
Mike beranjak berdiri dari kursinya, setelah pembicaraannya dan Miki selesai. Sebelum meninggalkan ruangan, sekilas Mike menatap Miki yang sibuk dengan dirinya sendiri.
“Setelah kau selesai makan, datanglah ke ruang kerjaku.” Perintah Mike.
Miki mendongkrak melihat ke arah Mike. Hatinya berkata, Apa yang dia inginkan?
“Baiklah” Miki melanjutkan memakan makanan yang masih tersisa di dalam piringnya.
Sedangkan Mike membalik badannya dan melangkahkan kakinya menuju ruang kerjanya. Sesampai di sana Mike duduk menghadap komputernya dengan serius, seakan dia sedang berbicara hal penting dengan benda tersebut.
Tidak lama Mike berada di dalam ruang kerjanya, Miki datang untuk menemuinya. Saat hendak mengetuk, ternyata pintunya terbuka. “Boleh aku masuk?” Miki menyelipkan kepalanya masuk.
“Kemari.” ujar Mike yang tetap menatap layar komputernya.
Miki membuka pintu dengan perlahan dan menutupnya kembali. Dia berjalan mendekati meja kerja Mike dengan perlahan tanpa bersuara.
“Kenapa kau memintaku datang ke ruang kerjamu?” tanya Miki.
Mike berhenti menatap layar komputernya, kemudian dia membuka laci di sampingnya. Dia mengeluarkan secarik kertas putih tanpa berbungkus amplop. “Ini untukmu,” Mike memberikan secarik kertas tersebut pada Miki.
“Untuk ku?” tanya Miki bingung.
“Ia, itu dari kakakmu Lucy. Dia memintaku untuk memberikan ini padamu saat di pergi meninggalkan Villa ini.”
Miki melangkah maju untuk mengambil kertas tersebut dari tangan pria itu. Setelah kertas tersebut berada di tangannya. “Terima kasih” ucap Miki. Kemudian dia membalik badannya untuk pergi, tetapi Miki ingat akan sesuatu. Dia kembali menghadap Mike dengan berkata. “Permisi,” ucap Miki pelan.
“Ada apa?” Mike mendongkak melihat ke arah Miki.
“Begini, Miki perlu barang-barangku kembali.” Miki sedikit menunduk untuk menjajarkan pandangannya.
“Barang apa?” seakan Mike tidak mengerti maksud dari perkataan dari Miki.
“Seperti ponsel, dompet dan koper, aku sangat membutuhkannya sekarang.” Miki meminta semua barang miliknya kembali padanya.
“Baiklah nanti sekretarisku Fred yang akan mengantarkannya ke kamarmu, kau boleh pergi sekarang.” Mike kembali sibuk dengan Komputernya itu.
“Baiklah” Miki mengundurkan dirinya melewati pintu dan mengilang dari hadapan Mike.
***
Menyendiri di kamar, Miki membuka secarik kertas yang di berikan sang kakak untuknya.
__ADS_1
Miki kakak harap kau bisa bertahan. Kakak tidak ingin melihatmu menderita seperti 10 tahun yang lalu, kakak tahu tidak mudah bagi Miki menghadapi semuanya sendirian, tapi kamu harus bisa menghadapinya. demi Mami, demi keluarga kita Miki harus bisa menghadapi kekhawatiran yang membuat dirimu tidak siap menghadapi dunia luar. Kakak percaya Miki pasti bisa, kakak sayang Miki. Lucy.
Setelah membaca pesan Lucy, Miki meletakan surat tersebut di atas dadanya. Dia tahu jika saat ini keluarganya sedang dalam keadaan kesulitan.
Tok…tok… Tok.
“Nona boleh saya masuk?” seru sekretaris Fred di balik pintu.
“Masuk.” Dengan cepat Miki menyimpan kertas tersebut di bawah bantal.
Fred membuka pintu dengan perlahan. Dia masuk ke dalam kamar Miki dengan membawa barang-barang Milik wanita itu.
“Nona, ini barang-barang Milik Anda,” Fred meletakan barang-barang tersebut di lantai.
“Terima kasih paman,” ucap Miki yang membuat Fred terkejut karena di panggil paman.
“Nona, panggil saja saya Mr. Fred.” Fred membukukan kepalanya.
“Baiklah Mr. Fred kau boleh pergi sekarang.” Miki berjalan mendekati barang-barang dengan senang.
“Nona, masih ada yang ingin saya sampaikan pada Nona,” kata Fred yang terus menunduk.
