Pria Kaya Menginginkan Gadis Pemalu

Pria Kaya Menginginkan Gadis Pemalu
77. Gadis Pemalu


__ADS_3

Satu bulan berlalu, setelah kecelakaan.


“Les’t start the party…” cetus Mike sembari mengangkat gelas birnya tinggi di atas kepalanya.


“Yeaa…” sahut semua pengujung di klub malam sembari mengangkat gelas mereka juga di atas kepala.


“Mainkan musiknya…” teriak Mike dengan sangat keras.


Tanpa menunggu lama musik keras di mainkan sesuai perintah dari Mike, semua pengunjung dan tamu di klub malam ini mulai berjoget sesuka mereka dan minum sepuasnya karena semua gratis Mike yang membayarnya.


Sementara itu Mike duduk dengan santai di temani oleh berbagai wanita seksi di sekitarnya. Dalam keadaan mabuk, Mike terus mengisi perutnya dengan bir tanpa henti.


“Tuan, Anda sudah sangat mabuk sekali, bagaimana saya antar Anda ke kamar hotel?” seru salah satu wanita yang berpakaian seksi pada Mike.


“Hahaha…jangan terburu-buru sayang, nikmati saja dulu party-Nya.” Sahut Mike dalam keadaan setengah sadar.


Rayuan wanita seksi itu gagal total dan wanita itu pergi begitu saja saat Mike menolaknya. Setelah wanita itu pergi datang lagi wanita berbeda yang mencoba untuk merayu Mike kembali.


“Tuan, Anda begitu seksi dengan wajah berjanggut seperti ini, dan saya sangat suka dengan janggut ini.” kata wanita tersebut.


“Terima kasih,” jawab Mike dengan tersenyum singkat dan kemudian menegakkan gelas birnya.


“Tuan, boleh saya temani Anda malam ini?” tanya wanita seksi itu pada Mike sembari menyentuh janggut di rahang Mike.


“Sayang kau masih begitu mudah, pergilah nikmati party-Nya.” Tolak Mike kembali.


Sudah yang sekian kalinya Mike menolak wanita yang terus berdatangan menghampirinya bermaksud merayu dan mengambil kesempatan untuk bermalam dengan pria itu. Namun, semuanya di tolak mentah-mentah begitu saja oleh Mike.


Bosan di hampiri oleh berbagai wanita, Mike beranjak dari duduknya menuju Bar tender yang terletak sebelah ujung kanannya. Dengan sempoyongan Mike terus menabrak orang-orang yang ada di sekitarnya, tidak peduli dia dengan orang-orang yang dia tabrak tersebut, Mike terus berjalan hingga akhirnya dia sampai dan duduk tepat di depan pelayan Bar tender.


“Tolong beri saya bir.” Pinta Mike dengan suara khas orang mabuk.


“Baik Tuan,” jawab pelayan tersebut dan kemudian langsung dia sajikan dengan sangat cepat minuman yang di ingin Mike. “Silakan Tuan.” Dalam waktu singkat Minuman Mike sudah tersaji di atas mejanya.


Mike meraih gelas yang berisi bir tersebut dan meminumnya dengan sekali membuka mulut. Setelah bir dalam gelasnya habis, Mike meminta pelayan Bar tender tersebut untuk mengisi gelasnya kembali hingga penuh. Terus berulang kali pelayan tersebut mengisikan gelas kosong Mike dengan Bir, tidak terhitung lagi sudah beberapa gelas yang di habis Mike saat ini. Namun, dia masih sangat kuat dan sadar walaupun sudah begitu banyak bir yang dia minum.


“Tolong tuangkan lagi birnya,” pinta Mike.


Saat pelayan tersebut ingin menuangkan birnya lagi, tiba-tiba Joe datang dan menghentikan pelayan tersebut dengan berkata. “Cukup, jangan tuang lagi birnya.”


“Baik Tuan,” sahut pelayan tersebut sembari menarik kembali botol birnya.


“Mike, apa yang sedang kau lakukan? Kau terlalu banyak meminum birnya.” Seru Joe sembari duduk di samping kakaknya itu.


