
“Gila….” Teriak Darma dengan mata terbelalak.
“Luar biasa….” Puji Julia.
“Dengan kemampuan anda saat ini, tidak ada satu anggota pun yang akan sebanding dengan kekuatan anda tuan. Bahkan aku dan Pak Darma sekalipun akan kesulitan untuk melawan anda.”
“Untuk sementara waktu, berjanjilah untuk tidak menunjukkan kemampuan ini didepan anggota tim lain karena aku khawatir mereka akan berkecil hati. Cukup tunjukkan 10% saja kemampuan yang anda miliki, tuan.” Sambung Julia.
“Aku mengerti, Julia” Jawab Rama yang tidak bisa menyembunyikan rasa bangganya.
“Jika begitu, anda bisa meninggalkan ruangan ini dan beristirahat. Aku dan Pak Darma akan kembali ke ruang pengawasan.”
“Terima kasih banyak, Julia.” Ucap Rama.
“Ehmm….” Darma mendeham.
“Eh, terima kasih juga Pak Darma.” Ujar Rama yang merasa tidak enak hati sambil tertawa kecil.
Rama pergi meninggalkan ruang pelatihan. Sedangkan Julia dan Darma kembali ke ruang pengawasan untuk memantau perkembangan anggota tim lain.
“Aku minta maaf, Darma.”
“Tidak, aku yang seharusnya minta maaf.”
Permintaan maaf itu mengakhiri perselisihan antara keduanya.
Keesokan harinya, Rama memasuki ruang pelatihan area kelima. Rama sangat antusias sekaligus penasaran dengan cara kerja kapsul virtual itu.
Kapsul Virtual adalah sebuah alat yang dirancang khusus untuk dapat menyelami dan menemukan jati diri penggunanya. Mesin ini akan menunjukkan motivasi, kekhawatiran, ketakutan bahkan trauma masa lalu yang masih membekas di pikiran pengguna. Untuk bisa menjadi kuat, seluruh anggota tim akan berhadapan dengan diri mereka sendiri.
“Selamat pagi Rama.” Darma menyambut kedatangan Rama.
“Kenapa bukan Julia.” Ucap Rama lirih.
“Hey, aku bisa mendengar itu.” Sahut Darma.
“Maaf, maaf…. Selamat pagi, Pak Darma.” Jawab Rama.
“Hari ini kamu akan melawan dirimu sendiri di dalam kapsul virtual. Setiap manusia pasti memiliki trauma dan ketakutannya sendiri, begitu juga dengan kamu. Hadapi semua itu dan tumbuhlah menjadi pribadi yang lebih kuat.” Ucap Darma.
Rama terdiam dan mendengarkan dengan seksama kata demi kata yang diucapkan oleh Darma.
“Cara kerja kapsul ini sangat mudah. Kamu hanya perlu masuk dan tidur didalam kapsul itu. Pengoperasian kapsul ada pada kendali kami. Setelah kamu masuk, pintu kapsul akan tertutup dan kapsul akan mengeluarkan sedikit kejutan listrik untuk membuatmu tertidur.”
“Maksudnya aku akan di setrum?” Tanya Rama panik.
“Hanya kejutan listrik kecil saja.” Jawab Darma.
“Setelah kamu tertidur, mesin akan melakukan pemindaian dan memaksa otakmu untuk menampilkan beberapa hal yang menjadi motivasi, ketakutan, kekhawatiran bahkan trauma masa lalu. Semua hal itu akan muncul di dalam mimpimu. Meskipun begitu, semua itu akan terasa nyata bagimu.”
“Apa kamu siap?” Tanya Darma.
“Tentu saja…” Jawab Rama sambil masuk ke dalam kapsul virtual.
Setelah itu, pintu kapsul virtual tertutup secara perlahan. Kemudian muncul silih berganti beberapa tulisan berupa hologram di pintu tersebut. Tulisan itu terlihat jelas oleh Rama karena terletak tepat di sekitar area kepalanya.
---
[Selamat Datang]
[Anda akan memasuki dunia virtual]
[Perjalanan akan dimulai setelah…]
[5]
[4]
[3]
[2]
[1]
………
Rama tersentak karena kejutan listrik yang terjadi dan seketika tidak sadarkan diri.
