Pria Kaya Menginginkan Gadis Pemalu

Pria Kaya Menginginkan Gadis Pemalu
23. Gadis Pemalu


__ADS_3

Miki terbangun dari tidurnya. Dia lupa membiarkan pintu balkon terbuka, sehingga dia kembali bermimpi buruk.


“Astaga, aku lupa membiarkan pintu balkon terbuka.” Miki menyekat keringat di keningnya.


Kali ini Miki tidak terlalu panik saat bermimpi buruk. Dia bisa mengatasi ketakutannya dengan cepat dan memfokuskan perhatiannya pada pintu kaca besar yang menghadap lautan. Sekilas dia melihat jam yang menunjukkan jam 6 pagi. Terpikir olehnya untuk menyambut pagi dengan menikmati udara segar di balkonnya, dan dia juga menelusuri tenda khas negara Mongolia yang sempat dia bangun kemarin sore bersama Bret.


Mumpung masih pagi kenapa aku tidak mencoba untuk memasak di dapur bersama Nyonya Bret sekarang. Sekilas terpikir di benak Miki untuk memasak sarapan pagi.


Miki berjalan cepat melewati pintu-pintu dan menelusuri jalan mencari keberadaan Nyonya Bret. Setalah mencari-cari akhirnya Miki menemukan Bret yang tengah berada di dapur untuk memperintahkan parah Chef memasak sarapan sebelum Tuannya bangun dari tidur.


“Nyonya Bret,” panggil Miki yang mendekati Bret di dapur.


“Nona ada perlu apa Anda datang kemari?” Bret terkejut sekaligus menunduk. “Sebaiknya Nona tidak berada di sini, jika Tuan tahu dia akan marah besar.” Bret menunjukkan kekhawatirannya. Bret sangat mengetahui Tuannya itu tidak suka Jika ada yang mengganggu para Chef-Nya yang sedang memasak makanan untuknya.


“Nyonya Bret tenang saja, dia tidak akan tahu jika saya ada di sini. Kecuali Nyonya Bret memberitahunya.” Ucap Miki dengan mata yang sibuk menelusuri seluk beluk dapur.


Dia tersenyum gembira karena baru kali ini dia mencoba memasak makanan untuk orang lain, biasanya selama ini Miki hanya memasak makanan untuk dirinya sendiri sebelum pinda ke Santa Monica.


“Baiklah Nona, Anda datang kemari mau apa?” tanya Bret yang seakan dia seteju bekerja sama dengan Nonanya itu.


“Nyonya Bret, saya ingin memasak satu hidangan untuk kita,” Miki tersenyum, dia memperlihatkan senyum yang seakan tidak sabar memulai masak.


Bret terkejut sekaligus tersenyum kaku karena takut jika Nonanya ini akan membuat masalah di dalam dapur Tuanya.


“Nona Mau masak apa?” tanya Bret yang meragukan kemampuan Miki dalam memasak.


“Boleh aku lihat bahan-bahan yang tersedia di dapur ini?” tanya Miki dengan semangat.


“Nona semua bahan makanan di dapur ini lengkap dan segar, jadi Nona tidak perlu Khawatir.” Kata salah satu Chef yang berada di dapur.


“Oke baiklah, Nyonya Bret Kita mulai memasak sekarang.” Miki bertepuk tangan untuk memberi tahukan jika dia akan memulai masak.


“Nona tunggu sebentar,” Bret menyenlah.

__ADS_1


“Ya Nyonya Bret, ada apa?” tanya Miki.


“Nona, Anda hanya memiliki waktu tiga puluh menit untuk menyelesaikan masakan Anda.” Bret menunjukkan kekhawatirannya.


Miki tersenyum seakan dia mengerti dan akan menyelesaikannya tepat waktu. “Nyonya Bret tenang saja, aku akan menyelesaikannya dalam kurun waktu kurang dari tiga puluh menit.” Miki tersenyum dan memulai untuk memasak.


Lima belas menit kemudian.


Semua mata Chef dan pelayan yang berada di dapur terkejut dan tidak bisa mengedipkan mata mereka sekali pun, karena takjub melihat ke ahlian memasak Miki yang di luar dugaan mereka. Miki memasak dengan tenang dan santai, dia menunjukkan keahlian memasaknya yang luar biasa selayaknya Chef profesional. Dalam waktu dua puluh lima menit dia sudah menyelesaikan masakannya tanpa tergesa-gesa dan semuanya terlihat rapi dan bersih saat dia sedang memasak.


