
“Tuan Dirga, sepertinya anda perlu melakukan perawatan di ruang medis. Apa anda ingin menghentikan pelatihan ini?” Tanya Julia dari balik pengeras suara untuk memastikan keadaan Dirga yang mengalami banyak luka.
“Tidak Julia, aku masih bisa melanjutkan pelatihan. Luka seperti ini bukanlah sesuatu yang perlu dikhawatirkan.” Sahut Dirga.
“Jika begitu, silahkan beristirahat dan pulihkan energi anda, tuan.” Ucap Julia yang diikuti anggukan kepala Dirga.
Saat makan siang datang, Dirga tidak langsung menyantap hidangan yang tersaji, melainkan duduk bersila di tempat dia berdiri saat ini dan melakukan latihan teknik pernapasan.
“Apa yang dia lakukan?” Gumam Darma yang tidak mengerti alasan Dirga melakukan teknik pernapasan.
“Julia, apa kamu tahu sesuatu?” Darma bertanya kepada Julia.
Julia terdiam sejenak untuk menganalisa situasi yang terjadi. Tidak berapa lama kemudian, Julia memberi tanggapan.
“Sepertinya Dirga telah memahami konsep pengembangan teknik pernapasan dasar. Dia sedang memicu tubuhnya untuk melakukan regenerasi sel lebih cepat agar luka-luka di tubuhnya juga dapat pulih lebih cepat.” Ujar Julia.
“Tidak mungkin. Aku sendiri tidak tahu kalau pengembangan teknik pernapasan dasar dapat melakukan itu.” Ucap Darma.
“Pada umumnya pengembangan teknik pernapasan dasar digunakan agar tubuh dapat beradaptasi lebih cepat dengan kondisi lingkungan sekitar. Apa yang saat ini dilakukan Dirga mungkin saja merupakan salah satu kemampuan alami CORE nya. Terlebih lagi Dirga adalah orang yang cerdas dan berpengetahuan luas. Tidak sulit baginya untuk mengembangkan konsep tersebut. Tapi apa yang dia lakukan saat ini hanyalah memicu percepatan regenerasi sel saja. Jika dia mampu mengendalikan proses itu, dia akan sangat sulit untuk dikalahkan.” Julia memberi tanggapan.
“Jadi, pada akhirnya Dirga juga akan memiliki kemampuan penyembuhan seperti milik mu, Julia.” Ucap Darma.
“Tidak semua orang yang telah memahami konsep pengembangan teknik pernapasan dasar mampu melakukan apa yang saat ini Dirga lakukan. Bahkan aku sendiri tidak dapat melakukannya. Aku yakin itu adalah salah satu kemampuan alami CORE nya. Maka dari itu aku mengembangkan teknik yang berbeda untuk proses penyembuhan.” Julia mulai memberikan penjelasan.
“Aku harus melakukan manipulasi energi dan menyalurkannya ke bagian tubuh yang dikehendaki. Proses penyembuhan pun terjadi. Sedangkan Dirga sama sekali tidak membutuhkan energi yang telah dimanipulasi untuk melakukannya. Energi CORE murninya mampu melakukan semua proses itu.”
“Keunggulan teknik yang ku gunakan adalah pemanfaatannya yang lebih luas. Penyembuhan dapat dilakukan untuk berbagai jenis anomali tubuh. Tidak hanya untuk diri sendiri, juga dapat digunakan kepada orang lain. Hanya saja energi yang dibutuhkan tidak sedikit.”
“Sedangkan Dirga tidak membutuhkan banyak energi untuk melakukan proses penyembuhan. Akan tetapi kegunaannya sangat terbatas, yaitu hanya untuk melakukan regenerasi sel saja. Sel-sel tubuh yang rusak dapat dia perbaiki dengan sangat cepat sehingga luka-luka di tubuhnya dapat sembuh seketika. Kemampuan itu juga hanya dapat digunakan untuk dirinya sendiri. Itulah kenapa aku menyebutnya regenerasi sel, bukan penyembuhan.”
“Saat ini Dirga hanya mampu memicu proses tersebut. Tapi aku yakin tidak butuh waktu lama baginya untuk dapat mengendalikan proses regenerasi sel tubuhnya itu.” Ucap Julia mengakhiri penjelasan.