………
[Selamat bersenang-senang]
__ADS_1
---
Rama berada di sebuah tempat yang sangat terang sampai-sampai membuatnya tidak dapat melihat dengan jelas. Perlahan matanya mulai terbiasa. Rama terkejut dengan apa yang dilihatnya. Dia melihat beberapa anak kecil yang sudah tidak asing lagi baginya. Mereka adalah anak-anak yang ada di panti asuhan tempat Rama menghabiskan masa kecilnya.
“Kenapa mereka ada di sini?” Pikir Rama.
Rama berusaha mendekati mereka dan alangkah terkejutnya dia saat melihat tubuh kecilnya sendiri di cermin.
Dia kembali melihat anak-anak kecil itu dan berusaha mengajak mereka berbicara. Tapi tidak satu kata pun dapat keluar dari mulutnya. Terlebih lagi kini tubuhnya bergerak sendiri tanpa bisa dia kendalikan.
“Apa yang terjadi?” Pikir Rama yang merasa sangat bingung.
Rama mengambil sebuah mainan robot yang sangat dia sukai dan segera memainkannya. Tiba-tiba seorang anak yang memiliki tubuh lebih besar darinya datang dan langsung mengambil mainan itu.
“Itu milik ku.” Ucap Rama kecil.
“Aku mengerti.” Pikir Rama.
“Aku memiliki kesadaran dan berada pada tubuh masa kecilku. Tapi ini hanyalah kilas balik. Dengan kata lain, aku sedang menyaksikan apa yang dulu terjadi, langsung dari tubuh ku sendiri.” Sambungnya.
“Kembalikan itu. Aku kan sedang memainkannya.” Ucap Rama kecil.
“Mulai saat ini, mainan ini adalah milikku. Tidak boleh ada orang yang memainkannya tanpa izin dariku.” Jawab anak kecil itu.
Rama tidak ingin berdebat dan terlibat masalah. Kemudian dia mengambil mainan lain dari kotak mainan dan memainkannya. Lagi-lagi anak kecil tadi
mengambil mainan yang sedang dipegang oleh Rama.
“Hey, kenapa kamu ambil lagi?” Tanya Rama kecil.
“Mainan ini juga milikku.”
Rama mulai kesal, tapi dia masih tidak peduli. Rama kembali mengambil mainan lain dan memainkannya. Anak kecil tadi mengambil lagi mainan yang sedang Rama pegang.
Rama semakin bertambah kesal, tapi dia masih tidak ingin mencari masalah. Rama kembali ke kotak mainan dan mengambil mainan lain. Dia melihat anak kecil tadi mendekat dan berusaha mengambil mainan yang sedang dia pegang. Tapi kini Rama menggenggam mainan itu dengan kuat sehingga anak tadi tidak dapat mengambil paksa mainan tersebut.
“Hey, berikan mainan itu!” Teriak anak kecil tadi.
“Kamu sudah punya banyak mainan, kenapa masih mau ambil mainan ini?” Tanya Rama.
“Jangan berisik! Semua mainan disini adalah milikku!” Teriaknya lagi.
“Aku tidak peduli.” Rama kecil memberi tanggapan.
Tanpa banyak bicara anak itu langsung memukul wajah Rama kecil hingga terjatuh. Tapi Rama masih memegang erat mainan itu di pelukannya.
Anak kecil tadi masih terus berusaha merebut mainan itu. Dia terus memukul dan menendang Rama. Tapi Rama tidak bergeming. Meskipun mendapatkan banyak luka, Rama masih tetap memeluk erat mainan itu.
Anak tadi masih terus memukuli Rama. Hingga tiba-tiba saja Rama memberikan tatapan tajam dan membuat anak tadi sedikit terkejut. Tapi tatapan mata Rama malah membuat anak tadi semakin kesal. Anak itu semakin menjadi-jadi. Pukulan dan tendangan keras terus menerus dilakukannya.
Rama yang sudah tidak kuasa menahan amarah pun tanpa sadar mengeluarkan energi gelap yang mengerikan dan memberi satu pukulan kepada anak kecil tadi. Rama merasa pukulannya tidaklah keras, tapi siapa sangka anak tadi terpental jauh kebelakang, membentur tembok dengan cukup keras dan hilang kesadaran.
Anak-anak lain di ruangan itu terkejut dan berteriak keras saat melihat kejadian tersebut. Teriakan mereka didengar oleh salah satu pengurus panti asuhan yang segera datang untuk melihat keadaan. Pengurus panti asuhan sangat terkejut saat melihat salah satu anak terkapar tidak berdaya dan segera memanggil ambulans.
