
Satu minggu berlalu setelah kecelakaan. Dalam satu minggu berturut-turut Mike tidak menghentikan pencariannya untuk menemukan keberadaan Miki yang mungkin sudah meninggal di dalam kecelakaan seminggu yang lalu. Namun, Mike berusaha mati-matian beranggapan jika wanita yang meninggal di dalam kecelakaan tersebut bukanlah Miki.
Setelah polisi melakukan pemeriksaan secara menyeluruh memang benar ada penumpang wanita di dalam taksi tersebut yang juga ikut terbakar. Saat polisi hendak melakukan otopsi, ternyata tidak bisa lagi karena jasadnya sudah habis terbakar hanya menyisakan abunya saja. Menurut kronologi kejadian kecelakaan tersebut, semua bukti menujukan jika penumpang wanita yang ikut terbakar bersama sopirnya itu adalah Miki Chloe.
“Tuan, sudah satu minggu kita melakukan pencarian, tetapi hasilnya nihil.” Ucap Fred pada Mike yang sedang duduk di kursi kerjanya dengan penampilan yang sangat berantakan.
“Tetap teruskan pencariannya.” Ucap Mike singkat tapi jelas.
“Maaf Tuan, pihak kepolisian sudah mengeluarkan surat pernyataan jika penumpang wanita yang terbakar di dalam taksi tersebut adalah Nona Chloe.” Kata Fred yang berhasil membuat Mike menghentikan perkerjaannya saat itu juga.
Hening seketika, Mike meremas kuat kertas di atas mejanya hingga hancur. Saat ini Mike menahan emosinya saat mendengar apa yang di katakan Fred padanya. Rasanya dia ingin sekali memukul wajah Fred saat itu juga, tapi tidak dia lakukan karena percuma saja jika dia memukul pria paruh baya itu.
“Pergilah, lanjutkan pencariannya jangan sampai kalian menghentikan pencariannya sebelum saya yang memintanya sendiri.” Perintah Mike.
Fred menghelakan nafasnya pelan sembari menjawab. “Baik Tuan, saya mengerti.” Ucap Fred dan kemudian pergi keluar dari ruangan Tuannya itu.
Setelah Fred menghilang di balik pintu, Mike langsung meluapkan amarahnya dengan menghancurkan semua benda yang ada di atas meja kerjanya. Tidak sebatas itu saja, dia berjalan dengan cepat untuk mengambil stek golf dan kemudian dia menghancurkan semua barang-barang yang ada di dalam ruangannya itu dengan menggunakan stek golf tanpa meninggalkan satu barang yang tersisa.
Serpihan kaca dan barang-barang yang sudah hancur berserakan di atas lantai. Dengan nafas menggebu-gebu, Mike melemparkan stek golf keluar balkon hingga pintu kaca balkon hancur dan serpihan kacanya berjatuhan di luar balkon.
“Tidakk…” teriak Mike sekencang mungkin yang dia bisa.
Mike tidak terima dengan kenyataan yang dia terima saat ini, dia menolak jika pihak kepolisian menyatakan Miki sudah meninggal dunia di dalam kecelakaan tersebut. Setelah berusaha mati-matian selama satu minggu ini untuk mencari Miki dan pada akhirnya Mike harus bisa terima kenyataan jika wanita yang dia cintai sudah meninggal dunia. Namun, apalah daya Mike tidak bisa melakukan semua itu, dia terus menepis kenyataan tersebut dengan membuat dirinya tidak mempercayainya.
“Aku sangat yakin jika dia masih hidup, aku hanya perlu terus mencarinya sampai menemukannya kembali.” Ucap Mike pada dirinya sendiri.
Tidak ada yang bisa Mike lakukan saat ini, dia hanya bisa menunggu sampai mendapat kabar dari orang-orangnya. Tidak tahan dengan pikiran yang mengerikan di kepalanya, Mike mengambil satu botol bir Diva Vodka dan meminumnya dengan sekali tegak.
Satu botol Diva Vodka masih tidak cukup bagi Mike untuk menghilangkan pikiran buruk di kepalanya. Mike kembali mengambil satu botol bir yang lebih keras dari pada Diva Vodka, dalam sekejap botol kedua juga habis dengan sekali tegak. Setelah menghabiskan dua botol bir, kepala Mike mulai terasa berat dan tubuhnya seperti melayang-layang di udara. Walaupun begitu, Mike masih tidak bisa melupakan kecelakaan satu minggu yang lalu di kepalanya.
“Aku sudah berusaha menghentikan mobilnya, tapi kenapa mereka tidak mendengarkan aku sama sekali. Kenapa harus seperti itu?” kata Mike dalam keadaan mabuk.
Merasa kepalanya sudah sempoyongan Mike berusaha untuk duduk di sofa di depannya itu, kaca demi kaca yang Mike injak saat melangkah menuju sofa dan pada akhirnya dia mendaratkan bokongnya di sofa dengan posisi duduk terlentang.
Di waktu yang sama, saat Mike mulai tidak sadarkan diri di atas sofa tiba-tiba pintu ruangannya terbuka.
__ADS_1
Brakkk…
“Mike, kau di mana?!” teriak Lucy dengan sangat keras saat pintu terbuka.
Terlihat wajah Lucy penuh dengan kemarahan. Saat mendapat kabar tentang jika adiknya Miki meninggal dunia, Lucy langsung terbang ke New York pada saat itu juga. Setiba di New York, Lucy langsung mendatangi Mike di kantornya dengan membawah kemarahan terhadap pria itu karena tiba-tiba dia mendapatkan kabar tentang kematian sang adik.