Darma terdiam dan tidak memberi tanggapan sama sekali. Dia hanya bisa merasa kagum dengan penjelasan yang baru saja didengarnya. Dia tahu bahwa Julia adalah orang yang sangat hebat. Tapi tidak hanya itu, kenyataan bahwa seluruh anggota Project Wanara memiliki kemampuan hebat dengan potensi yang luar biasa membuatnya semakin bersemangat.
30 menit telah berlalu dan Dirga pun menghentikan teknik pernapasan nya. Kemudian dia menyantap hidangan yang tersaji dan segera bersiap untuk melanjutkan pelatihan.
“Dia butuh waktu yang cukup lama hanya untuk memicu percepatan regenerasi sel tubuh, itu pun belum membuat luka-luka yang dideritanya sembuh. Tapi ini permulaan yang sangat baik.” Pikir Julia.
30 menit kemudian waktu istirahat berakhir dan pelatihan kembali dilanjutkan.
Luka-luka yang didapatkan Dirga memang belum sepenuhnya sembuh, tapi sudah jauh lebih baik berkat teknik pernapasan yang dia lakukan. Dirga melangkah ke bagian tengah ruangan dan bersiap untuk memulai sesi kedua pelatihan pertahanan.
Mesin lontar mulai membuat pergerakan. Beberapa serangan cepat dilontarkan secara bersamaan dari berbagai sisi, seperti yang terjadi pada akhir sesi pertama. Tapi kali ini Dirga masih belum menggunakan kemampuan matanya. Karena keputusannya itu, pergerakan nya menjadi tidak terlalu efektif. Beberapa kali dia membuat gerakan sia-sia yang bahkan tidak dapat menghalau serangan yang datang. Hal itu menyebabkan jumlah luka yang menghiasi tubuhnya menjadi semakin banyak.
__ADS_1
Menyadari hal tersebut, alih-alih menggunakan kemampuan mata yang dia miliki, Dirga malah memutuskan untuk memejamkan matanya.
Lagi-lagi keputusannya itu berdampak buruk pada tubuhnya. Tidak satupun serangan berhasil dia hindari. Tapi anehnya tidak ada luka fatal yang dialaminya. Luka-luka yang dia dapatkan hanya berupa goresan yang tidak terlalu membahayakan jiwa.
Dirga terlihat sedang membuat langkah kecil dan sederhana. Tapi langkahnya itu bukanlah pergerakan yang bersifat acak, melainkan pergerakan yang dia buat untuk menghindari setiap serangan yang datang. Ternyata Dirga sedang berupaya untuk melatih intuisi nya. Dia mencoba untuk merasakan energi dari setiap serangan. Sehingga walaupun serangan itu datang dari titik buta nya, dia akan tetap dapat menghindari serangan tersebut.
Mulanya hal itu sangat sulit untuk dilakukan, tapi dengan keteguhan hati dan konsentrasi yang tinggi akhirnya dia mampu merasakan energi dari setiap serangan. Kini Dirga mampu menghindari dan menghalau semua serangan tanpa harus menggunakan kemampuan matanya.
Julia memutuskan untuk meningkatkan level serangan lebih awal dibandingkan dengan rentang waktu yang telah ditetapkan semula. Keputusan itu diambil karena melihat kemampuan yang dimiliki oleh Dirga saat ini.
Dirga merasakan perubahan itu. Pola, kecepatan dan kekuatan masing-masing serangan meningkat secara signifikan. Meskipun intuisi nya telah tercipta dengan baik, tapi masih belum cukup untuk menghalau semua serangan yang datang. Kini Dirga memutuskan untuk menggunakan kemampuan matanya.
Kombinasi antara kemampuan mata dan intuisi yang dia miliki sangatlah mengerikan. Terlebih lagi kecepatan dan kekuatannya juga sangat luar biasa. Perpaduan kemampuan itu membuatnya dapat menghalau semua serangan yang dilontarkan tanpa tambahan luka sedikitpun.
“Darma, tingkatkan level kesulitan area ketiga hingga batas maksimum.” Pinta Julia.
“Sekarang? Apa ini tidak terlalu cepat Julia?” Darma mempertanyakan keputusan Julia yang terkesan kurang bijaksana.
