
Flashback on.
Dering telepon menyela kesibukan Lona pada malam itu. Lucy menelepon. Lona yang pertama kali berbicara membuka percakapan mereka.
“Halo sayang,”
“Mami...”
Lona mendengar suara panik Lucy saat memanggilnya, memberikan isyarat jika terjadi sesuatu yang mungkin dia tidak ketahui. Lona mencoba menenangkan Lucy dari kegelisahannya dan meminta anaknya itu untuk berbicara dengan tenang.
Dengan suara bergetar Lucy mulai berbicara, “Mami, pihak sekolahan menelepon jika terjadi sesuatu pada Miki.”
Lona terkejutkan dengan perkataan Lucy, “Sayang apa yang barusan kau katakan?” tanya Lona kembali memastikan.
“Barusan pihak sekolah menelepon memberitahukan jika terjadi sesuatu pada Miki. Mereka mengatakan Jika mereka menemukan Miki terkunci di dalam gudang dengan kedua tangannya terluka, dan mereka juga ingin Mami datang untuk menemui mereka.”
“Sayang, bagaimana keadaan adikmu saat ini?”
“Lucy juga tidak tahu, dokter masih memeriksanya di dalam sana.” Suara Lucy bergetar dan ketakutan.
“Sayang, kamu tenang jangan panik. Oke. Sebentar lagi Mami akan ke Rumah Sakit sekarang juga.”
“Baiklah,” Lucy menganggukkan kepalanya dan kemudian menutup teleponnya.
Hampir satu jam Lucy menunggu kedatangan Lona dengan rasa khawatirnya yang tak kunjung meredah karena pintu yang dia harap sejak dari tadi dia tunggu tidak juga terbuka. Di balik pintu itu ada Miki yang sedang berjuang mempertaruhkan hidupnya.
“Kenapa Mami lama sekali sampainya?”
Kedua kaki Lucy bergetar hebat, duduk di koridor yang sepi hanya ada dirinya sendiri menunggu.
“Lucy, bagaimana dengan keadaan adikmu?” ujar Lona yang baru saja tiba.
Lucy menggelengkan kepalanya pelan seraya berkata, “Miki masih di dalam sana.” Tunjuk Lucy ke Arah ruangan operasi.
Dengan nafas yang tersengal-sengal Lona duduk di samping Lucy dengan kedua lutut yang lemas karena rasa khawatirnya terhadap Miki.
Setelah menunggu tiga puluh menit akhirnya pintu ruangan operasi terbuka. Dokter yang mengoperasi Miki keluar dari ruangan tersebut.
“Dokter bagaimana dengan keadaan Miki anak saya?” tanya Lona dengan tergesa-gesa.
“Operasinya berjalan dengan lancar, tetapi di beberapa jarinya mengalami keretakan tulang.” kata dokter tersebut.
“Apakah jari-jarinya akan baik-baik saja?”
“Nyonya tenang saja, selama satu bulan jari-jari anak Anda akan sembuh tetapi selama itu anak Nyonya tidak boleh melakukan apa pun yang bisa memperburuk jari-jarinya.” Jelas dokter.
“Jika jari-jarinya sembuh, apakah bisa dia kembali menari Balet?”
“Tentu saja bisa, Nyonya tidak perlu khawatir.” Kata dokter seraya mengayunkan kakinya meninggalkan ruangan operasi.
***
Satu bulan kemudian.
Setelah Miki sembuh sepenuhnya, dia tidak ingin lagi kembali ke sekolah ballerina. Dia memutuskan untuk berhenti sekolah di sana semenjak kejadian hari itu.
Selama sebulan terakhir ini Miki selalu bermimpi buruk tentang kejadian dia di kurung oleh kedua teman kelas ballerina-Nya. Di mana tempat tersebut sangat sempit dan hanya ada satu jendela yang tertutup rapat memancarkan cahaya dari luar ke dalam ruangan sempit dan gelap tersebut.
Mimpi buruk tersebut selalu menghantui tidur Miki. Tidak hanya sebatas mimpi buruk saja, Miki juga mengalami gangguan panik saat bertemu dengan orang sehingga mengakibatkan dirinya harus melakukan homeschooling dan menjalani psikoterapi.
“Mami, Miki tidak ingin menjalani psikoterapi hari ini jika Mami tidak menemani Miki.” Ucap Miki menolak menjalani psikoterapi.
