
Hingga matahari terbenam Miki masih mendengar cerita hati Cindy. Mereka tidak menyadari jika hari semakin malam dan gelap.
“Terima kasih telah bersedia mendengarkan ceritaku yang sangat membosankan.” Ucap Cindy pada Miki.
“Aku senang mendengarkan ceritamu, terima kasih juga karena percaya padaku.” Ucap Miki seraya melihat sebuah mobil datang masuk ke Villa.
Saat melihat orang yang keluar dari mobil itu Miki sangat terkejut. Dia melihat Lucy yang keluar dari mobil tersebut. dengan sangat cepat Miki pergi turun untuk menghampiri Lucy.
Tidak percaya dengan kedatangan Lucy. Setelah bertengkar hebat dengan sang suami, Kini Lucy kembali mendatangi Miki di Villa.
“Kakak kenapa datang kemari?” tanya Miki dengan curiga. “Jangan bilang kakak bertengkar lagi dengan suami kakak, dan kabur lagi.” Ucap Miki pelan, dia takut jika ada yang mendengar.
“Hahaha.” Tawa Lucy, dia tidak bisa menahan tawanya saat melihat wajah Miki yang sangat serius sekali.
“Kenapa kakak tertawa? Memang ada yang lucu dari kata-kata ku?” tanya Miki berulang kali pada Lucy.
Seketika Lucy berhenti tertawa, kemudian dia merangkul bahu Miki seraya berkata. “Adikku sayang, kakak tidak kabur dari rumah.” Lucy tersenyum melihat wajah adiknya yang bingung.
“Terus kenapa kakak bisa ada di sini sekarang?” tanya Miki kembali.
“Sebenarnya kakak datang kemari untuk hanimun di sini selama satu bulan.” Lucy tersenyum bahagia.
Sedangkan Miki masih terlihat sangat bingung dengan apa yang di katakan Lucy padanya. Dia mematung seraya berpikir keras untuk menyerap perkataan Lucy padanya.
“Dasar bodoh,” ucap Lucy seraya meneleng kepala Miki pelan.
“Sebentar kakak, biarkan aku untuk berpikir.” Pinta Miki pada Lucy untuk memberikannya waktu untuk berpikir.
“Apa yang ingin kau pikirkan Miki sayang?” tanya Lucy pada adiknya itu.
Setelah selesai berpikir Miki mengangkat jarinya menunjuk ke arah Lucy seraya berkata. “Jadi maksud kakak itu adalah kakak akan hanimun di sini, dan juga akan tinggal di sini selama satu bulan,” ucap Miki.
“Em…” Lucy menganggukkan kepalanya seraya tersenyum bahagia.
“Kakak serius?” seru Miki yang mulai mengerti dengan ucapan Lucy.
“Ia, kakak serius.” Kata Lucy yang kembali tersenyum. “Selama satu bulan kakak akan tinggal bersama Miki di Villa ini.”
“Kak Lucy pasti berbohong, baru kemarin malam aku menyaksikan pertengkaran antara kakak dan suami kakak. Mana mungkin kalian akan melakukan hanimun di sini.” Miki bepikir jika kakaknya berbohong padanya.
__ADS_1
“Lucy tidak berbohong, dia mengatakan yang sebenarnya.” Kata Joe yang datang menghampiri mereka.
“Serius?” tanya Miki seraya menatap Joe dengan penuh harapan.
“Ia serius.” Ucap Joe yang meyakinkan Miki.
Dengan wajah yang gembira Miki melompat ke arah Lucy seraya berkata. “Kakak aku sangat senang sekali, kalian tinggal di sini bersamaku.” ucap Miki dengan keras seraya memeluk Lucy.
“Kakak juga senang tinggal bersama Miki.” kata Lucy yang juga memeluk Miki. Lucy tersenyum ke arah Joe, seakan dia mengucapkan terima kasihnya pada suaminya itu.
Kenapa aku sangat bahagia melihat Lucy tersenyum seperti itu. Selama kami menika, dia tidak pernah tersenyum seperti itu padaku. Batin Joe.
“Tuan kamarnya sudah saya siapkan, Tuan dan Nona silakan beristirahat sekarang.” ucap Bret yang datang menghampiri mereka bertiga.
“Baiklah Nyonya Bret terima kasih.” Joe tersenyum pada Bret seraya menatap Lucy, seakan dia memberitahukan pada wanita itu untuk beristirahat bersamanya.
“Baiklah Miki nanti kita berbicara lagi, kakak istirahat dulu di kamar.” Ucap Lucy pada Miki.
“Baiklah.” Miki mengangguk seraya tersenyum bahagia melihat kakaknya itu. Dia tidak berhenti menatap Lucy yang pergi menuju kamarnya. Matanya tak lepas menatap punggung kakaknya itu hingga hilang dari pandangnya.
