Pria Kaya Menginginkan Gadis Pemalu

Pria Kaya Menginginkan Gadis Pemalu
63. Gadis Pemalu


__ADS_3

Mike merasa sangat bahagia sekarang, karena wanita yang sangat dia cintai tersenyum bahagia kepadanya. “Apakah kau siap?” tanyanya.


“Siap untuk apa kali ini?” Tanya Miki balik.


Mike melengkungkan bibirnya ke atas, seakan dia memberikan sebuah kode supaya Miki untuk menyiapkan dirinya akan sesuatu yang telah dia persiapkan untuk istrinya itu.


“Tutup matamu sekarang,” pinta Mike.


“Untuk apa?” Tanya Miki mulai penasaran.


“Tutup saja, nanti kau akan mengetahuinya.”


“Oke baiklah,” Miki menutup matanya sesuai dengan perintah dari suaminya itu.


Kemudian Mike mengirimkan pesan pada seseorang. Setelah beberapa detik kemudian dia meminta Miki untuk membuka matanya.” Sayang Buka matamu sekarang,”


Perlahan Miki mulai membuka matanya.


Tiba-tiba…


“Sekarang…” ucap Mike.


Tepat pada saat Miki membuka matanya, kota California menjadi gelap gulita dan hanya ada satu titik cahaya berwarna merah yang terlihat.


“Kenapa kota California gelap sekali?” seru Miki yang bingung.


Beberapa detik kemudian titik cahaya merah tersebut mulai bertambah menjadi sebuah lingkaran yang tak sempurna kemudian titik cahaya merah tersebut terus bertambah membentuk sesuatu simbol yang melambangkan sebuah perasaan yang sangat mendalam, sebuah simbol hati.


“Astaga…apakah kau yang membuat semua ini?” Tanya Miki yang tidak percaya akan apa yang dia lihat saat ini.


“Apakah kau menyukainya?”


“Emm...”


Tidak ada kata-kata yang dapat menjelaskan perasaan Miki saat ini. Rasa kagum akan hal yang di lakukan Mike saat ini, membuat hatinya bergelora. Sungguh rasa cinta yang Miki rasakan saat ini semakin besar dan semakin dalam saja berkat hal kecil yang di lakukan dengan sangat tulus dari sosok suaminya itu.


“Sayang terima kasih, aku sangat menyukai semua ini.” ucap Miki dengan menggenggam erat tangan Mike yang sedang memegang pengemudi.


Mike mengalihkan perhatiannya kepada Miki di sebelahnya. Dia mendapati ketulusan hati yang di rasakan oleh istrinya itu. “Sayang, apa pun yang aku lakukan semua ini bukan untuk mendengarkan dan memintamu untuk berterima kasih padaku. Semua yang aku lakukan ini karena aku ingin membuatmu merasa bahagia saat kau bersama denganku. Kau adalah wanitaku, belahan jiwaku, hidup dan matiku.”


Kata-kata tulus dari hati yang pernah di ucapkan Mike, berhasil membuat kupu-kupu yang sejak lama berada di dalam perut Miki mengaduk-gaduk perasaannya saat ini. Mata yang di tunjukan Mike saat ini terlihat sangat tulus dan dalam, sehingga mengundang Miki untuk melakukan sesuatu yang bisa di bilang tanggapan dari rasa tulus yang di tunjukan oleh suaminya itu.


Perlahan-lahan Miki mendekatkan wajahnya sembari mengerucutkan bibir ranumnya untuk mencium bibir seksi Mike.


Dag…dig…dug.


Suara detak jantung Miki saat hendak mencium suaminya itu. semakin dekat dan semakin dekat bibirnya pada bibir suaminya itu. tiba-tiba helikopter yang mereka naiki berguncang, dan Miki terbangun dari tidurnya.


“Astaga…aku masih saja memimpikan apa yang terjadi pada malam itu, padahal sudah tiga hari yang lalu aku masih mengingat jelas detail hal manis yang di lakukan Mike pada malam itu.” kata Miki pada dirinya sendiri saat terbangun dari tidurnya. Dia tersenyum sipu malu pada dirinya sendiri karena tidak bisa menghilangkan ingatannya tentang kejadian pada malam itu.