“Tidak, aku yakin Dirga mampu mengatasi level tertinggi sekalipun.” Ucap Julia.
“Baiklah.” Ucap Darma singkat dan segera melakukan permintaan Julia. Darma tidak ingin berdebat dengan Julia. Walaupun menurutnya keputusan Julia kali ini sangatlah ceroboh, tapi dia percaya kepada Julia. Darma tahu bahwa Julia pasti telah mempertimbangkan keputusannya ini dengan baik.
Tidak lama kemudian tingkat kesulitan di area ketiga telah mencapai titik maksimum. Dirga sangat terkejut dengan perubahan yang terjadi. Meskipun sedang menggunakan kemampuan matanya, Dirga masih mengalami kesulitan untuk menghalau semua serangan. Setiap serangan terlihat sangat cepat dimatanya.
Dirga masih berupaya untuk menghalau semua serangan. Upaya tersebut berhasil, tapi kini Dirga merasa sangat lelah. Stamina nya terkuras dengan sangat cepat.
“Mata ini sudah hampir mencapai batas kemampuannya.” Pikir Dirga.
Ternyata kemampuan mata Dirga tidak dapat digunakan secara terus menerus. Pandangan matanya kini mulai sedikit buram. Itu juga yang membuat dia tidak menggunakan kemampuan matanya sejak awal. Dirga harus memperhitungkan batasan waktu penggunaan kemampuan tersebut.
Tubuh Dirga mulai gontai, pandangan matanya semakin buram, kini kepalanya juga terasa nyeri karena dia terlalu memaksakan diri dalam menggunakan kemampuan tersebut. Tapi Dirga tidak memiliki pilihan lain.
Melihat kondisinya saat ini, sepertinya kemampuan mata itu telah mencapai batasnya. Tapi jika dia tidak menggunakannya, maka tidak dapat dibayangkan apa yang akan terjadi padanya. Maka dari itu Dirga masih terus berupaya untuk bertahan dan melampaui batasan dirinya sendiri.
“Stamina ku terkuras, tubuh ku mulai lemas dan pandangan mata semakin buram. Tapi aku tidak akan kalah!” Pikir Dirga.
Aaaaaaa……
Dirga berteriak kencang untuk memotivasi dirinya sendiri. Seketika kecepatannya meningkat pesat. Dirga menghalau semua serangan dengan sekuat tenaganya.
Wush… Wush… Wush…
Kecepatan yang Dirga tunjukkan sangat tidak wajar, bahkan Darma tidak dapat melihat pergerakan Dirga dengan baik. Darma hanya bisa melihat benturan yang terjadi saat Dirga menghalau serangan dari mesin lontar.
__ADS_1
Dirga terus menerus menjaga kecepatannya secara konsisten. Dengan konsentrasi yang sangat tinggi, dia juga mampu menghalau dan menghindari setiap serangan dalam kecepatan itu. Tapi kini Dirga telah mencapai batas kemampuannya. Beberapa serangan mesin lontar pun melukai tubuhnya. Dirga tidak lagi mampu menghalau dan menghindari serangan-serangan tersebut.
“Darma, hentikan pelatihan area ketiga sekarang!” Teriak Julia saat melihat Dirga tidak lagi mampu melanjutkan pelatihan. Darma pun dengan cepat menghentikan pelatihan di area ketiga.
“Hey Julia, kenapa kamu memberi perintah secara tiba-tiba begitu!” Ujar Darma dengan nada cukup tinggi.
“Maafkan aku. Jika tidak segera dihentikan, Dirga akan mengalami luka serius.” Ujar Julia sembari meminta maaf kepada Darma.
Di lain sisi, Dirga merasa bersyukur saat mengetahui mesin lontar berhenti melakukan serangan sebab dia tidak lagi mampu menggerakkan tubuhnya. Penglihatannya juga sudah sangat buram, bahkan dapat dikatakan bahwa kini Dirga tidak dapat melihat sama sekali. Dengan napas tersengal, Dirga merebahkan tubuhnya di lantai ruang pelatihan.
“Selamat Tuan Dirga, anda berhasil menyelesaikan latihan ini dengan sangat baik. Melihat kondisi anda saat ini, sepertinya anda perlu melakukan perawatan di ruang medis. Apakah anda dapat berjalan sendiri ke sana?” Tanya Julia.
