
“Masuklah ke kamarmu sekarang, nanti kita bicarakan masalah ini nanti.” Kata Mike yang terlihat sangat lelah.
“Apakah kau baik-baik saja?” tanya Miki yang sedikit khawatir pada pria itu.
“Kenapa, apakah kau khawatir padaku?” goda Mike.
Dasar pria gila, siapa juga yang khawatir. Malah yang ada aku senang jika kamu kenapa-kenapa. Batin Miki.
“Tidak, aku hanya bertanya.” Miki tersenyum kaku dan membalik tubuhnya untuk membuka pintu kamarnya, dan tiba-tiba ada tangan yang melingkari pinggang Miki.
“Hanya sebentar saja, biarkan aku memelukmu.” Kata Mike yang memeluk Miki dari belangkang.
“Apa ada sesuatu yang terjadi?” tanya Miki yang sedikit bergerak dari pelukan Mike.
“Aku mohon, tetaplah seperti ini untuk beberapa saat lagi. Aku janji akan melepaskanmu.” Mike semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Miki.
Lembutnya pelukan Mike membuat Miki merasa nyaman berada dalam dekapannya. Miki bisa merasakan nafas hangat Mike menggelitiki lehernya. Rasa hangat di satu titik memberi kehangatan pada seluruh tubuh Miki, sehingga mengalir ke dalam jantung.
Astaga…kenapa jantungku berdebar-debar seperti ini. Batin Miki.
“Berapa lama lagi kau akan memelukku seperti ini?” seru Miki.
Tak ada tanggapan dari Mike, dia tetap memeluk Miki dengan erat. Miki membalikkan badannya menghadap Mike, saat berbalik pria itu tiba-tiba bernafas berat dan tidak teratur. Entah mengapa tangan Miki menatap kening pria itu untuk memastikan suhu tubuhnya, saat menyentuhnya Miki merasakan panas pada telapak tangannya.
Tubuhnya panas sekali. Batin Miki.
“Tuan mesum, apakah kau baik-baik saja” tanya Miki seraya menopang tubuh besar Mike. Tidak ada respons sama sekali, Mike sudah tidak sadarkan diri di pelukan Miki.
Astaga tubuhnya berat sekali, bagaimana bisa aku membawah dia kamarnya. Miki mendengus kesal seraya membopong tubuh besar Mike.
Saat berusaha membopong Mike menuju kamarnya, Miki bertemu Bret. “Nyonya Bret, tolong bantu saya.” Ucap Miki yang sudah tidak tahan lagi menahan beban berat tubuh Mike.
Bret yang datang mendekat langsung membantu Miki membopong tubuh besar Mike masuk ke dalam kamarnya.
“Nona, Tuan kenapa?” tanya Bret setelah meletakan Mike di ranjang.
__ADS_1
“Aku rasa dia kelelahan, dan suhu tubuhnya juga sangat panas.” Miki menyelimuti tubuh Mike dengan selimut tebal. “Nyonya Bret tolong ambilkan obat dan air hangat untuk mengompresnya.” Pinta Miki pada Bret.
“Baik Nona.” Dengan cepat Bret keluar untuk mengambilkan apa yang di minta Miki.
Beberapa saat kemudian Bret kembali dengan membawa obat dan air hangat untuk mengompres Mike. “Ini Nona.” Bret memberikannya pada Miki.
“Terima kasih Nyonya Bret,” Miki langsung mengambil handuk, lalu membasahinya dengan air hangat yang ada di dalam wadah. Dia meletakan handuk kecil itu dia atas kepala pria itu.
“Nyonya Bret tolong kau panggilkan dokter sekarang,” suruh Miki pada Bret.
“Baik Nona.” Jawab Bret yang pergi untuk menghubungi dokter.
Miki terus mengompres kepala Mike dengan menggunakan handuk kecil, dia juga membilas tubuh Mike dengan handuk yang sudah di basahi air hangat. kemudian Miki juga menyelimuti tubuh Mike dengan beberapa lapis selimut agar tubuh pria itu mengeluarkan keringat yang banyak.
Hampir satu jam menjaga dan merawat Mike, akhirnya dokter datang dan memeriksa keadaan Mike.
