Pria Kaya Menginginkan Gadis Pemalu

Pria Kaya Menginginkan Gadis Pemalu
28. Pria Kaya


__ADS_3

Sakit tidak bisa menghentikan Mike untuk bekerja. Sebagai CEO di perusahaan SEA, dia harus selalu bekerja apa pun yang terjadi.


Penampilan rapinya dengan mengenakan jas berwarna hitam, dia siap untuk pergi ke kantor. “Di mana ponselku?” seru Mike pelan.


Sekilas Mike melihat ponselnya berada di atas nakas tepat di samping ranjangnya. Saat hendak mengambil ponselnya Mike melihat sebuah mangkuk yang ditutup dengan sebuah memo di atasnya.


Tuan di makam buburnya. Mike meletakan kembali kertas tersebut di atas nakas. Mike duduk di tepian ranjangnya untuk melahap bubur itu sampai habis.


Setelah kenyang Mike membuka pintu kamarnya, dan di balik pintu ada sekretaris Fred dan pengurus Villa Bret sudah berdiri menyambutnya.


“Tuan apakah Anda baik-baik saja?” seru Fred yang berdiri sigap di depan Tuannya itu.


“Ya, saya baik-baik saja.” Mike membenarkan dasinya. “Mr. Fred, apakah kau sudah menghubungi pihak konstruksi?” tanya Mike yang langsung membahas soal pekerjaan dengan Fred.


“Semuanya sudah beres Tuan, hanya menunggu komfirmasi pelaksanaan pembangunannya.”


“Bagus, pantau terus kinerja pembangunannya jika di mulai membangun, jangan sampai ada kesalahan sedikit pun.” Mike melangkahkan kakinya satu langkah mendekati Bret. “Dan Nyonya Bret terima kasih atas buburnya.” Ucap Mike pada Bret.


“Maaf Tuan bukan saya yang membuatkan Anda bubur, tetapi Nona Chloe yang membuatnya.” Ujar Bret yang membuat Mike membeku seketika.


“Nona Chloe?” seru Mike kaget.


“Benar Tuan, dan yang merawat Tuan semalaman juga Nona Chloe.” Bret menunduk tak berani menatap Tuannya itu.


Mike membulatkan matanya saat mendengar apa yang di katakan Bret padanya. Dia tidak percaya jika Miki yang merawatnya.


“Bukannya Cindy yang merawat saya semalam?” Mike kembali memastikan siapa yang sebenarnya yang telah merawatnya semalam.


“Tuan saya melihat dengan mata kepala saya sendiri jika Nona Chloe yang membawa Tuan ke kamar dan merawat Tuan hingga pagi. Nona selalu terjaga demi merawat Tuan.” Bret menjelaskan apa yang terjadi semalam.


“Terus kenapa dia tidak ada saat aku terbangun?” tanya Mike.

__ADS_1


“Pagi-pagi sekali Nona pergi ke dapur untuk membuatkan Tuan Bubur, oleh sebab itu Tuan tidak melihatnya saat Tuan terbangun.” Sekilas Bret menatap wajah Mike yang tersenyum.


Apakah aku tidak salah lihat, Tuan tersenyum. Batin Bret, dan kemudian dia kembali menundukkan kepalanya.


“Di mana Nona Chloe sekarang?” tanya Mike pada Bret.


“Nona ada di kamarnya, Tuan.” Jawab Bret dengan pelan.


“Baiklah Nyonya Bret kau boleh pergi sekarang, dan Mr Fred siapkan mobilnya sebentar lagi kita berangkat setelah saya menemui Nona Chloe.” Mike pergi menuju kamar Miki.


“Baik Tuan,” Fred pergi untuk menyiapkan mobil, sedangkan Mike pergi mengunjungi Miki di dalam kamarnya.


Saat tiba di depan pintu kamar Miki, ternyata pintunya tidak terkunci dan sedikit terbuka. Tanpa mengetuk atau pun meminta izin terlebih dahulu Mike masuk begitu saja. Ketika pintu terbuka Mike melihat Miki yang sedang tertidur pulas di atas ranjang dengan posisi kepala sedikit mengantung di tepian ranjang. Rambut bergelombangnya yang jatuh terjuntai menggantung di ujung ranjang dengan mulut yang sedikit terbuka.


“Hem…posisi tidur macam apa itu?” Ucap Mike tersenyum seraya berjalan mendekati Miki yang tertidur pulas.


Perlahan tapi pasti, Mike terus tersenyum melihat Miki yang tertidur dengan posisi kepala dan kaki yang mengantung. “Kenapa kau sangat imut sekali,” bisik Mike di telinga Miki. Secara perlahan Mike mendekatkan bibirnya di pipi wanita itu untuk kecupnya ringan. Lalu bibir Mike kembali mendekati bibir Miki yang sedikit terbuka, dengan kedua sudut bibir terangkat Mike mengecup satu kali bibir lembut itu.


