Pria Kaya Menginginkan Gadis Pemalu

Pria Kaya Menginginkan Gadis Pemalu
82. Pria Kaya


__ADS_3

“Ini tempatnya?” Tanya Mike ketika mereka tiba di sebuah Rumah Sakit kelas tiga.


Cindy mengangguk. “Ia, di sinilah Miki berada,” kata Cindy yang terlihat ragu. “Kau bisa menemuinya jika kau masuk ke dalam sana.”


Mike terlihat bingung saat melihat Rumah Sakit itu. “Baiklah kita masuk sekarang.”


Perasaan aneh mulai muncul di dalam hati Mike saat melangkah masuk ke dalam Rumah Sakit tersebut. Dia memiliki perasat buruk mengenai Miki, hatinya tidak bisa berbohong jika saat ini dia sangat gugup dan khawatir ingin menemui wanita yang sangat dia rindukan selama enam tahun terakhir ini.


“Di mana Miki?” Tanya Mike dengan menggenggam erat tangan kecil Liam. “Apakah masih jauh?” Tanya Mike kembali.


Setelah beberapa menit berjalan menelusuri koridor Rumah Sakit tersebut, pada akhirnya mereka menghentikan langkah kaki mereka sembari menatap Mike dengan sorot mata yang khawatir.


“Apakah kau sudah siap Mike?” Tanya Cindy dengan melempar tatapan sedih kepada Mike.


Perlahan Mike mengangguk pelan dan bingung dengan sikap dan tatapan yang di tunjukan Cindy dan Junior kepadanya. Tanpa melepaskan tangan kecil Liam, Mike terus berpegang teguh di tangan kecil itu apa pun yang terjadi.


Setelah yakin Cindy mulai mengerakkan kakinya menuju sebuah ruangan ICU di depan mereka, perlahan Cindy membuka pintu kaca di depan mereka itu tanpa mengeluarkan suara. “Masuklah Mike,” pinta Cindy pada Mike.


Dengan langkah tertatih Mike melepaskan tangan kecil Liam dan melangkahkan kakinya memasuki ruangan ICU tersebut dengan perlahan. Dia bingung saat Cindy memintanya untuk masuk ke dalam ruangan tersebut, kenapa dia harus masuk ke dalam sana? Tanda Tanya yang keluar di benak Mike membuatnya sangat takut sekali.


“Kenapa kita masuk ke ruangan ini?” Tanya Mike.


“Sebentar lagi kau akan mengetahuinya,” jawab Cindy menuntun jalannya Mike. “Pakai ini Mike,” pinta Cindy sembari memberikan jubah pelindung dan masker yang di sediakan pihak rumah sakit untuk pengunjung yang ingin mengunjungi pasien yang berada di ruangan ICU ini.


Mike mengambil jubah tersebut dan memakainya seperti yang di minta Cindy padanya. Setelah selesai memakai jubah dan masker tersebut kemudian Cindy kembali menuntun Mike memasuki satu ruangan dengan suara Ventilator yang terus berbunyi di ruangan tersebut.


Ketika Mike sedikit masuk, matanya langsung menatap ke arah peralatan-peralatan khusus yang terdapat di sana. Mike sering masuk ke dalam kamar pasien, tetapi kali ini sedikit berbeda dari kamar yang biasanya. Kamar ini seperti tempat terakhir manusia bisa bertahan dengan alat-alat penyambung kelangsungan hidup manusia yang sedang sekarat.


“Mike kemarilah,” pinta Cindy pada Mike yang sedang berdiri di depan pintu.

__ADS_1


Perlahan Mike melangkah mendekati Cindy, setelah berada sangat dekat Mike menatap wajah Cindy yang tertutup masker dengan Bingung.


“Mike lihat ke bawahmu,” pinta Cindy kembali pada pria itu.


Perlahan Mike mengerakkan kedua bola matanya menatap ke bawah seperti yang di minta wanita itu. Setelah kedua mata Mike tertuju ke bawah, dia melihat sosok wanita yang sangat dia kenali yang terbaring lemah menggunakan alat pembatu pernafasan dan berbagai macam alat medis lainnya yang menempel pada tubuh wanita itu.


Tit...Tit...Tit...Tit…


Suara Ventilator yang terus berbunyi memenuhi ruangan dan telinga Mike saat ini. dia tidak menyangka jika Miki saat ini terbaring lemah dan tidak sadarkan diri dengan begitu banyak alat yang menempel pada tubuhnya. Terdengar nafas berat Miki yang di bantu Ventilator, sekian detik Mike bisa mendengar nafas berat Miki yang hampir terhenti.


Rasa senang pun tak bisa Mike rasakan saat melihat Miki yang masih hidup, tetapi apa bedanya dengan rasa sedih selama enam tahun yang terpendam saat melihat keadaan Miki yang seperti ini. Kini air mata Mike pun tidak bisa lagi menetes karena selama enam tahun lamanya dia terus menangis saat dia mengingat wanita ini, hanya Sekretarisnya Fred yang menjadi saksi kehancuran Mike.


