
Walaupun Galih telah menambah intensitas energi pada pedangnya dan melakukan serangan ketika masing-masing benda berada tepat pada titik temu nya, tetap saja dia gagal menghancurkan semua benda itu.
Sebenarnya strategi yang dibuat oleh Galih sudah cukup tepat. Menunggu masing-masing benda berada pada titik temu merupakan sebuah cara sangat baik. Hanya saja dia belum menemukan solusi untuk mengatasi masalah yang dia alami saat ini, yaitu ketepatan momentum serang dengan pergerakan dari setiap benda.
Galih melakukan serangan dengan membuat perkiraan kecepatan benda. Cara itu berhasil untuk menghancurkan benda yang berada paling dekat dengannya. Sayangnya saat serangan itu terjadi, benda lainnya telah meninggalkan titik temu dan gagal dia hancurkan.
Galih masih tidak ingin menyerah. Dia kembali memperkuat pedangnya dan kini dia juga menambah intensitas energi di lengan kanannya. Dia berharap daya hancur yang dihasilkan meningkat sejalan dengan peningkatan kekuatan pedang. Dia juga berharap kecepatan serang nya ikut meningkat sejalan dengan peningkatan intensitas energi di lengan kanannya.
Tidak lama kemudian mesin lontar kembali memberikan lontaran dengan pola serupa. Mesin lontar melemparkan sebuah belati tajam dari sisi sebelah kanan, dilanjutkan dengan mesin lontar yang melemparkan sebuah panah dari sisi sebelah kiri, selang beberapa detik kemudian mesin lontar di sisi sebelah kanan kembali melontarkan sebuah belati diikuti dengan lontaran sebuah panah dari mesin lontar yang ada di sisi sebelah kiri. Semua lontaran dilakukan dengan kecepatan tinggi.
Syut… Syut…
Dua benda pertama dilontarkan dengan sangat cepat dari kedua sisi yang berbeda. Galih menunggu kedua benda berada pada titik temu dan dengan cepat dia mengayunkan pedangnya.
Benar saja, peningkatan energi di lengan kanannya menciptakan sebuah tebasan pedang yang sangat cepat. Peningkatan energi pada pedang juga menambah daya hancur yang dihasilkan oleh kumparan energi nya. Galih berhasil menghancurkan benda pertama yang berada paling dekat dengannya dan sisa kumparan energi itu masih terus melesat cepat menuju benda ke dua. Sesaat sebelum benda kedua meninggalkan titik temu, sisa kumparan energi yang dihasilkan berhasil mengenai benda tersebut dan membuatnya hancur berkeping-keping.
Galih terpana dengan kekuatannya sendiri. Tapi lagi-lagi dia tidak ingin terlena. Dia kembali memperkuat energi pada pedang dan lengan kanannya. Kali ini wajahnya nampak tersenyum menantikan kedatangan lontaran berikutnya.
Tidak berapa lama kemudian, dua benda pada lontaran kedua pun datang. Dengan cepat Galih menebaskan pedangnya saat kedua benda berada pada titik temu. Hasilnya sudah dapat diprediksi. Galih kembali berhasil menghancurkan benda-benda tersebut.
Pola lontaran yang sama masih terus dilontarkan oleh mesin lontar, hanya saja jarak lontaran menjadi semakin jauh dari posisi Galih berdiri saat ini. Mulanya Galih sedikit kesulitan untuk menyesuaikan jarak dan kecepatan, tapi tetap saja dia berhasil menghancurkan seluruh benda yang dilontarkan dengan sangat baik.
Galih kembali bersiap diri untuk menantikan lontaran berikutnya. Tapi mesin lontar tidak kunjung membuat pergerakan. Kali ini Galih merasa jeda waktu lontaran menjadi lebih banyak dibandingkan sebelumnya.
“Sepertinya kita akan mulai tahap berikutnya.” pikir Galih.