“Aku minta maaf, aku tidak sengaja.” Ucap Rama kecil yang sedang ketakutan, kepada pengurus panti asuhan yang datang. Tapi pengurus panti asuhan tidak memberikan tanggapan sedikitpun dan malah melihat Rama dengan penuh kebencian.
Kemudian Rama melihat ke arah anak-anak lainnya. Dia berharap ada diantara mereka yang mau membantunya memberi penjelasan. Tapi alangkah terkejutnya Rama saat melihat anak-anak itu mundur menjauh dan ketakutan.
“Teman-teman….” Ucap Rama lirih sambil mendekati mereka.
“Tolong jangan sakiti aku.” Ucap salah satu anak.
“Pergi kamu dasar anak iblis.” Teriak anak lainnya yang diikuti oleh semua anak yang ada di ruangan itu.
Perkataan mereka sangat menyakiti hatinya. Rama lari dan pergi dari ruangan itu menuju ke lapangan belakang. Dia menangis seorang diri disana hingga malam tiba.
Anak kecil yang terluka tadi rupanya adalah salah satu anak yang menjadi kebanggaan panti asuhan. Seminggu lagi anak itu akan diadopsi oleh seorang pria kaya raya yang memiliki banyak pengaruh. Dengan begitu panti asuhan juga akan mendapatkan keuntungan yang besar. Tapi karena kejadian yang baru saja terjadi, pengurus panti asuhan khawatir dianggap tidak bertanggung jawab dan malah memberi kerugian yang besar bagi mereka.
Rama besar menangis dalam hatinya saat mengingat kejadian tersebut. Tapi dia juga ingat kejadian setelahnya. Meskipun dia tidak lagi memiliki teman, bahkan pengurus panti juga tidak peduli padanya, Rama kecil berhasil bangkit dan menjalani hari-hari dengan senyuman. Hingga akhirnya dia di adopsi oleh Kertarajasa dan meninggalkan panti asuhan itu.
“Tubuhku saat itu mungkin memang kecil, tapi ternyata saat itu aku jauh lebih dewasa dibandingkan dengan aku yang sekarang. Aku sampai melupakan kejadian-kejadian itu.” Pikir Rama.
Tiba-tiba cahaya terang kembali datang dan membuat mata Rama buta sesaat. Perlahan matanya mulai terbiasa dan penglihatannya kembali normal. Kini dihadapan Rama berdiri sosok wanita yang pernah mewarnai hari-harinya. Wanita itu mengenakan gaun putih yang tergerai panjang. Rambutnya tertata rapi dihiasi aksesoris putih seperti mahkota di kepalanya. Rangkaian bunga yang sangat cantik berada di genggaman tangan wanita itu. Rama berada tepat di hari pernikahannya.
Rama memejamkan mata dan tersenyum melihat wanita tadi. Saat dia kembali membuka matanya, apa yang ada dihadapannya berubah. Rama melihat istri, kakak ipar dan ayah mertuanya mengusir dan menghardik ayahnya dari kantornya sendiri.
“Pergi kau dasar tua bangka!” Ucap kakak iparnya.
“Woy bangsat, bicara apa kamu barusan!” Teriak Rama membalas ucapan kakak iparnya itu.
“Jangan ikut campur.” Sahut istrinya.
__ADS_1
“Apa-apaan ini?!” Tanya Rama dengan nada tinggi kepada istrinya.
“Perusahaan ini telah menjadi milik kami, dan kami hanya sedang membuang sampah agar tidak mengotori tempat ini.” Jawab istrinya.
Rama mendekat dan menampar istrinya.
Plak….
“Kurang Ajar.”
Kakap iparnya berusaha membalas tamparan itu, tapi dihentikan oleh ayah mertuanya.
“Jangan kotori tangan mu hanya untuk memukul cecunguk busuk ini.”
Ucapnya
“Karena kamu adalah menantuku, kamu akan ku beri kesempatan untuk terus bekerja disini. Kebetulan ada tukang sampah kami yang baru saja mengundurkan diri.” Ujarnya kepada Rama.
Cuh…. “Aku tidak sudi!” Jawab Rama sambil meludahi ayah mertuanya.
Kemudian beberapa petugas keamanan datang.