“Miki…apakah kau sudah bangun?” teriak Lona di balik pintu kamarnya.


“Ia…aku sudah bangun.” Balas teriak Miki.


“Cepat siap-siap, sopir yang di kirim oleh Mike sudah ada di depan rumah menunggumu untuk berangkat.”


“Apa!” teriak Miki kaget.

__ADS_1


Hari ini adalah jadwal Miki kembali ke Santa Monica. Tepat satu minggu di sudah berada di California sesuai janjinya pada Mike.


Astaga… kenapa cepat sekali dia mengirim sopir untuk menjeputku. gerutu Miki dalam hatinya.


“Miki…cepat pergi mandi sekarang, nanti tidak keburu sarapan.”


“Ia…aku mandi sekarang.” Teriak Miki.


Dengan cepat Miki turun dari ranjangnya dan mengayunkan kakinya menuju kamar mandi. setelah selesai mandi, Miki langsung memakai dress selutut berwarna putih dengan corak bunga-bunga. Setelah itu Miki menuju meja rias lalu memakai make up tipis pada wajahnya. Selesai bersiap-siap kemudian Miki menuju lemari pakainya dan mengambil koper yang sudah di paking semenjak semalam olehnya.


“Baiklah, aku siap untuk berangkat.” Katanya.


Kemudian Miki pergi keluar kamarnya, lalu meletakkan kopernya di ruangan tengah kemudian dia menuju meja makan untuk sarapan bersama Lona.


“Sayang apakah semuanya sudah siap?” Tanya Lona ketika Miki duduk di kursi makan.


“Em…” angguk Miki pelan sembari mengambil beberapa roti bakar yang sudah di siapkan oleh Lona.


“Baiklah kalau begitu, cepat habiskan makananmu sekarang. kasihan sopir yang di depan sana sudah lama menunggu.”


“Baiklah.”


Miki terus mengunyah roti panggang yang sudah sejak dari tadi dia makan hingga habis. Lalu Miki juga meminum segelas susu tanpa menyisakan setetes pun susu di dalam gelas tersebut.


“Aku selesai sarapannya.” Ucap Miki sembari meletakkan gelas susu di atas meja.


Belum sempat Lona menyelesaikan sarapannya, dia langsung berhenti makan. Kemudian dia beranjak berdiri dan mengayunkan kakinya mendekati Miki yang berada di depannya.


“Ayo biar Mami antar,” ucap Lona.


Mereka melangkahkan kakinya bersama hingga ruangan tengah, lalu Miki mengambil koper yang sebelumnya sempat dia letakkan di sana. Kemudian mereka melangkah ke pintu keluar dan di sana sopir yang di kirim oleh Mike sudah siap dan sigap langsung mengambil ahli koper yang di bawah oleh Miki.


“Terima kasih,” ucap Miki dengan tersenyum sopan pada sopir tersebut.


“Sayang, jika sudah sampai di Santa Monica tolong kabari Mami ya,” kata Lona yang mulai memasang wajah sedihnya saat anaknya Miki hendak pergi meninggalkannya sendirian.


“Pasti aku akan mengabari Mami jika sudah tiba di Santa Monica,”


“Kemarilah, biarkan Mami memelukmu sebelum kau pergi.” Pinta Lona yang langsung memeluk Miki dengan sangat erat. “Jaga dirimu baik-baik ya, jangan sampai kau biarkan dirimu dalam bahaya.” Ucap Lona kembali.


“Baiklah, aku akan menjaga diri baik-baik. Mami juga jaga diri baik-baik di sini, jika terjadi sesuatu pada Mami, jangan lupa beritahu aku ya.”


“Baiklah, Mami janji akan jaga diri baik-baik.” Lona semakin mengeratkan pelukannya pada Miki. “Mami akan sangat merindukanmu."


“MAku juga akan sangat merindukan Mami,” ucap Miki sembari melepaskan pelukannya pada Lona.


Dengan tersenyum terpaksa Miki membalikkan badanya membelakangi Lona untuk masuk ke dalam mobil.


