
Brakkk pintu kamar Miki terbuka lebar.
Miki yang sedang tertidur terlelap sentak terbangun karena suara bantingan pintu yang tiba-tiba. “Siapa?” suaranya serak seperti tersedak air liur sendiri.
Dalam keadaan setengah mengantuk Miki berusaha untuk menjernihkan penglihatannya. Ia mengucak-ngucak kedua matanya menggunakan punggung jari-jarinya secara perlahan.
“Bagus kau sudah bangun,” Mike berjalan ke arah Miki. Dia melipat lengan kemejanya hingga ke sikut. Setelah tepat berada di dekat ranjang Mike langsung mengendong Miki ala bridal style.
“Apa yang kau lakukan? Turunkan aku sekarang juga.” Pekik Miki. Mike tidak menggubris dan malah mengabaikannya. “Turunkan aku!” amuk Miki.
Untuk menghentikan amukan wanita ini Mike langsung memukul pantat Miki. Buk suara pukulan Mike.
“Apa kau sudah Gila?” seru Miki terengah-engah kehabisan nafas. “Cepat turunkan aku sekarang juga!” bentak Miki, merasa tak puas dia memukul dada bidang Mike berulang kali.
“Oke baiklah,” Mike menurunkan Miki duduk dia atas kursi makan, di sana sudah tersedia berbagai macam hidangan lauk pauk mewah.
Mata Miki terbelalak melihat hidangan di atas meja makan. dia menyekat sudut bibirnya yang keluar iler dengan menggunakan ujung jarinya. Sekali-kali dia menelan ludahnya karena tergiur dengan makanan tersebut.
Aku sangat lapar, pria mesum ini sangat ingin sekali menang dalam pertarungan ini. Kalau begitu aku juga tidak akan kalah walau pun harus menahan lapar sekali pun. Mata tajam Miki sekilas melirik Mike.
“Apa yang kau lihat? Makan sekarang juga.” Perintah Mike.
Hem, kau pikir bisa menyogok ku dengan makanan ini. Batin Miki.
“Tidak,” tolak Miki membuang mukanya.
“Dasar wanita keras kepala.” Mike berkacak pinggang. Dia kesal wanita ini sangat kepala batu. “Ayo makan sekarang, jangan sampai aku mengulangi perkataanku.” Mike merasa dongkol pada Miki.
Aku tidak akan kalah. Batin Miki.
“Tidak, tidak, Tidak.” Miki melipat kedua tangannya di atas dada dengan angkuh.
Sesaat Mike mengentakkan ujung kakinya seraya berpikir. Setelah berpikir dia tersenyum tipis. “Baiklah jika kau tidak ingin makan aku bisa membuatmu mau makan,”
“Silakan jika kau bisa,” tantang Miki.
“Tentu saja aku bisa,” dengan santai Mike mengeluarkan ponselnya dari dalam sakunya.
“Benarkah.” sungguh saat ini Miki sedang meremehkan kemampuan seorang Mike.
__ADS_1
“Kau sungguh angkuh,” Mike menyalakan layar ponselnya. “ Kita lihat sampai di mana keangkuhanmu itu jika aku menghubungi tante Lona.” Mike menatap licik Miki yang berada di sampingnya itu.
“Apa yang kau lakukan?” seru Miki.
“Tidak ada cara lain selain menghubungi tante Lona, aku akan bilang semua yang terjadi padamu. Aku berani bertaruh jika tante Lona mendengarnya dia akan sangat khawatir sekali.” Mike tersenyum tipis seraya menatap layar ponselnya.
“Apa kau mengancamku?” tatap Miki tak senang.
“Jika kau tidak makan sekarang maka apa yang aku ucapkan bukan lagi ancaman melainkan akan terjadi sekarang juga.” Mike menekan tombol menghubungi.
“Baiklah aku makan sekarang juga,” Miki berdecak kesal.
“Begitu dong, jika kau menurut begitu kan enak.” Mike tersenyum kemenangan. “Kenapa kau menatapku seperti itu? Makan sekarang.” Mike kembali mengancam untuk menekat tombol layar ponselnya.
“Baiklah aku makan,” ketus Miki seraya menyuap makanan ke dalam mulutnya.
Baiklah untuk sekarang kau boleh menang dalam pertarungan ini, untuk lain kali aku tidak akan kalah dengan mudah. Batin Miki.
Mike tersenyum karena telah memenangkan pertarungan siapa yang lebih keras kepala dan lebih berkuasa di antara mereka berdua.
“Boleh aku bertanya?” seru Miki serius dengan memperlihatkan wajah kesalnya.
Sebelum mengajukan pertanyaan Miki menelan habis makanan yang ada di dalam mulut. “Sebenarnya apa yang membuat Mami percaya padamu untuk menyerahkan tanggung jawabnya atas diriku kepadamu?”
Mike mengarut pelipisnya menggunakan telunjuk jarinya. Seakan dia berpikir untuk berkata jujur atau tidak, lebih tepatnya beritahu atau tidak alasan di balik pertanyaan dari Miki.
“Kenapa kau tidak menjawab?” kesal Miki.
Mike berhenti mengarut pelipisnya dan mengeluarkan salah satu tangannya dari saku celananya. “Baiklah karena kau yang bertanya, aku akan memberitahumu kenapa Tante Lona memberikanmu padaku.” Mike beranjak duduk samping kursi Miki.