“Tentu saja Julia. Aku baik-baik saja. Aku hanya butuh sedikit waktu untuk beristirahat. Setelah itu aku akan segera ke ruang medis.” Ujar Dirga.
“Baiklah jika begitu, silahkan Tuan Dirga istirahat sejenak. Jika diperlukan, kami akan minta petugas medis untuk datang ke ruangan pelatihan anda tuan.” Ucap Julia memberi tanggapan.
“Tidak perlu, Julia. Terima kasih.” Sahut Dirga.
Dalam keadaan berbaring, Dirga melakukan teknik pernapasan. Dirga berharap dengan teknik pernapasan yang dia lakukan sekarang, kondisinya dapat pulih dengan lebih cepat.
“Kita biarkan saja dulu dia beristirahat.” Ucap Julia kepada Darma.
“Julia, kenapa kamu tidak langsung minta petugas medis untuk datang dan merawatnya. Dan lagi, kenapa kamu meningkatkan level kesulitan secara tiba-tiba seperti tadi. Itu sangat berbahaya. Apa kamu masih mencurigai Dirga?” Tanya Darma.
“Tenanglah Darma. Aku akan jawab satu per satu pertanyaan mu itu.” Julia memberi tanggapan.
“Apa yang ku lakukan tidak lain dan tidak bukan adalah untuk kebaikan Dirga sendiri. Dia adalah tipe pria yang memiliki ego dan harga diri yang tinggi, dia akan berusaha untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Alih-alih memanggil petugas medis, aku justru bertanya kepadanya apakah memang dia perlu bantuan, hal itu semata-mata hanya untuk menjaga harga dirinya. Aku tidak ingin membuatnya merasa lemah.”
“Peningkatan level kesulitan yang dilakukan secara tiba-tiba dan tidak sesuai dengan desain pelatihan yang telah kita rancang juga ditujukan untuk kebaikannya sendiri. Menurut mu kenapa Dirga tidak menggunakan kemampuan matanya sejak awal dan justru melatih intuisi nya? Itu karena kemampuan matanya memiliki batas waktu. Ada konsekuensi yang harus diterimanya jika dia memaksakan diri menggunakan kemampuan mata itu secara terus menerus. Terlebih lagi kemampuan yang dimiliki Dirga membutuhkan stamina yang tinggi. Semakin lama dia berlatih, bukannya meningkatkan potensi diri, tapi justru akan berdampak buruk pada kondisi tubuhnya saat ini.”
“Sekarang Dirga sedang berada pada kondisi terlemahnya, dengan begitu dia akan mencari cara untuk memperbaiki kondisi tersebut. Aku memberinya waktu istirahat agar dia mampu meningkatkan kemampuan regenerasi sel tubuhnya itu.”
“Terakhir, aku memang masih menaruh curiga kepadanya. Tapi bukan berarti aku akan melukainya. Kecurigaan itu hanyalah bentuk antisipasi saja, lagi pula aku tidak memiliki bukti konkrit yang dapat memperkuat kecurigaan itu.” Ujar Julia mengakhiri penjelasannya.
“Maafkan aku Julia. Tadinya ku pikir kamu membuat keputusan yang sembrono karena kecurigaan mu itu. Tapi ternyata memang semua keputusan yang kamu buat telah dipertimbangkan dengan sangat baik.” Ucap Darma sembari meminta maaf.
“Tidak masalah, aku mengerti kenapa kamu berpikir seperti itu. Aku juga minta maaf karena tidak menjelaskan ini sedari awal.” Julia menanggapi permintaan maaf Darma.
Dirga yang sedari tadi masih melakukan teknik pernapasan, perlahan kini mulai pulih. Kondisi matanya membaik dan tubuhnya mengalami penyembuhan dengan cepat. Dirga semakin memahami konsep regenerasi sel. Kini dia tidak hanya mampu memicu proses tersebut, tapi mulai dapat mengendalikan prosesnya. Dia hanya butuh tambahan latihan khusus untuk membantunya dalam mengendalikan proses regenerasi sel itu.
“Besok adalah waktu yang tepat.” Pikir Dirga.
***
__ADS_1