
Setelah seharian penuh bermain dan berenang di pantai Santa Monica State Beach Miki merasa sangat lelah sekali. Setiba di Villa dia langsung membersihkan dirinya dan mengganti bajunya kemudian dia membaringkan tubuhnya dengan nyaman di atas ranjang.
Krekk…
Suara pintu kamar Miki terbuka. Sekilas Miki menatap ke arah pintu kamarnya yang terbuka, di sana dia bisa melihat Mike berjalan memasuki kamarnya dengan pelan dan tanpa suara.
“Sayang apakah kau merasa sangat lelah?” tanya Mike yang duduk di tepian ranjang.
“Em…” Miki mengangguk pelan.
“Baiklah kau istirahat saja sekarang, aku akan pergi ke ruangan kerjaku untuk mengerjakan beberapa pekerjaan.”
Mike mengelus pelan rambut bergelombang Miki yang terurai di atas bantal, lalu dia mengecup kening istrinya itu sekilas. Kemudian Mike beranjak berdiri untuk pergi, tetapi Miki menghentikan langkahnya dengan memegang tangan besar suaminya itu.
“Tunggu sebentar,” Pinta Miki.
“Sayang ada apa?” seru Mike kembali duduk di tepian ranjang.
Perlahan Miki beranjak duduk dan sedikit merapatkan tubuhnya dengan tubuh suaminya itu. “Boleh aku bertanya?”
“Tentu saja boleh, katakan apa yang ingin istriku ini tanyakan padaku?”
Mike mengelus lembut sisi wajah Miki dengan perlahan seraya menunggu pertanyaan yang akan di lontarkan istrinya itu padanya.
“Mike, boleh aku tahu apa yang akan kau lakukan pada Cindy? Keputusan apa yang akan kau ambil mengenai Cindy? Tidak bisakah kau memberitahukannya padaku?”
Hening beberapa saat, tidak ada jawaban dari bibir Mike. Dia terlihat ragu-ragu saat mengatakan apa yang akan dia jawab atas pertanyaan istrinya itu, sesungguhnya dia juga tidak tahu harus memutuskan tindakan seperti apa yang akan dia ambil untuk Cindy.
“Mike, tolong beritahu aku, apa yang akan kau lakukan terhadap Cindy?” tanya Miki kembali.
“Sayang, kenapa kau sungguh ingin mengetahuinya?”
Miki ragu-ragu untuk menjawab alasan di balik dia ingin tahu tindakan seperti apa yang akan di ambil suaminya itu untuk Cindy. Sedangkan dirinya menunjukkan rasa bersalah terhadap wanita itu karena telah berbohong dan menghancurkan cinta yang di miliki wanita itu.
“Sejujurnya, selama ini aku menganggap Cindy sebagai teman. Saat aku datang ke Villa ini, hanya Cindy yang bisa Miki ajak berbicara, seiringnya waktu aku sungguh merasa nyaman berbicara dan berteman dengannya. Oleh karena itu aku sangat ingin tahu tindakan seperti apa yang akan kau putuskan untuk Cindy. Akuharap kau tidak terlalu menyakitinya dan keluarganya.”
“Katakan padaku, kenapa aku harus bersikap lunak kepadanya?”
Terlihat Mike menunjukkan wajah dan nada suara yang tidak suka dengan apa yang di katakan Miki padanya.
“Karena dia sangat mencintaimu,” ucap Miki dengan tegas.
“Cih,” Mike menunjukkan ke tidak sukaannya.
“Kenapa kau bersikap seakan tidak peduli seperti itu padanya?” seru Miki.
“Dengarkan aku Miki, tidak ada wanita yang benar-benar mencintaiku dengan tulus. Mereka menunjukkan cinta mereka padaku hanya untuk hidup enak dan tinggal di rumah yang besar seperti yang Cindy lakukan saat ini.”
“Kenapa kau berkata seperti itu?”
Miki merasa tersinggung dengan apa yang dikatakan Mike padanya. Apa yang di katakan Mike seperti menganggap semua wanita di kehidupannya sama seperti yang dia pikirkan.
“Memang benarkan, apa yang aku katakan barusan? Semua yang menyangkut wanita semuanya Cuma kebohongan besar, mereka hanya bisa bersandiwara di hadapanku untuk menjilat kekayaan yang aku Miliki.”
__ADS_1
Tanpa sadar Mike menunjukkan emosional yang berlebihan di hadapan Miki. Semua yang dia katakan Murni apa yang di pikirkan Mike tentang wanita dalam kehidupannya selama ini.
“Apakah kau juga menganggapku sebagai wanita penjilat dan tidak mencintaimu dengan tulus?” tanya Miki pelan tetapi tegas.
Seketika Mike tersadarkan dengan apa yang dia katakan. Dia tidak mengira jika dirinya akan kehilangan kendali.
“Katakan padaku, apakah aku terlihat seperti wanita penjilat seperti yang kau pikirkan terhadap semua wanita?” tanya Miki kembali.
Astaga…apa yang barusan aku katakan pada Miki? Kenapa aku mengatakan hal seperti itu padanya. Batin Mike.
“Katakan! Apakah kau juga menganggap ku sebagai wanita yang tidak tulus mencintaimu dan sebagai wanita penjilat seperti yang kau katakan barusan.” Kata Miki emosional.
“Tentu saja tidak, aku tidak pernah berpikir kalau kau adalah wanita seperti itu. Apakah kau tidak menyadari selama ini aku yang mengejarmu dan menginginkanmu hadir dalam kehidupanku.” Kata Mike yang membuat hati Miki sedikit tenang.
“Apakah aku bisa mempercayai kata-katamu?”
