Pria Kaya Menginginkan Gadis Pemalu

Pria Kaya Menginginkan Gadis Pemalu
35. Gadis Pemalu


__ADS_3

Angin bertembung dari timur ke barat, mengenai kedua wanita yang sedang menikmati indahnya sunrise di pagi hari seraya duduk di tumpukan pasir putih dengan kedua kaki yang di guyur air pantai hingga merasakan dinginnya air laut tersebut. Terlihat kedua wanita bersaudara itu larut dalam pikiran mereka masing-masing walaupun mereka sedang bersama.


Wajah Lucy terlihat memerah dan malu-malu. Dia memikirkan apa yang terjadi tadi malam saat dia bersama Joe. Tersenyum sendiri seraya membayangkan adegan ranjang yang dia lakukan bersama sang suami membuatnya melupakan segalanya termasuk Miki yang berada di sampingnya.


Kenapa kakak tersenyum sendiri, apa yang dia pikirkan sekarang sehingga seperti orang gila? Batin Miki.


“Hahaha,” tawa Lucy.


Dia tidak sadar jika sang adik sedang memperhatikannya sejak dari tadi. Semakin Lucy tertawa sendiri semakin Miki merasa kakaknya itu sudah gila.


“Kakak apa terjadi sesuatu padamu?”


Lucy tersadarkan, dia sadar jika dirinya saat ini sedang larut dalam adegan semalam. Dengan malu-malu Lucy menatap Miki dan tersenyum sipu pada adiknya itu.


“Miki kakak sudah tidak perawan lagi, Hehehe.”


“APA?!” pekik Miki.


“Ush…pelankan suaramu nanti ada yang dengar,” Lucy menutup mulut Miki dengan tangannya.


“Kakak, kau tidak bercanda?”


“Emm…semalam kakak melakukannya dengan Joe.” Lucy tersenyum sipu menyebutkan nama pria itu.


Kakak, kau terlihat bodoh saat sedang jatuh cinta. Batin Miki.


Miki hanya bisa menyaksikan sikap aneh Lucy yang sejak dari tadi terus berlangsung selama mereka berdua menikmati sunrise. Lucy terus tersenyum sendiri seperti orang gila.


“Kak, kapan kau akan berhenti menunjukkan wajah bodohmu itu?”


“Miki bilang apa barusan?” Lucy tidak terima jika di bilang bodoh oleh sang adik.


“Kakak, jika kau terus memasang wajah seperti itu, semua orang akan mengira kakak gila. Jika sedang jatuh cinta jangat terlalu jelas seperti itu.”


“Memang terlihat sangat jelas ya?” Lucy mulai serius.


“Sangat jelas sekali,”


Aku tidak boleh seperti ini di hadapan Joe, nanti dia akan tahu kalau aku sedang jatuh cinta padanya. Jika dia tahu, semakin besar kepala. Batin Lucy.

__ADS_1


“Oke baiklah, mulai sekarang kakak tidak akan memasang wajah bodoh seperti yang Miki bilang barusan. Kakak akan terlihat biasa saja seperti kepribadian kakak sebelumnya.”


Dalam waktu singkat Lucy mengubah sikapnya. Seketika Miki yang melihatnya hanya bisa tersenyum kecut karena sikap aneh sang kakak.


Sebenarnya aku juga ingin bercerita sama kakak, tetapi tidak mungkin aku merusak kebahagiaan kakak saat ini. lebih baik aku cerita di lain waktu saja. Batin Miki.


“Miki, mari kita kembali ke Villa sekarang. cuaca semakin dingin, tidak bagus untuk kesehatan.”


“Baiklah Kita kembali sekarang.”


Saat mereka kembali ke Villa, tiba-tiba Lucy bersikap aneh. Saat melihat Joe, Lucy langsung menarik Miki untuk mengikutinya bersembunyi di balik pintu.


Apa yang dia lakukan di sana? Kenapa dia tidak juga pergi kerja. Batin Lucy.


Tanpa sadar Lucy menghindari Joe, apa yang dia lakukan saat ini merupakan sikap alami seseorang yang sedang jatuh cinta.


“Kakak, ada apa?” Miki bingung kenapa Lucy menariknya bersembunyi di balik Pintu.


“Di sana ada Joe,”


“Terus kenapa kita harus bersembunyi seperti ini?”


