
Semua serangan yang dilakukan Ayu nampak sangat kuat. Namun tidak terlihat adanya goresan sedikitpun pada kubah pelindung milik Julia.
Saat melakukan serangan, Ayu tidak menyadari kedatangan rantai miliki Darma. Rantai itu dengan cepat melilit tubuh Ayu dan membuatnya tidak dapat menggerakkan tubuhnya. Tidak hanya itu, sayap milik Ayu pun menghilang dan Ayu tidak lagi dapat mengeluarkan energi CORE. Rantai belenggu nampak sangat efektif untuk menghentikan Ayu.
Rama dan Dirga tidak tinggal diam. Seperti saling memahami satu sama lain, Rama menggunakan cakarnya untuk menciptakan sabit energi yang langsung mengarah kepada Darma. Sedangkan Dirga dengan cepat mengeluarkan kerambit miliknya untuk memotong rantai yang membelenggu Ayu.
“Kombinasi serangan yang hebat.” Pikir Darma.
Darma berhasil menghindari sabit energi dengan baik. Serangan yang dilakukan Rama pun gagal. Begitu juga dengan Dirga, kerambit miliknya tidak cukup kuat untuk memotong rantai belenggu Darma.
Yuna dan Galih mempercayakan Darma kepada Rama, Dirga dan Ayu. Mereka langsung berlari menuju kubah untuk menyerangnya dari jarak dekat. Serangan jarak dekat memang tidak memiliki jangkauan yang luas, namun daya hancur yang dimiliki lebih besar dari serangan jarak jauh.
Yuna memperkuat tangannya dan melakukan pukulan keras dengan tenaga penuh. Hal serupa juga dilakukan oleh Galih. Namun penguatan yang dilakukan Galih agak sedikit berbeda. Jika Yuna langsung memperkuat tubuhnya, Galih memperkuat baju zirahnya. Hal tersebut menciptakan daya hancur lebih besar berkali-kali lipat dibandingkan dengan Yuna.
Yuna tertegun. Pukulannya sama sekali tidak berpengaruh pada kubah pelindung milik Julia. Tidak hanya pukulannya saja, bahkan pukulan Galih yang memiliki daya hancur besar pun sama sekali tidak membuat kubah pelindung mengalami kerusakan.
Julia tersenyum melihat Yuna.
“Serangan itu tidak memiliki arti sama sekali. Gunakan stalagmit anda nona.” Ujar Julia.
Yuna sadar bahwa dirinya belum bisa menggunakan stalagmitnya. Dia sendiri tidak tahu bagaimana cara untuk mengeluarkan stalagmit seperti pertarungan sebelumnya.
Yuna lengah. Tanpa sadar rantai milik Darma telah melesat kearahnya. Yuna terkejut dan tidak dapat berbuat banyak. Yuna tidak memiliki refleks yang baik untuk menghindari serangan-serangan kejutan seperti ini.
Tang…
Galih berhasil melindungi Yuna. Dengan sigap Galih berlari kedepan Yuna untuk menjadikan dirinya sebagai tameng. Rantai energi milik Darma sekalipun tidak dapat menembus pertahanan milik Galih.
“Zirah yang hebat!” Teriak Darma dengan sangat semangat.
“Lihat kemana kau Pak Darma.” Ujar Dirga yang tiba-tiba muncul dihadapan Darma.
Dirga menyerang Darma menggunakan kerambit dengan sangat cepat. Namun setiap serangan yang dia lakukan dapat dengan mudah dihalau oleh Darma. Dirga melakukan serangan dari depan dan menghilang. Lalu Dia muncul dari belakang untuk melakukan serangan dan dengan cepat kembali menghilang. Dirga melakukan serangan dengan pola seperti itu dari berbagai arah. Dirga juga telah memperhitungkan adanya titik buta dan melakukan serangan dari arah tersebut, namun lagi-lagi Darma berhasil menghalau serangan yang dia lakukan.
Tak lama kemudian Darma dengan cepat melakukan serangan balasan. Sebuah pukulan yang keras dan cepat diarahkannya ke wajah Dirga. Dirga yang mampu melihat lintasan serang itu dengan mudah menghindarinya. Tidak hanya satu pukulan, semua serangan yang dilakukan oleh Darma baik itu pukulan maupun tendangan mampu dihindarinya dengan sangat baik.
Darma kembali melakukan pukulan ke bagian wajah. Namun dimata Dirga pukulan itu agak berbeda. Pukulan yang nampak tidak bertenaga dan dapat dengan mudah dia hindari. Muncul beberapa opsi serangan balasan dimata Dirga yang disertai dengan persentase keberhasilannya. Dirga menghindari serangan itu dengan mengelak ke kiri, kemudian melakukan pukulan cepat dari bawah yang mengarah tepat ke area dagu Darma. Persentase serangan 100%. Dirga pun tersenyum bangga. Hingga sesuatu yang tidak diduga terjadi.
Dari tangan Darma yang melakukan pukulan tiba-tiba saja keluar sebuah rantai yang dengan cepat mengikat leher Dirga.
