
Rama mencoba untuk membuat bola energi dari tangannya. Dia memposisikan tangan seperti yang diinstruksikan dan mulai berkonsentrasi mengalirkan energi CORE nya. Perlahan energi tersebut keluar dan mengalir dengan lembut hingga terbentuklah gumpalan bola energi di tangan Rama.
Senyum senang terlihat di wajah Rama karena berhasil membangkitkan dan mengendalikan CORE dengan baik. Namun secara tiba-tiba bola energi di tangan Rama membuat putaran. Putaran itu semakin lama semakin cepat. Ukuran bola energi Rama yang semula hanya sebesar bola baseball saja kini ikut membesar seiring dengan putarannya yang semakin kencang.
Rama panik dan berusaha sekuat tenaga untuk mengendalikan bola energi miliknya. Namun semakin keras usaha Rama untuk mengendalikan bola energi tersebut, semakin besar pula tekanan yang dirasakan oleh Rama. Tanpa disadari ukuran bola energi Rama sudah sebesar bola basket.
Perlahan putaran bola energi melambat dan ukurannya tidak lagi bertambah besar.
“Sepertinya aku berhasil…” pikir Rama.
Rama sepertinya berhasil mengendalikan bola energi tersebut hingga akhirnya bola energi benar-benar berhenti berputar. Ukuran bola energi itu pun kembali mengecil. Sesuatu yang aneh mulai kembali dirasakan Rama. Bola energi yang semula terasa ringan dan lembut ditangan Rama, sekarang terasa sangat keras dan berat. Tanpa diduga, bola energi itu kembali membesar dengan tidak terkendali.
Baaaaammmmmm…… Bola energi meledak dan melemparkan Rama jauh kebelakang hingga menambrak tembok Aula. Semua orang termasuk Julia dan Darma sangat terkejut dengan apa yang terjadi.
“Ramaaaaa…..” teriak seluruh anggota tim.
Semua orang secara bersamaan berlari tergesa-gesa menghampiri Rama yang tergeletak tak berdaya. Kondisi Rama nampak mengkhawatirkan. Kedua tangan Rama mengalami luka bakar yang cukup serius. Darah segar keluar dari mulutnya dan berceceran di lantai.
Julia dengan sigap memberikan pertolongan pertama dengan mengalirkan energi CORE yang cukup besar kepada Rama. Julia memang cukup ahli mengendalikan energi CORE untuk penyembuhan.
“Bagaimana kondisinya Julia?” tanya Darma. Julia tidak memberikan tanggapan dan terus berkonsentrasi melakukan penyembuhan.
Satu menit, dua menit, tiga menit hingga 5 menit pun berlalu. Julia tanpa henti mengalirkan energi CORE nya.
“Syukurlah, Rama telah berhasil melalui masa kritis” ujar Julia dan menghentikan suplai energinya kepada Rama.
“Rama kehilangan kendali dan menghasilkan gesekan energi yang cukup besar hingga meledak dan melukai dirinya sendiri.” Julia mulai memberi penjelasan.
“Kemungkinan hal ini terjadi sangatlah kecil. Hal ini bisa terjadi hanya jika energi yang dimiliki Rama sangat besar dan sulit dikendalikan” tambahnya.
“Pak Darma, tolong bawa Rama menuju ruang medis. Kita akan lanjutkan proses penyembuhan disana.” Pinta Julia kepada Darma.
“Latihan hari ini kita sudahi. Silahkan tuan dan nona sekalian kembali ke kamar masing-masing dan beristirahat.” ujar Julia kepada anggota tim lainnya.
“Apa kami boleh menemani Rama?” tanya Dirga.
“Betul, jika diperbolehkan kami akan bergantian menjaga Rama di ruang medis” ujar Yuna dengan ekspresi wajah penuh kekhawatiran.
“Setuju…” sahut Ayu dan Galih.
“Tidak perlu, sedari pagi tuan dan nona sudah berlatih cukup keras. Kalian juga perlu menjaga kondisi tubuh untuk latihan esok hari” Julia memberikan tanggapan.