“Sayang, tapi Mami harus bertemu dengan orang tua yang menyebabkanmu menjadi seperti ini. Mami harus menyelesaikan masalah ini sampai tuntas.” Jawab Lona.
“Mami tidak boleh pergi, jika Mami tidak menemani Miki maka Miki tidak mau melakukan psikoterapi.”
“Baiklah sayang Mami akan menemanimu, tapi Mami harus menghubungi tante Emily dulu untuk menggantikan Mami.”
“Baiklah, Miki Tunggu Mami di mobil.” kata Miki kemudian berjalan menuju mobil.
Lona mengeluarkan ponselnya dari dalam tas, kemudian dia menekan beberapa tombol untuk menghubungi sahabatnya itu.
“Halo Emily.” Ujar Lona ketika telepon tersambung.
“Ya Lona, ada apa?” tanya Emily di ujung sana.
“Emily, apakah kau bisa menggantikan aku hari ini untuk bertemu dengan orang tua gadis-gadis yang mencelakai Miki?”
“Tentu saja aku bisa, kau tenang saja aku akan membuat mereka meminta maaf pada Miki.” Ucap Emily dengan penuh semangat.
“Baiklah, aku percayakan urusan ini padamu Emily.”
“Tenang saja, akan aku urus semuanya sampai selesai.”
Kemudian keduanya memutuskan sambungan teleponnya begitu saja setelah selesai berbicara.
***
__ADS_1
Inspire School of Ballet.
Emily duduk dengan tenang di sebuah ruangan yang terkesan formal dan mewah. Di sana sudah ada seorang wanita paruh baya dari pihak Inspire School of Ballet duduk dengan elegan di hadapan Emily.
“Maaf Nyonya, harus berapa lama lagi saya harus menunggu?” seru Emily dengan berwibawa.
“Tolong maafkan kami, telah membuat Anda menunggu Lama. Bisakah Anda untuk bersabar dan menunggu sebentar lagi, karena kita masih harus menunggu beberapa orang lagi.” Jawab wanita paruh baya itu.
“Baiklah, saya akan memberi waktu kepada Anda lima belas menit lagi, jika mereka tidak juga datang maka saya akan membawa masalah ini ke pengadilan.”
“Baiklah saya mengerti.” Jawab wanita paru baya tersebut.
Setelah memutuskan untuk menunggu pada akhirnya orang yang mereka tunggu-tunggu datang juga. Saat pintu terbuka, Emily terkejut saat melihat dari empat orang yang datang tersebut yang mana dua orang dari mereka adalah Robert Gibson dan istrinya Amanda Blossom.
Emily sangat mengenal Robert Gibson sewaktu mereka masih duduk di bangku kuliah. Semasa kuliah Robet adalah kekasih dari sahabatnya Lona Chloe.
“Silakan Duduk,” pinta wanita paruh baya itu kepada empat orang yang baru datang tersebut.
“Emily apakah itu kau?” seru Robert saat melihat Emily duduk di hadapannya.
Emily tidak menjawab sama sekali, dia malah mengabaikan pria itu dengan angkuh. Sedangkan Robert hanya bisa tersenyum kecut karena di abaikan oleh Emily.
Selama satu jam pertemuan berlangsung pada akhirnya berakhir juga. Selama satu jam tersebut Emily memenangkan pertarungan tersebut, walaupun orang yang dia lawan adalah orang-orang yang berpengaruh di California. Namun, berkat status keluarganya yang juga merupakan orang kaya dan berpengaruh di California dia menang telak.
Dengan angkuh Emily keluar dari raungan tersebut dengan membawah kemenangan. Tiba-tiba Robert datang menghampirinya dan menghentikan langkah kaki Emily.
“Emily tunggu sebentar,” panggil Robert.
Emily menghentikan langkah kakinya seraya membalikkan badanya menghadap Robert yang berada di belakangnya.
“Ada apa?” tanya Emily ketus.
“Sebelumnya saya meminta maaf atas perlakuan putri saya pada patrimu,”
“Memang sudah seharusnya kau meminta maaf, saya sarankan agar kau mendidik putrimu itu lebih keras lagi. Tidak seharusnya dia memperlakukan putriku sekejam seperti itu.” kata Emily kesal sembari berkacak pinggang.
“Sungguh saya Minta maaf atas perlakuan kasar putriku,”
“Oke baiklah, saya akan memaafkannya tapi jika putriku mau memaafkan putrimu.” Kata Emily seraya hendak pergi meninggalkan Robert begitu saja.