“Miki, hati-hati di jalan.” Ucap Lona menghentikan langkah kaki Miki untuk menuruni beberapa anak tangan di depannya.


Miki berbalik menatap Lona yang sedang melambaikan tangannya pada Miki dengan tersenyum kaku, karena menahan sedih.


“Mami, aku berangkat sekarang,” ucap Miki tersenyum lepas pada ibunya itu, dan kemudian dia menuruni anak tangga hendak masuk ke dalam mobil.


“Silakan masuk Nona,” kata Sopir sembari membukakan pintu mobil untuk Miki.


“Terima kasih,”

__ADS_1


Setelah masuk ke dalam mobil, Miki menurunkan kaca mobilnya untuk melihat ibunya. Berusaha agar tidak menangis, Miki terus berusaha untuk tersenyum di hadapan ibunya itu. “Bye Mami,” Miki tersenyum seraya melambaikan tangannya pada Lona sebagai tanda perpisahan.


“Hati-hati di jalan.” Ucap Lona dengan nada suara sedikit keras.


Setelah mobil yang membawa Miki keluar dari pintu gerbang, kemudian Miki menaikkan pintu kacanya. Senyum ceria yang dia perlihatkan sejak dari tadi pada Lona kini luntur begitu saja. Ekspresi wajahnya mulai berubah menjadi muram dan sedih, setelah pergi meninggalkan Lona. Miki mulai memperlihatkan rasa sedihnya di dalam mobil.


Drrrt drrrt drrrt.


Ponsel Miki yang berada di dalam tasnya bergetar. Mike menelepon.


“Halo,”


“Halo sayang, apakah kau sudah berangkat sekarang?” Tanya Mike yang berada di ujung sana.


“Em…aku sekarang sudah dalam perjalanan menuju Santa Monica,” terdengar suara Miki yang tidak bersemangat.


“Sayang apakah kau baik-baik saja?”


“Ia, aku baik-baik saja.” Jawab Miki singkat.


“Terus kenapa suaramu terdengar seperti tidak bersemangat seperti itu?” Tanya Mike kembali di dalam telepon.


Miki menghelakan nafas panjangnya saat mendengar pertanyaan suaminya itu. dia tidak tahu harus berkata apa sekarang, tetapi saat ini Miki tidak bisa berbohong sekarang karena suaminya itu sudah terlebih dahulu menyadarinya. “Sungguh aku baik-baik saja, jangan khawatir.”


“Miki katakan, ada apa?” terdengar suara Mike yang mulai berubah menjadi tegas.


“Tidak ada apa-apa, hanya saja aku sedih saat meninggalkan Mami sendirian.” Miki mengatakan apa yang sebenarnya dia rasakan saat ini.


Terdengar Mike menghelakan nafas leganya saat mendengar perkataan Miki. “Sayang, jangan sedih, nanti kapan-kapan kita akan mengunjungi Mami mu kembali."


“Benarkah?” kata Miki yang sedikit bersemangat.


“Ia sayang, jangan sedih lagi ya.”


“Em...baiklah.” angguk Miki pelan.


“Baiklah sayang, aku tutup dulu teleponnya, nanti akan aku telepon lagi. “


“Baiklah.” Angguk Miki pelan.


“Bye sayang, I Love you.” Ucap Mike sembari memutuskan sambungannya begitu saja.


“I Love you too.” Ucap Miki yang tak sempat di dengarkan oleh Mike.


Miki menghelakan nafas panjangnya setelah Mike menutup teleponnya. Setiap kali dia berbicara di telepon dengan Mike, tak sekalipun Miki yang menutup teleponnya terlebih dahulu, selalu Mike yang mematikan teleponnya terlebih dahulu.


Kenapa Miki merasa ada sesuatu yang di sembunyikan Mike dari Miki. Apakah ini hanya perasaan Miki saja? Seru batin Miki.


Sementara itu mobil yang membawa Miki semakin melaju cepat menuju Santa Monica. Selama dalam pejalan kembali ke Santa Monica, Miki hanya mendengarkan Musik dengan menggunakan Headset di telinganya untuk membuat pikirannya lebih tenang selama berada di dalam mobil.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2