“Kalian tidak perlu khawatir, aku dan Julia akan menjaga Rama dengan baik” Darma menambahkan tanggapan Julia.
Yuna, Dirga, Galih dan Ayu kembali ke kamar masing-masing masih dengan perasaan yang khawatir. Sedangkan Julia dan Darma membawa Rama ke ruang medis.
Sesampainya di ruang medis, Julia kembali menyalurkan energi CORE nya kepada Rama yang terbaring di kasur ruang medis. Darma mendampingi Julia dengan mempersiapkan beberapa alat medis dan perban untuk mengobati luka luar yang diderita oleh Rama. Darma berkerja dengan sangat cekatan seakan-akan sudah sangat terbiasa dengan apa yang dilakukannya saat ini.
__ADS_1
“Aaaarggghhhhh……” tiba-tiba Julia berteriak dengan sangat kencang dan menghentikan aliran energi CORE nya.
“Apa yang terjadi Julia?” tanya Darma.
“Energi apa itu tadi….?” Julia bertanya-tanya dengan apa yang dia rasakan.
“Hey Julia ada apa?” Darma kembali bertanya kepada Julia yang masih terlihat terkejut dengan apa yang dia alami.
“Tadi aku mencoba menelaah energi CORE milik Rama untuk mengetahui apa yang sedang terjadi dan untuk mengetahui kenapa kita sama sekali tidak dapat merasakan aliran energi miliknya. Namun apa yang aku lihat sangat mengerikan.” Julia memberi penjelasan.
“Energi CORE miliki Rama seperti sebuah Black Hole yang sangat besar dan menarik esensi energi CORE miliki ku dengan sangat brutal” Tambahnya.
“Apa yang kamu katakan Julia? Itu tidak mungkin..!!” ucap Darma.
“Menurut mu apa aku sedang bergurau?” tanya Julia.
Darma tersentak dan terdiam seribu bahasa dengan energi yang tiba-tiba dikeluarkan Julia.
“Maaf Darma, aku tidak bisa mengendalikan diri” ujar Julia. Sedangkan Darma masih terdiam seribu bahasa.
“Selain itu, energi CORE miliknya memiliki sumber daya yang tidak terbatas. Bahkan aku sama sekali tidak bisa memprediksi seberapa besar kekuatan yang dia miliki” Julia kembali memberi penjelasan,
“Maaf Julia, tadi aku tidak bermaksud meragukan mu.” Ucap Darma.
“Apa dia memang sehebat itu?” tanya Darma.
Darma termenung dan teringat dengan Para Pandawa. Kumpulan orang-orang hebat yang memiliki kekuatan diluar nalarnya.
“Tidak mungkin Rama bisa mengimbangi Para Pandawa. Mereka adalah monster.” Pikir Darma.
“Julia, apakah Black Onyx Stone yang berada di tubuhnya tidak bisa mengkontrol energi CORE miliknya.” tanya Darma.
“Aku bahkan tidak bisa merasakan keberadaan Black Onyx Stone di tubuhnya” Jawab Julia.
“Sepertinya kekuatan Black Onyx Stone telah terserap dan menjadi satu dengan energi CORE nya” tambahnya.
“Ini gila, kita bahkan masih membutuhkan tambahan kekuatan dari Black Onyx Stone untuk bisa mengendalikan CORE. Sedangkan anak ini justru menyerap kekuatan Black Onyx Stone tanpa tersisa” ucap Darma dengan sangat terkejut.
“Sekuat apa CORE miliknya…??!!” tambahnya dengan bertanya-tanya.
“Seperti yang tadi ku katakan, kekuatan CORE nya mungkin saja tidak terhingga” jawab Julia.
Beberapa saat suasana menjadi hening. Julia dan Darma masih memperhatikan kondisi Rama dengan dipenuhi rasa penasaran dan tidak percaya. Tanpa mereka sadari sesuatu yang ganjil kembali terjadi kepada tubuh Rama.