“Emily tunggu sebentar,” ucap Robert yang kembali menghentikan Emily.
“Kali ini ada apa?” jawab Emily dengan wajah kesalnya.
“Sebenarnya saya menghentikanmu ingin bertanya kabar hubungan Lona dan Steven.”
Emily mulai memasang wajah seriusnya saat mendengar perkataan Robert, “Kenapa kau bertanya seperti itu?” tanya Emily bingung.
“Sebenarnya apa yang kau katakan Robert?” tanya Emily yang semakin kebingungan.
“Apakah kau yakin tidak mengetahui jika lima belas tahun yang lalu Lona menggandung anak Steven. Saya mendengarnya sendiri dari mulutnya Steven jika janin yang di kandung Lona adalah anaknya.” Kata Robert kembali.
Saat mendengar perkataan Robert Emily mengepal kedua tangannya hingga puncak kukuhnya memutih karena menahan amarahnya.
Tanpa memperdulikan Robert Emily mengayunkan kakinya meninggalkan Robert sendirian. dengan kedua tangan yang masih terkepal kuat Emily memasuki mobilnya dengan sangat marah menuju pulang.
Setibanya di rumah, Emily langsung keluar dari mobilnya dan langsung memasuki rumah Lona yang tepat berada di samping rumahnya bersama Steven.
Brakkk…
Pintu terbuka menghantam dinding dengan keras. Miki yang tidak tahu apa-apa hanya bisa berdiam diri melihat Emily yang tiba-tiba masuk tanpa izin ke dalam rumahnya.
“Tante ada apa?” seru Miki.
“Miki ikut denganku,”
Tanpa izin Emily menarik tangan Miki dengan kasar sehingga tubuh kecil Miki terseret dengan mudah. Tangan Emily mengagam kuat pergelangan tangan Miki setiap langkahnya.
“Tante lepaskan Miki,”
“Kau diam, dasar anak tidak tahu diri!!”
Emily terlihat sangat marah sekali sehingga membuat Miki sangat ketakutan saat melihat tatapannya seakan ingin membunuhnya.
“Tante lepaskan Miki, kau menyakitiku.” Miki meringis kesakitan di pergelangan tangannya.
Emily tidak menggubris perkataan dari Miki, dia terus menarik Miki hingga di sebuah ruangan yang di penuhi oleh orang-orang yang sangat Miki kenal. Setiba di ruangan tepatnya dirumah-Nya Emily menghentikan langkah kakinya seraya menyeret tubuh Miki dengan Kuat sehingga terdorong ke tengah-tengah orang-orang yang berkumpul di sana.
“Aaahh…” teriak Miki terjerumus di lantai.
Miki tidak mengerti mengapa dia di perlakukan seperti ini di hadapan semua orang. Miki melihat orang-orang tersebut dengan rasa takut.
“Emily apa yang kau lakukan pada Miki?”
Steven datang dan membatu Miki berdiri dari lantai. Saat Steven membantu Miki berdiri membuat Emily semakin marah.
“Steven lepaskan tanganmu dari anak itu!”
__ADS_1
Steven tidak memperdulikan apa yang di katakan Emily padanya, dia tetap saja membatu Miki. “Sayang apakah kau baik-baik saja?”
“Em…” angguk Miki perlahan.
“Miki sayang, ayo Ikut dengan Paman.”
Steven memegang tangan kecil Miki dengan lembut melangkah keluar dari rumahnya itu untuk menghindari amarah dari istrinya Emily.
“Berhenti!!!”
Emily merebut Miki dari tangan Steven. Dengan kasar dia kembali melemparkan Miki di atas lantai hingga tersungkur.
“Emily apa yang kau lakukan? Dia hanya anak kecil.” Ucap Steven dengan tegas.
Semua orang yang berada di sana hanya bisa diam dan menyaksikan apa yang di lakukan Emily di hadapan mereka.
“Kenapa? Apakah kau takut jika aku akan melukai anak harammu ini?”
Emily menyergapi seraya memaksa tubuh kecil Mik untuk berdiri di dekatnya. Dia mencengkeram bahu kecil Miki dengan sangat Kuat seakan menuangkan amarahnya terhadap gadis kecil itu.
“Tante, kau menyakiti Miki.” Tubuh kecil Miki bergetar hebat.
“Emily cukup! Lepaskan Miki sekarang, dia tidak bersalah.” Pinta Steven seraya menggenggam kedua tangannya hingga puncak kukuhnya memutih.