“Nona ada pesan dari Tuan,” kata Bret yang masih berada di dekat Miki.
“Tuan meminta Nona untuk menemuinya di ruang kerjanya.”
“Kenapa saya harus menemuinya di ruang kerjanya?” tanya Miki, sekilat Miki berdecak kesal.
“Saya juga tidak tahu Nona, tapi yang pasti Tuan memperintahkan saya memastikan Nona masuk ke ruang kerja Tuan sekarang juga. Mari Nona.” Bret sedikit menyingkir dari hadapan Miki untuk memberi jalan bagi Miki untuk menuju ruang kerja Mike.
Tidak ada pilihan lain selain mengikuti keinginan pria itu. “Baiklah.” Desah Miki pasrah dan mengikuti apa yang di katakan Bret padanya.
Saat berada di ruang kerja Mike, Bret langsung mengunci pintu ruangan tersebut dari luar. Miki yang terkejut dengan apa yang di lakukan Bret padanya hanya bisa diam di tempatnya. Miki tidak bisa melihat apa pun di ruangan ini, tidak ada cahaya sedikit pun.
Kenapa gelap sekali di sini? Seru batin Miki.
Miki tidak bisa melangkah atau pun bergerak, tubuhnya membeku karena dia merasa seperti ada seseorang yang berada di sampingnya di dalam kegelapan.
“Apakah kau suka hadiah dariku?” bisik seseorang di telinga Miki.
“Siapa itu?” seru Miki berdesik ke sisi telinga yang mendengar suara bisikan tersebut.
__ADS_1
Tidak ada jawaban dari suara tersebut, tetapi Miki bisa merasakan nafas berat seseorang di lehernya di dalam kegelapan.
“Katakan kau siapa?” seru Miki kembali, dan dia melangkah maju dari posisinya karena merasa tidak nyaman dengan nafas berat yang mengenai lehernya.
Saat Miki melangkah maju, tiba-tiba suara itu kembali berbisik di telinganya. “Apakah kau tidak mengenali suaraku?” terdengar suara itu tidak asing bagi Miki. “Aku yakin kau tahu siapa aku.” Bisik suara itu kembali.
Untuk beberapa menit Miki sudah tahu siapa orang tersebut, dia bisa mengenali suara itu. Suara itu terdengar jelas seperti suara Mike.
“Apakah kau sudah mengenali suaraku?” bisiknya kembali seraya memeluk Miki dari belakang.
Miki semakin membeku ketika mendapat pelukan dari belakang tiba-tiba. Rasanya ingin sekali dia bergerak tetapi dia tidak bisa karena seluruh tubuhnya membeku seolah merespons pelukan itu dengan sangat mudah. Tubuhnya sudah sangat mengenali dan merasa sangat nyaman dengan pelukan ini.
“Mike apakah itu kau?” tanya Miki.
“Aku kira kau tidak akan mengenali suaraku, aku senang kau bisa menebakku dengan benar.” Mike tersenyum di dalam kegelapan.
“Tolong nyalakan lampunya, aku tidak bisa bernafas di dalam kegelapan.” Pinta Miki pelan.
“Sebentar lagi aku akan menyalakan lampunya, biarkan aku memelukmu di dalam kegelapan sebentar lagi.” Bisik Mike di telinga Miki.
“Kenapa kau begitu berat?” seru Miki yang merasa keberatan dengan bobot tubuh yang sepenuhnya menimpa punggungnya.
“Hahaha, kau sangat manis sekali, aku suka dengan kata-katamu.” Mike meletakan dagunya di atas pundaknya Miki seraya memeluknya dengan erat.
“Apanya yang manis? Aku bilang kau begitu berat, tolong lepaskan aku sekarang juga.” Miki menarik kedua tangan yang melingkar di pinggangnya.
“Tidak, biarkan aku memelukmu sebentar lagi.” Mike menolak untuk melepaskan pelukannya.
Tanpa bersuara Miki mencoba berjalan di dalam kegelapan untuk menyalakan lampu. Sedangkan Mike yang masih memeluknya dari belakang mengikuti langkah kaki Miki.
“Kau mau pergi ke mana?” tanya Mike yang bergelantungan di punggung kecil Miki.
“Kau diam saja jika tidak ingin aku melepaskanmu dari punggungku.” Jawab Miki yang sedikit kesal karena pria ini seperti anak kecil yang terus menempel pada ibunya.
Mike tersenyum mendengar apa yang di katakan Miki. Dia tidak mengira jika dirinya melakukan hal konyol, dan sekaligus ini pertama kalinya dia terus menempeli seorang wanita seperti ini.
.
.
__ADS_1
.