Sedangkan Miki menghadapkan kursinya ke hadapan Mike. Dia ingin langsung menatap mata Pria itu dengan sungguh-sungguh karena dia ingin mengetahui apa yang akan di katakan pria ini jujur atau berbohong.
“Tante Lona adalah pebisnis yang berbakat, tetapi beberapa bulan yang lalu dia teledor sehingga partner bisnisnya menipu dirinya dengan sangat mudah. Akibatnya, tante Lona harus bertanggung jawab dengan membayar uang ganti rugi milyaran Dolar.” Mike menyilangkan kaki jenjangnya untuk mendapatkan posisi nyaman untuk duduk.
“Kenapa Mami tidak memberitahukannya padaku masalah sebesar ini.” tutur Miki tanpa sadar.
“Hahaha, apa gunanya Tante Lona memberitahukannya padamu,” Mike tertawa kecil karena wanita yang ada di depannya ini benar-benar tidak tahu apa-apa.
“Kenapa?” seru Miki tak senang dengan respons yang di tunjukan Mike.
__ADS_1
“Masalah tidak akan selesai jika tante Lona memberitahukannya padamu, malah yang ada kau akan menambah masalahnya.” Dengan angkuh Mike menatap Miki.
“Berhenti memandang ku rendah, aku tahu apa yang harus aku lakukan.” Wajah Miki memerah. “Sekarang aku tanya satu kali lagi, Kenapa Bisa Mami menyerahkan aku padamu?” seru Miki kesal.
Wanita ini sungguh tidak tahu apa-apa. Batin Mike.
“Di dunia ini tidak ada yang tidak bisa aku lakukan, demi mendapatkan uang tante Lona menemuiku untuk meminjam uang, tetapi sebagai pebisnis aku tidak mungkin meminjamkan uangku begitu saja padanya. Sebagai gantinya tante Lona harus menyerahkan hak penuh atas dirimu padaku.” Tutur Mike sombong.
“Apakah Lucy juga mengetahui hal ini?” tanya Miki menggenggam erat kedua tangannya.
“Tentu saja dia tahu, dia menikah dengan adikku Joe juga sebagai jaminan.” Mike kembali membuat Miki meremas-remas kedua tangannya sendiri.
Kenapa Mami tega menjual aku dan kakak? Seru batin Miki. Tanpa sadar kedua tangannya memerah karena terlalu kuat meremasnya.
Melihat kedua tangan Miki terkepal kuat, tanpa berbicara Mike mengetahui jika wanita ini sangat marah dan kecewa terhadap ibunya sendiri karena beranggapan bahwa sang ibu menjualnya dan sang kakak demi uang.
“Apa yang kau pikirkan sekarang?” tanya Mike untuk mengetahui apa yang di pikirkan wanita ini tentang ibunya sendiri. Miki tidak menggubris pertanyaan yang di lontarkan Mike. “Apa Kau Pikir tante Lona dengan mudahnya mau menjual kalian pada keluarga Sea,” Mike berhasil membuat Miki mendongkak menatapnya.
“Apa maksudmu?” seru Miki, dia tak mengerti apa yang sebenarnya telah terjadi.
“Maksudku tante Lona tidak menjual kalian berdua pada Keluarga Sea, dia menyerahkan kalian demi kebaikan kalian berdua. Dia setuju menyerahkan kalian berdua dengan mengajukan syarat pada Keluar Sea.”
“Syarat?” Miki terlihat sangat bingung sekaligus penasaran.
“Tante Lona setuju memberikanmu dan Lucy kepada keluarga Sea itu karena syarat yang dia minta di penuhi oleh keluarga Sea. Dia meminta keturunan dari keluarga Sea menikahi kakakmu Lucy agar masa depan kakakmu tidak hancur karena masalah bisnisnya yang bangkrut. Sedangkan kau, tante Lona ingin kau hidup bahagia dan bebas tanpa mengkhawatirkan statusmu sebagai anak yang tidak SAH. Tante Lona ingin kedua anaknya tidak menderita karena kesalahan yang dia buat berimbas kepada kalian.”
Mami maafkan aku. Air mata Miki mengalir membasahi pipinya.
“Aku harap kau tidak menyia-nyiakan pengorbanan tante Lona dengan bersikap membangkang. Tante Lona ingin kau menuruti dan mematuhiku, bukannya bersikap seakan kau sangat membenciku begini. Sebenarnya apa yang kau khawatirkan? Kau hanya perlu hidup seperti yang di inginkan tante Lona padamu, kau tidak perlu memikirkan apa yang aku lakukan. Kehidupan pribadiku tidak ada hubungannya denganmu kenapa kau bersikap seakan aku ini adalah pria brengsek dan mengerikan. Aku rasa kehidupan pribadiku tidak melukaimu sama sekali.” Kata Mike yang ingin Miki melupakan semua keburukannya.
Apa yang dia katakan ada benarnya, kenapa aku harus peduli dengan kehidupan pribadinya. Toh aku bukan siapa-siapa di dalam kehidupannya, lebih baik aku lupakan saja apa yang aku rasakan terhadapnya. Apa pun caranya akan aku lakukan untuk menghilangkan apa yang sempat aku rasakan padanya. batin Miki.
Miki menyekat air matanya, dia berusaha bersikap tegar di hadapan Mike.
.
.
.
__ADS_1