Lucy mencoba untuk bersikap biasa-biasa saja, tetapi dia tidak bisa karena detak jantungnya terlalu cepat sehingga rasa percaya dirinya menghilang jika bertatap muka dengan pria itu.


“Miki, kakak tidak bisa bertemu dengannya saat ini.” Lucy memegangi dadanya yang bergetar hebat.


“Kenapa?” tanya Miki polos.


“Jantung kakak, jantung kakak akan berhenti berdetak jika berada di depannya.” Nafas di dada Lucy terasa sesak karena rasa gugupnya. “Miki tahu tidak jalan lain menuju ke kamarmu tanpa bertemu dengannya?”


Miki mengingat ada tangga di pohon kelapa dekat balkon kamarnya. Di Villa ini tidak ada jalan lain untuk menuju kamarnya selain pintu ini.


“Kak ada jalan lain yang bisa kita gunakan, ikuti aku sekarang.” Miki menarik Lucy mengikutinya menuju pohon kelapa di dekat balkon kamarnya.


Setiba di sana mata Lucy terbelalak kaget karena melihat tangga setinggi 4 meter terjulung ke atas balkon.


“Apakah kau yakin ini jalan satu-satu yang bisa kita lalui menuju kamarmu?”


“Emm…hanya ini. Jika kakak tidak ingin lewat tangga ini, kakak bisa lewat pintu di sana dan bertemu dengan kakak ipar.”

__ADS_1


Tidak mungkin aku lewat di pintu sana, tidak ada pilihan lain selain naik tangga ini. Batin Lucy.


“Oke, baiklah kita naik tangga saja!” Lucy antusias menaiki tangga terlebih dahulu.


“Kak Lucy hati-hati, nanti terjatuh.” Miki tersenyum melihat kakaknya seperti orang bodoh.


Setelah Lucy sampai di atas kemudian Giliran Miki menaiki tangga yang setinggi 4 meter. Miki mulai menjijit dan salah satu kakinya mulai menaiki tangga, perlahan dia mulai melangkah kakinya hingga sampai di atas balkon.


“Apa yang kalian lakukan?” terdengar suara Cindy yang berada di balkon seberang.


Mendengar suara tersebut Miki dan Lucy mendongak ke arah balkon seberang, mereka melihat Cindy yang mendapati mereka berdua sedang memanjat tangga untuk naik ke atas balkon.


“Dia siapa?” Lucy terkejut melihat ada wanita lain selain dia dan adiknya di Villa ini.


“Dia Cindy,”


Aku mohon jangan sampai Cindy mengatakan yang sebenarnya siapa dirinya pada kak Lucy. Batin Miki yang khawatir.


“Hi…nama saya Cindy, saya salah satu pelayan pribadi Tuan Mike.” Cindy tersenyum kecut.


Mendengar apa yang di katakan Cindy membuat Miki sangat terkejut. Dia tidak percaya jika Cindy akan berbohong di hadapan kakaknya Lucy.


“Hahaha, benar dia adalah salah satu pelayan pribadi Mike.” Miki menelah ludahnya.


“Hi…Cindy saya Lucy kakaknya Miki, senang kenal denganmu. ” Lucy tersenyum pada Cindy.


“Senang kenal denganmu Nona,” Cindy tersenyum selayaknya pelayan yang menghormati Tuannya.


Maafkan aku Cindy, aku tidak bermaksud membuatmu melakukan hal yang menyakiti harga dirimu. Batin Miki.


Miki merasa buruk melihat Cindy yang harus berbohong dan merendahkan dirinya di hadapan kakaknya. Rasa terima kasih tidak akan cukup membalas kebaikan Cindy padanya hari ini.


“Terima kasih,” Miki menggerakkan bibirnya tanpa bersuara kepada Cindy yang di sebarang sana. Sementara itu Cindy hanya tersenyum melihat Miki yang berterima kasih padanya.


Semakin hari masalah di Villa ini semakin rumit saja. Semua masalah ini tidak dapat di hindari karena sejak dari awal semuanya telah terjadi, hanya saja tidak seharusnya banyak orang yang terlibat ke dalam masalah ini. Aku harap jika apa yang akan terjadi di masa yang akan datang tidak menyakiti hati banyak orang yang tidak bersalah, orang yang bersalah atas semua ini adalah orang yang seharusnya bertanggung jawab atas apa yang terjadi. Suara hati Miki.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2