
Pagi hari, di meja makan hanya ada Mike dan Joe yang saling menatap satu sama lain. Mereka terlihat kaku satu sama lain dan mereka juga kehilangan nafsu makan. Tidak ada yang bisa mereka lihat hanya wajah yang sangat membosankan untuk di lihat.
“Kenapa aku harus melihat wajahmu yang membosankan itu.” ucap Joe yang menatap Mike.
“Sepertinya aku akan sering melihat burung beo yang tidak tahu diri di meja makan setiap hari.” Sindir Mike seraya meletakan sendok dan garpu di atas meja makan dengan tenang dan elegan.
Mata hitam Joe membesar mendengar kakaknya Mike mengejeknya. “Sepertinya aku harus membiasakan diri berbicara dengan Gunung Es ini.” Joe menyindir balik Mike.
Mike tersenyum sinis melihat Joe yang menyebutnya sebagai gunung Es, dia bersikap tenang seakan tidak terpancing dengan perkataan adiknya itu.
“Aku dengar, gunung Es ini bisa melakukan apa saja pada kehidupanmu.” Mike membalas sindiran Joe dengan ancaman. “Hanya satu kali telepon semuanya beres,” Mike tersenyum melihat wajah Joe yang memerah.
Semua pelayan yang berada di dekat mereka membeku melihat kedua Tuannya saling menyindir satu sama lain.
“Nyonya Bret, tolong beritahu Lucy turun untuk makan.” Joe Kesal, dia mengalikan pembicaraan dengan meminta Bret untuk meminta Lucy bergabung bersama mereka di meja makan.
“Maaf Tuan, Nona Muda pergi keluar bersama Nona Chloe.” Ucap Bret yang memberitahukan jika wanita bersaudara itu sudah pergi meninggal Villa sejak dari pagi.
Apa yang di kata Bret berhasil membuat kedua mata pria bersaudara itu menatapnya. “APA?!” kata Mike dan Joe bersamaan.
Bret menggenggam kedua tangannya karena melihat kedua Tuannya yang terlihat marah. Bret tidak tahu harus mengatakan apa lagi pada kedua Tuannya itu.
“Pergi ke mana mereka berdua?” tanya Mike dengan nada tenang tetapi terasa dingin saat di dengar.
“Saya dengar Nona Chloe ada jadwal kursus memasak hari ini, dan Nona Muda ikut pergi bersamanya karena ada seseorang yang ingin mereka temui.” Bret menunduk tak berani menatap ke dua Tuannya itu.
Setelah mendengar jawaban Bret, Mike dan Joe saling menatap satu sama lain. Sepertinya merekan berdua memiliki pemikiran yang sama.
“Apa yang sedang kau pikirkan?” tanya Joe pada Mike yang sedang menatapnya.
“Menurutmu?” Mike balik bertanya pada Joe. Mata kedua saling bertemu, sepertinya mereka tahu jawaban atas apa yang mereka tanyakan satu sama lain.
“Kita pergi sekarang,” ujar Joe seraya beranjang berdiri.
“Tunggu dulu, kau jangan gegabah. Apa kau tidak berpikir jika Lucy akan marah padamu jika kau membuntuti mereka?” tanya Mike yang menghentikan Joe.
__ADS_1
Mendengar pertanyaan Mike membuat Joe kembali duduk di kursinya seraya berkata. “Apakah kau yakin bertanya seperti itu?” seru Joe seraya menatap kakaknya yang kaku itu.
“Ya, aku sangat yakin.” Ucap Mike.
“Sebagai adik yang baik, aku beritahu padamu jika kedua wanita itu adalah bukan wanita biasa yang sering kita temui di klub malam. Mereka berdua berbeda, mereka seperti makanan segar bagi pria di luar sana.” Kata Joe yang sedikit lebih memahami situasi di bandingkan kakaknya Mike.
“Kau berkata Benar Miki berbeda dari wanita biasanya, dia tidak boleh berkeliaran di luar sana. Akan berbahaya jika dia bertemu dengan pria brengsek di luar sana.” Ucap Mike.
“Mari kita berangkat sekarang,” ajak Joe.
“Tunggu sebentar, Mr. Fred kau batalkan semua jadwal hari ini.” kata Mike yang memperintahkan sekretaris Fred.
“Baik Tuan,” jawab Fred seraya membungkuk.
“Ayo kita pergi sekarang.” ajak Mike.
Kedua pria bersaudara itu dengan percaya diri melangkahkan kaki mereka keluar dari Villa untuk menyusul Miki dan Lucy.