Galih berpikir bahwa jeda waktu itu merupakan isyarat akan adanya pergantian pola lontaran dan perubahan tingkat kesulitan yang akan dia hadapi. Perkiraan Galih benar-benar tepat. Pola lontaran berubah. Kini setiap mesin lontar baik disisi sebelah kiri maupun kanan membuat lontaran secara acak. Ada yang dilontarkan dari jarak dekat, ada yang jaraknya sangat jauh. Ada yang memiliki kecepatan sangat tinggi, ada juga yang sangat rendah. Beberapa benda melesat secara horizontal, beberapa benda lainnya bergerak melintang. Setiap lontaran benar-benar dilakukan secara acak dan tidak memiliki pola sama sekali.
Apa yang terjadi saat ini sama sekali tidak membuatnya gentar. Galih tetap berpikir logis. Galih tidak berusaha untuk menghancurkan semua benda, melainkan hanya benda-benda yang menurutnya dapat dijangkau.
Galih mempersiapkan Pedang Rapier nya. Energi dikumpulkan di pedang tersebut dan dia mencari target yang paling mudah untuk dihancurkan, yaitu benda dengan jarak terdekat dan memiliki kecepatan rendah.
Pedang diayunkan dan kumparan energi melesat cepat untuk menghancurkan benda yang menjadi target Galih saat ini. Tapi sesuatu yang tidak diduga pun terjadi. Benda yang berjarak paling dekat dengan kecepatan paling rendah ternyata kini memiliki daya tahan yang sangat tinggi. Serangan yang dilakukan Galih tidak menghancurkan benda tersebut. Bahkan benda itu sama sekali tidak bergeming.
Galih mengganti targetnya, yaitu benda yang memiliki posisi tidak terlalu jauh dan kecepatan yang tidak terlalu tinggi.
Daaaar….
__ADS_1
Kumparan energi milik Galih membuat suara ledakan yang cukup besar saat berbenturan dengan benda tersebut. Tapi ternyata benda itu juga tidak berhasil dia hancurkan. Sama seperti sebelumnya, benda tersebut sama sekali tidak bergeming.
Galih kembali mencoba melakukan serangan. Kali ini targetnya adalah benda yang berada pada posisi terjauh dengan kecepatan paling tinggi. Dia mencoba peruntungannya. Galih menduga bahwa benda dengan kecepatan yang paling tinggi mungkin memiliki daya tahan yang paling rendah. Tapi kini dugaannya salah. Benda tersebut juga memiliki daya tahan yang sangat tinggi.
“Ini Gila, apa yang harus ku lakukan?” Galih mulai merasa panik sebab tidak satupun serangannya berhasil menghancurkan benda-benda yang menjadi targetnya.
“Jika begini terus, aku akan gagal di latihan ini.” Pikirnya.
Rasa paniknya membuat Galih sedikit kehilangan kendali terhadap emosinya. Dia tidak lagi berpikir dengan jernih.
Kali ini Galih mengalirkan seluruh energinya hanya ke lengan kanan dan pedangnya saja. Dia membuat serangan berkekuatan tinggi secara serampangan dan membabi buta dengan harapan ada salah satu serangnya yang secara tidak sengaja dapat menghancurkan benda-benda yang dilontarkan.
Pilihan yang dibuat oleh Galih kali ini benar-benar salah. Keseimbangan energi CORE nya terganggu. Lengan kanannya juga menerima beban yang sangat tinggi. Tidak lama kemudian Galih menjerit kesakitan.
Argggghhhh……
Teriak Galih dengan sangat kencang. Lengan kanannya yang mendapatkan beban energi paling besar dan memiliki aktivitas paling tinggi dibandingkan dengan bagian tubuh lain, kini telah berada pada batas kemampuannya dan mengalami luka dalam yang cukup serius.
