
Miki membuka lipatan Koran tersebut dan kemudian dia membacanya kata demi kata. Setelah selesai membacanya tanpa sadar bibirnya bergerak mengatakan. “Agatha Gibson.”
Bibir Miki bergetar saat menyebutkan nama wanita itu. nafasnya tiba-tiba terasa sangat sesak, sepertinya nama itu tidak asing bagi Miki. Tubuhnya tidak bisa berbohong saat menyebutkan nama wanita itu, walaupun dia tidak tahu kenapa seluruh tubuhnya bergetar ketakutan seperti mengenali wanita itu.
Sekilas Miki mengingat potongan kecil ingatan buruknya saat berusia lima belas tahun. Di dalam ingatannya Miki melihat seseorang wanita sebaya dengannya memperlakukannya sangat kejam.
“Kehadiran dirimu adalah masalah, kau itu tidak berguna. Bisa-bisanya kau merebut posisiku sebagai penari utama ballerina di pementasan.” Ucap gadis kecil di dalam ingatan Miki.
Potongan kecil ingatan Miki yang mengerikan seketika membuat kepalanya terasa sangat sakit sekali. Dia berusaha keras agar mengingat kelanjutan dari ingatannya itu.
“Agatha ayo kita pergi, nanti kita akan ketahuan.” Ujar gadis kecil yang satunya lagi. Kedua gadis kecil itu pergi begitu saja setelah menghantam kedua tangan Miki sehingga jari jarinya terluka dan mengeluarkan darah. Saking sakitnya Miki tidak bisa mengeluarkan suaranya, walaupun kedua tangannya bergetar karena menahan rasa sakit pada jari-jarinya.
Secara tidak langsung kedua tangan Miki bergetar hebat seperti rasa sakit yang dia rasakan di dalam ingatannya. Tanpa sadar Miki terbawa ke dalam dunia ingatannya, seluruh tubuhnya lemas dan terduduk begitu saja di lantai setelah mengingat kejadian yang mengerikan saat dia berusia lima belas tahun.
“Agatha, Agatha, Agatha.” Ucap Miki berulang kali dengan seluruh tubuh yang bergetar ketakutan.
Saat ini gadis kecil yang kejam di dalam ingatan Miki sedang melangsungkan pertunangan dengan suaminya. Miki menyadari gadis kecil yang bernama Agatha yang ada di masa lalunya merupakan wanita yang saat ini juga merengut kebahagiaannya. Agatha Gibson adalah gadis kecil yang merengut impian semasa kecilnya, sama seperti dulu dia merengut seluruh impian dan kehidupan Miki saat ini.
“Nona, apakah Anda baik-baik saja?” Tanya salah satu pelayan hotel.
Tanpa sadar Miki menjawab. “Agatha,” ucapnya dengan suara bergetar.
“Nona, Anda baik-baik saja?” Tanya pelayan hotel itu kembali.
“Dia wanita jahat, tidak seharusnya aku bertemu dengannya lagi, aku harus pergi dari sini sekarang juga.” Kata Miki yang ketakutan.
“Nona, Apakah Anda sakit?” Tanya pelayan itu kembali.
Tetap sama Miki tidak peduli dengan pelayan tersebut, dia berusaha beranjak berdiri dengan kedua kakinya yang bergetar. Saat berdiri secara tidak sengaja ransel yang di belakangnya terlalu berat bagi Miki saat ini, sehingga membuat lututnya kembali terjatuh menyentuh lantai.
“Aw…” desis Miki.
__ADS_1
“Nona apakah Anda tidak apa-apa?” Tanya pelayan itu lagi sembari membatu Miki kembali berdiri.
“Terima kasih,” ucap Miki yang masih dalam keadaan sadar dan tidak sadar.
Kemudian Miki melangkahkan kakinya dengan sangat cepat untuk keluar dari hotel tersebut, dia harus pergi jauh-jauh dari tempat ini pikir Miki. Setelah berada di pintu keluar Miki langsung berlari dengan sekuat tenaganya di jalanan. Saat ini, lari adalah hal yang tepat dia lakukan karena saat masih berada di dekat hotel tersebut Miki tidak bisa bernafas dengan benar, udara di sekitar tempat tersebut terasa seperti debu yang terisap ke dalam hidungnya sehingga saat menarik nafasnya Miki merasa debu tersebut memenuhi paru-parunya dan membuatnya tidak bisa bernafas sama sekali.
Miki terus membuat kedua kakinya berlari sekencang mungkin, kalau bisa dia berada sangat jauh dari hotel tersebut. Sesaat Miki menoleh ke belakangnya, dia tidak lagi melihat hotel tersebut di depan matanya, entah di mana dia berada saat ini, Miki tidak peduli yang penting dia berada sangat jauh dari tempat tersebut.
Miki menghentikan kakinya untuk terus melangkah, dia memutuskan untuk berdiam diri di pinggiran lampu merah jalan raya. Seakan dia menunggu lampu merah mengati hijau untuk menyeberangi jalanan, tetapi saat warna lampu berganti hijau Miki tidak menyeberang sama sekali, dia tetap berdiri di posisinya hingga warna lampu merah datang kembali.
Waktu sudah berlalu dan Miki tetap berdiri pada posisinya di pinggir jalan raya. Sudah berulang kali lampu merah menjadi hijau berlalu, tetapi tetap saja dia tidak melangkahkan kakinya untuk menyeberang.