“Tidak akan aku lepaskan sebelum kau mengakui perbuatan kotormu dengan wanita yang telah melahirkan anak sialan ini.”
“Cukup Emily, kita bicarakan ini secara pribadi antara kau dan aku saja, jangan bicarakan hal ini di hadapan semua orang.”
“Owh…jika kau tidak bicara sekarang aku tidak menjamin jika anak ini akan baik-baik saja.” Ancam Emily.
“Oke baiklah, jika kau ingin aku mengatakan semuanya di sini akan aku katakan sekarang.”
Emily semakin mencengkeram erat bahu Miki kecil dengan sangat kuat. Miki yang merasakan cengkeraman kuat Emily hanya bisa meringis kesakitan.
“Katakan sekarang, jika anak ini adalah anak harammu bersama Lona?” terdengar suara Emily sangat mengerikan.
“Benar, Miki adalah anakku bersama Lona.” Steven Berbohong, karena jika dia mengatakan tidak mana mungkin istrinya itu percaya dengan ucapannya.
Seketika wajah Emily berubah sangat mengerikan, dia terbakar amarah yang sangat luar biasa saat mendengar pengakuan suaminya Steven. Dia kehilangan kendali atas dirinya sendiri, dia tidak bisa menahan emosinya yang meluap.
“Kenapa kau lakukan itu padaku!!” teriak Emily.
Di waktu yang sama Lona datang memasuki ruangan tersebut dengan nafas tersengal-sengal. Terlihat wajah khawatirnya saat melihat tubuh anaknya Miki bergetar hebat dan luka-luka di lututnya.
“Emily tenang, aku bisa jelaskan” ucap Lona.
“Lona, kau adalah sahabatku, kenapa kau sangat tega lakukan itu padaku?!” seru Emily yang frustasi.
“Emily dengarkan kami,” pinta Steven seraya mendekati Emily dengan hati-hati.
“Mundur! Jika tidak anak ini akan mati!” Emily histeris, dia menjadikan Miki sebagai sanderaan.
“Mami, Miki sangat takut. Hiks, Hiks.” Tangis Miki seraya menahan sakit.
“Tenang sayang, percaya sama Mami.” Ucap Lona.
“Hahaha, sungguh ibu yang baik. Aku tidak mengira jika kau sepicik ini Lona!”
Seketika Emily menarik rambut bergelombang Miki di hadapan Lona. Rasa marahnya membuatnya melupakan semuanya termasuk jati dirinya.
“Emily, aku mohon lepaskan Miki sekarang,” Pinta Lona.
“Hahaha, kita lihat sampai di mana rasa sayangmu terhadap anak haram ini.”
Emily menarik tubuh kecil Miki ke atas tangga, dia ingin membuat Lona hancur melihat anaknya jatuh dari atas tangga.
“Emily apa yang akan kau lakukan pada Miki ku?” ucap Lona yang panik.
“Emily jangan lakukan itu, dia tidak bersalah.” Timpal Steven.
Emily hanya tertawa melihat wajah suami dan sahabatnya yang ketakutan melihat anak haram mereka terluka. Rasa khawatir yang di tunjukkan suami dan sahabatnya itu semakin membuatnya ingin melukai Miki, saat dia sudah siap mendorong gadis kecil itu dari atas tangga, Miki menangis dan tubuhnya bergetar ketakutan saat tubuhnya mengantung di atas tangga.
“Mami…” Lirih Miki meneteskan air matanya.
“Ucapkan selamat tinggal pada ibu dan ayahmu gadis kecil,” Kemudian Emily mendorong Miki dengan sekuat tenaga.
“Emily Miki bukan anaknya Steven!” teriak Lona yang menghentikan Emily untuk mendorong Miki dari tangga.
“Jika dia bukan anaknya Steven lalu siap ayah dari anak ini?!” bentak Emily seraya tangannya masih mengantungkan tubuh Miki di atas tangga.
“Robert Gibson. Sebenarnya, lima belas tahun yang lalu aku mengandung anaknya Robert. Karena hubungan kami terlalu rumit dan banyak masalah yang selalu bermunculan, aku memutuskan memilih untuk meninggalkan Robert dengan mengatakan jika janin yang aku kandung adalah anak dari Steven. Emily tolong maafkan aku, karena menyimpan rahasia sebesar ini darimu. Tolong maafkan aku dan aku mohon padamu jangan sakiti Miki, dia tidak bersalah.” Mohon Lona.
.
.
.
__ADS_1
.
.