“Gerakan mu seperti seorang pembunuh profesional. Bergerak dengan cepat, menghilangkan hawa keberadaan. Muncul tiba-tiba dengan serangan yang mematikan.” Ujar Darma.
__ADS_1
“Sekarang coba keluar dari situasi ini!” Teriak Darma dengan penuh gairah.
Dirga tersentak dan tidak dapat bergerak. Dia berusaha melepaskan rantai itu namun sia-sia. Kekuatan Dirga tiba-tiba menghilang. Rantai itu mengangkat tubuh Dirga. Dirga pun meronta seperti tercekik dengan sangat kuatnya.
Sesaat sebelum Dirga kehilangan kesadaran. Kekuatan besar memotong rantai pengendali milik Darma. Itu adalah sabit energi milik Rama. Dia tidak hanya berhasil menyelamatkan Dirga, tapi juga memotong rantai yang mengikat
Ayu.
Dengan cepat Rama bergerak mendekati Dirga dan membawanya menuju ke arah dimana Ayu berada. Rama, Ayu dan Dirga bersiap dengan serangan berikutnya.
Disisi lain, Yuna masih terus melayangkan pukulan bertubi-tubi untuk menghancurkan kubah pelindung milik Julia. Sedangkan Galih dengan bersusah payah menghalau dan menghentikan rantai pengendali yang terus menyerangnya.
Rama, Ayu dan Dirga terkejut dengan situasi itu. Sedari tadi mereka terlalu fokus untuk menyerang Darma tanpa memperhatikan kondisi Galih dan Yuna.
Ternyata Darma tidak hanya mengikat Ayu, menghindari dan melakukan serangan balasan yang dapat membahayakan nyawa Dirga tapi juga melakukan serangan kepada Galih dan Yuna. Semua itu dilakukannya secara bersamaan. Namun berbeda dari rantai yang biasanya dia gunakan, rantai yang menyerang Galih tidak keluar langsung dari tangan Darma, melainkan seperti keluar dari sebuah lubang kecil yang entah datang dari mana.
“Ku kira Pak Darma tidak begitu kuat. Ternyata kekuatannya jauh lebih hebat dibandingkan dengan apa yang aku bayangkan.” Bisik Dirga kepada Rama dan Ayu. Nampaknya Ayu dan Rama pun berpikiran serupa.
“Jangan terkejut begitu. Bukankah sedari awal sudah ku ajarkan bagaimana melakukan manipulasi energi. Apa kalian pikir aku bisa melawan orang seperti Julia yang mampu mengendalikan energinya dengan bebas jika aku tidak memiliki kemampuan yang bisa menandinginya?” Tanya Darma kepada Rama, Ayu dan Dirga. Namun ketiganya tidak memberikan tanggapan sama sekali.
“Dulu aku pernah memiliki pikiran seperti Ayu yang ingin meniru pola serangan yang dilakukan oleh Julia. Tapi aku sadar bahwa aku tidak dapat mengendalikan energi sehebat dan sebebas Julia. Dan semakin banyak aku berusaha
untuk menirunya, kemampuanku semakin tertinggal darinya.” Darma bercerita tentang masa lalu dirinya.
“Sekarang berhentilah bermain-main. Tunjukkan kemampuan yang kalian miliki.” Teriak Darma dengan semangat yang menggebu-gebu.
Cerita dan teriakan Darma tidak hanya didengar oleh Rama, Ayu dan Dirga, tapi juga oleh Yuna yang tanpa henti melakukan pukulan keras ke kubah pelindung dan Galih yang sedang bersusah payah melindungi Yuna.
Yuna semakin bersemangat dan tanpa sadar pukulan-pukulannya kini mengeluarkan asap dingin yang menusuk tulang. Yuna terkejut dengan kemunculan asap dingin itu. Hal tersebut membuatnya semakin bergairah untuk terus
melancarkan pukulan. Lambat laun tangan Yuna dipenuhi dengan es. Yuna sadar bahwa dia mulai dapat mengendalikan kekuatannya. Dengan adanya es itu, pukulannya kini memiliki daya hancur yang jauh lebih kuat.
Julia tersenyum melihat kemajuan yang dicapai Yuna.
Begitu juga dengan Galih. Dia juga berusaha mengeluarkan seluruh kemampuannya untuk menjadi lebih kuat. Kali ini Galih tidak lagi menghalau serangan Darma. Galih menangkap rantai yang sedari tadi menyerangnya dan
melilitkan rantai tersebut ditangannya. Memanfaatkan pisau tajam di tangan baju zirahnya, Galih menghancurkan rantai itu dengan sekali serangan.
“Kalian memang tidak pernah mengecewakan ku.” Darma semakin bersemangat.
“Dirga, Ayu…. Aku akan bantu Yuna menghancurkan kubah pelindung. Ku serahkan Pak Darma kepada kalian.” Ujar Rama dengan sangat serius.
