
Tubuh Miki mengigil kedinginan, bibirnya beku dan membiru. Dia terkunci di sebuah gudang selama berhari-hari. Hanya baju balet berkain tipis membalut tubuhnya yang ramping.
“Apakah dia masih hidup di dalam sana?” terdengar suara dua gadis yang mendekat.
Miki mendongkak melihat ke arah jendela. Di sana ia melihat ke dua teman satu kelas ballerina yang membuatnya terkunci rapat di dalam gudang yang sempit ini.
“Tolong bebaskan Miki dari sini.” Suara Miki bergetar.
“Hahaha, dia bilang apa tadi?” tawa salah satu dari kedua gadis tersebut.
“Miki mohon…bebaskan Miki dari sini.” Miki memohon seraya berjalan mendekati kedua temanya itu di jendela.
“Sepertinya kami tidak bisa membebaskan kau dari sini.” Tawa kedua gadis tersebut terdengar sangat senang mempermainkan Miki.
“Miki mohon…” Miki menjulurkan kedua tangannya di atas jendela yang di buka oleh kedua gadis tersebut.
“Aduh…kasihan sekali dia, coba kau lihat dia betapa sangat menyedihkan sekali dirinya itu sekarang, hahaha.” Keduanya tertawa puas melihat Miki yang menderita.
“Miki salah apa pada kalian berdua sehingga memperlakukan Miki sekejam ini?” Miki terus menjulurkan tangannya yang bergetar di jendela.
“Cih, benar-benar tidak tahu diri.” Sorot mata salah satu dari kedua gadis itu berubah. Dia memandang Miki dengan kebencian yang sangat dalam. “Kau ingin tahu apa salahmu?”
Miki menganggukkan kepalanya pelan seraya mendongkak melihat ke atas jendela.
“Kehadiran dirimu adalah masalah, kau itu tidak berguna. Bisa-bisanya kau merebut posisiku sebagai penari utama ballerina di pementasan nanti.” gadis itu memandang Miki tak senang.
“Miki tidak merebutnya, Miss Reina yang meminta Miki menempati posisi itu.” Miki membela dirinya dari tuduhan gadis itu.
“Bisa-bisanya kau berkata sombong seperti itu di depanku!” amarah yang di tunjukan gadis itu sungguh sangat mengerikan. Wajahnya mulai bengis melihat wajah Miki di hadapannya itu.
“Miki tidak berkata sombong, Miki hanya mengatakan yang sebenarnya.” Kata Miki yang semakin berusaha mencapai jendela di atasnya.
“Kau memang sangat sombong, persis dengan wajah angkuhmu itu.” Gadis ini mulai menunjukkan sikap seorang penjahat dalam dirinya.
Tubuh Miki bergetar saat menyadari tatapan mengerikan yang di tunjukan gadis itu untuk dirinya.
“Kau pegang kedua tangannya, dan letakan di atas sini.” Perintah gadis itu pada temannya. “Kita lihat apakah dia masih bisa berkata sombong setelah ini.” Gadis itu mulai menarik pintu jendela sedikit lebih tinggi, sedangkan kedua tangan Miki berada di antara dahan jendela yang hendak di tutup oleh gadis itu.
Seketika tubuh Miki merinding ketakutan melihat gadis itu hendak menghancurkan kedua tangannya dengan mengimpitnya dengan jendela.
__ADS_1
“Tidak, tidak, tidak, Miki mohon jangan.” Miki sangat panik. Dia berusaha menarik kembali kedua tangannya dari jendela tersebut, tetapi tidak mudah baginya untuk melakukannya. Kedua tangannya di tahan dengan kuat oleh kedua gadis jahat itu.
Kedua gadis itu tertawa bahagia saat hendak menghantam kedua tangan Miki dengan jendela.
“Tolong jangan lakukan itu, tolong.” Miki memohon dengan sangat meminta belas kasihan pada kedua gadis itu.
“Hahaha, rasakan ini!”
“Tidakk!!”
Miki terbangun dari mimpi buruknya. Nafasnya tertahan di dada dan suaranya terkunci di tenggorokan, dia berteriak tanpa bersuara saat terbangun dari mimpi Buruk.
Seluruh tubuhnya berkeringat, dan nafasnya juga tidak teratur karena kepanikan saat terbangun dari mimpi buruknya. Miki berjalan ke arah pintu kaca yang tertutup rapat menuju teras, dia mencoba untuk keluar dari kamarnya secepat mungkin yang dia mampu.