“Nona Anda tidak perlu cemas, Tuan Mike baik-baik saja sekarang. Apa yang Nona lakukan sudah membuat Tuan Mike lebih baik, saya tidak perlu melakukan apa pun lagi untuk membantunya.” Kata dokter tersebut pada Miki.
“Apa dokter yakin?” seru Miki yang tanpa sadar mengkhawatirkan Mike.
“Baiklah dokter, terima kasih sudah mau menyempatkan diri datang kemari.” Ucap Miki.
“Tidak perlu berterima kasih Nona, sudah seharusnya saya merawat Tuan Mike.” Kata dokter tersebut dan kemudian pergi meninggalkan Villa.
***
Pagi hari, Mike terbangun dari tidurnya. Saat membuka matanya dia melihat di tubuhnya ada begitu banyak selimut yang menyelimuti tubuhnya.
Siapa yang melakukan hal bodoh ini padaku. Gerutu batin Mike yang tak senang melihat tumpukan selimut di atas tubuhnya.
Kemudian Cindy masuk ke dalam kamar Mike setelah pria itu bangun dari tidurnya. “Apa yang terjadi?” seru Mike pada Cindy yang baru datang.
“Semalam kau sakit, tubuhmu terlalu panas hingga tidak sadarkan diri semalaman.” Cindy mendekat ke ranjang di mana Mike berbaring.
“Apakah kau yang merawatku semalaman?” tanya Mike seraya beranjak duduk.
__ADS_1
“Kau jangan bergerak dulu, saat ini kau butuh istirahat penuh.” Kata Cindy yang mengalihkan pembicaraan.
“Jam berapa sekarang?” Mike menyingkirkan tumpukan selimut dari tubuhnya.
“Jam dua siang.” Jawab Cindy seraya membantu Mike berdiri.
“Keluar dari kamarku sekarang.” kata Mike yang meminta Cindy pergi dari kamarnya. Terlihat jelas di wajah Mike jika dia tidak senang melihat Cindy berada di kamarnya saat ini.
Tanpa berbicara lagi Cindy pergi keluar dari kamarnya Mike, dia terlihat kecewa dengan sikap dingin Mike padanya. Saat Cindy melangkah keluar Mike berkata padanya.
“Lain kali kau jangan pernah masuk ke dalam kamarku lagi tanpa izin dariku, mengerti.” Suara dingin Mike menunjukkan ke tidak sukaannya terhadap Cindy.
“Ya saya mengerti,” suara Cindy terdengar sedikit bergetar, dia hampir saja menangis di hadapan Mike.
“Bagus jika kau mengerti dengan apa yang aku katakan, dan untuk kali ini aku maafkan karena kau telah merawatku semalam.” Suara dingin Mike kembali menyelimuti hati Cindy yang sedih.
“Terima kasih,” ucap Cindy dengan bendungan air di matanya.
“Kau boleh pergi sekarang.” kata Mike seraya memalingkan wajah dari Cindy, dan menuju kamar mandi.
Setelah Cindy keluar dan pergi jauh dari kamar pria itu, Miki datang membawakan bubur untuk Mike. Saat membuka pintu Mike sudah tidak ada di ranjangnya, karena tidak ada orang Miki hanya meletakan bubur itu di atas nakas lalu mencari sosok Mike di semua sudut ruangan.
Ke mana dia pergi? Tidak mungkin dia pingsan di suatu tempat. Batin Miki.
Miki terus mencari sosok Mike di dalam kamar yang terbilang sangat besar itu, tetap saja dia tidak dapat menemukannya. Tetapi saat dia mendekati kamar mandi, Miki mendengar seseorang di dalam kamar Mandi.
“Mungkin itu dia.” Miki memelankan suaranya agar pria yang berada di dalam kamar mandi itu tidak mendengarnya.
Lebih baik aku pergi dari sini sekarang juga, sebelum dia keluar dari sana. Batin Miki.
Perlahan Miki melangkahkan kakinya menuju nakas di samping ranjang pria itu. Dia mengambil kertas pulpen di dalam laci untuk menuliskan sesuatu di sana. Setelah selesai menuliskan, Miki meletakan kertas tersebut dia atas tutup mangkuk bubur yang dia bawahkan untuk Mike, kemudian pergi dari sana.
.
.
__ADS_1
.