Dalam kondisinya yang mengkhawatirkan, Galih masih terus mempertahankan Pedang Rapier di genggaman tangan kanannya dan terus memaksakan diri untuk mengayunkan pedang tersebut. Apa yang dilakukannya semakin memperburuk keadaan. Jangankan untuk mengayunkan pedang, hanya untuk menggerakkan lengannya saja kini Galih tidak mampu. Tidak lama berselang, tangan kanannya juga kehilangan kemampuan untuk menggenggam. Hal itu membuat Pedang Rapier terlepas dari genggamannya dan menghilang seketika. Kini Galih tidak lagi memiliki senjata untuk bertarung. Bukan pedang, tapi tangan kanannya. Untuk sementara waktu, tangan kanannya tidak akan lagi dapat digunakan.
Sambil meringis kesakitan karena luka yang dialami lengan kanannya, Galih hanya dapat melihat seluruh benda beterbangan tanpa bisa melakukan apapun. Saking banyaknya benda yang dilontarkan oleh mesin lontar, sehingga membuat lantai area lontar dipenuhi dengan benda-benda tersebut. Tiba-tiba saja mesin lontar berhenti melemparkan benda. Galih nampak terkejut dan sedikit penasaran.
“Apa pelatihan ini telah berakhir?” Pikir Galih.
Ternyata latihan masih terus berlanjut bahkan saat Galih sudah tidak berdaya seperti sekarang ini. Tidak lama setelah mesin lontar berhenti, tiba-tiba lantai area lontar terbuka dan menjatuhkan seluruh benda yang menumpuk disana. Setelah seluruh benda terjatuh, lantai kembali menutup dan area kembali terlihat bersih seperti sedia kala. Itu adalah salah satu sistem yang dibangun untuk mengoptimalkan latihan di area ini. Setelah area lontar terlihat bersih, mesin lontar kembali melakukan lontaran secara acak seperti sebelumnya.
“Ternyata masih belum berakhir. Aku masih memiliki kesempatan.” Ucap Galih saat melihat mesin lontar kembali menunjukkan aktivitas lontaran.
“Tangan kanan ini memang sudah tidak berdaya. Tapi aku masih punya tangan kiri. Aku tidak akan pernah menyerah.” Pikir Galih sambil terus menahan rasa sakit yang dialaminya.
Walapun Galih tidak berada pada kondisi prima, bahkan cenderung buruk, dia masih terus bertekad untuk menyelesaikan pelatihan.
Kini Galih memusatkan energi ke tangan kirinya dan kembali menciptakan Pedang Rapier. Galih tetap berpikir positif dan menganggap ini adalah tantangan baginya. Pada pertarungan sesungguhnya apapun bisa terjadi. Kehilangan fungsi beberapa anggota tubuh adalah sesuatu yang sangat mungkin terjadi pikirnya.
Belajar dari pengalamannya tadi, kini dia tidak hanya mengalirkan energi ke area lengan dan pedangnya saja, melainkan ke beberapa bagian tubuh lain untuk memberi keseimbangan energi. Galih juga mengalirkan ke bagian mata, kedua kaki dan tangan kanannya yang sedang terluka itu. Efek yang dirasakannya saat mengalirkan energi ke lengan kanan ternyata cukup baik. Walaupun masih terasa sakit, lengan kanannya kini terasa jauh lebih nyaman.
Galih berusaha mengayunkan pedangnya. Gerakannya terlihat sangat kaku. Energi yang diciptakan dari tebasan pedangnya kali ini jauh berbeda dengan tebasan tangan kanannya. Kekuatannya jauh lebih lemah dan kecepatannya pun jauh lebih rendah.
__ADS_1
Beberapa serangan yang dia lakukan berhasil mengenai benda yang dilontarkan. Tapi apa daya, kekuatan sebelumnya saja tidak berhasil menghancurkan benda tersebut, apalagi kekuatannya kini. Meskipun begitu, Galih tidak berhenti mencoba.
Lambat laun Galih merasa lelah. Tangan kirinya tidak terbiasa melakukan aktivitas dengan intensitas tinggi seperti saat ini. Tangannya terasa gemetar. Dia mulai kesulitan mengangkat pedang.