Perlahan Mike meraih tangan Miki yang terpasang infus, dia menggenggam erat tangan wanita itu sembari menciuminya. Hatinya terasa sangat sakit berkali lipat saat mendengar suara ventilator yang terus berbunyi saat Miki bernafas.


Kesal, sedih, khawatir yang di rasakan Mike saat ini, dadanya bergemuruh menyimpan semua perasaan tersebut. Dengan menggenggam erat tangan Miki sembari menutup matanya. “Apa yang terjadi padanya?” Tanya Mike dengan mata terus tertuju pada Miki.


“Satu tahun yang lalu, Miki mengalami kecelakaan saat bekerja di sebuah klub malam. Pada malam itu Miki bekerja seperti biasanya, tapi tiba-tiba dia mendapat perlakuan buruk dari seorang pelanggan, sehingga Miki terjatuh dari tangga hingga mengalami pendarahan di otaknya dan mengalami koma selama satu tahun ini.” Sejenak Cindy menghentikan ceritanya dan bernafas dengan benar.


“Sampai saat ini, pihak klub malam itu terus menyembunyikan dan menutup-nutupi insiden tersebut karena orang yang membuat Miki menjadi seperti ini adalah anak dari pemilik perusahaan penerbangan maskapai. Sudah hampir satu tahun ini kami menuntut keadilan untuk Miki, tetapi tidak ada yang peduli dan meminta maaf kepada kami.”


“Kenapa kalian tidak meminta bantuan ku atau Junior?” tanya Mike.


“Saya tidak bisa meminta bantuan darimu Mike, karena selama ini Miki melarangku untuk menghubungimu dan sedangkan meminta bantu Junior Percuma saja, karena saat itu junior sedang melakukan bisnis di Indonesia selama satu tahu ini dan tidak bisa di hubungi. Baru sekarang Junior baru kembali.” Jawab Cindy.


“Katakan padaku nama klub malam tersebut?” tanya Mike dengan kedua tangan terkepal kuat.


“Klub malam The Night,”


Setelah mengetahui nama klub malam tersebut Mike langsung keluar dari ruangan ICU dan langsung mengeluarkan ponselnya dari saku celananya untuk menghubungi seseorang.

__ADS_1


“Halo Mr. Fred, tolong kau hancurkan klub malam The Night hingga tak bersisa dan satu lagi, tolong kau akuisisi perusahaan penerbang miliki dari ayah Bianca Dwyne sekarang juga.” Kata Mike ketika telepon tersambung dan kemudian dia menutup teleponnya saat itu juga setelah memberi perintah pada sekretarisnya itu.


“Bagaimana kau bisa tahu jika nama orang yang membuat Miki menjadi seperti ini?” tanya Cindy dengan rasa penasarannya.


“Sangat Mudah, Bianca Dwyne lah merupakan satu-satunya anak dari pemilik perusahaan penerbangan di Amerika serikat. Dan di tambah Liam pernah mengatakan jika Bianca berperilaku jahat terhadap seseorang pelayan.” Jawab Mike.


“Daddy memahami apa yang Liam katakan beberapa waktu lalu?” timpal Liam yang merasa kagum terhadap ayahnya itu.


“Tentu saja, semua yang Liam katakan Daddy mengerti semua.” Kata Mike sembari mengelus lembut rambut Liam.


Di saat yang sama Tiba-tiba suara sirine darurat ruangan ICU Berbunyi, ada pasien yang sedang dalam keadaan darurat. Cindy panik karena saat ini hanya ada Miki yang tersisa di ruangan ICU tersebut.


“Apa yang terjadi?” tanya dokter yang baru saja tiba kepada suster yang keluar dari ruangan ICU.


“Nona Miki sedang mengalami serangan jantung dok,” jawab suster tersebut sekilas dan kemudian masuk kembali ke dalam ruangan ICU bersama dokter tersebut.


Mike dan yang lainnya mulai panik saat mendengar pembicaraan tenaga medis tersebut. Entah mengapa saat ini Mike tidak bisa mengerakkan kedua kakinya saat mendengar apa yang terjadi pada Miki. Semua isi kepalanya menghilang begitu saja, kalut bersama jiwanya yang seakan terpisah dari raganya.


Rasa panik menyerang seluruh tubuh Mike saat ini, bukan hanya dirinya saja semua yang berada di sana juga panik saat mendengar Miki mengalami serangan jantung. Di saat semuanya mengalami serangan panik tiba-tiba saja salah satu suster membuka pintu dan memanggil beberapa dokter untuk membutuh menangani keadaan darurat yang tak terkendali di dalam ICU tersebut.


Entah apa yang terjadi Mike menggempalkan kedua tangannya menjadi satu, seakan dia berdoa kepada tuhan yang di atas sana untuk menyelamatkan wanita yang sangat dia cintai yang sedang berjuang mempertahankan hidupnya di dalam sana. Semakin Mike berdoa dan memohon semakin terdengar suara ribut tenaga medis yang keluar masuk dari ruangan ICU tersebut, seakan doa dan permohonan Mike tidak di dengarkan oleh tuhan yang di atas sana.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2