“Tidur yang nyenyak, jangan nakal saat aku tidak ada.” Mike kembali berbisik di telinga Miki. Kemudian dia kembali mengecup lembut bibir wanita itu. Miki yang sejak dari tadi tertidur pulas tidak menyadari kehadiran Mike di dekatnya.


“Mr. Fred berangkat sekarang,” Mike tersenyum sendiri saat berada di dalam mobil. Sedangkan Fred yang berada di kursi depan melirik Tuannya itu dari kaca spion mobil menatapnya tak percaya dengan apa yang dia lihat.


Apakah suasana hatinya sedang baik hari ini. Batin Fred.


***


Terlalu lelap tertidur, Miki terbangun saat sore hari. Hal yang pertama dia lakukan saat matanya mulai sedikit terbuka adalah mengikat rambut panjang bergelombangnya dengan menggunakan karet gelang yang selalu melingkar di pergelangan tangannya, kemudian dia mengikat ujung T-shirt-Nya hingga memperlihatkan Pinggang mungilnya. Setelah itu Miki melakukan perenggangan tubuhnya yang terasa pegal saat terbangun dari tidur.


Setelah melakukan perenggangan Miki beranjak turun dari ranjangnya untuk mengambil air minum di atas nakas yang terletak di seberang ranjangnya.


Hiks, Hiks, Hiks. Terdengar suara tangisan di luar balkon. Karena penasaran dengan suara tangis itu, Miki berjalan keluar balkon untuk mengikuti suara tangis tersebut. Setelah berada di balkon Miki melihat di balkon seberang, di sana Miki bisa melihat jika suara tangis tersebut adalah tangisan Cindy.

__ADS_1


“Apakah kau tidak apa-apa?” seru Miki pada Cindy yang di seberang sana.


Cindy hanya melihat Miki sekilas kemudian dia kembali menangis. Hiks, Hiks, Hiks. Suara tangisnya.


Tidak mendapat tanggapan, Miki memilih untuk diam dan duduk seraya bersandar di dinding, menunggu sampai wanita yang di seberang sana berhenti menangis.


Setelah menunggu pada akhirnya suara tangis Cindy menghilang. Dia menghapus air matanya menggunakan telunjuk jarinya dengan lembut.


“Maaf, membuatmu mendengar suara tangisku.” Ucap Cindy tersenyum pada Miki.


Miki tersenyum membalas senyuman Cindy di seberang sana. “Bolehkan aku mengetahui alasan di balik tangisanmu itu?” tanya Miki yang ragu-ragu mengatakannya.


Diam sejak, tak ada suara dari wanita seberang sana. Sepertinya wanita itu ragu-ragu untuk menceritakannya pada Miki.


“Tidak apa-apa, jika tidak ingin menceritakannya,” Miki tersenyum seakan dia tidak terlalu memaksakan wanita itu untuk bercerita.


“Aku menangis karena cintaku tak berbalas setelah sekian lama aku bersamanya, tetap saja aku tidak pernah bisa mendapatkan cintanya. Bertahun-tahun aku bertahan dan berusaha menutup mataku seakan aku tidak melihat wanita lain selain diriku di sisinya. Aku terus tetap bertahan dan terus mencintainya walaupun aku tahu tidak ada tempat bagiku di dalam hatinya.” Dengan sangat jujur Cindy mengatakan isi hatinya pada Miki.


“Kenapa kau tidak menyerah saja?” tanya Miki yang penasaran kenapa dia tetap bertahan walaupun dia tahu akan melukainya jika terus bertahan.


“Menyerah, sudah berkali-kali aku mencoba untuk menyerah, dan semuanya sia-sia saja.” Cindy tersenyum kecut di wajahnya.


“Kenapa?” tanya Miki kembali.


“Karena aku terlambat untuk menyerah, sepenuhnya hatiku telah aku berikan padanya. Tidak ada yang bisa aku lakukan sekarang, selain menunggunya untuk mencintaiku.” Cindy tersenyum seakan dia berkhayal Mike membalas Cintanya. “Kau beruntung memiliki hati yang masih utuh. Jika aku menjadi dirimu, aku akan memilih tidak mencintai.” Sambung Cindy.


Kau salah, aku juga sama sepertimu. Hati yang aku miliki tidak lagi utuh, hatiku secara perlahan telah terkikis sedikit demi sedikit karena benih cinta yang sempat aku tanam di dalam hatiku. Batin Miki.


Melihat ketulusan hati Cindy mencintai Mike membuat Miki membisu, dia tidak tahu mengatakan apa lagi selain membungkam mulutnya itu. Di bandingkan dirinya Cindy sudah sangat lama menyukai pria itu, saat mengetahui Mike memiliki banyak wanita di dalam hidupnya sudah membuat Miki hancur seperti serpihan kaca yang pecah. Sedangkan Cindy hatinya begitu kuat sehingga dia bisa bertahan sampai sekarang.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2