Brukk…
Tubuh Miki di tabrak oleh pejalan kaki yang ingin menyeberang, seketika Miki tersadarkan dari lamunannya yang panjang tiada ujungnya. Ketika dia tersadarkan dia mulai merasakan perih di hatinya, manik matanya mulai mengeluarkan butiran Kristal bening membendung di kelopak matanya.
Pada akhirnya Miki tidak bisa menahan tangisnya lagi, dalam sekejap tangisnya pecah. Dengan sekuat-kuatnya Miki mengeluarkan suara tangisnya di jalan raya. Saat dia menangis tidak ada seseorang pun di sekitarnya sehingga membuat Miki berteriak sesuka hatinya untuk mengeluarkan semua kesedihan karena kecewa dan kekesalannya.
“Aaaaaahhh…”
“Aaaaaaaaaahhhh…” teriak Miki berulang kali.
Setelah puas berteriak Miki kembali menangis sekencang mungkin, dia kesal, dia kecewa, dan dia hancur sehancurnya karena pria yang dia cintai menghianati cintanya. Sebelumnya Miki bermimpi memiliki rumah tangga yang bahagia dengan adanya kehadiran janin di dalam perutnya saat ini, tapi seketika impian tersebut hancur dalam sekejap. Semuanya terlihat sangat gelap, tidak ada mimpi dan kebahagiaan yang dapat Miki miliki untuk saat ini, karena semuanya sudah di rampas secara paksa dari dirinya.
Miki tidak bisa menghentikan air matanya yang terus mengalir membasahi pipinya, dia tahu jika semuanya sudah berakhir. Tanpa sadar matahari sudah terbenam dan hari mulai gelap, pada akhirnya air mata Miki berhenti mengalir setelah dua jam menangis di pinggir jalan.
Tur…
Suara Guntur di langit menandakan hujan akan turun, sebelum sempat berlindung Miki sudah di guyur air hujan hingga semua pakaiannya basah. Lengkap sudah penderitaan yang di alami Miki hari ini, hujan pun ikut menyiksanya. Walaupun di guyur air hujan Miki tetap tidak bergeming, dia tetap berdiri tegap dengan mata merahnya, dia mencoba untuk bertahan di hujan yang lebat pada malam itu.
Lima menit bertahan di bawah langit yang gelap serta hujan lebat, Miki berkeras hati tetap tidak ingin melangkahkan kakinya. Entah mengapa tiba-tiba salah satu tangannya menyentuh bagian perutnya, seketika Miki mengingat jika saat ini dia sedang hamil. Tanpa berbicara, Miki mengubah keyakinan hatinya untuk tetap bertahan di bawah hujan lebat, dia menyerah begitu saja ketika mengingat janin yang ada di dalam perut ratanya itu.
__ADS_1
Walaupun sudah terlanjur basah kuyup, Miki tetap melangkahkan kakinya untuk berteduh demi janin yang ada di dalam perutnya. Kiri kanan mata Miki menelusuri di sekitarnya untuk menemukan tempat berteduh, dari sekian luasnya daerah di sekitar Miki tidak ada tempat berteduh selain sebuah pohon rindang di ujung jalan besar sebelah kanannya. Perlahan Miki menggayungkan kakinya menuju pohon rindang tersebut sembari menyentuh perut ratanya, dan kemudian dia duduk di bawah pohon tersebut dengan memeluk kedua lututnya.
Miki terlihat seperti wanita yang sangat menyedihkan, duduk di bawah pohon dengan pakaian yang basah kuyup tidak mungkin dia tidak merasakan dingin pada malam itu.
Hujan semakin deras saja, Miki yang duduk dengan memeluk ke dua lututnya hanya bisa menunggu sampai hujan berhenti. Saat menunggu tidak bisa di ungkiri jika isi kepala Miki saat ini di penuhi dengan kejadian tadi siang yang membuat seluruh dunianya hancur dalam sekejap. Sakit hatinya tidak bisa hilang begitu saja setelah menyaksikan pertunangan suaminya sendiri dengan wanita yang merebut segalanya dari dirinya.
Miki tidak bisa tenang, pikirannya sangat kacau sekali. Dia mulai berhalusinasi mendengar suara-suara yang entah dari mana terus mempengaruhi kondisi mentalnya saat ini. “Tidak…tidak, Miki kau harus kuat dan tetap berpikiran jernih.” Ucap Miki sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
Semakin Miki melawan halusinasinya, dia semakin berhalusinasi. Di terus mendengar suara-suara aneh di telinganya, karena tidak kuat lagi dengan suara-suara tersebut Miki memukul kepalanya dengan kedua tangannya untuk mengusir suara yang terus berbicara padanya.
“Tidak, tidak, tidak.” Ucap Miki sembari memukul-mukul kepalanya dengan kedua tangannya berulang kali.
“Aahhhhhhh…” erang Miki yang terus memukul kepalanya tanpa henti.
“Berhenti, jangan berbicara lagi!” bentak Miki pada dirinya sendiri.
Kau tidak berguna Miki, kehadiranmu tidak diperlukan lagi di dunia ini. sebaiknya kau mati saja dari pada harus menangung semua luka di hatimu. Suara halusinasi Miki yang terus terdengar berulang kali di telinganya.
Kau tidak berguna Miki, kehadiranmu tidak diperlukan lagi di dunia ini. sebaiknya kau mati saja dari pada harus menangung semua luka di hatimu. Suara itu kembali berbisik di telinga Miki terus menerus.
“Berhenti jangan berbicara lagi!” teriak Miki dengan sangat keras di bawah hujan yang lebat.
.
.
.
.
.
__ADS_1