***
“Kak Lucy, kenapa kau memandang Chef Junior seperti itu?” Miki melihat tatapan yang di lemparkan Lucy pada Chef Junior yang sedikit berbeda.
“Miki tidak perlu tahu kenapa, Miki perhatikan saja apa yang di ajarkan Chef yang di depan sana.” Lucy terus memandangi Chef Junior dengan intens.
“Em…baiklah.” Miki menuruti apa yang di suruh Lucy padanya.
Hingga kelas berakhir dan kelas kosong hanya menyisakan Lucy, Miki dan Chef Junior di dalam kelas. Lucy tersenyum sendiri melihat Chef Junior yang berada tepat di depannya.
“Apakah kau masih belum puas melihatku?” seru Chef Junior yang menghampiri Lucy yang sejak tadi duduk di samping Miki selama kelas berlangsung. “Apakah aku begitu tampan sehingga kau terus menatapku seperti itu?”
“Ya, kau sangat tampan.” Lucy menganggukkan kepalanya seraya tersenyum pada Chef Junior.
“Kemarilah biarkan aku memelukmu,” Chef Junior melentangkan kedua tangannya dan membiarkan Lucy untuk memeluknya.
Lucy beranjak dari duduknya untuk menghampiri Chef Junior yang menunggu untuk di peluk olehnya. “Kau apa kabar? Lama tidak bertemu.” Ucap Lucy seraya memeluk erat Chef Junior.
__ADS_1
“Aku sangat baik, berkat kau kita bisa bertemu kembali setelah sekian lama tidak bertemu.” Chef Junior membalas pelukan erat Lucy di dalam dekapannya.
Miki yang melihat keduanya saling berpelukan hanya bisa terdiam dengan kedua mata terbuka lebar dan mulut terbuka seperti membentuk huruf O.
Apa yang terjadi, kenapa mereka berdua berpelukan? Apakah mereka berdua saling kenal satu sama lain? Seru batin Miki.
Setelah beberapa menit Lucy dan Chef Junior berpelukan. Miki mendekati keduanya seraya berkata. “Kak Lucy apa yang terjadi di antara kalian?” seru Miki polos.
Keduanya menatap ke arah Miki. “Apakah dia adikmu yang pernah aku lihat sepuluh tahun yang lalu?” tanya Chef Junior pada Lucy.
“Benar dia adikku yang pernah kau lihat sepuluh tahu yang lalu.” Ucap Lucy seraya merangkul bahu Miki.
“Aku tidak mengira jika dia adalah adikmu,” ucap Chef Junior seraya menatap Miki dengan begitu dalam.
“Ia aku tahu jika adikku sangat cantik, jadi tolong berhenti menatapnya seperti itu.” Lucy berhasil membuat Chef Junior mengalihkan perhatiannya dari Miki.
“Kak Lucy apa yang kau katakan pada Chef Junior?” seru Miki malu-malu.
“Tidak ada, Cuma gurauan sesama taman.” jawab Lucy, dia tahu jika adiknya ini bingung dengan keadaan saat ini. “Miki perkenalkan dia adalah sahabat kakak dari sejak kecil, namanya adalah Junior Steven. Atau lebih akrab di panggil Chef Junior.” Lucy mengenalkan Chef Junior sebagai sahabatnya.
“Sahabat?” seru Miki membulatkan matanya. Dia tidak percaya jika Chef Junior adalah sahabat kakaknya Lucy.
“Ia, Lucy adalah sahabatku. Dia dan aku sudah lama bersahabat, tetapi semenjak aku dan keluargaku pinda ke Prancis kami tidak lagi bertemu selama sepuluh tahun lamanya, dan ini adalah pertemuan pertama kami setelah sepuluh tahun.” Ungkap Chef Junior.
Aku kira ini adalah omong kosong, dan ternyata mereka berdua memang benar bersahabat. Selama sepuluh tahun mereka terpisah dan ini adalah pertemuan pertama mereka. Batin Miki.
“Hahaha, aku tidak tahu kalau kak Lucy memiliki sahabat pria.” Miki terlihat sangat canggung berada di antara mereka berdua. “Kalau begitu kalian lanjutkan saja bicaranya, aku tunggu di luar saja.” Ucap Miki yang langsung pergi begitu saja meninggalkan keduanya.
Setelah keluar dari kelas Miki menunggu mereka di luar gedung tempat kursus memasaknya. Miki masih tidak percaya jika kakaknya Lucy memiliki sahabat pria, dia juga tidak mengerti dengan situasi sekarang karena semenjak mengetahui Lucy adalah kakaknya, pandangan Chef Junior terhadapnya berubah seketika.
.
.
.
__ADS_1