Project Wanara

Project Wanara
Chapter 63. Punakawan VS Wanara (Last Part) - Berakhir


__ADS_3

“Bahaya. Ayu, cepat lari…!”


Ayu terkejut dengan teriakan Rama. Begitu juga Julia dan anggota tim lainnya. Mereka semua bingung dengan teriakan itu.


“Kenapa?” Tanya Julia.


“Semuanya bersiap mempertahankan diri!” Rama kembali berteriak-teriak.


Tiba-tiba saja Saras mengeluarkan energi gelap yang sangat mengerikan. Energi itu membuat semua orang merinding ketakutan. Dirga dan Julia akhirnya menyadari kegelisahan yang Rama alami karena mereka pernah merasakan tipe energi yang sama. Tipe energi yang dipancarkan oleh Rama saat menggunakan kapsul virtual.


Baaaam….


Saras menciptakan ledakan energi yang begitu besar. Jangkauan ledakan energi itu jauh lebih luas dibandingkan arena pertandingan sehingga semua orang yang ada disana harus melindungi dirinya sendiri agar tidak terkena dampak ledakan.


“Ledakan ini kuat sekali.” Ujar Julia lirih sambil berusaha mempertahankan kubah pelindungnya untuk melindungi seluruh anggota tim.


“Ayu…!” Teriak Galih panik dan menerjang ledakan energi dengan terus mempertahankan zirah dan tameng pelindungnya untuk menolong Ayu. Namun daya hancur ledakan itu begitu besar hingga zirah dan tameng pelindungnya tidak mampu bertahan. Galih terhempas dan terjatuh tak berdaya.


“Ayu…!” Ujar Galih lirih menyesali kemampuannya yang begitu lemah sehingga tidak dapat menyelamatkan orang yang sangat berharga di hidupnya.


Ledakan berakhir, arena pertandingan penuh dengan debu dan asap tebal yang perlahan mulai memudar. Samar-samar terlihat Saras berdiri tegak di atas arena yang telah hancur berantakan. Wajah Saras nampak terkejut dan tercengang.


Rupanya Ayu pun masih berdiri tegak di atas arena dengan kubah angin yang masih berputar melindunginya. Tapi kubah angin yang Ayu tunjukkan kali ini sedikit berbeda. Kubah angin itu terlihat mengeluarkan hawa dingin yang menusuk tulang. Ternyata Yuna berhasil membantu Ayu dan memperkuat kubah angin itu dengan energi dingin yang dia miliki, sehingga Ayu masih dapat bertahan bahkan setelah menerima ledakan energi yang sangat besar dari jarak yang begitu dekat.


Galih yang melihat Ayu masih bertahan pun tanpa sadar meneteskan air matanya. Galih berusaha bangkit dan menghampiri Yuna, “Terima kasih Yuna.”.


“Tidak hanya aku, tapi juga Julia. Aku menggunakan energi dingin dan Julia menggunakan energi panas. Meskipun karakteristik energi kami sama, panas dan dingin seharusnya tidak dapat bersatu. Tapi ternyata kubah angin Ayu memiliki karakteristik khusus yang dapat memanfaatkan kedua energi kami untuk menciptakan pelindung yang sangat kokoh.” Ujar Julia.


“Itu benar sekali, aku sendiri tidak menyangka bahwa gabungan kekuatan ini dapat menciptakan pelindung sekuat itu.” Sambung Julia.


Ayu menghilangkan kubah pelindung, membentangkan sayapnya dan melesat terbang mendekati Saras yang kehabisan energi.


Ayu melakukan serangan dengan sangat brutal dan tidak sedikitpun memberi celah kepada Saras untuk melayangkan serangan balasan. Sayap-sayap tajam Ayu merobek kulit Saras yang kemudian pulih dengan cepat. Ayu mempercepat serangannya. Saras tidak dapat berbuat banyak selain bertahan. Serangan yang bertubi-tubi membuat tubuh Saras penuh dengan luka, tapi sayangnya kecepatan pemulihan Saras menurun. Belum sempat satu luka sembuh, Saras sudah mendapatkan luka lainnya. Hingga akhirnya Saras benar-benar kehabisan energi dan tidak lagi dapat bertahan dari serangan bertubi-tubi yang Ayu lancarkan. Saras terjatuh dan kehilangan kesadaran. Ayu berhasil memenangkan pertarungan kali ini.