“Nona, sebenarnya ponsel dan dompet Anda tidak bisa di temukan. Tuan meminta saya mengganti ponsel Nona dengan yang baru dan semua kontak keluarga Nona sudah ada di sana, termasuk kontak Tuan.” Fred mengulurkan sebuah ponsel baru berserta kartu kredit Black Card di atas ponsel.
“Ini apa Mr. Fred?” Miki membolak-balik kartu tersebut.
“Itu kartu kredit penganti dompet Nona yang hilang. Pesan Tuan, Nona bisa menggunakannya sesuka Nona.”
“Baiklah Mr. Fred masih ada yang ingin Anda sampaikan pada saya?” Miki menatap Fred dengan tersenyum.
“Tidak ada Nona, saya akan pergi jika tidak ada pertanyaan lagi.” Fred melangkah mundur kemudian membalikkan badannya melewati pintu.
***
“Bagaimana, apakah dia mau mengambilnya?” Mike langsung bertanya ketika Fred masuk ke dalam ruangannya.
“Ia Tuan, Nona mau mengambilnya.” Fred terkejut melihat tingkah Tuannya ini. Tidak seperti biasanya yang selalu bersikap kaku padanya.
“Apa ada sesuatu yang dia katakan?” Mike tidak berhenti bertanya.
“Nona hanya menerimanya saja, tidak ada sesuatu yang spesial yang dia katakan.” Fred kembali melihat ekspresi yang berbeda dari wajah Tuanya itu.
__ADS_1
“Ehm, baiklah kalau begitu Mr. Fred, kau boleh pergi sekarang.” Mike kembali bersikap kaku dan dingin.
Fred yang di minta untuk pergi, menghilang dengan cepat dari hadapan Mike. Setelah Fred tidak ada Mike langsung merebahkan tubuhnya di atas sofa. Dia mengambil ponselnya dari dalam saku celananya, dia hendak menghubungi wanita itu tetapi dia ragu-ragu karena setelah menceritakan semuanya apakah mungkin Miki tidak akan mengabaikannya.
Apa yang sedang terjadi padaku? Sungguh tidak terlihat seperti diriku. Tidak seharusnya aku bersikap berlebihan begini hanya karena seorang wanita.
Mike beranjak berdiri dan kembali mengambil ponsel untuk menghubungi seseorang. Ketika tersambung. “Joe, kau di mana sekarang?” serunya. ”Oke, baiklah aku akan menyusulmu sekarang.” Mike mematikan ponselnya.
“Mr. Fred,” panggil Mike.
Dalam sekejam Fred sudah ada di hadapannya. “Ya Tuan, ada apa?” Fred membungkuk di hadapan Tuannya.
“Saya akan pergi keluar, tolong siapkan Mobil.” Perintah Mike.
“Baik Tuan.” Fred pergi keluar untuk menyiakan mobil untuk tuanya.
Mike berjalan menuju ruangan tamu. Di sana dia memanggil pengurus Villa. “Nyonya Bret.” Panggilnya.
“Tuan memanggil saya?” seketika Bret sudah ada di hadapan Mike.
“Nyonya Bret saya akan pergi keluar, tolong kau urus Nona Chloe selama saya tidak ada.” Perintah Mike.
“Baik Tuan.” Bret menundukkan kepalanya.
Setelah memastikan semuanya, kemudian Mike pergi keluar dari Villa. Saat tiba di pintu Fred sudah siap dengan Mobil mewah di sana.
“Silakan masuk Tuan,” Fred membukakan Pintu Mobil untuk Tuannya.
“Terima kasih Mr. Fred.” Mike melangkah masuk ke dalam mobil sport yang hanya ada satu di dunia. “Mr. Fred, malam ini jangan hubungi atau ganggu saya, kecuali hal yang sangat penting.” Mike menutup kaca mobilnya. Sedangkan Fred tetap berdiri sedikit lebih jauh dari sisi mobil Tuannya itu.
Waktunya untuk bersenang-senang. Mike menyalakan Mobilnya dan menjalankan Mobil untuk keluar dari Villa.
Sementara itu Miki yang kamarnya berada tepat di atas pintu keluar Villa mengitip kepergian Mike sore itu.
Dia mau pergi ke mana? dasar Tuan tukang pamer, cih. Miki terlihat tidak senang melihatnya pergi dengan menggunakan mobil sport-Nya itu. Miki merasa pria itu terlalu angkuh di matanya.
.
.
.
__ADS_1