Saat Lucy melangkah masuk, dia menyadari keadaan kantor Mike yang hancur lebur. Tanpa memperhatikan langkahnya Lucy tetap melangkah melewati serpihan kaca yang memenuhi lantai yang dia injak.
“Lucy berhenti!” teriak Joe yang melihat istrinya itu menginjak serpihan kaca.
Lucy tidak bergeming dan tetap melangkahkan kakinya menuju Mike yang tidak sadarkan diri di atas sofa.
“Lucy, aku bilang berhenti!” bentak Joe sembari menarik istrinya itu ke dalam gendongannya.
“Turunkan aku Joe,” pinta Lucy yang hampir menangis.
Joe tidak mendengarkan apa yang dikatakan Lucy padanya, dia malah melangkahkan kakinya menginjak serpihan kaca tersebut untuk menggantikan langkah kaki Lucy. “Sangat berbahaya bagimu untuk berjalan di atas serpihan kaca ini, apakah kau lupa jika kau sedang mengandung saat ini.” kata Joe dan kemudian dia menurunkan Lucy tepat di atas sofa.
Setelah Joe menurunkannya, Lucy melangkah turun dari sofa dan mendekati Mike yang terlentang di atas sofa.
“Mike bangun…” kata Lucy sembari mengguncang-guncang tubuh Mike.
Berulang kali Lucy mencoba untuk membangunkan pria itu, tetapi tidak juga berhasil. Karena merasa sangat kesal, Lucy menarik kaki Mike hingga terjatuh di atas lantai.
Bukk…
Tubuh besar Mike menimpa lantai yang penuh dengan serpihan kaca. Saat terjatuh pria itu tidak merasakan sakit sedikit pun. “Miki jangan tinggal aku, tolong kembalilah.” Tanpa sadar Mike mengatakan apa yang dia rasakan saat ini.
Melihat kondisi Mike saat ini, membuat Lucy meneteskan air matanya dan berhenti marah pada pria itu sembari berkata. “Kembalikan Miki kepadaku pria brengsek.” Katanya sembari meneteskan air matanya.
“Sayang sudah cukup,” Joe mencoba menghentikan istrinya itu. “Apakah kau tidak bisa melihat jika keadaan Mike saat ini sudah lebih dari cukup membuatnya untuk menderita.” Kata Joe kembali.
Apa yang dikatakan Joe berhasil membuat tangis Lucy pecah saat itu juga. Sebenarnya sejak awal Lucy memasuki ruangan ini, dia sudah mengetahui jika pria ini sudah sangat menderita dan hancur karena kepergian Miki sang adik. Namun, Lucy mengabaikan semua yang dia lihat demi melampiaskan kemarahannya dan kesedihannya karena kepergian Miki yang tiba-tiba.
“Aarrrggg” erang Lucy dengan sangat histeris.
__ADS_1
Dia menangis sekuat-kuatnya hingga suaranya memenuhi ruangan tersebut. Lucy merasa sangat terpukul karena kepergian Miki, dan yang lebih membuat Lucy terpukul adalah pria yang sangat mencintai Adiknya itu terlihat sangat terpukul sekali dari pada dirinya.
“Kemarilah,” pinta Joe pada Lucy. Dengan cepat Lucy memeluk suaminya itu sembari menangis di dalam dekapan Joe.
Setelah Lucy puas menangis, Joe melepaskan pelukannya untuk meminta sekretaris Fred datang ke ruangan tersebut untuk mengurus kakaknya itu. beberapa menit kemudian Fred sudah tiba di ruangan Tuannya itu.
“Mr. Fred, tolong kau pindah Mike ke dalam mobilku sekarang dan jangan lupa bersih tempat ini.” pinta Joe pada Fred.
“Baik Tuan,” jawab Fred yang mengerti maksud dari Joe.
Setelah memindahkan Mike ke dalam mobilnya, kemudian Joe dan Lucy membawa pria itu kembali ke diaman keluarga Sea. Di sana, Joe bisa mengawasi dan memantau tingkah laku kakaknya itu setelah khawatir jika akan terjadi sesuatu yang tidak di inginkan saat membiarkan pria itu tinggal sendirian di apartemennya.
Setiba di kediaman keluarga Sea, Mike di bopong oleh Joe hingga ke kamar pria itu. setelah berada di kamarnya, Joe membaringkan Mike dengan pelan di atas ranjang dan mencoba melepaskan semua pakai yang melekat di tubuh kekar Mike.
Selama Joe berusaha melepaskan pakaian kakaknya itu, Mike selalu menyebutkan nama Miki berulang kali tanpa henti.
“Mike sejak kapan kau berubah begitu banyak seperti ini? apa yang sebenarnya yang di lakukan Miki padamu?” seru Joe pada Mike yang tak sadarkan diri itu.
Setelah Joe berkata seperti itu, tiba-tiba Mike meneteskan air matanya perlahan di wajahnya. Sebenarnya dia mendengar semua apa yang di katakan Joe padanya saat ini. tak kuasa menahan air matanya, Mike menutupi wajahnya dengan menggunakan salah satu tangannya untuk menyembunyikan tangisnya di hadapan adiknya Joe.
“Bisakah kau tinggalkan aku sendiri.” Ucap Mike dengan suara seraknya.
“Baiklah aku akan pergi, tapi ingat jangan pernah kau mencoba untuk melakukan sesuatu yang bodoh, oke.”
“Em…” Angguk Mike pelan dengan tangan menutupi bagian matanya dengan menggunakan tangannya.
Kemudian Joe pergi meninggalkan Mike sendirian di dalam kamarnya, dia tahu jika kakaknya itu perlu waktu untuk memikirkan segalanya termasuk apa yang akan dia lakukan kedepannya tanpa kehadiran Miki di sisinya.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung.