
Alarm di mata Miki kini tidak lagi berfungsi. Semenjak sering tidur satu kamar dengan Mike dia sangat sulit bangun pagi seperti biasanya. Malas bergerak, Miki berusaha membiaskan cahaya yang menyilaukan matanya selama berbaring di atas ranjang.
Miki menoleh ke sampingnya untuk melihat sosok pria yang tidur dengannya semalam, tapi sayangnya dia harus di kecewakan karena Mike sudah tidak ada lagi di sampingnya. Entah pergi ke mana pria itu, Miki tidak peduli dan dia berusaha bangun lalu melakukan perenggangan di atas ranjang seperti biasa yang dia lakukan setelah bangun tidur.
Tidakk!...
Miki membeku mendengarkan suara keras yang berasal dari lantai dasar. Dia kaget, tetapi entah kenapa tubuhnya membeku di atas ranjang.
Turr…
Terdengar benda jatuh, dengan sangat jelas Miki mendengar suara pertengkaran di lantai dasar. Karena merasa penasaran Miki keluar dari kamar dan turun ke lantai dasar untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi di sana.
Saat berada di lantai dasar Miki melihat di sekitarnya sangat berantakan sekali, semua benda-benda mahal yang menghiasi Villa hancur dan berserakan di mana-mana.
“Nona Chloe sebaiknya Anda kembali saja kamar,” pinta Bret yang datang menghampiri Miki yang berada di dekat tangga.
“Nyonya Bret, apa yang terjadi di sini?”
“Maafkan saya Nona, sebaiknya Anda kembali ke kamar Anda sekarang.” ucap Bret.
“Nyonya Bret katakan pada saya apa yang sebenarnya terjadi di sini?”
Miki menolak untuk kembali ke kamarnya. Dia malah berkeras meminta penjelasan dari Bret atas pertanyaannya.
Aahrggh…
Miki di kejutkan dengan suara teriakan seorang wanita yang berasal dari balik dinding yang memisahkan ruangan tengah dan ruang makan.
“Suara siapa itu Nyonya Bret?” seru Miki terkejut.
Bret tidak menjawab pertanyaan yang diajukan Miki padanya. Bret terlihat bingung dan gusar, entah mengapa Miki merasa jika Bret menyembunyikan sesuatu darinya.
Tidak peduli dengan Bret, Miki melangkahkan kakinya menuju asal suara tersebut. Saat menelusuri ruangan yang berada hanya beberapa kaki itu Miki melihat noda darah yang memenuhi lantai hingga ke ruang makan.
“Cindy cukup!!”
Suara tersebut membuat Miki kaget sekaligus tidak percaya dengan apa yang dia lihat sekarang. desiran rasa takut menghampiri Miki, dia melihat Cindy berpenampilan hancur dan noda darah ada di mana-mana.
“Empat tahun aku menunggumu, tidak adakah sedikit pun rasa cinta di hatimu untukku?”
“Cindy tenangkan dirimu sekarang, kita bicarakan semua ini secara baik-baik, oke.” Rayu Mike dengan berhati-hati dia melangkah mendekati Cindy.
“Jangan mendekat! Jika tidak aku akan melukai diriku sekarang juga.” Ancam Cindy dengan pisau sudah berada tepat di lehernya.
“Oke baiklah,” Mike melangkah mundur beberapa langkah.
“Apakah kau tahu rasanya di khianati oleh orang yang sangat kita percaya?”
Tiba-tiba Cindy melempar pandangannya ke arah pintu, dia menyadari kehadiran Miki di sana.
“Apa yang kau bicarakan?” tanya Mike yang tidak mengetahui kehadiran Miki.
“Apakah kau tahu rasanya bagaimana?!” teriak Cindy histeris. “Kau tahu, saat aku mendengar jika kalian sudah menikah dari seorang pelayan sangat menghancurkan hatiku! Orang yang selama ini aku kira bisa menjadi tempat curahan hatiku ternyata bukanlah tempat yang bisa aku jadikan teman curhat ku. Apakah aku terlihat bodoh sehingga kau menipuku dengan wajah polos dan lugumu itu? terima kasih sudah menunjukkan siapa kamu yang sebenarnya.”
“Cindy apa yang terjadi padamu?” seru Miki.
__ADS_1
Mike terkejut melihat Miki berada di ruangan yang sama dengan mereka. “Miki apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya.
“Mike, apa yang terjadi? Kenapa Cindy penuh dengan darah?”
“Miki lebih baik kau kembali ke kamar sekarang.” pinta Mike.
Miki tidak mendengarkan perkataan Mike, dia malah melangkahkan kakinya mendekati Cindy yang berlumuran darah. Dia sangat khawatir saat melihat Cindy.
Hiks…Hiks…Hiks, tangis Cindy yang histeris.
“Apakah kau baik-baik saja?”
Miki mendekat, dia hendak merangkul tangan Cindy. Namun, tidak mudah bagi Miki untuk mendekati Cindy karena pisau sudah siap untuk melukainya kapan pun jika mendekat.
“Miki apa yang kau lakukan? Menjauh darinya sekarang.” kata Mike yang gusar melihat Miki dengan beraninya mendekati Cindy dengan pisau di tangannya.
Miki tetap tidak peduli dengan apa yang di katakan Mike padanya, dia terus melangkah maju.
“Miki berhenti di sana, aku bilang menjauh sekarang juga!!” bentak Mike.
Aahrrggh…
Teriak Cindy seraya menggayungkan mata pisau secara membabi buta. “Cindy, aku mohon tenangkan dirimu.” Ucap Miki menenangkan Cindy.
Sayup-sayup mata Cindy yang di penuhi air mata. Saat melihat mata itu mengingatkan Miki dengan apa yang dia rasakan selama bertahun-tahun mengalami keterpurukan yang sangat luar biasa membuat dirinya takut untuk mengalaminya kembali.
“Aku di sini untukmu,”
Miki terus mencoba menenangkan Cindy. Perlahan-lahan Miki menelusuri jari jemari Cindy untuk mengambil pisau yang di genggam oleh wanita itu, hingga akhirnya dia berhasil merebut pisau tersebut tanpa memaksanya. Kemudian Miki melemparkan pisau itu jauh-jauh darinya dan menarik Cindy ke dalam pelukannya.
Kedua tangan Cindy terkepal kuat hingga kukuhnya menusuk tajam di hati tangannya. Rasa sakit yang tak tertahan membuatnya kehilangan akal sehatnya. Luka di hatinya begitu menyayat hatinya hingga tak bisa di obati.
“Mr. Fred,” teriak Mike.
Dengan cepat Fred datang. “Ya Tuan?”
“Bawa Cindy ke rumah sakit sekarang.” perintah Mike.
“Baik Tuan.”
Kedua tangan Mike terkepal kuat saat melihat Miki berhasil menenangkan Cindy. Selama dia menyaksikan aksi Miki untuk mendekati Cindy barusan membuatnya ketakutan setengah mati karena dia takut jika Cindy akan melukai wanita yang sangat dia cintai itu.
Setelah Fred membawah Cindy pergi ke Rumah Sakit, Miki berjalan mendekati Mike yang berdiri beberapa meter darinya.
“Jangan mendekat.” Ucap Mike.
Langkah Miki terhenti saat itu juga. Entah mengapa saat Miki melihat ekspresi wajah suaminya itu dia mengerti jika suaminya sedang marah, tapi dia tidak peduli dan terus melangkah maju mendekati suaminya itu.
“Aku bilang berhenti, tetap di posisimu sekarang.” suara Mike terdengar sangat dingin sehingga membekukan langkah kaki Miki.
“Kenapa?” tanya Miki lirih.
“Kau tanya kenapa? Apakah kau selalu bersikap seakan tidak tahu seperti ini?”
