengan bahu yang tegap walaupun dia sedang mengendong Miki dengan kedua tangannya, tapi tetap saja pembawaannya tidak berubah sama sekali. Tegap dan angkuh.
Miki bingung di sepanjang langkah Mike orang-orang yang ada di gedung ini terus menunduk padanya. “Sayang kenapa orang-orang itu terus menunduk setiap melihatmu?” Tanya Miki.
“Hahaha, tentu saja mereka harus menunduk setiap bertemu denganku.”
“Kenapa harus menunduk melihatmu? Perasaan wajahmu terlihat tidak menakutkan sama sekali.” Kata Miki yang berhasil membuat Mike tersenyum.
“Mereka menduduk bukan takut pada wajah tampanku, mereka menunduk karena menghormatiku sebagai pemilik gedung ini.” jawab Mike pamer.
“Apa katamu? Gedung ini adalah miliki mu?" kaget Miki yang tidak percaya jika gedung mewah dan setinggi ini adalah milik suaminya.
“Yap, seperti yang kau katakan.” Timpal Mike, dan kemudian menghentikan langkahnya di depan Lift.
Ting…
Pintu lift terbuka. Kemudian Mike melangkah masuk lalu menurunkan tubuh Miki ketika pintu lift tertutup.
“Sebenarnya kita mau ke mana?” Tanya Miki penasaran.
“Kita akan ke atas gedung ini,”
“Memang ada apa di atas gedung ini?” Tanya Miki yang tidak mengerti sama sekali.
“Sayang helikopter yang akan kita naiki ada di atas gedung ini.” jawab Mike.
Mendengar apa yang di katakana Mike padanya membuat Miki langsung menutup mulutnya rapat, karena dia merasa sangat malu tidak tahu apa pun.
“Sayang kau tidak perlu merasa malu seperti itu di depanku.” Kata Mike yang menyadari jika istrinya itu merasa malu.
Miki tetap menutup mulutnya dan tidak mengatakan apa pun pada Mike. Dia tahu jika dia membuka mulutnya dia akan semakin salah dan menjadi malu seperti sebelumnya. Mike yang tidak peduli sama sekali menarik pinggul kecil Miki merapat ke sisi pinggulnya.
Ting…
__ADS_1
Pintu lift terbuka di lantai atas. Butuh berjalan sedikit kemudian mereka sampai di atas gedung ini. Saat pintu terbuka Miki di buat semakin tidak bisa berkata apa-apa, helikopter dengan warna hitam bertuliskan SEA di tubuh helikopternya, serta ada seseorang pria keluar dari helikopter tersebut dan menghampiri mereka.
“Tuan, semuanya sudah siap.” Ucap orang tersebut.
“Oke baiklah, kita pergi sekarang.”
“Baik Tuan.”
Kemudian orang tersebut memberi jalan kepada Mike dan Miki untuk menuju helikopter. Setelahnya pria itu pergi begitu saja.
“Dia mau pergi ke mana?” Tanya Miki bingung.
“Tugasnya sudah selesai,” jawab Mike singkat.
“Terus siapa yang akan mengendarai helikopternya?”
“Tentu saja suamimu ini,” jawab Mike dengan membusungkan dadanya.
Mata hitam Miki membulat saat mendengar perkataan Mike padanya. Dia tidak percaya jika suaminya ini bisa mengendarai helikopter. “Apakah kau yakin bisa mengendarainya?” Tanya Miki yang tidak yakin.
“Sayang kau tidak perlu khawatir, karena aku memiliki lisensi yang di perlukan setiap orang yang di perbolehkan untuk mengemudi sebuah pesawat. Jadi kau tidak perlu takut.” Kata Mike yang meyakinkan istrinya itu.
“Oke baiklah, aku percaya padamu.”
“Baiklah sini biarkan aku membantumu naik ke atas sana.” Ucap Mike yang kemudian mengangkat tubuh Miki masuk ke dalam helikopter tersebut. Lalu Mike juga masuk dan duduk di kursi pengemudi. Setelah semuanya sudah siap, baik keamanan maupun sistem penerbangannya, semuanya sudah siap.
Dag…dig…dug.
Suara detak jantung Miki. Dia menatap mata suaminya itu dengan sangat dalam, sepenuhnya dia mempercayai suaminya itu.
“Apakah kau sudah siap?” Tanya Mike menatap ke arah Miki.
Miki menarik nafasnya dalam-dalam, kemudian dia hembuskan kembali lalu mengatakan, “Baiklah aku siap.”
Mike tersenyum saat melihat wajah gugup dari istrinya itu. tangannya mulai bergerak menekat dan mengaktifkan beberapa tombol untuk menerbangkan helikopter ini, setelah semuanya selesai kemudian terdengar suara dari mesin yang sudah hidup dan suara bising dari baling-baling yang mulai berputar cepat menandakan jika helikopter siap untuk di terbangkan.
Mike menyempatkan dirinya menatap istrinya kembali sebelum dia benar-benar menerbangkan helikopternya. “Apakah kau sudah benar-benar siap untuk terbang di atas kota California?”
Sekali lagi Miki kembali menarik nafasnya kemudian dia hembuskan kembali. “Aku sudah siap.” Ucap Miki dengan sangat yakin.
“Baiklah, dalam hitungan ketiga aku akan menerbangkan helikopter ini.” kata Mike sembari berkonsentrasi. Helikopter yang di kendarai Mike mulai naik ke atas. “Satu…dua…Tiga.” Mike benar-benar menerbangkan helikopternya.
Miki yang gugup setengah mati pada akhirnya dia bisa bernafas dengan lega, karena tidak terjadi apa-apa saat helikopternya berjalan. Walaupun begitu rasa gugupnya masih melada dirinya selama masih berada di dalam helikopter tersebut. Dia terus menunduk sembari memejamkan matanya tidak ingin melihat keluar helikopter itu.
“Sayang angkat kepalamu sekarang,” pinta Mike.
“Tidak, aku takut.”
“Sayang angkat kepalamu sekarang, tidak akan terjadi apa-apa padamu jika kau mengangkat kepalamu sekarang.”
Perlahan Miki mulai mengangkat kepalanya menatap keluar, ketika dia membuka matanya Miki merasa takjub akan pemandang kota California dari atas. Semuanya terlihat begitu indah saat Miki melihatnya dari atas sana.
“Apakah kau menyukainya?”
Dengan tersenyum bahagia Miki berkata, “Ya, aku sangat menyukainya.”
.
.
.
.
.
__ADS_1