__ADS_1
Dirga dan Ayu belum pernah melihat Rama menunjukkan wajah serius ini. Berbeda dengan pertarungannya dengan Julia yang memperlihatkan kemarahan. Kali ini Rama nampak sangat tenang. Dirga dan Ayu tidak tahu apa yang akan Rama lakukan. Tapi mereka mempercayainya. Mereka pun mengangguk dan menyetujui permintaan Rama.
Rama melakukan serangan cepat dengan sabitnya kepada Darma. Darma menghindari serangan itu dengan mudah.
Duaaaar…..
Serangan yang dilakukan Rama ternyata bukan ditujukan kepada Darma melainkan kubah pelindung. Serangan tersebut bahkan jauh lebih kuat sehingga menghasilkan ledakan yang cukup besar saat menghantam kubah pelindung.
Darma terkejut…
Hal itu tidak disia-siakan oleh Rama, Ayu dan Dirga. Rama dengan cepat menuju ke arah kubah pelindung. Darma berusaha menyerang dan menghentikan Rama, tapi gagal. Pergerakan Rama nampak sangat berbeda.
Ayu yang melihat Darma sedang fokus menghalangi Rama pun segera mengeluarkan sayapnya dan menyerang Darma menggunakan bulu tajam miliknya. Kali ini bulu tajam itu tidak menyerang secara langsung melainkan membuat putaran cepat di udara dan menciptakan angin yang besar. Setelah angin besar tercipta barulah bulu-bulu tajam itu terbang melesat kearah Darma dengan sangat cepat.
Selain lebih cepat dan kuat, bulu tajam yang dikombinasikan dengan putaran angin besar itu pun menyerang pada satu titik saja. Sehingga daya hancur yang dihasilkan melebihi ekspektasi semua orang.
Darma terkejut dengan serangan itu. Dia tidak memiliki kesempatan untuk menghindar sehingga dia pun dengan cepat menciptakan tameng pelindung menggunakan rantai pengendalinya. Serangan Ayu sangatlah kuat. Tameng rantai milik Darma tidak mampu manghalaunya dan hancur begitu saja. Darma terpental jauh ke belakang.
Dirga memanfaatkan situasi itu dengan sangat baik. Dirga menghilang dan muncul tepat di atas Darma yang sedang terpental. Darma terbelalak dengan kemunculan Dirga. Dia tidak dapat berbuat banyak.
Dengan sekali serang, Dirga menghujamkan Darma ke bawah dan membuat kerusakan yang sangat besar di lantai aula. Kombinasi serangan Ayu dan Dirga berhasil dengan sangat baik. Dirga melihat Darma kehilangan kesadaran.
Merasa sudah diatas angin, Dirga dan Ayu bergerak menuju kubah pelindung untuk ikut menghancurkan kubah tersebut. Namun tiba-tiba saja sebuah lubang kecil berbentuk lingkaran muncul tepat dihadapan mereka berdua. Sebuah rantai keluar dari dalam lubang tersebut dan dengan cepat melilit mereka.
Ternyata Darma tidak benar-benar kehilangan kesadaran. Dia hanya berpura-pura kalah untuk membuat Dirga dan Ayu lengah. Kini mereka berdua sama sekali tidak berdaya.
Dilain sisi, Rama terus menerus mengeluarkan sabit energinya untuk melemahkan kubah pelindung itu. Sedangkan Yuna masih melakukan pukulan menggunakan kekuatan barunya di sisi kubah yang berlawanan. Ternyata Galih pun sedang bersusah payah menghalau rantai energi yang terus menyerang. Kali ini tidak hanya 1 rantai, tapi 4 rantai sekaligus. 2 rantai ditujukan untuk menyerang Ayu dan 2 lainnya menyerang Rama.
Sesekali Rama membantu Galih menghalau rantai milik Darma. Beberapa kali Rama dan Galih berhasil menghancurkan rantai-rantai tersebut. Tapi seiring hancurnya satu rantai, rantai baru telah siap menyerang mereka lagi.
“Yuna, bisakah kamu membekukan kubah pelindung ini?” teriak Rama kepada Julia.
“Membekukan?” Julia sama sekali tidak memikirkan hal itu sebelumnya.
Yuna berusaha mencoba apa yang Rama katakan. Dia menyentuh kubah pelindung dengan kedua telapak tangannya dan berkonsentrasi meningkatkan intensitas energi dinginnya. Perlahan kubah pelindung di area sekitar tangannya membeku. Yuna yang melihat itu semakin antusias dan mengeluarkan lebih banyak energi. Tidak lama kemudian, dengan cepat seluruh kubah telah dilapisi es.
Lapisan es dingin yang diciptakan Yuna membuat kubah pelindung melemah. Rama tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Rama mencoba melakukan sesuatu yang belum pernah dia tunjukkan sebelumnya. Tubuh Rama dipenuhi dengan energi petir yang besar. Kekuatan petir itu terpusat di kedua tangannya. Dia mengangkat kedua tangan dan mengarahkannya ke kubah pelindung.
“Yuna, Galih, pergi menjauh..!” Teriak Rama.
Duaaar… Duaaar… Bledar… Energi petir berkekuatan besar tercipta dan menghantam kubah pelindung Julia.
__ADS_1
***