Ayu menghentikan serangan saat pertandingan dinyatakan berakhir. Ayu menghilangkan kedua sayapnya dan melangkah turun dari arena yang telah hancur. Tepat dihadapan anggota timnya yang terlihat begitu khawatir, Ayu pun terjatuh dan tak sadarkan diri.

__ADS_1


Galih bergegas mendekati Ayu dan berusaha menopang tubuhnya yang terjatuh, “Kamu hebat sekali.”.


Tak lama kemudian, para petugas medis datang menghampiri Saras dan Ayu untuk memberi pertolongan. Namun Galih menolak bantuan petugas medis karena lebih memilih proses penyembuhan menggunakan kemampuan Julia dan Dirga yang jauh lebih cepat.


Julia sangat memahami kekhawatiran yang Galih rasakan dan bersedia memberi bantuan. Kemudian Julia mengeluarkan kepompong energinya untuk memulihkan kondisi Ayu.


“Terima kasih Julia.” Ujar Galih sambil menundukkan kepalanya.


“Hey, kita ini tim. Kenapa kamu sungkan begitu?” Ujar Rama berusaha menghangatkan suasana.


“Harusnya kan Julia yang bicara begitu.” Sahut Dirga. Yuna dan Julia tertawa kecil mendengar ucapan Dirga.


“Memangnya tidak boleh?!” Teriak Rama.


“Sudahlah, tidak masalah. Nona Ayu adalah keluarga kita. Sudah seharusnya kita saling membantu dan melindungi.” Ucap Julia.


“Aku sungguh sangat bersyukur bisa bergabung dengan Project Wanara dan bertemu dengan orang-orang seperti kalian.” Ujar Galih diikuti dengan senyuman seluruh anggota tim lain.


Tidak lama berselang, Anggun meminta Bela dari Project Punakawan dan Yuna dan Project Wanara untuk naik ke arena pertarungan karena pertandingan berikutnya akan segera dilaksanakan. Meskipun arena pertarungan telah hancur, namun pertandingan tetap harus berlanjut dan kondisi saat ini menjadi tantangan tersendiri bagi peserta kompetisi.


Bela dan Yuna pun naik ke atas arena. Sebelum Yuna naik, Julia memberi pesan kepada Yuna untuk tetap hati-hati dan tidak gegabah agar dapat meminimalisir luka.


“Mulai...!”


Saat pertandingan dimulai, Yuna langsung mengeluarkan partikel-partikel salju. Sebagian dari partikel salju itu berubah menjadi jarum-jarum es yang sangat tajam dan kemudian melesat cepat menyerang Bela.


Bela terkejut dengan serangan itu dan berusaha menghindar. Tapi sayang Bela tidak cukup gesit untuk menghindari semua serangan. Beberapa jarum es menghujam tubuhnya dan membuatnya terluka cukup parah.


Yuna yang melihat Bela terluka pun segera menghilangkan partikel salju dan jarum es nya. Tapi serangannya berganti menjadi kumpulan stalagmit kecil yang merambat dari tempat dia berdiri hingga menjangkau posisi Bela. Bela yang berusaha menghindar pun masih tetap terkena dampak serangan itu. Kakinya membeku dan kini dia tidak lagi dapat berlari untuk menghindar.


Es yang membekukan kaki Bela pun merambat naik dan membekukan seluruh tubuhnya. Kini tubuh bela sepenuhnya membeku didalam es yang diciptakan oleh Yuna.


Setelah tubuh Bela membeku sepenuhnya, Yuna tidak lantas melakukan serangan untuk mengakhiri pertandingan, tapi justru hanya terdiam dan tidak melakukan gerakan sama sekali.


“Ada apa Yuna?”  Tanya Dirga penasaran.

__ADS_1


“Yuna menunggu luka Bela sembuh.” Sambut Julia.


“Apa jangan-jangan es itu serupa dengan kepompong energi milikmu?”