“Oh hi Joe, kau datang. Pelayan tolong beri adikku ini segelas bir, sebentar lagi dia akan menjadi seorang ayah.” Ucap Mike yang meracau.

__ADS_1


“Baik Tuan,”


“Tolong jangan dengarkan dia, saya tidak ingin meminum bir saat ini.” kata Joe pada pelayan tersebut.


“Baik Tuan, saya mengerti.” Sahut pelayan tersebut.


Joe kembali menatap sang kakak yang sedang mabuk itu, sejak Joe datang entah apa yang di katakan pria itu sungguh Joe tidak mengerti sama sekali. Yang tidak Joe mengerti kenapa kakaknya itu tetap saja minum walaupun dia tahu jika sudah sangat mabuk berat, sedangkan dirinya yang dulu tidak pernah mabuk berat seperti ini meskipun dia sangat suka sekali minum.


“Joe apakah kau sangat bahagia, karena sebentar lagi kau akan menjadi ayah?” tanya Mike yang mabuk.


Joe tersenyum garing mendengar pertanyaan dari kakaknya itu. “Ya, aku sangat bahagia.” jawab Joe.


“Hahaha, tentu saja kau sangat bahagia karena di beri kesempatan untuk menjadi seorang ayah, sedangkan aku__” Mike menghentikan kata-katanya dan mengambil gelas bir yang ada di hadapannya itu untuk di minum.


“Mike, cukup Minumnya.” Joe merebut gelas bir tersebut dari tangan kakaknya itu.


Mike membeku saat Joe mengambil gelas dari tangannya, tiba-tiba saja seluruh tubuhnya mati rasa saat itu juga.


“Mike apakah kau baik-baik saja?” tanya Joe khawatir saat melihat kakaknya diam dan membeku.


“Joe, apakah kau tahu?”


“Tahu apa?’ tanya Joe.


“Apakah kau tahu, saat aku mengetahui dia mengandung rasanya dunia adalah miliku seorang. Namun, karena kesalahanku dunia itu hancur begitu saja tanpa sempat aku menikmatinya.” Mike mulai emosional.


“Takdir, apakah yang kau katakan itu benar? Terlalu menyakitkan jika apa yang aku alami adalah takdir. Dia merengut dua orang yang paling berharga bagiku Joe, tidakkah kau merasa jika takdir yang kau katakan itu terlalu kejam kepadaku. Persetan dengan takdir!” umpat Mike yang sempoyongan.


Joe sedikit lebih mendekat dan merangkul kakaknya itu dengan lembut untuk memberi sandaran pada kakaknya itu. dia tahu jika saat ini pria itu membutuhkan dukungan untuk melewati hari-harinya yang hancur semenjak mendapatkan pukulan yang sangat besar karena kematian Miki.


“Joe, menjauh dariku. Aku tidak perlu kau hibur, karena aku baik-baik saja.” Kata Mike yang seolah dia tidak membutuhkan sandaran.


“Baiklah jagoan, aku akan melepaskanmu.” Kata Joe sembari melepaskan rangkulannya.


Setelah Joe melepaskan rangkulannya, Mike mulai beranjak berdiri dari kursinya dan berusaha menyeimbangkan tubuhnya di hadapan adiknya Joe sembari berkata. “Kau, apakah kau sudah menyiapkan nama untuk keponakanku?” tunjuk Mike ke arah Joe.


“Nama?”


“Em…nama calon keponakanku.” Jawab Mike yang mabuk.


“Mike, kau tidak perlu memikirkan nama untuk calon anakku, karena Lucy sudah menyiapkan nama yang bagus.”


“Owh benarkah?”


“Em, Mike kita pulang sekarang.” ajak Joe sembari menopang tubuh kekar kakaknya itu.

__ADS_1


“Aku tidak ingin pulang sekarang,” tolak Mike.


“Tentu saja kau bisa menolak ku, tetapi kau tidak bisa menolak Lucy jika dia yang memaksamu.” Kata Joe yang berhasil membuat Mike mendongkak ke arahnya.


“Lucy?”