“Hidangan Avocado Toast sudah siap.” Ucap Miki yang mengangkat piring hidangan yang di buat setinggi dada. Dia tersenyum puas karena menyelesaikan masakannya kurang dari tiga puluh menit.


Hidangan Avocado Toast sendiri merupakan makanan yang di olah dari buah alpukat dan di padukan dengan roti panggang. Selain roti, Avocado Toast juga di olah dengan bahan makanan lain, seperti telur, daging, dan dilengkapi dengan bumbu seperti garam dan lada.


“Pelayan tolong hidangkan makanan yang di buat Nona di meja makan Tuan, letakan hidangan tersebut di depan Tuan.” Bret memperintahkan pelayan dengan cepat, sekaligus merasa puas.


“Baiklah Nyonya Bret, saya balik ke kamar untuk bersiap-siap karena saya sudah telat untuk kursus memasak.” Dengan cepat Miki pergi ke kamarnya mengambil tasnya untuk pergi secepatnya.


Di ruangan makan, Mike sudah berada di meja makan. Pelayan yang membawa makanan yang di masak oleh Miki datang menghidangkannya di hadapan Mike.


“Silakan Tuan,” pelayan itu menunduk seraya berjalan mundur meninggalkan meja makan.


Mata Mike tertuju pada makanan yang barusan di hidangkan pelayan di hadapannya.


Dari semua makanan yang ada di meja makan kenapa makanan ini sedikit berbeda. Batin Mike.


Tanpa berbicara Mike mengambil pisau dan garpu, kemudian memotong sedikit bagian dari makanan tersebut untuk mencobanya. Setelah mengunyahnya Mike tersenyum, tanpa bersuara Mike menghabisi makanan yang di masak oleh Miki tanpa keluhan.


Sepertinya Tuan menyukai masakan Nona. Batin Bret, dia tersenyum lega karena tidak terjadi masalah dengan masak Nonanya itu.


Setelah menghabiskan makanan tersebut, Mike membersihkan sudut bibirnya dengan tisu. Dia menatap Bret seakan memintanya untuk mendekat. Dengan menggunakan telunjuk jarinya Mike meminta Bret mendekat padanya.


“Nyonya Bret, kenapa Nona Chloe tidak datang makan bersama denganku.” Mike membenarkan dasinya seraya menatap wanita paru baya itu.

__ADS_1


Sejak kapan Tuan ingin makan dengan seseorang? Biasanya dia tidak suka ada seseorang yang menemaninya makan. Batin Bret.


“Maaf Tuan, Nona sudah pergi sejak dari tadi,” kata Bret yang membungkuk.


Seketika ekspresi wajah Mike berubah dingin. “Lain kali beri tahu padanya, dia harus menemaniku makan setiap hari.” Mike sedikit emosi.


Bret terkejut dengan apa yang di katakan Tuanya itu, perubahan sikap dan suasana hati Tuannya ini sangat berbeda jauh dari yang sebelumnya.


Semenjak kedatangan Nona Chloe sikap dan suasana hati Tuan tidak bisa di tebak. Batin Bret.


“Baik Tuan, saya akan memberitahukannya pada Nona.” Bret tetap menunduk tak berani menatap Tuanya yang sedang marah.


Wanita ini sungguh berani sekali padaku. Lihat saja nanti, setelah pekerjaanku selesai aku akan membuat perhitungan dengannya. Batin Mike.


Kemudian dia berdiri seraya mengaitkan kancing jasnya dengan rapi. Dia tidak bisa mengontrol emosinya pagi ini hanya karena seorang wanita yang tidak patuh padanya.


“Mr. Fred, siapkan mobilnya sekarang.” perintah Mike yang dingin dengan wajah masam.


“Baik Tuan,” dengan cepat Fred menyiapkan Mobil di depan pintu untuk Tuanya itu.


Dengan mengeluarkan aura yang sangat Kuat, semua pelayan yang berada di dekat Mike merasa merinding ketakutan. Mereka tidak pernah melihat Tuannya semarah ini saat di pagi hari.


“Nyonya Bret, kau awasi terus Nona Chloe selama saya tidak ada.” Suara Mike terdengar dingin dan kaku.


“Baik Tuan, saya mengerti.” Jawab Bret yang kembali membungkuk seraya menahan kedua tangannya yang bergetar.


Mike berjalan meninggalkan meja makan dengan suara langkah kaki yang mengintimidasi semua pelayan yang berada di sana. Seakan suara langkah kaki tersebut sebuah perintah untuk memberi hormat padanya. Dengan seiringnya Mike melangkah semua pelayan tersebut menunduk hormat sampai suara langkah kaki tersebut menghilang.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2