Rama tiba-tiba mengeluarkan energi yang sangat besar dan menyelimuti sekujur tubuhnya. Energi yang terasa sangat hangat. Julia dan Darma kembali dibuat terkejut. Energi itu sangat besar hingga mereka yang sedari tadi
kesulitan untuk merasakan energi milik Rama pun saat ini bisa dengan mudah mengetahui seberapa besar kekuatan yang Rama miliki.
__ADS_1
“Darma gunakan rantai pengendali agar energinya tidak lagi bertambah besar. Dia bisa menghancurkan gedung ini dengan mudah” pinta Julia dengan sedikit tergesa-gesa.
Darma mengeluarkan energi CORE nya dan merubah bentuk energi tersebut menjadi sebuah rantai panjang yang melilit tubuh Rama. Itu adalah rantai pengendali yang akan membuat seseorang yang terlilit dapat kehilangan kemampuan pengendalian CORE.
“Argggghhhhhhh…..” teriak Darma.
“Gilaaaaa….. Aku tidak bisa menahan kekuatan miliknya.” Ucap Darma.
“Julia, beri suplai energi untuk memperkuat rantai pengendali…!!!!” teriak Darma.
Dengan sigap Julia menyebarkan energi CORE miliknya dan memberikannya kepada Darma untuk dapat memperkuat rantai pengendali.
“Masih kurang Julia….” teriak Darma.
“Aku sudah hampir memberikan seluruh energi ku…!” sahut Julia.
“Arrrgggghhhhh…. Ini benar-benar gila….!!!” Teriak Darma.
Cukup lama Julia dan Darma menahan kekuatan luar biasa milik Rama yang keluar dengan tidak terkendali. Lagi-lagi mereka diperlihatkan sesuatu yang sangat mengejutkan. Perlahan seluruh luka yang diderita oleh Rama terlihat membaik hingga akhirnya benar-benar pulih. Seiring dengan pulihnya luka yang diderita Rama. Energi miliknya mulai memudar dan perlahan menghilang.
“huh huh huh…..” Darma dengan napas tersengal hampir saja tidak dapat menopang tubuhnya karena telah cukup banyak menghabiskan energi.
“Bruuaaaaak……” Julia terjatuh dan tidak sadarkan diri.
“Juliaaaaa….!!” Teriak Darma yang meilhat Julia terjatuh. Dengan sangat sigap Darma mengampiri Julia dan memeriksa kondisi tubuhnya.
“Syukurlah….” Ucap Darma lirih. Julia terjatuh dan kehilangan kesadaran karena terlalu memaksakan diri hingga menggunakan seluruh energi CORE nya.
“Terima kasih Julia, jika bukan karena kamu, mungkin saja energi Rama sama sekali tidak bisa dikendalikan” ucap Darma sambil membawa Julia untuk berbaring di kasur ruang medis tepat di samping kasur tempat Rama terbaring.
Rama dan Julia beristirahat di ruang medis, sedangkan Darma kembali ke kamarnya. Darma merasa bahwa situasi sudah membaik dan meninggalkan mereka berdua untuk beristirahat.
Kesokan pagi, Rama pun terbangun dari istirahatnya. Mata Rama terbelalak, wajahnya tampak memerah. Rupanya saat Rama membuka mata, terlihat wajah gadis yang tidak asing lagi baginya. Wajah gadis cantik yang sedang tertidur pulas dengan sangat manis. Ya, itu adalah Julia.
“Ah sepertinya aku masih bermimpi” pikir Rama dengan kembali berusaha memejamkan matanya.
Dengan tetap memejamkan mata, Rama mencubit pipinya sendiri.
“Aahh…” jerit Rama.
“Sepertinya aku tidak bermimpi…” pikir Rama.
Perlahan Rama kembali membuka mata dan wajah cantik Julia masih ada disana. Wajah Rama kembali memerah.
“Juliaaaaaaa….?”
***
__ADS_1