“Miki kenapa kau berkata seperti itu?” Mike bingung kenapa tiba-tiba Miki bersikap emosional begini.
“Kau hanya perlu menjawabnya, katakan apakah aku bisa mempercayai apa yang kau katakan?” tanya Miki kembali.
“Tentu saja, kau bisa mempercayaiku sepenuhnya.” Jawab Mike dengan yakin sepenuh hati.
“Kalau begitu aku percaya Mike.” Ucap Miki dengan tersenyum.
Akhirnya Miki bisa tersenyum senang walaupun sebelumnya dia sangat khawatir jika Mike akan menganggapnya seperti wanita yang ada di pikirannya itu.
Sejujurnya Miki sangat takut ketika Mike berkata seperti itu barusan terhadapnya. Dia takut jika Mike menikahinya hanya untuk bermain-main dengan status pernikahan mereka.
“Oke baiklah, kau tidurlah dan aku akan pergi mengerjakan perkerjaanku sekarang.” ucap Mike seraya membantu Miki berbaring kembali di atas ranjang.
“Selama malam sayang, mimpikan aku dalam tidurmu.”
Setelah menyelimuti tubuh Miki dengan selimut, Mike beranjak berdiri lalu mengecup lembut bibir Miki sedikit lebih lama dan kemudian dia pergi keluar menuju ke ruang kerjanya.
Setelah Mike menghilang, Miki beranjak berdiri dari tidurnya. Dia keluar dari kamar menuju balkon. Saat berada di balkon Miki melihat Cindy tengah menatap langit malam yang sepi dari bintang, hanya rembulan yang bersinar terang di atas langit gelap.
“Apakah kau baik-baik saja?” seru Miki pada Cindy yang berada di balkon seberang sana.
Tanpa menjawab atau pun menoleh ke arah Miki, Cindy melangkah masuk ke dalam kamarnya.
“Cindy tunggu sebentar,”
Entah mengapa wanita itu menghentikan langkah kakinya saat Miki menghentikannya. Masih tersirat rasa menghargai di dalam hati Cindy terhadap Miki.
“Untuk sementara ini aku tidak ingin berbicara atau pun bertemu denganmu, jadi aku mohon dengan sangat ke padamu untuk jangan menganggukku.” Ucap Cindy.
Kemudian Cindy melangkahkan kakinya kembali memasuki kamarnya, lalu dia menutup pintu kaca balkonnya dan menghilang begitu saja di hadapan Miki.
Cindy maafkan aku, sungguh aku tidak berniat untuk berbohong atau pun menghianatimu. Batin Miki.
Rasa bersalah tersirat di dalam hati Miki. Dia tidak tahu harus melakukan apa supaya Cindy mau memaafkannya. Jalan satu-satu yang dapat Miki lakukan saat ini adalah menunggu sampai Cindy mau berbicara kembali padanya.
Setelah beberapa menit berdiri di balkon Miki memutuskan untuk masuk kembali ke dalam kamarnya. Ketika Miki menyiakan tirai putih yang menutup pintu kaca yang terbuka dia di kejutkan dengan kehadiran Mike yang duduk di tepian ranjang.
__ADS_1
“Sudah aku duga, Jika kau akan mencoba berbicara kepada Cindy.” Ucap Mike seraya beranjak berdiri dan menghampiri Miki yang berdiri di pintu balkon.
“Jangan bilang kau ingin melarangku untuk berbicara pada Cindy?”
“Terkadang kau sangat pintar sekali menebak apa yang aku pikirkan.” Ucap Mike secara tidak langsung mengiyakan pertanyaan Miki.
“Jangan pernah kau berpikir untuk melakukan itu, jika kau benar-benar melarangku untuk berteman dengan Cindy jangan harap aku akan berbicara denganmu lagi.”
Miki berjalan melewati Mike menuju ranjangnya, hanya perlu beberapa langkah Miki sudah duduk di tepian ranjang.
“Oh, apakah istriku ini sedang mengancamku?” ucap Mike seraya menyusul Miki duduk di tepian ranjang.
“Memangnya aku bisa mengancammu?” tanya Miki balik.
“Hahaha, tentu saja tidak.”
“Dasar pamer,” kesal Miki.
“Kenapa, apakah istriku ini sedang marah?” goda Mike.
Miki hanya mengabaikan Mie, dia malah berbaring dan menutup seluruh tubuhnya dengan menggunakan selimut. “Tolong tutup pintunya jika kau keluar.”
“Oh ayolah, jangan bertingkah seperti anak kecil.”
Sabar Miki, jangan kau dengarkan apa yang dia katakan. Batin Miki.
“Sayang, sudah ya marahnya.” Rayu Mike seraya merangkak ikut masuk ke dalam selimut Miki.
“Apa yang kau lakukan? Lepaskan Miki sekarang juga,”
“Tidak, aku tidak akan melepaskanmu sebelum kau berhenti marahnya.”
Mike semakin mengeratkan pelukannya pada Miki di dalam selimut. Semakin Miki mencoba mendorong tubuh besar Mike semakin dia terjerat di dalam dekapan pria itu.
“Oke baiklah, aku tidak akan marah lagi, jadi tolong lepaskan aku sekarang.” pinta Miki menyerah.
“Tidak mau, aku akan terus memeluk istriku ini sampai pagi.” Tolak Mike.
“Dasar pembohong, aku akan mengusirmu dari kamar ini sekarang juga.” Kesal Miki.
“Hahaha, coba saja jika kau bisa.” Tantang Mike.
Keduanya bergelut di dalam satu selimut, pertengkaran dia antara mereka tidak berlangsung lama. Kedua kembali bermesraan di atas ranjang dalam satu selimut yang membalut keduanya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.