“Usir sampah-sampah ini!” Teriak istrinya.
Petugas keamanan itu memegang dan menyeret keluar Rama dan ayahnya. Rama sangat marah saat melihat ayahnya diperlakukan seperti itu. Dia langsung memukuli petugas keamanan yang ada disana. Empat orang petugas keamanan tidak mampu mengalahkan Rama yang hanya seorang diri.
“Sudahlah Rama. Kita pergi dari sini.” Ucap Ayahnya.
“Tapi….” Kata-kata Rama terhenti.
“Kita tidak seharusnya bermain-main dengan pengkhianat busuk seperti mereka.” Ujar Ayahnya.
“Tua bangka tidak berguna. Pergi kalian dari sini…!” Hardik istri Rama kepadanya dan ayahnya.
“Dasar jalang…!” Teriak Rama.
“Sudahlah Rama. Ayo kita pergi.” Ucap ayahnya sambil memegang pundak Rama.
“Akan ku balas semua ini…!” Ujar Rama dalam hatinya yang terasa sakit dan hancur berkeping-keping. Dia tidak pernah menyangka akan dikhianati dan mendapatkan penghinaan seperti ini.
Penderitaan Rama dan keluarganya tidak berhenti disitu. Ibu Rama pergi meninggalkan ayahnya yang telah jatuh miskin. Kondisi kesehatan ayahnya menurun dan mengalami sakit yang berkepanjangan. Rama tidak memiliki saudara, ayahnya Rama juga anak tunggal yang berjuang sendiri di kota Pasundan sedari muda. Tabungan Rama habis terkuras untuk menanggung biaya pengobatan ayahnya itu. Hingga akhirnya, ayahnya mengalami serangan jantung dan pergi meninggalkan Rama seorang diri untuk selama-lamanya.
“Sial, suatu saat nanti akan ku balas perlakuan wanita ****** dan keluarganya itu.” Ucap Rama kesal saat diperlihatkan kembali masa lalunya.
“Brengsek…. Bisa-bisanya Rama menikahi wanita tidak tahu diri itu.” Ujar Darma yang juga sedang menyaksikan kilas balik masa lalu Rama dari layar monitor di ruang pengawasan.
Julia tidak memberi komentar, tapi tangannya mengepal sangat keras. Itu artinya Julia juga sedang merasa sangat marah.
Cahaya terang kembali datang dan membutakan mata Rama untuk sesaat. Perlahan Rama mulai bisa beradaptasi dan menyaksikan pemandangan yang belum pernah dia lihat seumur hidupnya. Pemandangan itu juga membuat Julia dan Darma terbelalak. Sepanjang mata memandang, hanya terlihat kehancuran.
“Apa ini?” Pikir Rama bertanya-tanya.
Tidak lama kemudian pandangan Rama memudar dan menjadi gelap. Tidak terlihat apapun selain kegelapan.
“Hey, kenapa diam saja?” Terdengar suara seseorang berbicara.
“Asoka…” Sambung suara itu.
“Siapa Asoka?” Rama masih bertanya-tanya, sedangkan Julia kembali terbelalak mendengar nama itu diucapkan.
Perlahan terlihat cahaya dan Rama kembali dapat melihat pemandangan yang tadi dia lihat.
“Hey Asoka, kenapa diam saja?” Ujar sosok yang ada disampingnya, sosok yang membuat Julia tersungkur ketakutan dengan mata terbelalak.
Rama dan Darma hanya dapat melihat siluet wujud sosok itu karena cahaya yang begitu terang. Tapi Julia tahu pasti siapa sebenarnya itu.
“Kamu kenapa, Julia?” Tanya Darma saat melihat Julia jatuh tersungkur. Tapi Julia tidak memberi tanggapan sama sekali.
Darma berusaha membantu Julia berdiri. Saat Darma memegang tangan Julia, Darma baru menyadari bahwa Julia sedang sangat ketakutan. Tangannya gemetar dan dipenuhi keringat dingin.
“Kenapa Julia ketakutan seperti ini? Siapa sebenarnya orang itu?” Pikir Darma.
Tiiiit… tiiit… tiiiit…
Terdengar suara peringatan yang muncul dari Intelligent System kapsul virtual. Itu adalah tanda terjadinya kendala.
[Peringatan! Kelebihan muatan energi!]
[Bahaya! Bahaya! Bahaya!]
***
__ADS_1