“Ayo bertahan Galih. Ayo bertahan…!” Ucap Galih untuk memotivasi dirinya sendiri.
Dia berusaha sekuat tenaga untuk mengangkat pedangnya itu dan kembali membuat tebasan energi. Saat Galih hendak kembali mengayunkan pedang, tiba-tiba Galih tersentak dan tersadar akan sesuatu.
“Bertahan? Bukankah alat pertahanan juga dapat digunakan untuk menyerang.” Pikir Galih.
Galih teringat dengan gaya bertarung yang biasa dilakukan pada abad pertengahan. Pertarungan yang memanfaatkan tameng dan tombak atau pedang. Tameng digunakan untuk bertahan dan tombak atau pedang digunakan untuk menyerang. Selain untuk bertahan, tameng juga dapat digunakan untuk menyerang dengan cara mendorongkan tameng itu sampai musuh terjatuh sehingga musuh dapat dikalahkan dengan mudah menggunakan tombak atau pedang saat sedang tidak berdaya.
“Baiklah, akan ku coba. Aku masih punya cukup energi untuk melakukannya.” Galih merencanakan sesuatu untuk menyelesaikan pelatihan ini.
Dia menghilangkan Pedang Rapier nya dan menciptakan tameng seperti yang dia lakukan saat melindungi Rama dan Yuna dalam pertarungan tim melawan Darma dan Julia.
Galih menciptakan sebuah tameng berbentuk lingkaran tepat ditengah-tengah area lontar. Tameng yang diciptakan oleh Galih memiliki daya tahan yang sangat kuat sehingga berhasil menghentikan beberapa benda yang dilontarkan tepat saat benda-benda itu berbenturan dengan tameng miliknya.
Melihat rencananya berhasil, Galih beranjak ke tahap berikutnya dari rencana yang telah dia susun. Galih membuat tameng miliknya itu berputar dengan cepat. Hal tersebut dia lakukan karena terinspirasi dari pola serangan angin berputar yang ditunjukkan oleh Ayu saat pertarungan tim. Putaran angin itu menciptakan daya hancur yang besar.
Benar saja, tameng yang berputar itu tidak hanya dapat menghentikan benda-benda yang dilontarkan, tapi juga menghancurkannya.
Melihat rencananya kembali berhasil, Galih menciptakan lagi empat buah tameng yang berputar dengan cepat. Untuk mengendalikan satu atau dua buah tameng saja akan sangat mudah baginya, tapi kali ini dia berusaha untuk mengendalikan lima tameng sekaligus dengan tetap menjaga putaran masing-masing tameng.
Awalnya Galih sedikit mengalami kesulitan. Butuh energi besar dan konsentrasi yang luar biasa agar seluruh tameng dapat dikendalikan sesuai dengan keinginannya. Tapi lambat laun Galih mulai terbiasa. Kini dia mampu mengendalikan seluruh tameng dengan bebas ke sisi manapun yang dia kehendaki.
Karena pola lontaran yang acak dan tidak beraturan. Galih pun membuat tamengnya bergerak secara acak untuk menghancurkan sebanyak mungkin benda yang dilontarkan. Hal itu terus dia lakukan hingga pelatihan dinyatakan berakhir oleh Julia dan Darma.
Teeeeet….
“Pelatihan selesai. Selamat Tuan Galih, anda berhasil menyelesaikan pelatihan ini dengan baik. Perkembangan yang anda alami begitu pesat dan mengagumkan.” Puji Julia.
“Silahkan Tuan Galih meninggalkan ruang pelatihan dan menuju ke ruang medis untuk mendapatkan perawatan.” Ujar Julia mengakhiri pelatihan hari pertama bagi Galih.
“Yeaa…” Galih berteriak kencang untuk meluapkan segala emosinya atas upaya keras yang dia lakukan pada pelatihan kali ini. Kemudian Galih pun berjalan ke luar ruang pelatihan dan menuju ke ruang medis untuk mendapatkan perawatan seperti yang dikatakan oleh Julia.
***
__ADS_1