Tepat berada di luar Miki terduduk lemas di balkon. Dia berusaha mengumpulkan udara melalui hidungnya untuk bernafas, dia menarik dan menghembuskan nafasnya berulang kali seraya menopang dadanya. Hampir lima menit lamanya Miki mencoba bernafas dengan benar sehingga matanya memerah dan membendung air di matanya.
Dengan bernafas lega pada akhirnya Miki bisa menguatkan dirinya dari mimpi buruknya yang tak lain adalah kenangan buruk di masa lalu.
“Apakah kau baik-baik saja?” terdengar suara seorang wanita dari arah dan jarak yang berbeda.
Miki mencoba mencari asal suara tersebut. Saat dia menemukannya, wanita tersebut berada di seberang balkonnya.
“Apa yang terjadi padamu?” wanita itu kembali bertanya.
“Mimpi buruk,” suara lemas Miki mencoba menjawab pertanyaan wanita di seberang sana.
“Kau bermimpi buruk?” seru wanita itu.
“Ya, Mimpi buruk.” Miki kembali mengulangi kata-katanya.
“Apakah kau baik-baik saja?”
“Ia, saya baik-baik saja.” Miki mencoba berdiri dengan menguatkan kedua kakinya yang lemas.
“Apakah kau bisa berdiri?” wanita itu menujukan kekhawatirannya terhadap Miki.
“Ya” Miki sudah berdiri dengan ke dua tangannya berpegang teguh di tepian besi balkon seraya menghadap wanita yang di sebarang sana.
“Apakah kau tahu siapa aku?” tanya wanita itu.
__ADS_1
“Ya, aku pernah melihat kau pada malam itu.” Miki sungguh mengingat wajah wanita itu pada saat pertama kali dia melihat Katie. Dia salah satu dari wanita milik Mike.
“Kau pasti Miki. Aku dengar kau wanita yang sangat cantik, dan ternyata itu benar. Kau terlihat sangat cantik walaupun terlihat berantakan seperti itu.” Wanita itu tersenyum pada Miki.
“Namamu siapa?” tanya Miki.
“Kau bisa panggil aku Candy, dan senang bisa bertemu denganmu malam ini.” Dia kembali tersenyum pada Miki.
Miki tersenyum melihat Cindy yang tersenyum padanya. “Boleh aku bertanya padamu?” seru Miki.
“Tanyakan saja,” dengan nyaman Cindy memperbolehkan Miki bertanya.
“Kenapa kau masih terjaga jam segini? Apa ada yang kau pikirkan?” tanpa sadar Miki membuat dirinya penasaran terhadap wanita yang di seberang sana.
“Hahaha, aku juga tidak tahu kenapa aku masih terjaga sampai jam segini.” Cindy tersenyum kembali pada Miki, seakan senyumannya itu tak pernah hilang dari wajahnya itu.
“Hahaha, kau sungguh aneh.” Tawa Miki.
“Sejujurnya, aku menunggu kepulangannya.” Jujur Cindy.
Hati Miki berdegup kencang mendengar apa yang di katakan Cindy padanya. Dia tahu orang yang di maksud Cindy adalah Mike.
“Menunggu siapa?” seru Miki yang berpura-pura tidak tahu.
“Seorang Pria yang sangat aku cintai.” Dia tersenyum bahagia mengatakannya.
Dia terlihat sangat tulus mencintai pria brengsek itu. Terlihat jelas dari wajahnya jika dia benar-benar mencintainya. Batin Miki.
“Kau sungguh baik.” Miki mengatakan apa yang dia pikirkan tentang wanita itu.
“Hahaha, baru kali ini aku mendengar seseorang mengatakan aku baik.” Cindy kembali tersenyum pada Miki.
“Sungguh aku berkata Jujur, mana ada seseorang wanita yang rela tidak tidur hanya demi menunggu seorang pria, dengan sabar dan selalu tersenyum. Jika aku jadi kau, mana mau aku menunggu sampai sangat larut begini, jangankan tersenyum aku tidak akan pernah bisa melakukannya seperti yang kau lakukan saat ini.” Tutur Miki yang tanpa terasa dia sudah terlepas dari mimpi buruknya.
“Hahaha, suatu saat kau pasti akan melakukan apa yang aku lakukan saat ini. Di mana suatu hari nanti kau mencintai seseorang pria, jangankan menunggu kepulangannya, mendengar suaranya saja kau rela lakukan apa pun demi mendengar suaranya itu.” Kenyataan yang di katakan Cindy adalah apa yang dia rasakan saat ini.
Miki terdiam mendengarnya, dia tidak tahu harus mengatakan apa. Dia bisa merasakan apa yang di katakan Cindy padanya. Hanya saja dia tidak ingin merasakannya.
.
__ADS_1
.
.