“Tepat sekali.” Jawab Julia sambil tersenyum.


“Sial. Lagi-lagi aku tertinggal jauh.” Ujar Dirga.


“Jangan menyindir ku.” Rama menimpali perkataan Dirga.


Rama mengatakan itu agar Dirga tidak rendah diri dengan kemampuan yang telah dicapai oleh Yuna. Tapi Dirga adalah orang yang pintar. Dia sangat paham kenapa Rama sampai mengucapkan kata-kata itu.


“Dasar bodoh.” Umpat Dirga.


“Terima kasih.” Sambungnya sambil tersenyum kecil kepada Rama.


Cukup lama Yuna berdiam diri. Tiba-tiba saja dia kembali mengeluarkan partikel salju yang kemudian berubah menjadi jarum es dan menyerang Bela secara bertubi-tubi. Banyak orang mengira bahwa Bela akan mati oleh serangan yang Yuna lakukan. Tapi siapa sangka, jarum-jarum itu justru menghancurkan es yang membekukan Bela dan membebaskannya. Saat terbebas, Bela tidak memiliki cukup tenaga untuk bertarung dan kehilangan kesadaran. Bela terjatuh dan pertandingan pun dimenangkan oleh Yuna tanpa mendapatkan perlawanan sedikit pun.


Belum sempat Anggun mengumumkan pemenang pertandingan, petugas medis bersama seluruh anggota Project Punakawan berlari menghampiri Bela. Tapi alangkah terkejutnya mereka saat petugas medis menyatakan tidak ada luka fisik sama sekali di tubuh Bela. Bela pingsan hanya karena kehabisan energi. Benar saja, tidak perlu waktu lama bagi Bela untuk sadarkan diri. Meskipun tubuhnya terasa lemas, tapi dia dapat bangun dan berdiri tanpa perlu dibantu rekan timnya. Dia sendiri terkejut saat tubuhnya sama sekali tidak terluka.


Bela berusaha mendekati Yuna dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Yuna menjelaskan tentang kemampuan penyembuhan yang dia miliki dan digunakannya untuk menyembuhkan luka-luka yang diderita bela selama pertandingan berlangsung. Penjelasan Yuna membuat seluruh anggota Project Punakawan terkejut dan menaruh rasa hormat kepadanya. Bela menghampiri, memegang dan mengangkat tangan kanan Yuna sebagai tanda kelapangan hatinya dalam menerima kekalahan.


“Pertandingan ketiga dimenangkan oleh Yuna dari Project Wanara. Dengan tiga kemenangan berturut-turut, Project Wanara dapat melaju ke tahap berikutnya. Tapi karena Project Brahma, Anantareja dan Dewabrata di diskualifikasi, maka Project Wanara dapat langsung ke tahap final. Selamat…!” Ujar Anggun.


“Pertandingan berikutnya adalah pertandingan tantangan. Saat ini tersisa Project Punakawan saja. Apakah Punakawan ingin mengajukan pertandingan tantangan untuk merebut tiket final yang saat ini dipegang oleh Dasamuka?” Sambungnya.


“Rindra dan Bela tidak dalam kondisi optimal, sedangkan Saras terluka cukup parah. Dengan anggota lengkap dan dalam kondisi prima sekalipun kami tidak akan bisa mengalahkan Dasamuka. Apalagi dengan kondisi kami saat ini. Maka dari itu, Punakawan tidak akan mengajukan pertandingan tantangan. Terima kasih.” Farraz membuat pernyataan tegas dan bijaksana untuk kebaikan seluruh anggota timnya.


“Dasar pengecut…!” Teriak Indra berusaha memprovokasi.


Duaaaar….


Lagi-lagi petir menyambar secara tiba-tiba, dan kini tepat didepan mata Indra. Saking terkejutnya, Indra terdiam mematung dangan kaki bergetar hebat.


“Siapa itu bangsat…!” Teriak Caraka kesal, namun tidak satu orang pun menanggapi perkataannya.

__ADS_1


Pertandingan final akan mempertemukan Project Dasamuka dan Wanara yang dilaksanakan keesokan harinya.


***


__ADS_2