“Em…dia ada di depanmu saat ini.” kata Joe sembari melempar tatapannya ke arah istrinya itu. Begitu juga dengan Mike, dia ikut menatap ke depannya yang mana di sana ada Lucy yang berdiri dengan perut buncitnya.


“Oh, adik iparku ternyata juga ada di sini.” Ucap Mike dengan suara khas orang mabuk.


“Mike, pulang sekarang jika tidak ingin aku permalukan kau di klub malam ini.” Ancam Lucy sembari memegangi perutnya yang sedikit buncit.


“Owh…tenang dulu, aku akan ikut kalian pulang sekarang. Jangan permalukan aku di sini, nanti apa kata anakku nanti jika aku pernah di permalukan oleh bibinya.” Seru Mike dengan menyunggingkan senyuman pada wajahnya.


Apa yang di katakan Mike berhasil membuat Lucy membendung air mata di kelopak matanya. Dia merasa sedih dengan kalimat yang di ucapkan Mike padanya, karena mengingatkan dia dengan sosok sang adik Miki.


“Joe, cepat bawah dia masuk ke dalam mobil sekarang.” perintah Lucy.


“Baik sayang.”


Kemudian Joe membopong tubuh Mike menuju mobilnya. Setelah berada di dalam Mobil, Mike terbaring di kursi belakang dengan posisi terlentang. Sedangkan Joe dan Lucy duduk di kursi depan.


“Miki,” ucap Mike yang tak sadarkan diri.


“Miki,”


Seketika Lucy dan Joe menoleh ke belakang memperhatikan Mike yang mengingau. Setiap malam mereka menjemput Mike dari klub malam, setiap malam pula mereka mendengar Mike mengingaukan nama Miki sepanjang perjalanan menuju pulang. Entah apa yang di rasakan pria itu selama satu bulan terakhir ini, tapi yang pasti penyesalan yang tiada ujungnya ini masih belum berakhir juga.


“Bagaimana bisa aku menyalahkan kematian Miki padanya, jika dia terus-terusan seperti ini. Tidak ada kesempatan bagiku untuk marah padanya, seharusnya dia bisa hidup dengan bahagia setelah menyebabkan kematian Miki, tetapi kenapa dia malah menderita seperti ini.” gerutu Lucy sembari melihat Mike yang tidak memiliki semangat hidup lagi.


“Sayang tenang ya, jangan sampai stres nanti membahayakan bayi yang ada di dalam perutmu.” Kata Joe.


Lucy menarik nafas panjangnya dan kemudian dia hembuskan kembali dengan perlahan. Lucy berhenti berbicara pada orang yang tak sadarkan diri itu, lalu menghadapkan kembali tubuhnya ke depan sembari menyadarkan punggungnya dengan nyaman di sandaran kursi mobil.


Sedangkan Joe, sekali-kali dia menyempatkan dirinya untuk menoleh ke belangkang melihat sosok kakaknya yang sangat kacau itu. Sembari menyetir Joe berpikir kembali, semenjak kepergian Miki satu bulan yang lalu membuat kakaknya Mike menjadi seperti robot yang gila bekerja pada saat siang hari, dan pada saat malam hari kakaknya itu seperti pria yang tinggal di klub malam.


Setiap malam Mike selalu datang dan tidur di klub malam setelah pulang dari bekerja. Kepergian Miki sangat mempengaruhi kehidupan Mike selama satu bulan terakhir ini, perubahan besar dalam waktu singkat menandakan kehancuran yang di rasakan Mike membuat gaya hidupnya berubah seketika.


Karakter yang dulu sangat dingin dan tenang dan kini karakter tersebut berubah menjadi sangat berbeda. Tiba-tiba tertawa sendiri, tiba-tiba murung, tiba-tiba sangat mengerikan. Suasana hatinya tiba-tiba saja berubah-rubah dalam waktu singkat, tetapi saat dia kembali pada karakternya yang sesungguhnya membuat seluruh orang yang berada di sekitarnya merasa tidak nyaman dan ketakutan. Intinya penyesalan dan kesedihan yang di alami Mike saat ini mengubah seluruh kehidupannya.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2