“Apa maksudmu Mike? Aku tidak mengerti dengan apa yang kau katakan.”
__ADS_1
“Kenapa kau tidak mendengarkan perkataanku? Kenapa kau sangat ceroboh sekali tadi? Bagaimana jika Cindy melukaimu.”
Miki menghelakan nafas panjangnya, dia mengerti kenapa suaminya tiba-tiba bersikap seperti itu barusan.
“Mike aku tidak apa-apa, kau lihat sekarang, aku tidak terluka sedikit pun.”
“Bagaimana jika dia benar-benar melukaimu barusan?”
“Mike, aku mohon jangan bersikap berlebihan seperti ini.”
Seketika wajah Mike memerah, dia sangat marah mendengar perkataan Miki padanya. “Bagaimana bisa kau bersikap seakan apa yang terjadi barusan adalah sebuah hal yang sepele. Bagaimana jika kau benar-benar terluka dan aku kehilanganmu, apa yang harus aku lakukan jika kau benar-benar pergi meninggalkan aku sendirian di dunia ini.”
Kedua tangan Miki terkepal kuat, matanya mengeluarkan butiran air mata yang tak bisa dia tahan saat melihat dan mendengar apa yang di katakan suaminya itu. Rasa bahagia yang membuat kupu-kupu di dalam perut Miki beterbangan mengaduk hatinya karena perkataan tulus dari suaminya itu.
Dengan langkah kaki tertatih Miki berusaha mengapai suaminya itu dan membawahnya ke dalam pelukannya. Kedua tangan Miki mulai bergerak melingkari pinggang suaminya itu dengan penuh rasa cinta dan ketulusan.
“Maafkan aku, sungguh aku tidak bermaksud untuk membuatmu sedih seperti ini. Aku akui jika aku salah, sungguh maafkan aku.” Ucap Miki seraya memeluk Mike.
“Jangan pernah lakukan hal yang berbahaya seperti itu lagi, aku mohon padamu dengarkan apa yang aku katakan.” Kata Mike membalas pelukan Miki dengan sangat erat.
“Baiklah aku janji tidak akan melakukannya lagi, dan aku akan mendengarkan perkataan dari suami tersayangku ini.” Miki semakin mengeratkan pelukannya dan membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya itu. “Aku sangat mencintai mu.” Ucap Miki kembali.
“Apa? Bisa kau katakan lagi apa yang kau katakan barusan.” Pinta Mike.
“Tidak, aku tidak bisa mengatakannya lagi.” Tolak Miki.
“Oke baiklah, aku tidak akan memaafkanmu kalau begitu.” Ucap Mike seraya menjauhkan tubuh Miki darinya.
“Sungguh kau akan melakukan ini padaku?” tanya Miki lirih.
“Tentu saja, kenapa tidak.” Mike tersenyum licik saat melihat Miki terdesak.
Tidak apa-apa Miki, kau hanya perlu mengatakannya satu kali lagi dan semua itu tidak akan membuatmu rugi sama sekali. Ah, tapi tetap saja aku tidak bisa mengatakannya. Batin Miki.
“Tidak, aku tidak bisa mengatakannya kembali.” Ucap Miki.
“Baiklah, aku juga tidak akan memaafkanmu jika begitu.” Ancam Mike.
Miki menggenggam erat kedua tangannya, dia tidak mempunyai keberanian untuk mengatakan kembali perkataannya, tapi jika dia tidak mengatakannya saat ini juga maka dia akan sulit membuat suaminya itu untuk memaafkannya.
“Aku sangat mencintai mu.” Ucap Miki tiba-tiba seraya menundukkan kepalanya.
Mike tersenyum saat mendengar Miki mengatakan apa yang sangat ingin dia dengarkan itu. “Kemarilah, biarkan aku memelukmu sekarang.” pinta Mike.
Dengan tersenyum Miki melangkahkan kakinya dua langkah dan kemudian dia sudah berada di dalam pelukan suaminya itu.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.